DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 9


__ADS_3

Hari cepat berlalu. Sila pulang sekolah sebelum pukul dua belas karena hari ini adalah hari jum’at. Namun dia pulang dengan wajah yang muram. Riska yang menyambut kedatangan nona kecilnya menatap heran.


“Nona tidak apa-apa?” tanya Riska. Sila mendongak dan menatap nanar Riska.


“Hei, kenapa? Katakan pada bibi” Riska menangkup kedua pipi Sila dan menatapnya dengan lembut. Sila berhambur memeluk Riska dan menangis. Dengan lembut, Riska mengusap punggung Sila. Ketiga anak Riska keluar dari kamar untuk bersiap makan siang. Begitu juga dengan duo S. Mereka saling pandang melihat Sila yang


menangis di dekapan Riska.


“Sudah nona kecil. Tenangkan dulu . bibi antar ke atas yuk” ajak Riska dan membimbing Sila naik tangga menuju kamarnya. Dengan isyarat, Riska meminta anak-anaknya mengajal duo S untukmakan terlebuh dahulu. Rendi yang mengambil alih tugas Riska menyiapkan makan untuk yang lainnya.


Sila meletakkan tasnya di kasur dan dengan cepat, Riska mengambil dan meletakkan di tempatnya. Sila duduk termenung di pinggir kasur. Riska mendekat dan duduk di sampingnya. Dengan lembut, Riska membelai rambut Sila dengan lembut.


“Katakan apa yang terjadi pada bibi. Anggap bibi adalah sahabatmu, sayang” Sila mendongak menatap netra Riska yang selalu menyejukkannya. Mendengar Sila memanggilnya sayang, serasa ada bunga yang berterbangan di hatinya. Sila tersenyum dan membenamkan tubuhnya dalam dekapan pengasuhnya.


“Terimakasih bibi sudah hadir dalam hidup kami. Maafkan kami yang selalu iri dengan anak-anak bibi. Bibi pasti kesulitan meladeni kami dan masih mengurus anak-anak bibi” ucap Sila tulus. Riska tersenyum dan mendekap Sila semakin erat.


“Bibi tidak keberatan. Nona kecil tahu? Saat melihat tuan dan nona kecil, bibi seperti melihat anak-anak bibi. Apalagi posisi kalian sama. Hanya bedanya, nona dan tuan kecil kehilangan ibu, sedangkan anak-anak bibi kehilangan ayahnya”


“Kami tidak sama. Keluarga bibi lebih beruntung dari pada kami” sanggah Sila lirih. Riska tersenyum lagi mendengar ungkapan dari anak asuhnya.


“Nona kecil lebih beruntung. Ada papa, oma dan opa yang meyayangi kalian dan harta yang cukup. Tidak perlu bersusah payah menabung untuk mendapatkan apa yang kalian mau. Sedangkan di luar sana, ada yang lebih parah dari kalian dan anak-anak bibi. Mereka sudah tak punya orang tua, dan harus hidup dalam kesulitan” Riska mulai mencoba hati dan pikiran Sila agar berpikir lebih luas.


“Apakah ada?” tanya Sila, karena memang dia tak pernah melihatnya. Sekolahnya juga elit, tentu saja berisi penuh oleh mereka yang berduit.


“Ada. Akhir pekan, kita jalan-jalan. Mau?” tawar Riska.


“Kemana?”


“Ke tempat yang menjawab semua pertanyaan nona kecil yang kita bahas hari ini” jawab Riska dengan senyum mengembang.


“Baiklah. Tapi bibi yang ijin sama papa”

__ADS_1


“Oke” Riska mengacungkan jempolnya dan disambut dengan jempol Sila. Keduanya tertawa bahagia.


“Jadi, sudah bisa cerita apa yang terjadi hari ini? Apa yang membuat nona muram?” Riska mencoba mengulik kembali penyebab kemuraman nona kecilnya. Sila tidak menjawab pertanyaan Riska. Namun dia langsung bangkit dan mengambil kembali tasnya. Setelah mengobrak-abrik isi dalam tasnya, Sila mengeluarkan tempat pensil yang mereka kerjakan selama tiga hari. Riska menerima tempat pensil dan meneliti, namun tidak ada yang salah menurut Riska.


“Kenapa dengan hasil kerja Nona kecil?” tanya Riska tak mengerti.


“Kata bu guru, Sila menggunakan kekuasaan papa untuk menjahitkan tugas ini. Tugas Sila di tolak” lirih Sila dan menunduk. Matanya berkaca-kaca hendak menangis. Selama tiga hari mengerjakan tugas dengan semangat. Bahkan bisa menjahit rapi seperti jahitan mesin, namun ditolak begitu saja. Riska bahkan sampai terbelalak mendengar alasan kemuraman yang terjadi.


