DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
JOURNEY OF LOVE 2


__ADS_3

“Sila” panggil seorang pria dengan menepuk pundak Sila. Sila menoleh dan terkejut mendapati sahabatnya saat SMA di kota X.


“Leo?” pakik Sila terkejut sekaligus senang.


“Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini juga” kesal Sila dan meninju lengan Leo.


“Hehe, kejutan buat kamu, Say” jawab Leo nyengir sambil mengusap lengannya yang ditinju.


“Ke sana yuk? Makan” ajak Sila dan Leo mengekorinya.


Keduanya memesan sesuai apa yang mereka ingin makan dan mencari tempat duduk. Tempat duduk di kantin ini luas dan tidak berblok. Jadi penjual kedai harus hafal dengan wajah pembeli. Kebanyakan dari mereka  memperhatian dulu pemesan hingga sampai tempat duduknya agar tidak bingung mencarinya. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu mencolok kedai mana yang banyak pembeli dan sepi pembeli.


“Gimana ceritanya kamu bisa milih kampus ini?” tanya Sila tidak percaya melihat ada orang yang dia kenal. Setidaknya untuk awal-awal dia menjadi MaBa.


“Aku tanya sama Rindi saat bertemu di Mall. Dia sedang jalan-jalan sama teman-temannya” jawab  Leo apa adanya.


“O jadi kamu sengaja nyusul? Kalau ternyata info yang kamu dapat zonk, gimana?”


“Ya nggak mungkinla. Aku tahu saudara-saudara kamu semua baik. Termasuk kamu” Sila tersipu mendengar Leo memuji dirinya juga saudaranya.


“Udah daftar?” tanya Sila mengalihkan rasa malunya.


“Udah. Kemarin”


“Kenapa hari ini ke sini?”


“Rencananya pengen lihat-lihat kampus, soalnya kemarin nggak sempat. Tahunya malah ketemu kamu”


“Ngekos atau apa?”


“Aku tinggal sama abang aku di kosan. Dia kerja di Setia Group”


“Oh. Kenapa nggak bantu ayah kamu ngurus usaha travelnya?” tanya Sila sambil menerima pesanan yang baru datang.


“Terimakasih” ucap Sila dan Leo bersamaan dan dijawab anggukan kepala dengan senyuman tulus.


“Entah. Abang bilang biar aku atau adek yang ngurus. Abang rencananya mau buka bengkel. Dia lagi ngumpulin modal”


“Abang kamu jago soal mesin? Pasti dia bekerja di bagian mekanik” tebak Sila dan Leo mengangguk.


“Makan dulu. Nanti lanjut ceritanya” ajak Leo. Sila menurut dan  mereka mulai menyantap makanan yang mereka pesan.


*****


Di lain tempat, David mendapat laporan kalau ada klien yang meminta jasa bodyguard.


“Sudah bicara dengan Akbar?” tanyanya.

__ADS_1


Sekedar info, David sekarang sudah nonaktif baik di perusahaan atau di tempat lain. Dia hanya menjadi pengamat pasif. Sedangkan Dela dan Prasetyo sudah meninggal dunia.


“Sudah Tuan. Klien kita adalah Tuan Reyhan yang sampai sekarang maish menggunakan jasa kita”


“O, iya. Maksudnya dia meminta tambahan personil?” tanya David.


“Tepatnya untuk menjaga putri sulungnya yang kuliah di Universitas Setia”


“Putrinya kuliah di sini?”


“Iya Tuan”


“Panggilkan Akbar untuk menemui saya”


“Baik Tuan”


Tak lama kemudian, Akbar datang dengan pakaian santai karena memang hari ini tidak ada jadwal ke kantor.


“Ada apa Yah?”


“Kamu sudah menerima laporan soal klien kita, Tuan Reyhan?” tanya David langsung pada intinya.


“Sudah Yah. Rencananya Akbar mau ngirim Farhan. Akbar masih menyiapkan data-datanya untuk dikirim ke kediaman klien. Jika Tuan Reyhan setuju, maka Farhan akan segera bertugas” jawab Akbar memaparkan rencananya.


“Kenapa Farhan? Bukan satu dari yang sudah berumahtangga. Bukankah hanya di kota ini saja” tanya David.


“Hem. Lanjutkan” jawab David setelah mendengar keputusan anaknya.


“Udah Yah?” tanya Akbar.


