
Waktu terus berlalu dan tanpa terasa, Sila sudah hampir tiga bulan berada di kota M. Semalam, Sila mendapat telepon kalau bundanya sudah berada di rumah sakit hendak melahirkan. Semalam juga, kakek dan neneknya sudah bertolak ke kota X. Sila masih ada tugas yang harus dikumpulkan. Jadi Sila meminta ijin untuk datang bersama dengan Farhan. Beruntung keluarganya tidak keberatan karena mengingat Farhan bertugas untuk menjaga
Sila.
“Sudah siap, Non?” tanya Farhan. Sila mengangguk dan langsung masuk kedalam mobil yang sudah dipesan oleh Farhan.
“Kok aku deg-degan gini ya, Kak?” ucap Sila saat dalam perjalanan menuju bandara.
“Memangnya kenapa Non?” tanya Farhan kurang mengerti maksud nonanya.
“Sila juga kurang mengerti. Dulu saat Cempaka mau lahir, Sila nggak begini perasaannya” cerita Sila. Farhan mengerti akan kecemasan Sila dan mencoba menghiburnya.
“Mungkin karena sekarang Non Sila duduk dekat saya. Jadi deg-degan” canda Farhan dan sukses membuat Sila tersenyum. Sila memandang Farhan dengan dalam, begitupun dngan Farhan. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka hingga berlalu cukup lama. Mereka baru tersadar saat sang sopir memberitahukan bahwa sebentar lagi
akan sampai tempat tujuan. Tentu saja keduanya gelagapan dan salah tingkah sendiri-sendiri.
“Mari Non” ajak Farhan setelah mengambil koper dalam bagasi. Sila mengikuti dengan pelan karena masih malu akan hal yang terjadi tadi. Farhan menoleh ke belakang dan cukup jauh ternyata nonany tertinggal. Farhan meninggalkan kopernya dan menghampiri nonanya.
“Maaf Non. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan Non Sila. Jangan jauh-jauh” ucap Farhan dan meraih tangan Sila lalu menggandengnya. Sila terkejut dengan keberanian pengawalnya itu, namun dia tidak menolak ataupun mencegahnya. Dia hanya terpaku dan mengikuti kemana Farhan menariknya. Sebelah kanan tangan Farhan menggandeng Sila, dan sebelah kirinya menarik koper. Tidak ada yang masuk bagasi, sehingga mereka bisa langsung chek in dan langsung menuju ruang tunggu. Hingga mendapat tempat duduk, tangan Sila masih dalam genggaman Farhan.
Andai tangan ini terus menggenggam tanganku seperti ini. ~ batin Sila menatap tangannya dan wajah Farhan bergantian.
Tiga bulan bagi Sila cukup untuk mengenal pribadi Farhan. Dan cukup pula bagi Sila untuk menyelami perasaannya yang sudah terpaut dengan sosok pengawal tampannya ini. namun Sila tidak ada keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.
“Eh Maaf Non” ucap Farhan setelah sadar dan langsung melepaskan genggamannya. Sila tersenyum canggung dan menggeleng tanpa tidak apa-apa. Farhan salah tingkah dan memilih mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mengurangi rasa gugupnya.
*****
Sila dan Farhan sudah tiba di bandara kota X. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Aiman yang ikut papanya melajukan perjalanan bisnis ke kota X.
“Tuan Muda Aiman. Tuan Muda Rizki” sapa Farhan dan keduanya mengangguk tersenyum. Pandangan Aiman tertuju pada Sila yang ada di samping Farhan.
“Tuan Muda” sapa Sila hanya pada Rizki. Senyum Aiman langsung hilang dan mendengus.
__ADS_1
“Memangnya aku patung” celetuk Aiman kesal. Farhan menoleh pada Sila dengan pandangan meminta. Sila menghembuskan napas malas dan menatap Aiman.
“Tuan Muda” sapa Sila dengan malas. Rizki tertawa tertahan melihat anaknya diacuhkan oleh seorang gadis. Rizki menelisik Sila dengan tatapan yang sulit diartikan. Beruntung Sila tidak melihatnya karena sedang berbalas pesan dengan adik-adiknya.
Apa ini gadis yang dimaksud oleh papa dan mama? ~ batin Rizki.
“Kak, ayo. Bunda sudah masuk ruang operasi” ucap Sila setelah mendapat kabar dari Rendi.
“Aduh Non. Saya belum pesan taxi online” ucap Farhan dan langsung mengeluarkan ponselnya.
“Bagaimana kalau saya antar?” tawar Rizki membuat Aiman semakin cemberut. Rizki semakin yakin kalau gadis ini yang membuat putranya lebih sensitif perihal perempuan. Sedangkan Sila dan Farhan saling pandang meminta pendapat.
“Non Sila buru-buru?” tanya Farhan dan Sila mengangguk. Farhan mengerti kalau nonanya khawatir dengan keadaan bundanya.
“Kalau begitu, kita terima tawaran Tuan Muda Rizki” ucap Farhan memutuskan. Sila mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada Rizki berikut rasa sungkannya.
