
Sepulang dari konsultasi, Reyhan mengajak Risma ke pantai. Sedangkan anak-anak sudah Reyhan titipkan pada Bagas dan istrinya. Reyhan ingat kata dokter bahwa pasien harus terus rileks dan hindari hal-hal apapun yang menjadi pemicu timbulnya trauma datang. Dokter juga menyarankan untuk piknik agar pasien lebih fresh dan santai. Sementara, hanya itu yang dilakukan.
“Indahnya” kagum Risma melihat hamparan air yang terus bergerak mendekati bibir pantai.
“Suka?” tanya Reyhan tersenyum.
“Sangat. Makasih ya Bang” Risma memeluk suaminya. Tentu saja Reyhan tak mau melewatkan kesempatan ini. Reyhan balas memeluk dengan erat.
“Kita quality time, sayang” ucap Reyhan membelai lembut punggung Risma.
“Berdua?” tanya Risma mendongakkan kepalanya. Kini tatapannya beradu dengan tatapan suaminya.
“Ya. Saatnya kita bahas kita berdua. Lupakan anak-anak sejenak. Kita juga butuh privasi, bukan?” Risma mengangguk. Dia sadar betul bahwa dia belum menjadi istri sepenuhnya untuk Reyhan.
“Maafkan Risma yang belum menjadi milik Abang sepenuhnya” ucap Risma dengan tatapan bersalah.
“Tidak apa-apa. Abang tidak akan memaksa. Abang siap jika harus menunggu kamu siap” jawab Reyhan lembut. Mencoba mengerti istrinya walau dirinya juga membutuhkan hal itu. Risma menggeleng.
Ini salah. ~ batin Risma.
“Bang. Maaf kalau hati Risma belum sepenuhnya menerima Abang. Jujur Risma masih menyimpan baik nama Mas Erik di sini” ucap Risma menatap netra Reyhan yang terlihat kecewa.
“Tapi, satu hal yang Abang harus tahu. Risma siap menjadi milik Abang sepenuhnya” ucap Risma tegas tanpa paksaan. Reyhan sampai mengerjap mendengar ucapan istrinya.
“Kau serius?” tanya Reyhan. Risma mengangguk mantap.
“Bang, aku pernah merasakan sentuhan lelaki. Tak bisa dipungkiri kalau aku juga rindu dimanja. Hanya saja aku tidak ingin dimanja oleh yang bukan muhrim. Munafik bila Risma tak menginginkan Abang. Risma juga menginginkan Abang. Tapi situasi selalu tidak mendukung. Maafkan Risma ya?” ucap Risma jujur. Reyhan sampai
spechles mendengarnya.
“Abang tanya lagi. Kamu serius? Karena kalau Abang sudah maju, maka tidak ada kata kembali” tekan Reyhan sekali lagi. Risma meneguk salivanya kasar. Erik saja yang jarang dirumah bisa membuatnya lelah, apalagi suaminya sekarang yang setiap malam bisa saja terus menggempurnya. Namun tekad Risma sudah bulat untuk
menyerahkan dirinya yang mantan janda itu ke sang suami, Reyhan si mantan duda.
“Bagaimana kalau sekarang?” tanya Reyhan dengan nada menggoda. Matanya juga ikut bermain peran dengan berkedip manja.
“Ha? Sekarang? Di sini? Yang benar saja dong Bang” omel Risma gemas dengan kelakuan suaminya.
Tuk. Reyhan menjitak pelan kepala Risma yang tertutupi hijab. Bagaimana bisa istrinya itu berpikir begitu pendek. Reyhan menggelengkan kepalanya.
“Aw, sakit Abang” rengek Risma manja. Padahal sih nggak sakit, cuma diketuk manja kok sakit.
“Habisnya pikirannya itu. Ya nggak di sini juga, Sayang. Kita ke hotel. Yuk” ucap Reyhan meraih tangan Risma dan menariknya agar istrinya mengikuti langkahnya. Risma hanya memandang punggung Reyhan dengan tangan yang terus bartaut.
“Bang" panggil Risma dan menarik tangan suaminya agar berhenti.
“Kenapa?” tanya Reyhan setelah berbalik. Dipandangnya wajah wanita yang selalu bisa meluluhkan egonya dan kembali menjadi pribadi yang sayang keluarga.
