
Anak-anak sudah tidur karena memang hari sudah malam. Sedangkan Risma masih sibuk memeriksa kamar anaknya satu persatu. Reyhan masih terus memikirkan acara perusahaannya. Bahkan dia tidak sadar kalau istrinya sudah masuk kamar dan sedang membersihkan diri di kamar mandi. Risma keluar setelah acara membersihkan diri selesai. Dia melihat suaminya melamun dan menghampirinya.
“Bang” panggil Risma lembut sembari mengusap pelan bahu suaminya.
“Eh, sudah selesai Yang?” tanya Reyhan memandang istrinya penuh cinta.
“Sudah dari tadi, Bang. Abang kenapa?” tanya Risma dan Reyhan menatap lembut istrinya.
“Kenapa tadi nggak jadi ke kantor Abang?” tanya Reyhan mengusap lembut pipi istrinya.
“Maafkan Risma ya, Bang. Tadi Risma kelupaan kalau punya janji sama Abang. Keasyikan bikin kue sih sampai lupa waktu” jawab Risma dengan rasa bersalah. Dia berpikir suaminya kecewa hingga berdiam diri seperti itu.
“Tidak apa-apa. Abang nggak marah. Kan tadi juga sudah minta maaf saat telepon Abang” jawab Reyhan lembut dan masih setia mengusap pipi halus Risma.
Risma tersenyum dan memegang tangan Reyhan yang mengelus pipinya. Menatap dalam netra suaminya dam dapat melihat beban pikiran yang sedang disandang suaminya.
“Lalu Abang kenapa?” tanya Risma hati-hati. Reyhan menggeleng pelan dan Risma malah tersenyum lembut.
“Ada Risma yang selalu setia mendengar keluh kesah Abang. Cerita saja, Bang. Meskipun Risma nggak bisa bantu banyak, siapa tahu bisa sedikit membantu” bujuk Risma halus tanpa memaksa. Reyhan menghela napas pelan dan menatap istrinya yang menatapnya penuh kelembutan. Hal yang tak pernah dia dapatkan dari mantan istrinya dulu. Reyhan sangat ingat bagaimana kehidupannya dengan mantan istrinya. Kehidupan yang berazaskan saling membutuhkan dan memuaskan hasrat masing-masing. Memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani hanya sebatas itu. Dita selalu melayaninya saat Reyhan meminta dan menyiapkan kebutuhannya hanya saat hendak bekerja dan pulang kerja. Begitu juga dengan Reyhan yang selalu memenuhi kebutuhan Dita, bahkan menuruti kemauan istrinya itu yang hobi shoping. Meskipun dulu mereka terlihat mesra, namun kini Reyhan ragu, apakah dulu dia dan istrinya bisa dikatakan saling cinta. Sungguh sangat berbeda dengan kehidupan rumah tangganya dengan Risma. Jika dengan Risma, semua kebutuhannya dari yang terkecil hingga perhatian terkecilpun dia dapatkan. Mulai dari kebutuhan perut hingga hati dia terima.
“Abang” panggil Risma membuyarkan lamunan Reyhan hingga membuatnya tersentak kaget.
“Abang mikirin apa sih?” tanya Risma lembut. Melihat suaminya yang banyak diam bahkan sampai melamun membuatnya khawatir.
“Abang tunggu sebentar ya. Risma akan segera kembali” tanpa menuggu jawaban Reyhan, Risma sudah keluar kamar. Reyhan memandang punggung Risma hingga tak terlihat lagi.
“Kenapa dulu aku dan Dita tidak seperti ini? dita tak pernah menanyakan apakah aku lelah saat pulang bekerja. Tak pernah menanyakan apakah aku banyak pikiran” ucap Reyhan pada dirinya sendiri.
“Erik pasti sangat bahagia dulu saat bersama Risma. Sama seperti yang aku rasakan saat ini. perhatiannya sungguh membuatku tak bisa berpaling. Bahkan nyaris aku melupakan Dita yang dulu pernah menjadi istriku” tambahnya dan merasakan cintanya pada istrinya itu semakin hari semakin bertambah.
Tak lama kemudian, Risma sudah kembali dengan cangkir ditangannya. Dia meletakkan di atas meja dan mendudukkan dirinya di samping suaminya. Tempat tadi yang dia duduki.
__ADS_1
“Risma bikinkan teh mawar buat Abang biar Abang sedikit rileks. Dulu saat Mas Erik penat atau sedikit stres karena beban pekerjaan, Risma suka bikinkan teh mawar dan Alhamdulillah suka. Semoga Abang juga suka dan merasa rileks” ucap Risma tanpa maksud apa-apa dan Reyhan tahu itu.
“Oh ya? Abang coba ya?” tanggap Reyhan dan mulai mencicipi teh mawar bikinan istrinya. Reyhan tersenyum begitu menghirup aroma teh yangdibadukan dengan harumnya mawar menyeruak ke indra penciumannya. Sungguh aroma terapi yang sangat menenangkan.
“Gimana?” tanya Risma penuh harapan saat Reyhan selesai menyeruput teh bikinannya.
“Aromanya menenangkan dan rasanya pas. Abang suka” jawab Reyhan dengan senyum dan dibalas senyuman mengembang dari Risma.
“Syukur kalau Abang suka. Kalau Abang mau, Abang tinggal bilang sama Risma, nanti biar Risma bikinkan” ucap Risma antusias.
“Hem” jawab Reyhan dan manggut-manggut. Dia kembali menyeruput teh hingga tinggal setengah saja.
“Sudah enakan? Sudah mau cerita?” tawar Risma hati-hati. Reyhan memandang istrinya dengan penuh kasih sayang. Perlahan dia merebahkan kepalanya di paha istrinya. Dengan lembut, Risma mengusap rambut suaminya.