“Nona sudah menjelaskan yang sebenarnya?” tanya Riska hati-hati.


“Hiks, hiks, su sudah. Tapi bu guru tak percaya. Hiks hiks” tangisnya tak bisa dibendung lagi. Riska geram dengan sang guru yang mengambil keputusan berat sebelah. Dengan lembut Riska menarik Sila dalam dekapannya. Menenangkan anak asuhnya yang kecewa dengan pengajarnya.


“Sudah, biar itu menjadi urusan bibi. Apa nona mau mengikuti rencana bibi?” tanya Riska setelah berhasil menangkan Sila.


“Apa rencana bibi?” tanya Sila penuh tanda tanya.


“Membuat tugas nona diterima dengan baik” jawab Riska penuh misteri.


*****


Setelah Riska menghubungi Reyhan kalau dia akan menemuinya, Reyhan mengirim sopir kantor menjemput Riska di kediamannya. Riska menurut karena memang dia tidak tahu dimana letak perusahaan raksasa itu. Reyhan sendiri sudah percaya diri kalau Riska menemuinya karena sudah tertarik padanya. Dia bahkan mengaca di kamar pribadi  yang ada di ruang kerjanya. Menyisir ulang rambutnya dan menata penampilannya agar terlihat sempurna. Dengan penuh percaya diri, dia keluar dari kamarnya dan duduk di kursi kebesarannya. Dia ingin terlihat berwibawa di mata Riska nantinya.


“Kenapa dialama sekali?” gerutu Reyhan sudah tidak sabar. Padahal sang sopir baru saja memasuki masionnya.


“Kira-kira, apa Riska akan terpesona jika aku tampak berwibawa? Apa aku harus mengenakan seragam polisi atau ABRI agar Riska terkesima padaku? Aaah, kenapa sih aku ini?” keluh Reyhan pada diri sendiri. Niatnya ingin menarik perhatian Riska, justru dirinya sendiri yang bertingkah seperti ABG labil.


Hanya butuh setengah jam, Riska sudah sampai di kantor Diammon’s Kusumo. Namun tidak bagi Reyhan. Dia merasa sudah berjam-jam menunggu. Sementara Riska, dengan mengenakan dres dibawah lutut warna toska, senada dengan blazer yang dikenakannya. Sepatu hitam berhag hanya 5 cm. Riska memang tidak terlalu suka


dengan sepatu yang hagnya terlalu tinggi.


“Permisi. Saya ingin bertemu dengan Tuan Reyhan Kusumo” ucap Riska pada resepsionist dengan sopan.

__ADS_1


“Iya bu, apakah sudah ada janji sebelumnya?” tanya resepsionist 1 dengan sopan pula.


“Sudah mbak. Bisa disambungkan? Bilang saja dengan Riska”


“Baiklah bu. Saya konfirmasi dulu, apakah bisa langsung bertemu dengan beliau apa harus menunggu terlebih dahulu” usai berkata begitu, resepsionist itu menghubungi Reyhan dan malah diminta untuk mengantarkan Riska sampai tujuan.


Si bos ini kenapa malah marah-marah. Biasanya juga begini. Mana disuruh mengantar sampai tempat lagi. Capek atuh bos. ~ batin resepsionist setelah mematikan teleponnya. Sudah disemprot karena memperlambat pertemuan bos besar, masih dihukum untuk mengantar tamu sampai lantai tertinggi. Sungguh malang nasib resepsionist 1 kali ini.


“Mari bu, saya antar” ucapnya dengan sopan.


“Ah, tidak usah mbak. Tunjukkan saja dimana lantainya dan ruangan mana,saya akan ke sana sendiri” tolak Riska dengan halus.


“Tidak apa-apa bu, sudah perintah dari bos. Nanti saya malah dipecat kalau tidak menjalankan perintah. Kasihani saya ya bu?” pinta Hanum, nama yang tertera dalam nametag karyawan itu dengan wajah memelas. Riska yang memang punya hati yang lembut tidak tega melihat wajah memelas Hanum.


“Huuh, baiklah. Mbak duluan” akhirnya Riska mengalah.


Setelah tiba di depan ruang Reyhan, Hanum mengetuk pintu dan mengantarkan Riska selamat sampai di depan bosnya.


“Saya permisi bos. Bu Riska sudah saya antar seperti keinginan Bos” Hanum undur diri setelah melihat isyarat berupa lambaian tangan dari Reyhan yang terlihat keren. Riska memutar bola matanya malas melihat tingkah Reyhan yang sangat arogan di matanya. Lagi dan lagi, gaya Reyhan yang keren malah terlihat angkuh di mata Riska. Sepertinya, perjuangan Reyhan akan semakin sulit untuk menakhlukkan janda antig bayangkhari itu.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bundasebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


__ADS_2