DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 39


__ADS_3

Bagas datang dengan tergesa-gesa. Sebagai asisten juga tangan kanan Reyhan sejak lama, tentu saja bisa membedakan mana suara darurat, dan mana suara penting. Bahkan suar bercanda ataupun suara perintah, bagas sudah hafal luar dalam.


Brak. Karena tergesa-gesa, Bagas sampai lupa membuka pintu ruangan atasannya dengan pelan.


“Ada apa?” tanya Bagas panik dengan napas yang memburu.


“Nggak tahu Kak. Tiba-tiba Risma pingsan” adu Reyhan yang masih terlihat wajah paniknya.


“Dasar bodoh. Panggil dokter, bukan aku” teriak Bagas kesal.


Bagas segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi dokter pribadi untuk segera datang ke kantor Kusumo.


“Cek, memajukan perusahaan saja jago. Giliran bucin, bodohnya nggak ketulungan” omel Bagas. Reyhan hanya menatap Bagas dengan tatapan sendu. Ucapan asistennya tidak dia masukkan ke hati. Yang terpenting adalah istrinya.


“Apa yang terjadi?” tanya Bagas setelah rasa paniknya hilang. Nadanya juga sudah normal, tidak terdengar kesal.


“Aku tidak tahu” jawab Reyhan lirih. Hatinya benar-benar kacau.


“Tolong hubungi sopir untuk langsung mengantar anak-anak pulang nanti” pinta Reyhan dan dengan sigap, Bagas langsung mengubungi sang sopir. Bukan apa-apa. Reyhan hanya tidak ingin anak-anak melihat keadaan bundanya yang seperti ini.


Setelah menunggu hampir setengah jam, sang dokter datang. Reyhan mempersilahkan untuk mengecek istrinya.


“Apa Nyonya merasa tertekan sebelumnya?” tanya sang dokter membuat Reyhan terkesiap.


“Emm, iya Dok. Ada peristiwa yang membuatnya sedikit tidak terkendali” jawab Reyhan ragu-ragu. Dia takut akan apa yang akan dokter katakan. Matanya tak lepas memandang bibir dokter yang bicara.


“Untuk sementara, tolong hindari apapun yang membuat pemicu trauma Nyonya kambuh. Nyonya syok karena suatu kejadian. Saya sarankan, anda konsultasi dengan psikiater” jawaban dokter membuat Reyhan syok. Dia tidak tahu sama  sekali kalau istrinya mengalami trauma.


“Trauma?” ulang Reyhan dan dokter mengangguk.


“Saya resepken obat penenang yang aman, namun tetap saja akan berefek jika dikonsumsi terus menerus. Saran saya, jika memang nyonya tidak hilang kendali, biarkan saja tanpa obat. Bujuklah untuk melakukan terapi agar tidak tergantung pada obat”


“Baiklah dok. Terimakasih” ucap Reyhan membuat dokter terhenyak. Sejak kepergian Dita, Reyhan tidak pernah sama sekali mengucapkan terimakasih. Sesaat kemudian, dokter mengangguk tersenyum. Kliennya sudah kembali seperti sedia kala. Pribadi yang ramah dan santun.


Terimakasih Nyonya. Karena anda, tuan muda sudah kembali seperti semula. ~ dokter menatap penuh syukur pada Risma yang berbaring nyaman di sofa.


“Kak Bagas, tolong tebus resepnya ya?” Bagas mengangguk dan berlalu. Tak lama kemudian, dokterpun menyusul keluar.


Setelah kepergian dokter dan sang asisten, Reyhan memandang Risma yang terlelap tenang. Bukan terlelap, tapi belum sadar dari pingsannya. Reyhan menatap kasihan pada istrinya. Rasa sayangnya Risma pada kedua anak kembar mendiang kakaknya, ternyata membuatnya takut kehilangan. Mungkin kejadian Risma dan Riko membuat Risma trauma. Entah apa yang dikatakan Riko padanya, hingga membuat Risma begitu tertekan. Begitulah pikiran Reyhan ketika memandang istrinya. Tangannya membelai lembut hijab Risma dan mengecup  keningnya dengan lembut.


