DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 80


__ADS_3

Anak buah Reyhan sudah menemukan keberadaan Riko. Saat ini, Reyhan bersama dengan keluarganya sedang dalam perjalanan menuju kediaman Riko. Reyhan cukup terkejut dengan kabar yang merekadengar. Kabar terkahir yang dia terima adalah kebebasan Riko satu setengah tahun yang lalu. Jika bukan karena keringanan yang dia


ajukan, sampai saat ini Riko masih berada di lapas.


“Papa yakin kalau Papi tinggal di sini?” tanya Rendi tidak percaya. Yang mereka lewati sekarang adalah pemukiman padat penduduk dengan status sosial menengah kebawah.


“Menurut info yang Papa dapat ya betul” jawabReyhan. Dalamhatinya juga sedikit ragu akan hal itu.


“Tapi bukan Papi banget” ucap Rindi dan semua orang yang ada di mobil tahu akan hal itu.


“Nanti kita akan tahu jawabannya” jawab Reyhan tanpa memberi kepastian.


Benar saja. Lima menit kemudian, Rendi melihat Riko dan Ramon sedang bercengkerama di depan kos-kosan yang padat. Mereka saling pandang tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Para penghuni kos terkejut dan kagum dengan mobil yang baru saja parkir dihadapan mereka. Kasak-kusuk terdengar heboh dan hampir semua jamaah ghibah berdiri, tak terkecuali Ramon juga Rendi.


Pintu terbuka dan mereka semua penasaran siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Yang paling membuat mereka penasaran adalah tamu siapanya. Begitulah kalau kehidupan di kasta menengah ke bawah. Rasa keponya tinggi, namun tidak berlebihan. Hanya sekedar ingin tahu dan tentu saja menjadi bahan di jamaah ghibah selanjutnya.


Biar kalau diajak ngobrol tentang gosip terbaru nyambung. Begitulah pemikiran mereka yang begitu sederhana.


“Rendi. Rindi” teriak Riko girang dan langsung berlari menghampiri dan memeluk duo R.


“Kangen sama Papi” ucap duo R bersamaan.


“Sama. Papi kangen banget sama kalian” jawab Riko tanpa melepaskan pelukannya.


“Sudah. Opa juga kangen sama cucu-cucu Opa” lerai Ramon dan memeluk duo R menggantikan Riko.


“Kangen Opa juga”


“Opa juga” jawab ramon mencium puncak kepala cucu-cucunya.


Setelah beberapa saat, pelukan dan ciuman kerinduan itu berakhir dan dilanjutkan dengan  sapaan basa-basi. Bahkan mereka berkenalan juga dengan penghuni lainnya. Riko dan Ramon mempersilahkan keluarga besar itu masuk. Matanya mengamati siapa saja yang ada di hadapanya. Ramon pamit keluar sebentar dan meninggalkan Riko bersama keluarga Kusumo.


“Rama tidak ikut?” tanya Riko karena tidak melihat siapa yang dicari.


“Lagi punya  mainan baru dari Om Willi. Mana mau dia. Sampai besok pun akan betah main itu” jawab Rindi yang sudah hapal dengan karakter adiknya.


“Apa masih tidak suka dengan Papi?” tanya Riko lirih. Perasaan bersalah kembali muncul mengingat dulu dia tidak bersikap baik pada Rama.


“Nggak kok Pi. Rama bukan orang yang seperti itu. Dia memang begitu. Kemarin aja tidak ikut jalan-jalan, padahal biasanya antusias banget” jawab Rendi menghibur papinya.


“Iya Om Papi. Kalau belum bosan, mana mau dia pisah dengan cintanya itu” tambah Sean dan Riko tersenyum lega.


“Biasalah. Anak-anak. Kalau sudah senang dengan sesuatu, ya begitulah” ucap Risma dan Riko mengangguk.


Tak lama kemudian, Ramon datang dengan menenteng kantong kresek berisi makanan sekedarnya. Risma langsung berdiri membantu diikuti Rindi. Reyhan tersenyum melihat kesigapan anak dan istrinya.


