
Hari berganti. Isabel datang dengan wajah lesu disambut Andina yang kini menjadi partnernya.
“Sudah. Harus semangat. Bu Risma itu orang baik. Tidak mungkin beliau mengambil keputusan berat sebelah. Yang sabar. Kita lihat nanti hasilnya” hibur Andina. Feelingnya mengatakan bahwa Risma tidak benar-benar memihak Almaira.
Dari pintu masuk, masuklah Alma dengan angkuh dan menatap sinis Isabel yang kini menempati tempatnya.
“Yes, mulai hari ini, aku akan sering keluar bareng bos-bos tampan dan pastinya shoping bareng bu bos” girang Alma saat di dalam lift.
Ternyata, ekpektasi memang tidak sesuai dengan kenyataan. Belum juga Alma duduk, dia sudah melihat tumpukan berkas di meja kerjanya yang sebelumnya menjadi meja kerja Isabel.
“Ini apa?” tanya Alma yang tidak mengerti soal pemberkasan.
“Oh, kamu sudah datang?” tanya Bagas dari belakangnya hingga dai berjingkat kaget.
“Eh, Pak Bagas. Sudah, Pak” jawab Alma setelah mentralkan jantungnya yang maraton akibat terkejut.
“Duduk. Saya brefing kamu sebelum kita meeting” ucap Bagas tegas.
Dia ingat bagaimana Risma mewanti-wantinya kemarin.
“Ingat. Ini hanya pelajaran bagi Alma. Jangan membuatnya berlebihan. Lakukan sesuai tolak ukur bagaimana seorang sekretaris bekerja. Dan Kak Bagas, untuk sementara, Kakak yang menghandel tugas Isabel. Biar dia istirahat sejenak dari tekanan kalian berdua”
“Huh, yang bos siapa sih?” keluh Bagas dan mendapat tatapan tajam dari Risma. Bagaimana tidak, tanpa Isabel, sudah pasti pekerjaannya akan semakin banyak. Apalagi Alma seperti anak kemarin. Ijazahnya saja tidak memenuhi kriteria menjadi sekretaris. Bahkan sangat jauh. Apalagi royalitasnya nanti. Bagas sudah memijit kepalanya pusing. Belum apa-apa dia sudah merasa lelah.
“Tambahkan di kontrak kerjanya poin terkahir. Dia bisa kembali bertukar posisi dengan Isabel kapanpun dia mau atas persetujuan Isabel juga Abang tentunya. Tapi tidak kurang dari tiga hari” tambah Risma. Bagas dan Reyhan hanya mengangguk. Bagi Reyhan, kini Risma adalah big bosnya.
“Membungkam seseorang yang bermulut pedas memang diperlukan hal yang ekstrim agar bisa menyemburkan bisa kepada siapa yang dia temui. Maka bisa itu menjadi kebenaran yang bisa membungkam lebih banyak mulut yang iri pada orang yang lebih sukses dari mereka” ucap Risma sukses membuat Reyhan dan Bagas saling pandang.
“Benar juga katamu Ris. Baiklah. Semoga saja paling lama seminggu, dia sudah minta balik lagi ke alamnya” do’a Bagas dan diamini oleh sepasang suami istri itu.
Hal inilah yang akhirnya membuat Bagas harus turun tangan membimbing Alma.
“Apa kamu sudah mengerti? Dan jangan lupa, kamu harus melaporkan kegiatan apa saja yang akan saya dan Tuan Reyhan kerjakan. Sudah dapat jadwal dari Isabel kan kemarin?” tanya Bagas dan diangguki pelan oleh Alma.
“Ya sudah. Kamu siapkan bahan meeting dua jam lagi. Dan ingat apa yang sudah saya jelaskan padamu tentang apa yang harus kamu lakukan dalam meeting nanti. Dan tugas utamamu juga” peringat Bagas sebelum akhirnya meninggalkan Alma setelah mulutnya berbusa menjelaskan panjang lebar padanya.
“Huft. Kenapa begini banget ya pekerjaan sekretaris? Enakan juga di resepsionist” keluh Alma.
Hellow, baru juga belum genap satu hari. Apa kabar Isabel yang sudah bertahun-tahun? Makanya jangan julid. Tahu rasa kan? Eh malah bunda yang julid sama Alma. Hehehehe.
Tak jauh berbeda dengan Bagas. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya dengan kasar.
