DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 1


__ADS_3

Malam pertama Riska di rumah keluarga Kusumo harus berhadapan dengan Reyhan. Duda keren yang sayangnya terlihat dingin di mata Riska. Riska tak tahu harus bersikap bagaimana, hingga keputusannya memilih diam mengikuti instruksi dari majikannya. Ya, Riska membatasi diri dengan menyebut dirinya sendiri pelayan dan tuan rumah sebagai majikan. Meskipun Riska tahu kalau dirinya di sini sebagai tamu, namun dia sudah membuat keputusan pada William dan telah disampaikan pada tuan rumah.


“Silahkan duduk” suara dingin Reyhan mengintruksi Riska. Riska mengerjap menyiapkan diri dan duduk tepat dihadapan Reyhan. Karena hanya itu kursi yang ada di depan meja kerja Reyhan. Reyhan melihat sekilas Riska yang sudah duduk di hadapannya.


“Saya tak tahu  harus memeperlakukan kamu seperti apa” Reyhan menghela napas usai mengatakan apa yang mengganjal di hatinya. Meskipun masih terdengar dingin di telinga Riska, namun itu lebih baik dari pada ucapan yang pertama.


“Anggap saya sebagai pekerja di sini tuan” jawab Riska akhirnya. Kalimat itu yang muncul dibenaknya.


“Baiklah. William sudah mengatakan apa yang kamu inginkan” Reyhan menjeda ucapannya. Terlihat banyak beban yang ditanggungnya.  Dan itu bisa dilihat oleh Riska.


“Saya telah melihat bagaimana caramu mendidik anak-anakmu. Saya salut dan untuk itulah saya memanggilmu di sini” tanpa disadari Reyhan, inilah kalimat terpanjang yang dia ucapkan pada orang yang baru dia kenal. Riska masih setia dengan kebungkamannya.


“Saya ingin kamu bertanggung jawab penuh pada ketiga anakku” akhirnya Reyhan mampu mengutarakan maksudnya. Tapi justru Riska yang merasa ambigu dengan pernyataan tuannya.


“Maksud tuan?”


“Kebutuhannya, perkembangan serta prilakunya. Kamu juga punya hak penuh untuk menghukum mereka jika perlu, asal tidak merusak mental dan kekerasan fisik. Kami akan tetap memantau kerjamu”


“Saya mengerti. Bolehkah saya meminta sesuatu?” tanya Riska ragu-ragu.


“Katakan, saya akan berusaha memenuhi jika mampu”


“Saya ingin diperbolehkan untuk menggunakan dapur setiap saya memerlukan. Saya terbiasa menyiapkan apapun untuk anak-anak saya juga bekal mereka”


“Saya ijinkan. Kamu juga boleh menggunakan bahan yang ada di sana. Bilang saja sama ketua pelayan untuk memenuhi stok di kulkas. Kamu juga boleh memasak untuk kami”


“Terimakasih tuan” Riska terlihat bahagia meskipun Reyhan memberikan ijin dengan suara dinginnya.


Bahagiamu sederhana Ris. Andai bahagiaku juga sesederhana bahagiamu. ~ Reyhan melihat raut bahagia di wajah Riska.


“Saya mau istirahat” ucap Reyhan. Riska langsung berdiri dan pamit keluar dari ruang kerja Reyhan. Riska cukup tahu diri jika tuannya itu ingin sendiri.


*****


Setelah shalat subuh, Riska langsung menuju dapur. Disana sudah ada pelayan yang bertanggung jawab di bagian dapur dan satu chef khusus yang dipekerjakan oleh Ali.


“Pagi bi.  Pagi chef” sapa Riska dengan ramah.


“Pagi juga nona. Ada yang bisa kami bantu?”


“Oh tidak. Riska hanya ingin masak untuk sarapan anak-anak dan yang lainnya”


“Tidak usah Nona. Ini sudah tugas kami” tolak chef itu dengan halus.


“Kalau begitu, biar saya membantu chef dan bibi. Jangan ditolak” meskipun ramah, namun kalimat terakhir Riska terdengar cukup tegas.

__ADS_1


“Baiklah” akhirnya dua orang itu pasrah. Sedangkan ketua pelayan yang sudah diberi tahu Reyhan hanya memantau saja tanpa mendekat.


Tiga puluh menit lebih mereka memasak dan sekarang semuanya siap.


“Semuanya masakan western?” tanya Riska. Chef itu cukup terkejut dengan pengetahuan Riska. Mereka belum tahu kalau Riska punya cafe sendiri yang sekarang dikelola oleh duo K saudari William.


“Jangan terkejut chef. Saya hanya tahu saja” Riska tak mau mengatakan sejujurnya, takut dianggap sombong.


“Oh, tidak Nona” chef itu salah tingkah. Bibi hanya tersenyum.


“Bolehkan saya masak yang lain? Anak saya terbiasa dengan masakan loka. Maaf, saya tidak punya niat apa-apa” Riska merasa tidak enak pada chef dan bibi.


“Silahkan Nona. Boleh kami bantu?”


“Oh, dengan senang hati. Saya juga ingin bikin untuk semuanya”


Riska  semangat memasak nasi goreng sosis dan telur gulung kesukaan anak-anaknya. Dia memasak cukup banyak dan waktunya juga cepat. Setelah mengambil untuk disiapkan di meja makan, Riska meminta bibi dan chef mengambil dan membagi untuk semuanya. Bibi dan chef itu merasa bahagia. Baru kali ini mereka merasa diperhatikan. Biasanya hanya menunggu masakan sisa atau membuat baru setelah semua majikannya selasi sarapan. Bukan karena mereka tidak diperhatikan, namun semuanya sudah berjalan dengan uang. Padahal perhatian kecil seperti yang Riska lakukan juga perlu. Hal itu memberi kenyamanan hingga membuat pekerja merasa nyaman.


