
Reyhan ditemani Riska telah selesai mengunjungi ketiga anaknya. Saat dai keluar dari kamar si bungsu, Riska masih berdiri menunggu dirinya di dekat tangga.
“Menungguku hem?” tanya Reyhan menggoda.
“Iya. Saya hanya ingin mengatakan..”
“Saya terima” ucap Reyhan percaya diri memotong ucapan Riska.
“Ha? Apanya yang diterima?” tanya Riska cengo.
Sepertinya apa yang aku pikirkan berbeda dengan yang tuan pikirkan. ~ pikir Riska
“Bukannya kamu mau mengatakn tentang keinginan Sila?” tanya Reyhan masih dengan rasa percaya diri yang tinggi.
“Bukan Tuan. Saya hanya ingin mengatakan kalau malam ini adalah langkah yang bagus untuk hubungan Tuan dengan anak-anak. Saya harap Tuan bisa lakukan setiap malam. Kalaupun Tuan harus pulang larut dan anak-anak sudah tidur, Tuan cukup melihat dari pintu atau sekedar mencium kening anak-anak Tuan meskipun mereka tidak merasakannya”
“Oh” ucap Reyhan kecewa. Dia menatap Riska dalam. Entah mengapa wanita ini membuat Reyhan tak berdaya. Mungkin memang Reyhan sudah terinfeksi virus dari Dewa Amor. Hanya saja Reyhan masih belum menyadarinya.
“Ris” panggil Reyhan. Riska menunggu apa yang hendak diucapkan Reyhan selanjutnya. Namun sudah lima menit berlalu, Reyhan masih diam tiada tanda ingin melanjutkan ucapannya. Dia terlihat gugup dan ragu-ragu.
“Tuan. Tuan ingin bicara apa?” tanya Riska karena Reyhan tak jua membuka mulutnya.
“Em, boleh minta dibuatkan kopi? Kita ngobrol di runag tengah saja”
“Baiklah”
Riska menuruni tangga dan disusul oleh Reyhan tepat di belakang Riska. Riska menuju dapur membuat kopi untuk dirinya dan Reyhan. Sedangkan Reyhan melangkah menuju ruang tengah dan menyalakan televisi sambil menunggu Riska.
“Tuan. Saya lihat anak-anak dulu” pamit Riska setelah dia meletakkan dua cangkir kopi di atas meja.
“Oh iya” Reyhan menatap kepergian Riska hingga masuk ke dalam kamar duo R.
“Riska benar-benar ibu yang perhatian. Apa dia tak merasa lelah mengurus enam anak begitu? Belum lagi nanti kalau anaknyanambah? Eh, kenapa mikir kesana? Ini aja baru mau diomongin” kesal Reyhan pada dirinya sendiri karena tak bisa mengendalikan perasaannya.
Tak lama kemudian, Riska telah kembali dan memilih duduk yang berhadapan dengan Reyhan.
“Maaf Tuan, kalau kopinya tidak sesuai selera. Itu selera almarhum suami saya” ucap Riska tak enak hati. Dia lupa menanyakan kopi apa yang biasa dikonsumsi Reyhan ketika malam hari. Kebiasaan Erik yang mengkonsumsi kopi berbeda di pagi dan malam hari ternyata masih melekat di pikiran dan hati Riska.
__ADS_1
“Hem, tidak buruk juga selera suami kamu. Saya suka. Walaupun tiap pagi minum kopi pahit buatanmu, tapi manis juga tidak masalah” Reyhan masih terus menghirup dan menyeruput kopi manis untuk pertama kalinya. Ya, biasanya Reyhan memang minum kopi pahit kapanpun itu.
“Kamu masih sangat mengingat kebiasaan suami yah?” Reyhan mulai obrolannya.
“Tentu saja Tuan. Kami hidup bersama sudah lama. Susah dan senang kami rasakan sama-sama” jawab Riska tegas. Ada rasa iri di hati Reyhan mendengar betapa bahagianya dulu Riska dengan Hendrik. Itu yang ditangkap Reyhan dari perkataan Riska. Hendrik ya, karena ini versinya Reyhan. Kalau versi aslinya tetap Erik. Mereka masih dalam mode penyamaran.
“Hem, nggak pengen cari penggantinya?” tanya Reyhan mulai mencari celah.
“Belum terpikirkan. Saya serahkan jodoh selanjutnya kepada Allah. Yang jelas pria itu adalah pria yang bertanggung jawab, penuh kasih pada keluarga dan yang terpenting bisa menjadi imam bagi kami semua”
Reyhan merasa insecure mendengar penuturan Riska tentang calon pengganti Hendrik kedepannya. Sepertinya Reyhan harus berpikir ribuan kali untuk menggantikan peran Hendrik menjadi ayah dari trio R. Bertanggung jawab mungkin bisa dilakukan Reyhan dengan mudah. Sayang keluarga? Dirinya saja mulai memperbaiki hubungannya dengan anak-anak. Sedangkan imam? Bahkan Reyhan lupa kapan terakhir kalinya dia sujud di hadapan sang pencipta.
“Tuan, Tuan” panggilan Riska membuyarkan lamunan Reyhan.
“Eh, maaf Riska. Saya melamun” ucap Reyhan salah tingkah.
“Tidak apa-apa Tuan” Riska menanggapinya biasa saja.
“Jadi beginu Ris. Menurutmu, bagaimana dengan permintaan Sila pada kita? Tentang ... menikah” tanya Reyhan dengan ragu-ragu.