“Coba saja kalau Isabel. Tidak akan membuat mulutku berbusa sia-sia” keluh Bagas.
Reyhan datang dan langsung masuk ruang kerjanya. Melihat atasan utama sudah datang, Alma mengetuk pintu bosnya.
__ADS_1
“Masuk” teriak Bagas.
“Tuan Rey sudah datang, Pak” ucap Alma gugup.
Ternyata tekanan menjadi sekretaris begitu mencekam. Ya Allah, aku kapok. Aku ingin kembali ke resepsionis menyambut tamu Pak Bos saja. ~ teriak Alma dalam hati.
Sedangkan Bagas berdiri dan keluar dari ruang kerjanya melihat sang atasan sudah masuk. Sebelumnya, dia berhenti di depan meja kerja sekretaris dadakannya. Sepertinya Alma lupa mengatakan jadwal yang harus dia bacakan tadi.
“Ehem” dehem Bagas. Alma tersentak karena dia tadi melamunkan nasibnya.
“Eh, ada apa Pak?” tanya Alma gelagapan.
“Kamu lupa melaporkan jadwal” tegur Bagas.
Alma menghela napas lelah. Dengan cepat dia menyambar tablet di atas meja.
“Maafkan kelalaian saya, Pak. Hari ini, ada meeting dengan dewan direksi pukul sembilan. Siang nanti akan ada pertemuan dengan calon investor dari luar negeri. Setelah itu, jam kosong, Pak” Alma menghela napas lega setelah membacakan jadwal hari ini.
“Kamu sudah reservasi untuk pertemuan nanti siang?” tanya Bagas.
“A-apa? Reservasi?” tanya Alma kikuk.
Kenapa banyak sekali tugas sekretaris? ~ keluhnya dalam hati.
“Maaf Pak. Saya belum melakukannya” Alma menunduk takut.
“Huh. Sudah kuduga” kesal Bagas.
“Ya sudah. Biar saya saja. Siapkan bahan meeting dengan dewan direksi juga proposal untuk nanti siang” ucap Bagas dan berlalu menuju ruang Reyhan.
Alma melongo di mejanya setelah ditinggalkan atasannya. Sedangkan Bagas mengulang jadwal yang didengar dari Alma pada Reyhan.
Ya, begitulah cara kerja di tempat Reyhan. Tidak seperti di perusahaan lain. Karena sedari dulu Reyhan tidak pernah ingin punya sekretaris perempuan. Alhasil, Bagaslah yang menjadi asisten sekaligus sekretarisnya. Namun semenjak Bagas menikah, Bagas mengeluh karena banyaknya tugas sehingga waktunya dengan sang istri terpangkas di kantor. Maka dari itulah, Isabel menjadi sekretaris Bagas sekarang. Namanya saja sekretaris Bagas. Tapi tugasnya melebihi itu. Karena konfirmasi dari pihak luar, semua melalui dia. Sama saja dengan menjadi sekretaris dari dua big bos itu.
Sebelum melakukan meeting, Alma dan Isabel berada di ruang Reyhan untuk menandatangani surat kontrak bagi Alma, dan surat cuti bagi Isabel. Alma sampai melotot melihat gaji yang diterima Isabel selama ini. hatinya senang karena itu akan menjadi miliknya. Keinginan untuk kembali ke resepsionis sudah hilang dari hatinya.
“Haduch. Tak heran kalau gaji Isabel dua kali lipat dari gaji sekretaris lainnya. Tugasnya dibawah dua big bos langsung” keluh Alma yang tadinya bahagia karena tidak hanya tiga atau empat kali lipat gaji yang dia terima. Tapi hampir tujuh kali lipat dari gajinya. Namun sekarang, hal itu tidak menarik lagi baginya. Yang dia inginkan sekarang adalah cepat melalui tiga hari yang bahkan baru berjalan beberapa jam saja. Dia benar-benar rindu dengan kehidupan sebelumnya.
Berbeda dengan keadaan yang dialami Alma. Isabel justru merasa senang karena apa yang diucapkan Risma kemarin benar. Otaknya perlu direfresh agar lebih bersih dan siap menghadapi hari berat selanjutnya. Apalagi kemarin Risma sudah menjaminnya akan menempatkan di tempat yang semestinya jika Alma lolos menjadi sekretaris Bagas.
