
Semua sudah kembali ke rumah Risma yang ada di kota S. Rumah yang dulu dia beli dengan uang peninggalan dari almarhum suaminya. Setelah bersih-bersih, mereka menunggu makanan yang Risma minta dari cafe Duo 2R. Setelahnya, mereka beristirahat. Namun sebelumnya, mereka tidak lupa melakukan shalat isya’ terlebih dahulu.
Dini hari datang dengan cepat bagi Risma. Rasanya baru saja mengistirahatkan tubuhnya, namun fajar sudah datang menyapa. Dengan badan yang terasa remuk karena belum beristirahat dengan benar sejak penerbangannya dari kota X ke kota S dan ke kota M kembali lagi ke kota S. Risma menggeliat dan bangun dari tidurnya. Namun saat hendak beranjak, tangannya dicekal oleh Reyhan.
“Mau kemana, Sayang?” tanya suaminya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Mau mandi, Bang. Badan Risma rasanya remuk semua ini. Butuh penyegaran”
“Sini, kamu tengkurap. Abang pijitin. Sama kayak kamu mijitin Abang kalau Abang ngeluh capek sama kamu” ucap Reyhan dan langsung bangun dari tidurnya.
“Abang nggak capek?” tanya Risma tak enak hati.
“Capek. Tapi obatnya nanti malam, tiga ronde. Hukuman kamu kalah dari Abang kemarin” jawab Reyhan sambil menggoda Risma dengan menaik-naikkan aliskan.
“Ck, baru bangun. Nyawanya belum balik sempurna. Itu otak udah mikirnya ke sana.Dasar cowok” dumel Risma tak mengerti dengan cara kerja otak pria. Mungkin dalam alam bawah sadar, yang paling adalah otak mesumnya.
“Hahaahaha, ngantukku sudah hilang sekarang. Kamu rebahan sini”
Risma tak lagi menangggapi tingkah suaminya. Dia memilih tengkurap dan siap dipijit. Dengan pijatan yang sedang, Reyhan mulai memijat istrinya.
“Abang nggak bisa mijit, beda kaya kamu. Kalau rasanya kurang enak, Abang minta maaf ya?”
“Nggak apa-apa kok Bang. Ini juga udah enakan. Makasih ya?”
“Sama-sama sayang”
Drama pijatan selesai saat mendengar suara tarhim dari masjid. Risma beranjak dan memilih mandi terlebih dahulu, setelahnya baru Reyhan. Risma ke kamar anak-anaknya dan membangunkannya. Semua berjalan dengan lancar hingga mereka melakukan ibadah shalat subuh berjamaah. Risma meminta karyawannya mengantar makanan untuk sarapan. Karena hanya sebentar, jadi tak perlu belanja untuk stok.
“Bunda, Sila capek” keluh Sila saat Risma bersantai di kursi depan menungggu pesannannya untuk sarapan.
“Capek kenapa, Sayang?” tanya Risma dan menerima tubuh Sila yang meminta pangku.
“Cek, udah segede gaban juga. Kasihan Bunda tuh, kamu berat” olok Reyhan dan mendapat jawaban juluran lidah dari Sila. Reyhan mendengus dan memilih melihat jalanan.
“Kemarin kan kita kalah Bund. Nah, bagian Rindi yang merapikan kamar, jadi bagian Sila juga” rengek Sila seperti anak kecil.
“Hahaahaha, kan aturannya memang begitu” Risma malah tertawa. Jangankan Sila, dirinya aja harus menyiapkan tenaga ekstra buat nanti malam.
“Bunda udah dihukum Papa?” tanya Sila.
“Udah, tapi baru ultimatum. Eksekusinya nanti malam” bisik Risma dan Sila menatap bundanya bingung.
“Hahahaha, jangan begitu memandang Bunda. Urusan Bunda sama Papa itu” Sila mengangguk.
"Udah, kasihan Bunda capek” tarik Reyhan hingga Sila bangun dari pangkuan Risma.
“Papa ish. Ganggu aja” sungut Sila dan memilih masuk.
Risma masih terus tertawa meski Sila sudah hilang dari hadapannya.