“Bukan masalah. Lagi pula, saya juga ingin ke rumah sakit yang Nak Sila sebutkan. Benarkan namanya Sila? Saya dengar tadi Farhan memanggil kamu begitu”
“Iya Tuan” jawab Sila sopan.
Rizki dan Aiman menghabiskan sisa perjalanannya dengan diam. Namun tidak dengan Farhan dan Sila yang ada di kursi penumpang bagian belakang.
“Mungkin karena Bunda harus menjalani operasi, jadi perasaan Sila dari tadi dg-degan terus, Kak” ucap Sila yang merasakan perasaan was-was sejak keluar dari kampus.
“Masak sih Non? Bukan karena dekat dengan saya ya?” goda Farhan membuat Aiman mendengus kecil. Rizki tersenyum memandang anaknya yang sedang dilanda cemburu.
“Ih, Kakak ini bercanda terus. Beneran ini perasaan Sila tuh lagi nggak enak banget” omel Sila dan Farhan meraih tangan Sila lalu menggenggamnya.
“Semua pasti baik-baik saja. Percaya sama Allah, apapun kehendakNya, itu yang terbaik” hibur Farhan dan Sila mengangguk mantap.
“Makasih ya Kak. Kakak tuh selalu bisa bikin hati Sila tenang dan bisa bikin Sila nyaman bareng Kakak” ucap Sila tulus.
“Andai saja” ucap Farhan reflek menutup mulutnya yang hampir keceplosan.
__ADS_1
“Andai saja apa Kak?” tanya Sila penasaran.
“Ah, bukan apa-apa. Lupakan saja” jawab Farhan salah tingkah dan langsung melepaskan genggaman tangannya dan Sila. Sila hanya menatap tangannya yang sudah terlepas dari tangan orang yang selalu membuat hatinya menghangat.
Aku berharap Kak Farhan bilang – andai saja kita sepasang kekasih, atau memiliki perasaan yang sama – pasti Sila bakal senang banget. ~ Sila.
Sila memutuskan untuk melihat keluar jendela hingga mereka tiba di rumah sakit. Sila dan Farhan mengucapkan terimakasih dan langsung berlalu begitu saja meninggalkan Rizki dan Aiman. Setelah bertanya pada suster, Sila berlari menuju ruang operasi. Sampai di sana, ada Reyhan, Rendi, Rindi juga Sean yang menunggu jalannya operasi Risma.
“Papa” panggil Sila dan langsung berhambur memeluk Reyhan. Reyhan mendekap putri sulungnya dengan perasaan sayang dan rindu.
“Kamu sudah datang, Sayang” ucap Reyhan dan Sila hanya mengangguk dalam dekapannya. Farhan tersenyum melihat kehangatan keluarga tuannya itu.
“Kakak yang ditugasi mengawal Kak Sila ya?” tanya Rendi menghampiri Farhan.
“Iya Tuan Muda. Perkenalkan, saya Farhan. Pengawal pribadi Non Sila” jawab Farhan selaligus mengenalkan diri dengan sopan.
“Oh, Saya Rendi. Ini kembaran saya Rindi, sedangkan dia Sean. Jangan panggil Tuan Muda. Risih dengarnya” ucap Rendi mengenalkan saudaranya sekaligus menegur Farhan akan panggilan Tuan Muda padanya.
“Hahahaha, anda seperti Non Sila yang tidak mau dipanggil Nona Muda” tawa Farhan lirih karena mengingat berada di depan ruang operasi.
“Hehehe, iya. Kita memang tidak pernah dipanggil begitu. Paling ya Nona kecil, Tuan kecil. Itupun dulu” cerita Sean. Mungkin jika Risma tidak hadir, kini mereka juga akan senang dipanggil dengan sebutan Nona Muda dan Tuan Muda. Namun Risma datang membawa perubahan. Perubahan akan pandangan hidup dan mengajarkan makna kesederhanaan. Sederhana bukan berarti menunjukkan diri tidak memiliki papa. Namun kesederhanaan hakikatnya adalh menghargai hidup diri sendiri dengan memanfaatkan segala sesuatu sesuai porsinya. Sederhana bukan berarti mengenakan pakaian yang usang dan gembel serta makan makanan yang apa adanya. Namun sederhana yaitu mengenakan pakaian sesuai waktu dan temanya tanpa menunjukkan kemewahan namun tetap sopan dan baik. Dan memakan makanan dengan gizi seimbang, namun tidak berlebihan. Tidak harus memasak banyak menu, namun hanya beberapa yang dimakan. Tapi cukup dengan makan masakan sesuai porsinya dan membagikan pada merekayang membutuhkan jika terdapat sisa yang masih layak konsumsi. Pelajaran ini mereka
dapat karena hadirnya Risma di tengah keluarga Kusumo. Tak heran jika Risma menjadi kesayangan keluarga terutama keluarga Kusumo.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel JOURNEY OF LOVE. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI
BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
__ADS_1
NEXT
*****