“Tenang saja. Alma pasti menyerah. Aku tahu betul bagaimana Alma. Urusan pemberkasan di sini saja, aku yang menghandel. Sudah, cepat atau lambat, posisi kamu akan kembali” hibur Andina.
“Makasih ya? Ternyata enak ya jadi resepsionis. Nggak perlu pusing mikirin berkas, proyek, dan lain-lain” cerita Isabel.
“Ya begitulah memang tugasnya. Tapi ya gitu, semakin sedikit otak yang digunakan, maka hasilnya juga semakin sedikit. Buktinya gajinya nggak sebanyak divisi lain yang lebih banyak menggunakan otak”
__ADS_1
“Ya, dimana-mana, ada harga, ada barang”
“Kamu benar”
Keduanya larut dalam perbincangan karena kebetulan hari ini jarang yang bertandang ke kantor. Tanpa mereka sadari, waktu makan siang sudah tiba.
“Aku atau kamu yang jaga?” tanya Andina. Karena itu resiko dari resepsionist. Harus tetap ada yang jaga.
“Kamu tetap di sini. Biar aku yang beli makanan untuk kita berdua. Kita jaga sama-sama” ucap Isabel yang memang terbiasa kerja dengan tim. Bahkan proyek yang tidak dia handel harus dia teliti dulu daripada nanti bos besar marah-marah. Solidaritas antar pekerja, itulah prinsip Isabel dalam bekerja.
“Baiklah” Andina menyetujui ide Isabel.
Langkah kaki Isabel sudah ringan semenjak menandatangani berkas tadi. Tiba di kantin, Isabel memesan dua porsi soto ayam dan minta diantar ke meja resepsionis. Tidak lupa memesan minuman yaitu jus jeruk. Saat hendak keluar dari kantin, jalannya dihadang oleh Alma. Isabel memandang Alma penuh tanya. Wajah Alma tidak lagi sinis, tapi penuh harap. Entah apa yang dia harapkan.
“Bel, tolong aku” pinta Alma memohon. Hampir semua karyawan tahu pertukaran dari keduanya karena Risma sengaja melakukan itu di depan umum agar menjadi pelajaran juga untuk yang lainnya. Iri boleh, tapi harus tahu tempatnya. Juga harus tahu porsinya.
Yang lain memandang Alma kasihan. Mulut nyinyirnya kini menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Namun, banyak juga yang mengolok-olok tingkahnya. Bahkan mereka tidak menunjukkan rasa iba sedikitpun.
“Syukurin. Dikira enak apa kerjaan Isabel” nyinyir salah satu divisi yang pernah dibantu Isabel.
“Biar dia rasakan itu menjadi Isabel. Berada di bawah tekanan dua raja di kantor ini” tambah yang lainnya.
“Kalau aku sih ogah ya tukeran sama Isabel. Biar gajinya paling gede setelah Pak Bagas, tapi kerjaannya, haduch. Pusing tujuh hari tujuh malam nggak sembuh-sembuh” yang lain ikut mengomentari.
“Ho oh. Belum lagi dia masih bisa membantu mengecek laporan kita. Memang luar biasa Isabel itu”
Alma semakin menunduk mendengar ocehan rekan-rekan kerjanya. Menyudutkannya dan memuji Isabel. Namun hatinya tidak lagi marah saat rekan-rekan memuji Isabel. Kini dia sudah tahu bagaimana beratnya menjadi Isabel. Apalagi dia baru saja mendapat teguran keras dari Reyhan karena laporan meeting dengan dewan direksi yang acakadul.
“Tolong, aku udah nggak kuat Bel” pinta Alma.
“Maaf Al. Aku nggak bisa. Aku baru saja menandatangani surat cuti tiga hari ke depan. Jadi aku mengantikanmu karena cuti. Dan pesan dari Bu Risma, kamu tidak boleh berhenti sebelum tiga hari” jawab Isabel dan berlalu menuju meja resepsionis.
Alma menundukkan wajahnya putus asa. Dengan langkah gontai, dia minta bakso dan es teh. Setelah itu, dia akan menemani Reyhan juga bagas bertemu klien dari luar negeri. Beruntung yang reservasi adalah Bagas. Kalau dia, mau bertanya pada siapa tempat yang biasa digunakan meeting oleh bosnya itu. Mengingat soal meeting, Alma terhenyak karena proposalnya belum dia siapkan. Padahal tinggal menyiapkan dan sudah dicetak oleh Isabel dari tiga hari yang lalu.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
*****
__ADS_1