“Seneng banget Bund?” ledek Reyhan.
“Serasa punya bayi bongsor Bunda, Bang” jawab Risma maish terus tertawa.
“Ya ya ya. Makanannya udah datang. Abang ambil dulu” Risma mengangguk dan menghentikan tawanya. Kemudian masuk rumah dan menyiapkan tempatnya.
Mereka makan dengan hikmat.
“Alhamdulillah” ucap semuanya kompak setelah menyelesaikan makannya.
“Nanti kita belanja sekedarnya. Bunda mau menyiapkan makanan untuk sahur pertama kita juga akan keliling untuk membagikan sahur bagi mereka yang tinggal di jalanan. Kalian semua mau?” tanya Risma.
“Mau Bunda” jawab semuanya kompak.
“Papa siap membantu kan?” tanya Risma pada suaminya.
__ADS_1
“Pastinya dong Bund. Papa akan jadi garda terdepan sebagai sopir besok”
Semuanya senang dan bersiap pergi ke pasar. Pasti hari ini pasar sangat ramai karena hampir setiap rumah akan mengadakan selamatan untuk menyambut bulan ramadlan.
“Bunda, kenapa kita bagikan makanan sahur?” tanya Sila saat perjalanan.
“Karena kita mampu dan bisa. Berbagi rejeki, selain untuk membuat orang lain bahagia, juga bisa membersihkan harta kita” jawab Risma lembut. Reyhan melirik istrinya dari spion dan tersenyum senang.
“Nggak salah Papa milih Bunda buat jadi mama kalian” puji Reyhan. Risma tersenyum menanggapi pujian suaminya.
“Papa juga udah jadi Papa yang baik buat kami” ucap Rendi senang.
“Alhamdulillah. Artinya baik anak Papa ataupun Bunda, kembali mendapat orang tua utuh yang baik” ucap Rindi.
“Alhamdulillah” ucap semuanya kompak.
“Oh ya Bund, kenapa harta kita harus dibersihkan?” tanya Sean.
“Karena di dalam harta kita, ada hak orang lain yang Allah titipkan pada kita. Ada zakat yang harus kita bayar. Selain itu, sedekah adalah hal yang dianjurkan oleh agama”
“Pasar sini Bund?” tanya Reyhan memutus pembicaraan istri dan anak-anaknya.
“Iya Pa. Coba cari parkir di depan sana. Palingan nanti bayar jasa parkir limaribu” jawab Risma. Reyhan mengangguk dan mencari tempat yang agak lapang. Di sana sudah berdiri pria paruh baya dan berjalan menghampiri mobilnya.
“Mau ke pasar, Pak?” tanyanya dan Reyhan mengangguk.
“Mau parkir?”
“Iya Pak. Tolong dibantu ya?”
“Asiaaap”
Dengan bantuan tukang parkir, Reyhan dapat menemukan lokasi parkir dengan cepat.
“Kalian mau turun atau menunggu di sini?” tanya Risma.
“Bunda suka begitu?” tanya Reyhan dan dijawab anggukan oleh Rendi.
“Kalau nggak nawar, itu nggak afdol, Bang” jawab Risma tersenyum.
“Ck, Bunda selalu begitu jawabnya. Ujung-ujungnya, kalau ada lebihnya saat bayar, bilang gini. Nggak usah dikembalikan, buat bapak aja, atau buat ibu aja” tambah Ridni yang sudah hafal dengan perangai Bundanya.
“Hahahaha, lucu sekali Bunda. Mau ikut ah. Mau tahu cerita kembar benar apa nggak” ucap Sila semangat.
“Cuma Kak Sila yang ikut Bunda?” tanya Risma sekali lagi.
“Iya. Kami nunggu sambil jajan aja. Minta uang Papa” ucap Rendi. Sean dan Seno juga setuju dengan saudara tirinya.
“Baiklah. Ayo Sayang”
Risma dan Sila masuk ke pasar dan mulai membeli apa yang mereka beli. Untuk bumbu-bumbu, Risma tidak terlalu menawar.
“Kita kesana Kak. Kita beli nangka muda buat gudeg. Yuk” Sila hanya mengikuti langkah bundanya.