“Biar Rindi dan Bunda aja yang nyiapin. Opa bergabung saja dengan yang lain” ucap Rindi dan mengambil alih bungkusan yang dibawa Ramon.

__ADS_1


“Makasih ya Sayang” jawab Ramon dan mengusap kepala Rindi yang berbalut hijab. Rindi memberikan senyuman terbaiknya dan mendapat hadiah ciuman di keningnya.


Risma dan Rindi mulai mencari-cari piring atau wadah untuk menaruh makanan yang dibawa Ramon. Karena bukan wilayahnya, makanya mereka sedikit kebingungan. Mereka tidak tahu dimana sang tuan rumah menaruh piring dan yang lainnya. Risma dan Rindi membuka satu persatu pintu lemari yang ada dan akhirnya menemukan apa yang mereka cari.


“Ayo kita bawa ke depan” Rindi mengangguk dan  mengikuti langkah Bundanya.


“Nah, itu makanannya sudah datang. Maaf kalau seadanya” ucap Ramon saat melihat Rindi dan Risma datang membawa napan ditangannya.


“Iya. Nggak apa-apa kok Pak. Ini sudah cukup bagi kami” jawab Reyhan yang mengerti keadaan Riko dan Ramon dari cerita anak buahnya.


“Oh ya Pi. Kok dari tadi Rendi nggak lihat Oma?” tanya Rendi dan menggigit pisang goreng di tangannya. Riko dan Ramon saling pandang. Reyhan yang mengerti situasinya menengahi ketiganya.


“Rendi Sayang. Makan dulu sebelum bunda tahu” tegur Reyhan dan Rendi langsung menutup mulutnya.


“Bunda dengar Pa” kata Risma yang sudah datang lagi membawa sisa makanan yang belum dia bawa tadi.


“Hehehe, Rendi minta maaf Bunda. Nggak akan lagi makan sambil bicara” ringis Rendi dan Risma hanya menggeleng kepalanya.


“Pak Riko, boleh saya menggunakan dapurnya untuk membuat minuman?” tanya Risma.


“Oh, tentu saja. Harusnya saya yang membuatkannya. Tapi tidak apa-apa. Gunakan saja semaunya” ucap Riko memberi ijin.


“Terimakasih Pak”


Setelah memakan dua sampai tiga biji gorengan yang dibeli Ramon, minuman yang dibuatRisma pun jadi.


“Papa” kesal Seno, namun saudara-saudaranya malah tertawa. Reyhan hanya memberi peringatan lewat tatapan dan cukup membuat Seno tertunduk.


“Sayang” panggil Risma pada Reno dengan lembut. Hanya dengan melihat senyum Risma dan anggukan kepalanya, Seno mengerti apa yang harus dia lakukan.


“Saya minta maaf, Om Papi. Ki Opa” ucap Seno tulus, namun wajahnya tertunduk. Ramon sangattakjub melihat bagaimana didikan Reyhan dan Risma yang sangat beradab.


“Tidak apa-apa, Nak. Sedikit demi sedikit belajar, nanti juga akan mengerti dengan sendirinya” hibur Ramon dan Riko mengangguk.


“Terimakasih” cicit Seno.


Setelah cukup berbasa-basi, Risma membuka inti pembicaraan mereka datang kemari.


“Jadi begini, Pak Riko, Pak Ramon. Maksud kedatangan kami ke sini untuk menitipkan Rendi dan Rindi yang berkeinginan kuliah di kota S”


“Kalian akan kuliah di kota ini?” tanya Riko senang.


“Iya Pi. Kalau Rendi karena ikut Rindi saja” jawab Rendi jujur.


“Iya Pi. Rindi ingin membantu mengelola cafe Bunda. Tapi kata Bunda harus dari bawah dulu biar bisa menghargai pekerjaan orang lain” tambah Rindi. Ramon dan Riko saling melempar senyum bahagia.