Reyhan memindahkan Risma ke kamar pribadinya di kantor agar lebih nyaman. Setelahnya, Reyhan meninggalkannya seorang diri dan memilih melanjutkan pekerjaan yang menumpuk. Pintu ruangan itu tidak di tutup agar Reyhan dapat langsung melihat keadaan Risma dari tempat duduknya.

__ADS_1


*****


Hari berlalu. Reyhan tidak mengijinkan Risma untuk melakukan aktivitas yang melelahkan seperti biasa. Risma hanya menurut apa kata suami. Sarapan pun juga bukan Risma yang memasak.


“Bang, bosen tahu” sungut Risma justru terlihat menggemaskan di mata Reyhan.


Cup. Bibir monyong Risma dicuri oleh Reyhan.


“Abang” teriak Risma sebal dan memukul bahu Reyhan.


“Hahahaha” Reyhan tertawa melihat Risma kesal.


“Sabar Sayang. Setelah kita konsultasi nanti, dan menanyakan apa saja yang boleh kamu lakukan. Abang janji nggak akan nglarang kamu” ucap Reyhan lembut dan membelai pipi Risma.


“Beneran ya Bang?” tanya Risma tegas seolah dirinya tidak mau dibohongi.


Ya, semalam, Reyhan dan Risma sudah membicarakan kondisi Risma yang mengalami trauma pasca penyerangan yang dilakukan Riko. Bahkan Rismasendiri tidak tahu kalau dirinya mengalami trauma. Rasa ketakukan dan panik datang begitu saja saat dia mendengar kata Atmaja. Karena tidak ingin belarut dalam ketakutan, Risma memutuskan untuk menerima saran suaminya. Dia juga tidak mau tergantung pada obat-obatan.


“Abang berangkat ke kantor dulu. Selepas makan siang, kita baru ke rumah sakit” pamit Reyhan dan mengecup pipi istrinya. Anak-anaknya sudah diantar sopir ke sekolah masing-masing.


“Hati-hati Bang. Assalamualaikum”


Skip perjalanan. Reyhan sudah tiba di ruangannya. Tak lama kemudian, Bagas masuk dan memberitahu bahwa ada dua orang perwakilan dari Atmaja meminta bertemu dengannya. Reyhan berpikir sejenak. Tidak ada salahnya memberitahukan kondisi istrinya agar mereka tidak terlalu berharap.


“Suruh masuk saja” titahnya dan Bagas hanya mengangguk.


Tak lama setelah Bagas keluar, masuklah duaorang yang dikatakan Bagas. Ternyata yang datang adalah para tetuanya, yaitu sang kakek dan putranya.


“Silahkan duduk” ucap Reyhan dan berdiri dari kursi kebesarannya. Reyhan memilih duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.


“Ada perlu apa?” tanya Reyhan tanpa basa-basi.


Keduanya saling lirik dan mengangguk.


“Kami datang untuk mengkonfirmasi kelanjutan pertemuan kita selanjutnya dengan nyonya Reyhan, Tuan” ucap Hengki Atmaja, sang kakek.


“Hem, saya minta maaf. Untuk sekarang, istri saya tidak bisa” jawab Reyhan.


Hengki menoleh pada anak sulungnya, Hendra Atmaja.


“Kalau boleh tahu, kenapa Tuan?” tanya Hendra. Hanya ingin tahu alasannya dan menjawab rasa penasarannya.

__ADS_1


“Atmaja ternyata menjadi momok yang menakutkan bagi istri saya. Setelah kondisinya baik, saya sendiri yang akan menjadwalkan pertemuan kita” ucapan Reyhan menjadi oase di tengah harapan keluarga Atmaja.