Cerita mengalir dari bibir Reyhan tentang bagaimana dia memendam rasa cemburu saat pesta malam itu. Risma melipat bibirnya agar tidak kelepasan tertawa. Dia merasa senang bagaimana suaminya itu cemburu hingga tidak ingin membuat pesta seperti itu saat acara ulang tahun perusahaanya. Sayangnya, Reyhan mengetahui ekspresi istrinya yang sedang menahan tawa hingga membuatnya iseng. Dengan sengaja, dia merubah posisinya menghadap perut istrinya. Dia menggesekkan hidungnya ke perut hingga istrinya tergelak karena geli.
“Hahahaha, Abang. Hentikan” ucap Risma di sela-sela tawanya.
“Hahaha. Mana ada Risma ketawa tadi” elak Risma tak terima.
“Abang tahu kalau kamu menahan tawa tadi” jawab Reyhan tak mau kalah.
“Hahahaha, iya iya Abang. Maafkan Risma ya. Hahahaha. Ampun Abang” pasrah Risma yang tak tahan dengan ulah suaminya. Mendengar kata ampun dari istrinya, Reyhan menghentikan aksinya dan menatap wajah istrinya yang menunduk padanya. Masih terlihat wajah merah sisa tawa yang tadi dia buat.
“Apa yang harus Abang lakukan?” tanyanya setelah menceritakan semuanya.
“Mau dengar kata Risma?” tanya Risma hati-hati. Bagaimanapun, Risma adalah orang diluar perusahaan.
“Katakanlah. Abang akan pertimbangkan” jawab Reyhan bijak. Meskipun itu perusahaan miliknya, namun keputusan yang dia ambil harus berdasarkan rapat dengan dewan direksi.
“Menurut Risma, apa yang dilakukan perusaahn X itu tidak bermanfaat, em, tepatnya kurang bermanfaat” ucap Risma memberi jeda dan menghirup udara untuk memulainya memberikan pendapat. Reyhan masih setia mendengarkan ulasan istrinya.
__ADS_1
“Dari pada menjamu tamu-tamu, lebih baik merayakannya dengan orang-orang yang ikut memberikan kontribusi penuh pada perusahaan. Seperti liburan atau family gathering dengan seluruh karyawan. Bisa di isi dengan seru-seruan atau acara apa secara intern mulai dari mereka yang bekerja sebagai petugas kebersihan, keamanan sampai jajaran tertinggi, Komisaris dan Dewan Direksi” Reyhan terlihat tertarik dengan ide yang diberikan istrinya.
“Ada acara khusus apa gitu Yang?” tanya Reyhan. Risma menatap suaminya yang terlihat lebih antusias dari sebelumnya.
“Kalau menurut Risma, nggak perlu ada acara khusus sih, Bang. Jadi tujuannya itu agar nggak ada sekat antara pekerja. Maksud Risma, acara seperti ini itu bertujuan untuk memberikan pengertian pada setiap karyawan bahwa setiap jabatan itu sama pentingnya. Jadi nggak akan ada Isabel-Isabel lain yang dinyinyiri. Selama ini kan mereka menganggap kalau OB itu pekerjaan rendahan. Seperti satpam juga begitu. Padahal setiap pekerjaan itu punya peran masing-masing di perusahaan. Bayangkan saja, kalau tidak ada staf kebersihan, kita nggak akan bisa bekerja dengan nyaman karena pasti kondisi kantor kotor dan berdebu. Begitu juga dengan staf-staf yang lain. Akan ada ketimpangan kalau salah satu divisi tidak berjalan dengan baik. Benar nggak Bang?” tanya Risma setelah menjelaskan panjang lebar pada suaminya. Reyhan tersenyum mengembang setelah mengerti maksud dari istrinya.
“Abang mengerti sekarang. Jadi selain untuk mensejajarkan semua divisi yang ada di perusahaan. Acara ultah ini bertujuan untuk mengingat kembali visi misi perusahaan dan masing-masing divisi” sambut Reyhan semangat.
“Nah, betul. Kita bisa bikin lomba soal visi misi divisi itu, Bang”
“Lomba apa?” tanya Reyhan penasaran.
“Lomba menyampaikan visi misi setiap divisi dengan gaya mereka masing-masing. Jadi, Dana yang awalnya digunakan untuk pesta, kita alihkan ke sana. Mulai dari menyewa tempat, kendaraan dan sebagainya. Sisanya kita gunakan untuk memberi hadiah pada mereka. menurut Risma, itu lebih tepat sasaran. Yang membuat perusahaan bekerja dan maju itu kan mereka para karyawan. Yang marayakan juga mereka dong harusnya?” ucap Risma diplomatis.
“Kamu benar Yang. Kenapa Abang nggak kepikiran sampai situ ya?”
“Karena Abang terbiasa mengikuti alur yang lumrah digunakan oleh perusahaan-perusahaan lain” jawab Risma enteng. Reyhan membenarkan apa yang dikatakan istrinya.
“Besok Abang mengadakan rapat dengan seluruh dewan direksi. Dan jika nanti yang Abang ajukan disetujui. Abang mau kamu ikut dalam pengaturan ultah kali ini. Pertemuan kedua, kamu harus hadir dengan semua ide-idemu” pinta Reyhan yang terdengar seperti perintah, bukan permohonan. Risma tersenyum dan mengangguk. Sudah menjadi kewajibannya ikut andil jika suami memaksa. Sama seperti dulu saat dia menjadi istri dari Erik, seorang perwira. Dia juga selalu ikut dalam acara yang diadakan yang melibatkan para istri aparatur negara itu.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
*****
__ADS_1