“Maaf, sepertinya nggak bisa sekarang” cicit Risma dengan kepala menunduk. Kaki Reyhan terasa lemas seperti tak bertulang setelah semangat yang menggebu-begu tadi.
“Kenapa?” tanya Reyhan tanpa tenaga.
__ADS_1
“Risma lapar. Pengen ikan bakar dan es degan yang langsung dari buahnya” lirih Risma, namun dia menahan senyum karena tahu bahwa suaminya telah berpikir yang berlebihan.
“Huft, aku kira kenapa. Ya sudah, ayo” ajak Reyhan kembali semangat. Hampir saja dia patah semangat mendengar ucapan istrinya.
“Hahahaha” Risma tidak kuat menahan tawanya. Sungguh suaminya ini sangat lucu. Tadi lemas seperti tidak makan satu minggu. Kini semangatnya seolah hendak bertempur melawan penjajah. Reyhan memandang istrinya dengan heran.
“Kenapa tertawa? Ada yang lucu?” tanya Reyhan ingin tahu.
“Iya. Ada. Hahahah” jawab Risma masih dengan tawanya.
“Apa?” tanya Reyhan semakin penasaran. Bahkan dia mengedarkan pandangannya ke seluruh pantai untuk melihat apa yang membuat istrinya tertawa sampai seperti itu. Melihat suaminya yang bingung mencari sumber tawanya, tawa Risma semakin kencang.
“Apa sih?” kesal Reyhan karena tak juga mendapatkan apa yang dia mau.
“Abang yang lucu” jawab Risma sambil memegang perutnya yang terasa sedikit keram.
“Abang? Kenapa?” tanya Reyhan bingung. Memangnya dia membadut tadi? Tidak kan.
“Iya, Abang. Tadi Abang semangat sekali menarik Risma ke hotel. Giliran Risma minta makan, Abang seperti kehilangan nyawa saja. Terus kembali semangat empat lima. Hahahaha” jawab Risma dengan nafas tersengal-sengal karena terlalu banyak tertawa.
Reyhan tersenyum mengingat apa yang baru saja dia rasakan tadi. Dia juga senang karena istrinya bisa tertawa dengan lepas. Tiba-tiba, ide jahil muncul di otaknya. Dengan senyum menyeringai, dia melangkah mendekati Risma yang masih terus tertawa dan memegang perutnya.
“Terus saja tertawakan Abang” ucap Reyhan tiba-tiba merengkuh pinggang Risma membuat istrinya terhuyung dan menempel di dadanya. Tawa membahana istrinya langsung terhenti seolah ada rem cakram di dalamnya.
“Kenapa berhenti tertawa?” tanya Reyhan berbisik tepat di depan wajah Risma. Bahkan Risma bisa merasakan hangat napas suaminya.
“Eh, emm, engg” jawab Risma salah tingkah. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Reyhan tersenyum kemenangan melihat istrinya tak berkutik.
“Hahahaha” giliran Reyhan yang tertawa lepas karena berhasil mengerjai istrinya. Reyhan merasa istrinya itu masih polos. Padahal sudah khatam kalau urusan rumah tangga, terlebih urusan ranjang. Tapi lihatlah. Hanya digoda seperti itu saja sudah malu sampai mukanya memerah. Sungguh menggemaskan bukan? Risma sampai melongo tak percaya kalau suaminya bisa sejahil itu.
“Abang ngerjain Risma ya?” teriak Risma dan mengangkat tangannya menampol bahu Reyhan. Sayangnya tangannya hanya menyapu angin karena Reyhan sudah menghindar dan berlari menuju kedai ikan bakar yang diinginkan istrinya.
“Abang. Jangan lari” teriak Risma dan terdengarlah tawa Reyhan di kejauhan.
“Hahahaha. Ayo kejar Abang kalau bisa” tantang Reyhan dengan berteriak agar istrinya mendengar.
“Awas ya nanti kalau dapat” jawab Risma juga berteriak. Namun jaraknya dengan suaminya semaikin jauh dan napasnya sudah putus-putus karena lelah.
“Ya Allah, lelahnya. Mana Abang sudah hampir sampai di kedai lagi. Hos, hos, hos” keluh Risma dengan napasnya yang terengah-engah. Dari jauh dia bisa melihat Reyhan tertawa memandangi dirinya. Tiba-tiba senyum smirk tercetak di bibir Risma.
