
Farhan kini menjadi sopir pribadi Sila. Itu yang Sila minta sebagai syarat Sila mau dikawal olehnya. Dan syarat yang lain adalah berpakaian santai dan tidak mencolok saat mengawalnya. Sekarang Farhan sudah ada di kediaman Ali untuk mengantar Sila ke kampus dan toko buku nantinya.
“Kak Farhan sudah siap? Ini suratnya” ucap Sila dan menyerahkan surat motor atas namanya.
“Siap Non. Ke kampus dulu kan?” tanya Farhan mengkonfirmasi tujuannya.
“Iya. Opa, Oma, Silaberangkat dulu ya?” teriak Sila dan sukses membuat Farhan menutup mulutnya. Sila melihat itu tersenyum kikuk dan menggaruk hijabnya yang bertengger di kepala. Ya, Sila sekarang mengenakan hijab saat berpergian.
“Non Sila ini cantik. Lebih cantik saat pakai hijab. Tapi suaranya itu lho, mirip toa masjid” ucap Farhan mengusap-usap telinganya.
“Hahahaahha. Kak Farhan ini memuji atau menghina? Kenapa dikolaborasi begitu” ucap Sila merasa lucu. Perasaannya merasa senang karena dipuji cantik. Tapi malu juga karena suaranya yang keras.
“Kenapa teriak-teriak sih Sayang?” ucap Nilam yang sudah datang.
“Hehehe. Sila udah keburu malas kembali ke dalam Oma Sayang” jawab Sila dan sungkem pada omanya.
“Salamkan pada Opa ya” pesan Sila dan Nilam hanya mengangguk. Farhan juga sungkem pada Nilam dan pamit.
“Yuk Kak. Dada Oma. Assalamualaikum” pamit Sila sebelum menghilang dari balik pintu.
“Waalaikumsalam” jawab Nilam dan menyusul langkah Sila dan Farhan.
“Hati-hati bawa motornya ya Nak Farhan” pesan Nilam dan Farhan mengangguk.
Nilam baru masuk ketika punggung Sila sudah tidak terlihat lagi.
*****
Sila dan Farhan sudah sampai di parkiran kampus. Sila turun dan menyerahkan helmnya pada Farhan.
“Kak Farhan mau menunggu dimana?” tanya Sila.
“Kakak nunggu di perpus aja ya Non?”
“Memangnya bisa? Sila aja nggak bisa karena belum punya kartu anggota” ucap Sila dan Farhan hanya tersenyum.
“Sudah simpan nomor Kakak kan? Nanti hubungi saja kalau sudah selesai” Sila mengangguk dan membiarkan Farhan berbuat semaunya. Memang peraturan di kampus tidak melarang orang luar masuk. Tapi cukup ketat juga karena tadi Sila harus meminta ijin dulu pada satpam yang berjaga di pintu masuk antara kampus dan tempat parkir. Farhan hanya memandang dan tersenyum misterius. Sila tidak tahu kalau Farhan sudah diberikan kartu akses untuk keluar masuk Universitas Setia dengan bebas.
Sila masuk terlebih dahulu dan membiarkan Farhan berada jauh di belakangnya. Farhan masuk dan menperlihatkan kartu ajaib pemberian Akbar dan langsung mendapat kehormatan dari satpam penjaga. Farhan tersenyum kemenangan sambil memandang punggung Sila yang ada didepannya.
“Non Sila akan histeris pasti kalau tahu kartu sakti ini” gumannya dan melangkah menuju perpustakaan seperti yang dia katakan pada Sila. Sedangkan Sila langsung menuju koperasi kampus dan mencari buku yang dia butuhkan.
Setelah berkeliling cukup lama, namun Sila belum juga menemukan apa yang dia inginkan. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada penjaganya.
“Maaf Kak, di sini ada nggak buku yang bisa dijadikan panduan untuk tes penerimaan MaBa?”
“Oh, kamu calon MaBa ya? Udah isi formulir?” tanya penjaga itu dengan ramah.
“Iya Kak, sudah”
“Ada kwitansinya nggak sebagai bukti?”
“Oh, ada. Sebentar” Sila mencari kwitansi di dalam tasnya. Beruntung kwitansi itu dia simpan dalam dompetnya, jadi pasti dia bawa. Lalu Sila menyerahkan pada penjaga. Penjaga itu memeriksa keasliannya dan mengangguk seraya tersenyum pada Sila.
“Ini Dek, kwitansinya. Maaf ya, buku panduannya tidak dijual bebas. Jadi hanya calon MaBa di sini saja yang boleh membelinya” ucap penjaga itu dan membiat Sila mengerti kenapa setelah dia keliling, dia tidak juga menemukannya. Sila melihat penjaga itu membuka rak yang ada dibawah laci keuangan. Sila manggut-manggut dan senang saat melihat buku yang dia cari ada di tangan penjaga.
“Wah, jadi begini. Coba aja dari tadi ku langsung tanya” ucap Sila girang. Penjaga itu tersenyum dan memberikan bukunya pada Sila.
__ADS_1
“Sebentar ya Kak” pamit Sila karena dia ingin mrnghubungi Leo. Apakah temannya itu sudah punya bukunya atau belum.
Mode telepon.
“Yo, kamu udah beli buku panduan penerimaan MaBa belum?”
“Belum. Kamu sudah?”
“Ini baru beli. Ada di koperasi kampus”
“Beliin sekalian dong buat aku”
“Nggak bisa Yo, harus menyertakan kwitansi pembayaran pengambilan formulir”
“Kamu masih di sana?”