“Benar Pak. Karena anda adalah Papa kandung mereka, maka alangkah baiknya bila kamimenitipkan mereka pada anda. Lagi pula saya yakin kalau kedua keluarga kami di sini juga tidak lepas tangan” ucap Risma memberi penjelasan.

__ADS_1


“Keluarga?” tanya Ramon.


“Mungkin maksud bundanya kembar adalah keluarga Herlambang dan Permana. Benar begitu kan?” tebak Riko memandang Risma menanti jawaban.


“Iya” jawab Risma dengan senyuman.


“Oh ya Pak Riko, Pak Ramon. Maaf kalau apa yang akan saya sampaikan menyinggung anda berdua. Kami berniat untuk memboyong anda tinggal di rumah dekat cafe sekaligus dekat dengan rumah saya. Niatnya sih ingin anda berdua tinggal saja di rumah saya, namun takut timbul fitnah. Jadi saya sudah membeli satu rumah di sebelah kanan saya yang kebetulan dijual. Anda bisa tinggal disana, karena anak-anak inginnya tinggal di rumah saya yang memang dekat dengan cafe” jelas Risma berhati-hati sedikit takut menyinggung keduanya.


“Iya Pi. Nanti kita bisa terus sama-sama. Bisa menginap di rumah Bunda, bisa juga menginap di rumah Papi” bujuk Rendi, sedangkan Rindi membujuk Ramon.


“Iya Pa. Kalau Opa mau main sama kita-kita kan nggak perlu jauh-jauh. Lagi pula Bunda dan Papa sudah menitipkan kami, jadi Opa dan Papi harus menuruti mau kita. Ya kan Kak?” rayu Rindi setengah memaksa dan mencari dukungan. Yang lain hanya menyimak saja.


“Kalian ini. kalau sudah begini, bagaimana bisa kami menolak” jawab Ramon mengejutkan Riko yang masih berpikir tentang penawaran Risma. Terdengar seruan alhamdulillah dari semuanya selepas jawab Ramon.


“Jika Anda berdua bersedia, saya ingin Pak Riko dan Pak Ramon mengelola minimarket saya yang bersebelahan dengan cafe milik Risma. Anda juga masih bisa bekerja di tempat lain” ucap Reyhan membuat Riko dan Ramon merasa tidak enak. Selama ini memang mereka bekerja tidak tetap. Apa saja mereka kerjakan asal halal dan bisa


menghasilkan uang. Kebanyakan yang mereka kerjakan menjadi pelayan di warung yang ramai atau membantu pemilik rumah membersihkan kebun. Perusahaan manapun  sudah tidak mau menerima mereka karena keluarga Atmaja sudah memasukkan nama Riko dan Ramon dalam daftar hitam.


“Kami bersedia. Terimakasih atas kemurahan hati Tuan dan Nyonya Reyhan. Kami merasa tidak enak dan merasa bersalah karena pernah berbuat jahat  pada kalian” ucap Riko tulus. Begitu juga dengan Ramon.


“Yang lalu jangan diingat” jawab Reyhan pendek.


“Iya. Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Saya berharapanda menjadi pribadi yang lebih baik lagi” imbuh Risma dan keduanya mengangguk.


“Kapan Papi dan Opa pindah?” tanya Rindi setelah menghabiskan bakwan ditangannya.


“Kapan kalian mulai tinggal di sini?” tanya Ramon balik tanya.


“Sekaranglah Opa. Ini Bunda dan Papa sekalian mengantar kita tahu” jawab Rindi dengan imutnya membuat Ramon gemas dan mencubit pipinya.


“Hahaha. Baiklah. Besok Opa dan Papi akan langsung pindah mengawal pangeran Rendi dan putri Rindi” canda Ramon membuat semuanya senang dan tertawa. Risma dan Reyhan merasa lega karena anak-anaknya akan banyak yang menjaga. Meskipun begitu, Reyhan dan Risma tidak mau lengah dan tetap mengirim bodyguard bayangan untuk anak-anaknya.


*****


Mulai episode berikutnya, judulnya berubah menjadi JOURNEY OF LOVE (GENK KUSUMO)


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


__ADS_2