“Kalau abang bisa datang ke sini, kenapa harus aku yang kesana. Hehehe”
Risma mulai melangkahkan kakinya dan sedikit berlari. Namun baru lima langkah larinya, Risma terjatuh dan memekik.
“Aw. Ya Allah. Abang” teriak Risma. Reyhan sendiri sudah berlari ketika melihat istrinya terjatuh. Dan saat dia belum sampai, semakin dibuat panik karena mendengar teriakan istrinya.
“Sayang” Reyhan langsung berjongkok di depan istrinya yang terduduk.
“Apa yang sakit?” tanya Reyhan begitu khawatir. Risma jadi terpaku melihat wajah khawatir suaminya. Perasaan hangat menjalar dalam hatinya dan sedikit rasa bersalah telah membohongi suaminya. Namun, senyumnya merekah dan memeluk suaminya dengan erat.
Grep. Reyhan sampai terhuyung hingga terduduk karena terkejut dengan serangan yang tiba-tiba.
__ADS_1
“Abang kena. Hahahaha” ucap Risma dengan girang membuat Reyhan sadar kalau dirinya telah dikerjai.
“Kamu ngerjain Abang, hem?” tanya Reyhan dengan senyum smirk di wajahnya.
“Hehehehe, capek ngejar Abang. Bukannya kena, tapi makin jauh jaraknya” keluh Risma dengan manja dan masih setia memeluk Reyhan.
“Terima balasannya dari Abang” Reyhan melepaskan pelukannya dan menggelitiki pinggang Risma.
“Hahahaha, Ampun Abang” teriak Risma tidak sanggup menahan geli.
“Hahahaha, ampun kan. Hahahaha” tawa Reyhan juga pecah dan terus menggelitiki istrinya.
“Hahahaha, iya Bang. Ampun. Sudah” suara Risma melemah karena tenanganya terkuras oleh tawanya.
Risma terus meronta-ronta karena merasa geli hingga tanpa sadar, lengan bagian bawahnya tergores kerang yang ada di pasir pantai.
“Aw. Ish. Kok perih ya Bang?” pekik Risma saat tangannya merasa perih ditambah dengan pasir yang dia tiduri. Ya, posisi Risma berbaring dengan Reyhan di yang mengukung dirinya.
“Kamu bohongi Abang lagi?” tanya Reyhan. dirinya sedikit percaya, namun juga sedikit curiga.
“Ish. Nggak Bang. Kualat ini sama Abang karena berbohong tadi. Dosa dibayar tunai namanya” sungut Risma.
Mendegar jawaban Risma, Reyhan percaya kalau Risma mengatakan yang sebenarnya. Namun hatinya juga tergelitik dengan istilah dosa dibayar tunai. Ada-ada saja. Dia menyingkir dari atas tubuh Risma dan duduk disampingnya. Lalu membantu istrinya bangun dan membersihkan pasir di hijab juga gamisnya. Reyhan melakukan itu dengan senyum geli mengingat ucapan istrinya.
"Ada-ada saja" gumannya lirih. Risma menatap suaminya, namun yang ditatap hanya tersenyum. Bahkan dia sampai mengerutkan keningna karena merasa Reyhan tadi mengatakan sesuatu.
“Mana yang perih?” tanya Reyhan sedikit khawatir.
“Ini bang” tunjuk Risma di lengan bawahnya. Memang lengan bajunya dia singsingkan sampai siku.
Reyhan mengecek lengan bawah yang ditunjuk istrinya. Menyingkirkan sedikit pasir dan tampaklah goresan kecil di sana.
“Kaya kena pisau yank” ucap Reyhan, lalu meniupinya pelan-pelan untuk menghilangkan rasa perihnya. Risma sampai terpaku mendapat perlakuan lembut dari suaminya.
“Terimakasih” ucap Risma tulus. Reyhan tersenyum dan berdiri. Lalu meraih tangan Risma untuk membantu istrinya berdiri.
“Pasti tambah lapar karena ngejar Abang. Yuk” Risma tak menolak. Bibirnya terus tersenyum karena ternyata, laki-laki pilihan almarhum suaminya sangat baik. Terlebih lagi tanggung jawab dan kini, sudah menjadikan keluarga sebagai prioritasnya.
Setiap orang memiliki masa lalu. Entah itu masa lalu dalam kategori baik, atau buruk. Yang terpenting sekarang adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari pribadi yang sebelumnya, agar tidak merasa rugi.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
*****
__ADS_1