
Dua hari berlalu dan meeting pertama Risma dengan erwakilan setiap Divisi segera digelar. Ada sebagian dari mereka yang gugup karena baru kali ini mereka ikut meeting dengan yang lainnya. Terlebih bagian kebersihan dan keamanan yang nyaris tak pernah ikut rapat apapun.
“Terimakasih atas waktu luangnya. Pasti kalian bingung kenapa dikumpulkan di sini dan dan ada saya juga. Kita meeting secara rileks saja. Boleh kan Pak Presdir?” tanya Risma pada suaminya dan dijawab anggukan olehnya. Tentu saja dengan senyum lembut khusus untuknya.
“Jadi, kita bahas seperti ngobrol saja. Tidak usah terlalu formal. Langsung saja yah. Sebentar lagi kita akan merayakan ultah perusahaan. Ultah kali ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kali ini kita akan liburan seluruh karyawan tanpa terkecuali. Seneng nggak?” tanya Risma mencoba menarik antusias semuanya.
“Liburan? Semua karyawan?” tanya mereka tak percaya.
“Serius ini?” tanya yang lainnya.
“Tentu saja. Apa kalian masih belum percaya?” tanya Bagas yang tersenyum melihat respon karyawannya.
“Hahahaha. Tentu saja mereka kaget Pak Bagas. Secara ini adalah pertama kalinya. Pasti tidak pernah liburan dengan biaya dari perusahaan yah? Pelit sekali sih bosnya” sindir Risma membuat semuanya melirik Reyhan. Mereka takut kalau bosnya akan marah. Namun siapa sangka malah Reyhan tergelak mendengar sindiran istrinya.
“Setelah ini nggak akan pelit lagi. Ada ibu negara yang selalu mengingatkan saya kedepannya” jawab Reyhan membuat yang lain tersenyum senang. Dalam hati mereka sangat bersyukur bosnya menikah dengan Risma. Juga ucapan terimakasih karena Risma membuat mereka memiliki kesempatan untuk berlibur tanpa bingung memikirkan bugdet.
“Kembali ke ultah. Rencananya, di sana kita akan happy-happy. Tentu saja dengan berbagai jenis lomba. Andai saya meminta dari masing-masing divisi menyiapkan satu jenis perlombaan untuk semua orang nantinya. Bagaimana? Apakah boleh begitu Pak Reyhan? Pak Bagas?” tanya Risma meminta persetujuan pada dua penanggung jawab utama.
Reyhan dan Bagas tersenyum senang mendengar ide dari Risma. Dengan begitu, mereka tidak perlu ikut memikirkan lomba apa saja nantinya. Tentu saja dengan semangat mereka berdua menyetujuinya.
“Baiklah. Jadi karena dua big bos kita sudah setuju, artinya permintaan saya tadi diterima. Maisng-maisng divisi silahkan berunding dengan yang lainnya untuk menentukan lomba apa yang akan diusulkan. Juri dari lomba itu adalah divisi itu sendiri. Artinya, setiap divisi mengajukan lomba yang akan dimainkan oleh semuanya tanpa terkecuali. Divisi itu pula yang nantinya akan menjadi juri dan tentu saja menentukan aturan bagaimana cara mainnya. Bagaimana?” tanya Risma dan mereka setuju. Inilah yang ingin ditunjukkan pada semua orang. Semuanya memiliki hak yang sama. Bisa dibayangkan saat acara nanti saat yang menjadi juri adalah mereka yang biasanya menjadi OB atau mereka yang menjadi satpam. Juri tetaplah juri yang memiliki hak mutlak di setiap perlombaan. Mereka yang di perusahaan memiliki jabatan yang lebih tinggi dari pada OB dan Keamanan, tidak akan bisa berkutik saat divisi ini menjadi juri nanti.
Rapat berlangsung dengan santai. Selain embahasan tentang lomba, mereka juga membahas tentang pesta puncak yang digemari oleh hampir seluruh karyawan.
“Hahahaha, sederhana sekali pesta yang kalian inginkan? Yakin hanya ingin orkesan?” tanya Reyhan memastikan.
“Iya bos. Itu lebih low bugdet dan tentunya merakyat dengan kami. Terutama dan yang paling utama, bebas alkohol dan kejadian-kejadian berbahaya lainnya” jawab perwakilan dari divisi pemasaran.
__ADS_1
“Baiklah. Jadi, siapa yang ingin kalian undang?” tanya Bagas mulai mencatat kemungkina siapa saja artis yang ingin mereka lihat.
Ada yang mengajukan Ayu Ting-ting, Via Valen, Nella kharisma, Deny Caknan, dan artis pop juga. Begitu banyak yang ingin mereka lihat.
“Hanya bisa mengundang paling banyak empat artis. Silahkan tentukan siapa yang ingin diundang. Siapkan sua artis lainnya sebagai cadangan kalau artis utama tidak bisa” jelas Bagas.
Akhirnya keputusan diambil. Orkes yang ingin mereka lihat adalah New Pallapa dengan artis Jihan Audy, Gery Mahesa, dan Tasya Rosmala. Sedangkan group band yang mereka mau adalah Wali. Sebagai cadangan, mereka
memilih Anisa Rahma dan sang Senior Brodin. Untuk group bandnya, mereka mencadangkan Gamma 1.
*****
Hari yang ditunggu tiba. Semua orang bersuka cita di pinggiran kota. Ya, mereka tidak pergi jauh. Hanya ke pinggiran kota menikmati pemandangan pedesaan yang asri. Pihak penyelenggara menyewa seluruh area penginapan selama tiga hari kedepan. Ketika mereka tiba, panggung untuk acara pucak sedang dalam pengerjaan
dan hampir selesai.
