
Reyhan kembali memberi isyarat pada anggotanya dan layar padam. Reyhan menatap penguntit itu dengan tajam. Karena insting ibu bayangkhari itu, dia berhasil membekuk seorang penguntit. Pria itu juga menatap Reyhan. namun tatapan yang diberikan adalah tatapan orang yang bingung. Reyhan menyadari hal itu. Meskipun dia cuek dan arogan, namun jika soal membaca tatapan, Reyhan ahlinya.
“Katakan padaku siapa yang menyuruhmu!” bukan lagi pertanyaan, namun perintah mutlak yang tak terbantahkan. Pria itu masih bungkam karena tak tahu pada siapa dia harus percaya.
“Aku melihatmu bingung” ucap Reyhan membuyarkan kelinglungan pria itu.
“Aku rubah perintahku. Bukan perintah, kita negosiasi” ucap Reyhan yang sudah mulai melunak.
“Ne ne negosiasi?” tanya pria itu gagap. Ada secercah harapan saat mendengar kata negosiasi.
“Iya. Kita negosiasi. Kau ajukan permintaan untuk aku penuhi. Dan kau berikan aku informasi yang aku mau. Bagaimana?” tawar Reyhan.
“Ba baiklah Tuan” akhirnya dia memutuskan pada siapa akan percaya. Secara logika, penguntit itu tidak punya pilihan selain percaya pada Reyhan, karena dia adalah tahanan Reyhan sekarang.
“Katakan apa syaratmu” Reyhan sudah malas basa-basi.
“Sebenarnya, saya juga diancam olehnya dengan keluarga saya” ucap pria itu gugup. Reyhan paham siapa yang dimaksud olehnya.
“Lalu?”
“Saya mengundi nasib dengan percaya pada anda selaku korban. Saya hanya ingin anda melindungi keluarga saya dari Tuan Riko. Dialah yang menyuruh saya untukmencari keberadaan Nyonya Risma dan anak-anaknya” pria itu mengatakan syarat sekaligus menjawab nformasi yang ingin Reyhan dengar.
Tanpa mengatakan apapun, Reyhan menghubungi anggotanya yang sedang mengawasi keluarga penguntit.
“Lakukan pengamanan pada keluarganya. Pastikan kalau keluarganya baik-baik saja. Lakukan dengan baik sampai ada kabar selanjutnya dariku” perintah Reyhan langsung di depan sang penguntit.
“Bagaimana? Kamu bisa percaya padaku. Lalu bagaimana dengan nyawamu? Kau tidak minta perlindungan juga?” tanya Reyhan memancing. Dengan cara iniReyhan bisa menyimpulkan nantinya, apakah dia bisa diajak menjadi kawan, atau malah menjadi lawan.
“Itu sudah resiko dari pekerjaan saya. Saya bertanggungjawab sendiri atas nyawa yang saya miliki” tegas pria itu. Tak ada lagi ketakutan seperti sebelum keluarganya mendapat perlindungan.
“Saya suka prinsipmu. Mau bekerja sama denganku?” tawar Reyhan membuat pria itu bingung. Orang yang sedang dia untit menawarkan kerja sama dan ini baru pertama kalinya terjadi pada dirinya.
“Maksud Tuan?”
__ADS_1
“Jadilah orang kepercayaanku di kota R. Kau dan keluargamu pindahlah ke sana. Aku akan menjamin keamananmu dan keluarga. Tapi kau harus menggunakan identitas baru juga ponsel dan nomor baru. Bagaimana?”
“Saya bersedia” dengan semangat, pria yang diketahui namanya Kasno itu menjawab tanpa berpikir. Rasa percayanya sudah cukup untuk mengambil keputusan.
“Baiklah. Saya ada Villa di sana juga tanaj beberapa petak. Kamu bisa menjadi petani. Tinggalah di sana dan menjadi penjaga serta Art yang baik. Untuk kebun, aku akan memberi modal awal pada keluargamu untuk bertani. Sisanya akan diurus oleh asistenku, Kak Bagas. Kau mengerti?”
“Saya mengerti Tuan”
Kusno di bebaskan dan Bagas segera mengurus semua administrasinya. Hari itu juga, Kusno beserta keluarganya berangkat ke Kota R dikawal oleh orang kepercayaan Reyhan.
*****
Reyhan pulang dengan wajah lelah, namun senyumnya langsung mengembang karena Riska menyambutnya beserta trio R. Hanya Rindi yang memasang wajah acuh tak acuh.