Yes, artinya aku tinggal membuat anak-anak Riska menerimaku dan membujuk bundanya untuk menikah denganku. Sila, bunda coming soon. ~ sorak Reyhan dalam hati.
Meskipun hatinya sedang senang, namun wajh Reyhan dibuat sebiasa mungkin. Dia tidak mau Riska sampai mengetahui maksudnya dan hal itu tentu akan berdampak pada usahanya nanti.
“Terimakasih karena kamu sudah mengajrakanku arti keluarga yang sesungguhnya. Aku benar-benar iri denganmu yang bisa begitu perhatian pada ketiga anakmu, tapi juga tak lalai dalam menjaga anakku. Aku salut padamu. Kamu wanita terhebat yang aku kenal sejauh ini” ucap Reyhan yang tak sadar kalau telah memuji Riska.
Riska hanya tersenyum dipuji sedemikian rupa oleh Reyhan. Baginya, pujian itu tiada artinya karena memang sudah kewajibannya melakukan itu semua.
*****
Waktu cepat berlalu, tanpa terasa, Riska sudah hampir satu tahun bekerja sekaligus bersembunyi di dalam keluarga Kusumo. Reyhan memang sudah dekat dengan anak-anak Riska, namun hubungannya dengan Riska masih jalan di tempat. Ternyata anak-anak Riska lebih tertutup dari pada anak-anaknya. Trio A lebih welcome pada Riska, bahkan sudah memanggilnya bunda. Sedangkan trio R, sampai sekarang masih belum memanggil Reyhan papa.
“Bun, kalau misalnya bunda berjodoh dengan papanya Kak Trio A bagaimana?” tanya Reno saat bermanja-manja dengan Riska.
“Memangnya Reno suka sama Tuan Reyhan?” tanya Riska balik. Dari belakang, Rendi dan Rindi memeluk Riska.
“Kalau Reno sih bukan masalah. Toh Om Reyhan juga sudah berubah. Sudah perhatian dengan Kakak S3. Beliau juga perhatian dengan kami” jawab Reno jujur.
__ADS_1
“Cek, Om Reyhan nggak keren” celetuk Rindi dari belakang Riska. Riska terkekeh mendengar celotehan anak-anaknya. Tanpa mereka sadari, orang yang dibicarakan tengah mendengarkan pembicaraan.
“Memangnya Bunda nggak suka gitu sama Om Rey? Udah ganteng, kaya lagi. Badannya juga kaya Arjuno” puji Rendi disamping Rindi.
“Cek, Kak Rendi buta ya? Badan kaya buto ijo begitu dibilang kaya Arjuno” bantah Rindi tidak terima.
“Hahahahaha” tawa Riska pecah mendengar perdebatan kedua anaknya. Pro versus kontra. Sedangkan Reyhan menatap sendu pada keluarga kecil itu. Dirinya ternyata masih belum bisa menakhlukkan hati Rindi.
“Semangat Reyhan. Hanya sisa Rindi seorang. Tapi apa benar kalau badanku seperti buto ijo? Memang seperti apa buto ijo itu?” monolog Reyhan pada dirinya sendiri. Tak kurang akal, Reyhan meraih ponselnya dan mencari gambar buto ijo juga Arjuno di internet.
“Asataga” pekik Reyhan tertahan karena takut katahuan. Dengan langkah cepat, Reyhan meninggalkan Riska dan anak-anaknya.
“Kurang ajar sekali Rindiani itu. Masak badan bagus dan wajah ganteng seperti ini disamakan dengan buto ijo” kesal Reyhan setelah melihat gambar buto ijo. Gambar raksasa yang hanya mengenakan color ijo dengan muka seram. Reyhan sampai mengusap dadanya karena terkejut dan mengusap perutnya sambil terus mengucapkan
amit-amit jabang bayi seperti orang yang sedang hamil.
“Nah, kalau ini, aku setuju” ucap Reyhan lagi setelah melihat gambar Arjuno di tokoh pawayangan pandhawa atau lebih dikenal dengan mahabarata.
“Sepertinya waktu gym harus ditambah agar lebih macho lagi. Awas saja kalau Rindiani itu masih mengataiku buto ijo” tekad Reyhan ingin menakhlukkan hati Rindi dengan badan bak Arjuno sang putra Dewi Kunti.
Hahahaha, Reyhan si Buto Ijo sedang melakukan mediasi agar berubah menjadi buto ireng. Eh salah, berubah jadi Raden Mas Arjuno.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
Bunda mau ngasih tahu pada Readers semua. Maafkan kalau mulai hari ini, bunda akan up dua hari atau tiga hari sekali. Bunda usahakan setiap up minimal dua episode. Bunda udah pulkam dan insya Allah menetap di kampung. Karena kampung bunda di lereng gunung alias kaki gunung, jadi signalnya susah-susah gampang. Makanya bunda timbun aja dulu, kalau pas signalnya bagus, bunda up. Tolong pengertiannya yah readers, biar bunda tetap semangat berkarya meskipun harus berperang dengan signal. Kan nggak enak kalau udah nulis banyak, terus tiba-tiba signal hilang. percuma bunda nulisnya capek-capek tapi lenyap tak bersisa. rasanya seperti hidup enggan mati tak mau. Mau gantung di pohon toge, adanya pohon terong. Giliran udah siap, eh yang punya datang mau panen. Akhirnya dapatnya terong. hehehehe.
*****
NEXT
*****
__ADS_1