“Bi, chef, Riska ke kamar dulu. Bebersih dan membangunkan anak-anak. Pasti tadi tidur kagi setelah subuh”


“Oh iya Nona”


Riska membangunkan Rindi setelah selesai mandi. Lalu kamar Rendi dan Reno. Setelah anak-anaknya bangun, Riska naik ke tangga menuju kamar anak asuhnya.


“Astaga” Riska langsung mengusap dadanya untuk menguatkan diri melihat betapa berantakan kamar Sila.


“Non, bangun. Sudah jam enam lebih” Riska dengan lembut menggoyangkan tubuh Sila. Sengaja mengatakan jan enam lebih agar anak asuhnya cepat bangun.


“Apa?” pekik Sila terkejut. Tanpa aba-aba, Sila bangun dan langsung berlari ke kamar mandi. Riska terkikik melihat tingkah Sila yang takut terlambat. Masih tertawa, Riska merapikan kamar Sila dan menata buku-buku yang berserakan di meja belajarnya.


Riska melanjutkan tugasnya menuju kamar Sean. Tak jauh berbeda dengan kamar Sila, kamar Sean juga berantakan. Dengan cara yang sama Riska membangunkan Sean. Respon yang diberikan Sean juga tak jauh berbeda. Begitu seterusnya sampai ketiga anak asuhnya telah siap mengenakan seragam yang disiapkan Riska di atas tempat tidur masing-masing.


“Bibi, buku PR ku mana?” teriak Sila dari kamarnya. Riska datang dengan tergopoh-gopoh. Rahangnya langsung turun saat melihat meja belajar Sila sudah berantakan lagi.


“Kenapa ini diberantakin lagi sih non?” tanya Riska mencoba menekan suaranya agar terdengar selembut mungkin.


“Salah bibi sendiri kenapa buku PR ku dirapikan” jawab Sila tak mau kalah.


“Harusnya semalam dirapikan sekalian yang akan dibawa hari ini” Riska masih bicara dengan lembut walaupun hatinya ingin melahap orang.


“Jangan mengaturku” ketus Sila. Riska menghela napasnya pasrah. Meskipun dia diberi hak penuh, namun Riska tak mau salah langkah. Beruntung Sean dan Seno tidak berulah.


Riska turun dan diikuti oleh ketiga anak asuhnya. Pukul enam lebih lima belas menit. Ini rekor terpagi trio S bersiap ke sekolah. Ali dan Nilam memandang mereka heran. Sedangkan Reyhan tersenyum tipis sebentar tanpa ada yang menyadari. Baru hari pertama kerja, namun anak-anaknya sudah bisa bangun lebih pagi. Reyhan berpikir cara apa yang dilakukan Riska. Bahkan suaranya tidak terdengar. Hanya terdengar suara Sila saat menanyakan PR.


“Ris, ikut sarapan dengan anak-anak” ajak Nilam.

__ADS_1


“Terimakasih Nyonya. Saya dengan anak-anak nanti saja” tolak Riska.


Riska melangkah menuju meja makan. Bukan untuk makan tapi untuk melayani tuan dan nona kecilnya.


“Nona mau apa?” tanya Riska yang sudah siap dengan centong nasi. Sila yang biasanya mengambil sendiri merasa terharu, karena baru pertama kali ini ada yang memperhatikan selain papa dan opa omanya.


“Mau coba nasi goreng itu. Tumben chef masak nasi goreng?” Sila menjawab ketus untuk menghilangkan rasa bapernya.


“Saya yang masak nona. Anak-anak sangat suka nasi goreng” jawab Riska jujur dan mengambilkan nasi goreng untuk Sila.


“Aku juga mau coba” Sean dan Seno berkata bebarengan. Riska dengan senyum melayani kedua tuan kecilnya.


“Mau ayam goreng atau ayam krispi?” tawar Riska.


“Ayam goreng” jawab Sila.


“Ayam krispi” jawab Sean dan Seno bersamaan dengan Sila.


“Baiklah”


Riska menaruh ayam goreng di piring Sila dan ayam krispi di piring dua tuan muda kecilnya. Setelah itu, Riska mengambil air putih untuk ketiga anak asuhnya. Riska mengambil susu kemasan tiga biji untuk dimasukkan ke dalam tas anak asuhnya seperti yang Reyhan instruksikan saat membekali Riska apa saja yang harus dikerjakan.


Reyhan merasa iri melihat anaknya diperhatikan sedemikian rupa oleh Riska. Pengasuh sebelumnya bahkan tidak seperhatian itu sampai harus melayani makan segala.


Andai aku juga ada yang memperhatikan. Eh, apa yang baru saja aku pikirkan? ~ Reyhan menggelengkan  kepalanya.


Reyhan merasa ada yang tidak beres dengan otaknya. Kenapa jadi merasa iri dengan anak-anaknya yang mendapat perhatian khusus dari pengasuhnya.


“Ma, pa, aku berangkat. Kalian diantar sopir. Papa ada rapat pagi” Reyhan memilih pergi dari pada pikirannya semakin tak menentu. Anaknya hanya mengangguk dan melanjutkan makan.


“Tuan, tunggu” cegah Riska. Reyhan terpaksa berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap Riska.


“Kalian  tidak sungkem atau pamit pada papa?” tanya Riska lembut. Reyhan tersentak mendengar ucapan Riska. Selama ini dia tak pernah melakukannya. Hanya pamit ala kadarnya dan berlalu seperti saat ini. Trio S saling pandang, tak tahu harus berbuat apa.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah  bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


__ADS_2