“Masih. Aku udah dapat bukunya. Tapi belum bayar”
“Ya udah, aku ke sana ya?”
“Iya Cepetan. Aku bayar sekalian”
“Sip”
Mode telepon berakhir.
“Maaf ya Kak, nunggu teman saya dulu. Bayarnya sekalian. Dia juga calon MaBa di sini” ucap Sila dan penjaga itu tersenyum mengangguk. Tak lama kemudian, Leo datang sambil terengah-engah karena berlari dari lapangan basket.
“Kenapa?” tanya Sila heran.
“Kamu duduklah. Sini kwitansi kamu” Sila meminta kwitansi Leo. Leo mengambil dari dalam saku dan menyerahkannya pada sila.
“Ini Kak kwitansi teman saya. Pakai kartu bisakan bayarnya?” penjaga itu mengangguk dan memberikan satu buku lagi. Dia juga menerima kartu milik Sila. Setelahurusannya selesai, Sila mengajak Leo mencari Farhan.
“Siapa itu Farhan?” tanya Leo penasaran.
“Pengawal yang Papa sewa untuk menjagaku selama di kota M”
“Oh, tampan nggak? Ganteng mana sama aku?” tanya Leo jumawa.
“Gantengan kamu” jawab Sila tersenyum manis. Leo langsung menyunggar rambutnya mendengar pujian Sila.
“Tapi banyakan Kak Farhan. Hahaha” tawa Sila meledak karena sukses menjahili Leo. Leo kesal karena merasa di-PHP-in. Dia menjitak kepala Sila membuat sang empu mengaduh.
“Leo” teriak Sila dan penjitak sudah berlari menghindari amukannya.
“Awas kamu ya” ancam Sila dan Leo malah menjulurkan lidahnya mengejek.
Sila malas mengejar Leo dan memilih menghubungi Farhan. Sila cukup terkejut mendengar Farhan ada di dalam perpustakaan. Dirinya saja yang calon MaBa belum boleh, sedangkan Farhan yang orang luar malah bisa nengkreng di dalam.
“Nggak bisa dibiarin ini. Pilih kasih namanya. Pasti tuh bodyguard jual tampang biar bisa masuk. Dasar gatel” geram Sila dan melangkahkan kakinya semakin cepat agar segera tiba di perpustakaan. Si Sila, belum-belum sudah suudzon aja sama Farhan. Secara tidak juga dia mengakui kalau Farhan tampan.
Sila menghela napas berat menahan gemuruh yang ada di dadanya. Dia menghampiri petugas perpustakaan dan memulai aksi protesnya.
“Permisi Mbak”
“Iya Dek. Ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas itu sopan.
__ADS_1
“Saya mau membuat keluhan” ucap Sila tegas.
“Mengelus soal apa ya Dek?”
“Begini. Saya kan calon MaBa di sini. Belum punya kartu mahasiswa, jadi nggak bisa masuk perpus”
“Iya, memang begitu aturannya”
“Tapi Mbak lihat. Tuh ada cowok yang duduk di ujung sana” tunjuk Sila pada Farhan dan diikuti oleh petugas perpustakaan.
“Iya. Saya lihat. Memangnya kenapa dengan dia?”
“Dia itukan bukan calon MaBa, apalagi mahasiswa. Kok boleh masuk sih mbak?” ucap Sila mulai mengeluarkan kekesalannya yang sedari tadi dia tahan.
“Masak sih? Semua yang masuk pasti lapor dan menunjukkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa). Cooba saya cek dulu ya Dek” Sila hanya bisa mengangguk dan pasrah. Hatinya meneriaki ketidakadilan yang dia dapatkan.
Sila masih mengumpat dalam hati ketika Farhan dan petugas itu kembali. Farhan mengeluarka kartu saktinya dan petugas itu mengerti. Dia baru mengingat bahwa ada satu orang yang masuk ke perpustakaan menggunakan kartu sakti yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu.
“Mas ini masuk pakai kartu ini. Jadi pasti boleh” jelas petugas itu menunjukkan kartunya. Sila mengambil kartunya dan membolak-balikkan meneliti.
“Kok nggak ada identitas dirinya. Ini kartu apa?” tanya Sila heran.
“Ini kartu sakti Non. Dengan kartu ini, saya bisa keluar masuk dengan bebas di kampus ini” jelas Farhan sambil tersenyum. Sila menatap Farhan tidak percaya dan menggeleng. Farhan menggangguk membenarkan apa yang dia ucapkan.
“Serius?” tanya Sila melongo.
“Iya Non”
“Mau dong Kak kartunya” pinta Sila dan Farhan menggeleng.
“Nggak bisa Non. Ini punya bos Kakak. Kalau tugas Kakak sidah selesai, kartunya harus dikembalikan” Sila cemberut dan meninggalkan Farhan begitu saja. Farhan langsung pamit dan mengejar Sila.
*****
Nah, Sila udah berprasangka buruk aja sama Farhan. Malu pastinya tuh. Malah pakai minta kartunya lagi.
Kan Sila pengen Bund kartu saktinya. Kasihlah buat Sila saru kartu yang dimiliki Kak Farhan.
Ya nggak bisa. Yang punya cuma keluarga Prasetyo. Bunda juga nggak punya. Rayu aja tuh si bodyguard ganteng kamu.
Ogah ah. Malu. Nanti deh biar Sila pikirin bagaimana cara merebutnya.
Merebut apa? Hati Farhan?
Eh bukan. Tapi merebut kartunya. Hehehehe.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel JOURNEY OF LOVE. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
*****
__ADS_1