“Ayah sudah tidak khawatir melepaskan bisnis ini sepenuhnya padamu” ucap David memandang dalam putranya.


“Yah” panggil Akbar lirih. Akbar merasa ayahnya seperti akan pergi jauh.


“Jaga keluarga dan semua orang yang Ayah dan Bunda sayangi. Kamu adalah anak sulung dari best friend’s family. Mereka semua adalah adik-adikmu. Jaga mereka seperti Ayah menjaga mereka”


“Ayah” Akbar menubruk tubuh tua papanya dan menangis di pelukannya.


“He, anak Ayah kenapa menangis? Ayah masih sehat dan masih ingin menghabiskan waktu bersama anak dan cucu Ayah” hibur David.


Memang tidak dapat dipungkiri kalau usianya sudah tua. Sudah punya cicit dari Salman. Beruntung bagi David karena di usia tuanya tidak terjadi huru-hara yang dikhawatirkan semua orang. Identitas Salman masih tersimpan rapi karena kondisi Risma saat itu hingga terlupakan hingga kini.


“Akbar masih belum rela kalau Ayah dan Bunda meninggalkan kami” isak Akbar dan David mengerti perasaan putranya.


Begitu pula yang David rasakan tiga setengah tahun yang lalu saat papanya meninggalkan dirinya yang belum sepenuhnya merelakan kepergian mamanya. Duka yang masih tersisa atas berpulangnya Dela bertambah dengan kepergian Prasetyo pasca empatpuluh hari kepergian Dela.


“Andai Ayah boleh meminta, Ayah ingin terus hidup menemani kalian semua. Kalaupun harus meninggalkan kalian, Ayah ingin pergi bersama Bunda. Rasanya Ayah tidak sanggup kalau harus hidup sendiri tanpa Bunda” jujur David mengungkapkan apa yang dia rasakan.

__ADS_1


“Ayah” iska Akbar semakin menjadi.


“Ayah juga berpikir, apakah Bunda sanggup hidup tanpa ayah jika Ayah dipanggil terlebih dahulu”  ungkap David membuat Akbar semakin terisak.


“Ayah dan Bunda akan terus bersama dan akan terus menemani kami” ucap Akbar semakin erat memeluk David.


“Iya. Ayah akan terus menemani Bunda dan kalian semua” David mencium puncak kepala Akbar dan membelai punggung putranya dengan lembut. Suasana terus berlanjut hingga Akbar mampu mengendalikan dirinya.


“Segera kirim berkasnya agar Farhan segera bisa bertugas” David menutup pertemuannya dengan perintah yang biasa dia ucapkan saat masih bertugas.


“Iya Yah”


Sebelum Akbar keluar, dia sekali lagi memeluk ayahnya dan  keluar. Dia langsung meminta anggotanyauntuk mengirim berkas Farhan pada keluarga Kusumo di kota X lewat jasa pengiriman. Setelah itu dia juga menghubungi Reyhan jika berkas calon pengawal putrinya sudah dikirim dan meminta untuk menunggu hingga berkas itu sampai.


Akbar masuk kamar dan langsung tidur di pangkuan istrinya yang sedang bersandar membaca buku di ranjang.


“Kenapa hem?” tanya Ira mengelus rambut suaminya dan menaruh bukunya di atas laci dekat tempat tidur.


“Tadi Mas bicara sama Ayah. Dan Ayah bicara soal kepergiannya dengan Bunda. Kayak pamit gitu” cerita Akbar.


“Mas, setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada sang pencipta. Begitupun dengan Bunda dan Ayah. Kita pun tinggal menungu antrian itu datang” hibur Ira.


“Iya, Mas tahu. Tapi rasanya belum rela kalau Ayah dan Bunda meninggalkan kita”


“Kita hanya perlu berdo’a agar Ayah dan Bunda diberi umur  yang panjang”


“Amiin. Maksih ya udah dengerin cerita Mas”


“Sama-sama”


Akbar bangun dan mencium kening istrinya. Mereka saling pandang dan tersenyum.


Terselip sedikit kisah keluarga Prasetyo untuk menghubungkan kisah Sila. Sekaligus sebagai pengingat bagi kita bahwa setiap yang bernyawa pasti akan meningal dunia. Jadi kita harus menyiapkan diri untuk terus berbuat baik dan beribadah keada Tuhan Yang Maha Esa agar siap jika sewaktu-waktu dipanggil menghadapNya.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel JOURNEY OF LOVE. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI


BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


__ADS_2