Semua orang dikumpulkan di aula penginapan. Bagi mereka yang membawa keluarganya, maka mendapat kamar privat. Sedangkan yang hanya membawa diri sendiri harus rela berbagi kamar dengan yang lain. Setiap kamar sudah disulap sedemikian rupa hingga muat untuk lima orang. Sedangkan keluarga Kusumo sendiri mendapat dua
kamar. Satu makar untuk Risma, Reyhan dan tiga anaknya. Sedangkan kamar satu lagi untuk Nilam, Ali dan tiga anak duo R lainnya. Untuk siapa yang ikut siapa, mereka menyerahkan pada anak-anak sendiri. Akhirnya diambil kesepakatan kalau Sila, Rindi dan Seno akan ikut bunda dan papannya. Sedangkan Reno, Sean,dan Rendi akan ikut opa dan omanya.
Acara pembukaan akan segera dimulai. Risma yang menjadi tamu kehormatan karena ide ini berasal darinya mempunyai waktu untuk menyampaikan sebait dua bait kalimat.
“Selamat siang menjelang sore semuanya. Terimakasih atas waktu yang diberikan. Saya berdiri di sini sebenarnya tidak terlalu perlu. Karena saya merasa bahwa saya tidak menyumbang apapun untuk perusahaan. Hanya ide untuk kita bisa bersama bersenang-senang seperti saat ini. Ide ini muncul saat suami saya menanyakan apa yang harus diadakan saat ultah perusahaan yang lain dari biasanya. Merajuk pengalaman saya mendengar sendiri bagaimana salah seorang yang dengan sengaja menyindir jabatan rekan lain membuat saya mempunyai ide untuk menyadarkan kita, bahwa apa yang kita jabat saat ini sama pentingnya dengan jabatan yang mungkin orang lain punya. Misalnya saja, divisi GA. Salah satunya adalah keamanan. Bayangkan saja bagaimana kalau perusahaan ini tidak punya satpam.pasti kita bekerja tidak akan tenang karena khawatir hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Begitu juga dengan juru parkir. Dengan adanya juru parkir, kita tidak perlu repot mencari tempat parkir. Kebersiha, dan bagian kantin. Semua memiliki peran masing-masing yang sama pentingnya dengan divisi lainnya. Itu baru divisi bagian GA. Belum lagi divisi lain. Jadi, No iri, syirik dan lainnya. Terimakasih. Cukup dari saya. Mutiara terakhir. Percaya dengan kemampuan diri sendiri. Sedikit demi sedikit, apa yang ingin kita capai akan terwujud. Sukses tidak serta merta datang pada seseorang. Tapi ada usaha yang gigih yang menyertainya. Selamat bersenang-senang” Risma menutup pidatonya dan mendapat apresiasi yang meriah dari para karyawan. Bahkan
para pemegang saham sangat kagum dengan sosok nyonya Reyhan ini.
“Bunda hebat” puji Rindi saat Risma sudah bergabung dengan keluarganya.
__ADS_1
“Iya, Bunda keren banget lho!” tambah Sila setuju dengan Rindi.
“Tentu saja. Bunda siapa coba?” tanya Nilam yang juga ikut bangga dengan menantunya.
“Bunda kitaaa” sorak enak anak itu semangat. Risma hanya tertawa dan mengelus puncak kepala anak-anaknya satu persatu.
Acara demi acara terus berlangsung hingga waktu menunjukkan pukul empat sore, barulah acaranya selesai.
“Semua peserta acara ini dipersilahkan untuk kembali ke kamar dan giat pribadi. Sebelum kembali ke kamar, silahkan ambil jatah snak yang sudah disiapkan” pengumuman terdengar dari para panitia. Semuanya menuju tempat snak yang sudah disediakan oleh panitia tanpa kecuali. Itulah permintaan Risma saat dia diminta untuk ikut andil dalam perayaan ultah perusahaan. Dan disinilah mereka semua. Berbaur dengan para karyawan tanpa canggung. Tanpa melihat diri sendiri bahwa jabatannya lebih tinggi dari mereka yang disekelilingnya. Dan para karyawan lain yang biasa canggung, kini tidak lagi. Mereka mengambil jatah sama seperti peserta lainnya. Bercengkerama sebentar lalu kembali ke kamar masing-masing.
“Menyenangkan ya bisa berbaur tanpa canggung dengan mereka. Selama ini rasanya seperti mimpi bisa bercanda dengan para karyawan. Namun kali ini, semua menjadi nyata. Mereka tidak lagi menjaga jarak dengan kita” ucap pemegang saham pada lainnya yang kebetulan seraah.
“Iya. Dulu saya hanya bisa memandang dari jauh saat melihat para karyawan bercanda. ingin ikut bergabung, tapi baru saja hendak minta ijin, mereka sudah sungkan duluan” jawab lainnya.
Begitulah kehidupan para petinggi yang sebenarnya. Ingin mengikis jarak yang sebenarnya tidak pernah mereka ciptakan. Hanya saja sebagian dari mereka merasa kecil hati hingga tanpa sengaja membuat jarak yang seharusnya tidak pernah ada. Bukan mereka yang kaya yang sebenarnya menajauhi kita. Tapi kitalah yang merasa tidak pantas untuk berbaur dengan mereka. Sehingga untuk menutupi apa yang kita rasakan, sebagian dari kita malah mengatakan kalau si orang kaya itu sombongdan tidak mau lagi bergaul dengan kita.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
*****
__ADS_1