“Berapa sekilo, Pak?” tanya Risma begitu dia duduk di depan penjualnya.
“Duapuluh lima ribu, Bu” jawab penjualnya.
“Nggak bisa kurang, Pak?” tanya Risma mulai menawar.
“Kalau beli banyak, bisa kurang, Bu”
“Saya belinya banyak. Buat gudeg. Bolehlah kalau kasih harga dua puluh ribu” tawar Risma.
“Jangan duapuluh ribu. Itu cuma modalnya”
__ADS_1
“Kalau begitu duapuluh dua lah. Boleh?” penjual itu nampak berpikir, kemudian mengangguk.
“Baiklah. Mau ambil berapa kilo?” tanya penjual itu.
“Saya mau ambil semuanya” jawab Risma. Penjual itu tersenyum dengan mata yang berbinar senang.
“Ibu serius?” tanyanya tak percaya.
“Limarius Pak”
“Oh iya Bu. Saya siapkan” ucap penjual itu semangat.
“Maaf Pak. Yang utuh ini bisa dikupaskan dan disuwirkan seperti ini?” pinta Risma.
“Oh, bisa bu. Tapi mungkin lama”
“Nggak apa-apa. Saya tinggal beli yang lain dulu. Ini panjernya seratusribu” ucap Risma dan memberikan selembar uang merah pada penjualnya.
“Iya Bu. Makasih. Ini saya terima”
“Iya. Kami permisi dulu”
Setelah kepergian Risma, penjual itu mulai bekerja mengupas dan menyuwir semua nangka muda yang masih utuh. Ada lima nangka muda yang utuh. Dengan perasaan yang berbunga-bunga dan rasa syukur yang tiada terkira, penjual itu melakukan tugasnya. Setelah semua selesai, dia menimbang dan membungkus setiap satu kilo. Semuanya ada tujuhbelas kilo lebih empat ons. Kemudian dia menyiapkan karung untuk tempat dan kalkulatoruntuk menghitung. Baru beristirahat lima menit, Risma sudah datang bersama Sila dan tukang panggul yang biasa mangkal di pasar.
“Sudah Pak?” tanya Risma lalu jongkok.
“Sudah Bu. Semuanya ada tujuhbelas kilo. Ini yang empat ons, nggak usah dibayar, buat Ibu aja”
“Makasih Pak. Jadi totalnya berapa?” tanya Risma.
“Sebentar ya Bu. Saya itung dulu. Duapuluh dua kali tujuhbelas, semuanya tigaratus tujuhpuluh empat ribu” ucap penjual itu sambil menunjukkan angka di kalkulator pada Risma.
“Iya Pak”
“Bayar tujuhratus tujuhpuluh ribu saja Bu. Tinggal nambah duaratus tujuhpuluh ribu” Risma tersenyum. Begitulah kalau belanja di pasar. Sudah bisa ditawar, kalau beli banyak, lebihnya juga banyak. Endingnya masih dipotong juga. Sila menatap interaksi bundanya dengan penjual itu tak percaya.
“Terimakasih. Nggak apa-apa Pak. Saya tambahin tigaratus ribu. Anggap saja yang tigapuluh ribu, jasa Bapak ngupas dan nyuwir ini” ucap Risma.
“Beneran Bu? Alhamdulillah” ucap penjualitu senang.
Risma menyodorkan uang tiga lembar dan diterima dengan tangan bergetar oleh penjual.
“Saya terima ya Bu?”
“Iya Pak. Makasih”
Penjual itu memasukkan uangnya ke dalam tas dan mulai mengemas nangka mudanya.
“Pak, saya tinggal dulu. Nanti diangkat saja ke depan dan kita ketemu disana” ucap Risma pada tukang panggul.
“Iya Bu. Biar saya yang nunggu di sini”
“Iya. Makasih”
Risma dan Sila berlalu tanpa membawa apa-apa. Hampir seluruh tukang panggul mendapat pekerjaan dari Risma. Kini mereka memilih untukmembeli kue-kue dan jajanan pasar lainnya.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
__ADS_1
*****