“Kami minta maaf untuk kondisi istri Tuan” ucap Hengki merasa bersalah. Karena ulah anak dan cucunya,  kini orang lain yang menjadi korbannya.


“Tidak apa-apa” jawab Reyhan pendek. Memangnya apa yang bisa Reyhan ucapkan selain kata itu. Toh Riko juga sudah dipenjara.


“Saya ingin mengingatkan Tuan untuk berhati-hati dengan orangtuanya Riko. Kami khawatir mereka melakukan tindak kejahatan untuk balas dendam” ucap Hendra karena sangat tahu bagaimana watak adiknya itu.


“Terimakasih” jawab Reyhan menganggukkan kepala.


Setelah sedikit berbincang-bincang, keduanya undur diri.


Sekilas tentang keluarga Atmaja.


Keluarga Atmaja diketuai oleh sang kakek yang bernama Hengki Atmaja. Mempunyai tiga putra yang juga bermarga Atmaja. Si sulung bernama Hendra Atmaja, Ramon Atmaja adalah anak kedua dan si bungsu bernama Beni Atmaja. Perusahaan milik keluarga Atmaja bernama Atmaja Jaya Group. Bergerak di bidang kontruksi dan perhotelan. Berbeda jalur dengan perusahaan Diamon’s Kusumo dan juga milik keluarga Herlambang. Namun kekuasaannya masih dibawah keluarga Kusumo dan Herlambang.


Karena perusahaan keluarga, tentu saja ada konflik internal di dalamnya. Hengki akan memberikan kekuasaan tertinggi di perusahaan pada siapa saja yang memiliki putra terlebih dahulu. Dan ternyata, Ramonlah yang lebih dulu memiliki putra yaitu Riko. Semenjak itu, tongkat tertinggi perusahaan dikendalian oleh Ramon. Meski begitu, Hengki tetap menduduki kursi tertinggi.


Setelah mendapatkan tongkat tertinggi, Ramon mulai berubah dan didukung istrinya yang juga semakin tamak. Terlebih setelah sang kakek mengumumkan akan mundur seratus persen dan menyerahkan kursi tertinggi pada salah saru dari tiga putranya. Dengan syarat, sang putra harus sudah memiliki cucu laki-laki. Karena didikan orang tuanya,  Riko tumbuh menjadi pribadi yang tamak. Setelah melakukan tes DNA dan mengetahui kalau Rendi dan


Rindi adalah anaknya, timbulah sifat ingin menguasai harta keluarga Atmaja secara penuh. Sayangnya niat itu tidak berjalanmulus akibat kejeniusan anaknya sendiri yang bekerja sama dengan William.


Niat Ramon dan keluarganya yang akan mengasingkan keluarga yang lain juga diketahui oleh Andre, anak dari kakaknya Ramon, Hendra Atmaja. Andre menceritakan tentang rahasia Riko yang memiliki anak juga niat untuk menguasai harta kakek sepenuhnya. Namun mereka tidak bisa melakukan gerakan apa-apa. Tongkat kekuasaan perusahaan masih dipegang oleh Riko. Hingga akhirnya Riko mendapat kasus percobaan penculikan dan pembunuhan pada Risma. Hengki memutuskan untuk mencabut kuasa atas Ramon berdasarkan suratyang sudah ditandatangani olehnya.


Isi surat itu adalah menyatakan bahwa jabatan yang disandang saat ini akan ditarik kembali apabila terjadi skandal ataupun hal-hal lainnya yang berkaitan dengan hukum dan ataupun aparat negara.


Berdasarkan hal itulah, Ramon dengan tidak rela menyerahkan jabatannya sebagai presdir pada sang kakek. Dan sekarang, jabatan itu diberikan pada Hendra, karena dia yang memberikannya cucu leki-laki kedua. Sedangkan Beni, tidak memiliki putra, melainkan putri cantik yang baik dan dermawan, Angelina Atmaja.


Nungguin part iya-iya yah? Hehehehe. Maaf, Anda belum beruntung.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


__ADS_2