“Tuan pasti lelah. Saya ingin bertanya, tapi nanti saja. Saya buatkan minum dulu. Mau minum apa Tuan?” tanya Riska bertubi-tubi membuat Reyhan terkekeh. Dia merasa menjadi suami yang diperhatikan oleh sang istri.
“Mau yang dingin aja Ris. Makasih yah?” ucap Reyhan tulus. Senyum tulus Riska berikan dan mengangguk.
Tak lama kemudian, Riska kembali dengan membawa es sirup untuk Reyhan. lalu dia duduk berhadapan dngan tuannya itu.
“Jangan merayu Bunda Om” tegas Rindi yang mulai berani melindungi bundanya dari rayuan maut tuan muda Reyhan.
“Ck, jangan suudzon. Ingat kata bunda, nggak boleh berprasangka buruk pada orang. Nggak baik” tegur Rendi pada saudari kembarnya.
“Iya nih Kak Rindi. Sensi amat sama om Rey” cibir Reno. Reyhan tentu saja bahagia mendapat pembelaan dari dua putra Riska.
“Sudah, jangan bertengkar. Kakak, terlepas suka atau tidak suka, sikap kakak tidak dibenarkan. Bagaimanapun, Tuan Reyhan lebih tua dari kakak, jadi harus menghormatinya. Kakak mengerti?” nasehat Riska dengan lembut.
“Mengerti bunda” Rindi menunduk.
“Jadi?”
“Om, Rey. Rindi minta maaf” ucap Rindi tulus. Reyhan tersenyum dan mengacak rambutnya.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Om paham kok”
“Oh ya. Bagaimana sekolah kalian hari ini? Senang?”
“Senang Om. Tadi kami saling tukar bekal sama teman” jawab Rendi merangkul adiknya, Rindi.
“Wah, kalian hebat sekali yah. Pintar” puji Reyhan. bukan pada anak-anak, tapi lebih ke Riska yang mengajarkan
kesederhanaan.
“Iya dong Om. Kan Bunda selalu mengajari kita untuk berbagi” Ridni menjawab dengan sombong. Riska hanya geleng-geleng saja. Sifat Riko yang sombong itu benar-benar menurun pada Rindi. Beruntung sikap pongah Rindi hanya pada orang yang dia tidak suka.
“Abang, bisa ajak adik-adik main? Ada yang ingin Bunda bicarakan pada Tuan Reyhan. tolong jaga mereka juga yah?” pinta Riska. Rendi mengangguk dengan terpaksa. Padahal dia ingin tahu siapa yang sudah menguntitnya. Saat Riska bicara pada Reyhan, sebenarnya Rendi mendengar sedikit-sedikit. Dia pinya firasat kalau orang itu adalah suruhan papanya. Tapi harapannya untuk mengetahui kepastian pupus.
Bunda pasti nggak ingin kami semakin benci sama papa. Tapi terlambat Bunda. Rendi sudahbenci sama papa. Sama seperti Rindi yang benci sama papa. ~ Rendi berkata dalam hati sambil menggandeng tangan kedua adiknya.
Sepeninggalan ketiga anaknya, Riska kembali meminta penjelasan pada Reyhan.
“Jadi, bagaimana Tuan?” tanya Riska tidak sabar. Yang dia pikirkan adalah keselamatan anak-anak. Ada enak anak sekarang yang harus mereka jaga.
“Duduklah di sampingku, agar kita tidak perlu mengeluarkan banyak suara. Aku takut kalau ada penyusup dirumah ini” ucap Reyhan. bagai dicocok hidungnya, Riska menurut apa yang diperintahkan Reyhan. Sudut bibir Reyhan tersenyum tipis sampai-sampai Riska tak menyadarinya. Memang dasar Reyhan terlalu cerdik. Bahkan Riska tidak
sadar kalau sekarang dia sedang dimodusin oleh Reyhan. Entah karena terlalu lama menjanda, atau memang aslinya polos meskipun sudah pernah menikah. Riska tidak sadar kalau Reyhan hanya ingin dekat dengannya tanpa ada gangguan apapun. Cara Reyhan mengatakan ada penyusup atau mata-mata ternyata berhasil membuat
wanita incarannya mendekat. Kini Riska sudah duduk di samping Reyhan dan menatapnya dengan penuh minat. Bukan minat pada Reyhan yah readers, tapi minta untuk tahu kelanjutan cerita sang penguntit itu.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
__ADS_1
NEXT
*****