
Riska melihat Erik berdiri di belakang Reyhan. Riska meneteskan air matanya. Semuanya menganggap kalau Riska kesakitan. Padahan air matanya jatuh melihat Erik berdiri dengan mata nyalang ke arahnya, tepatnya ke arah Riko. Saat memandang Riska, pandangannya kembali meredup menjadi lebih teduh. Erik memperlihatkan gerakan pada Riska yang terus mengamati apa yang Erik lakukan.
Usai melakukan itu, Erik kembali tegak dan tersenyum pada Riska. Riska mengangguk mantap dan kembali melihat Erik menggerakkan tangan di punggungnya. Riska melihat ulang Erik memperagakan cara melepas tangan dari genggaman erat Riko. Lalu Erik memutar kepalanya dan membalik badan sambil mengangkat lututnya untuk
menyerang perut Riko. Riska kembali mengangguk mantap dan melirik Riko susah payah. Riko masih fokus pada Reyhan dan orang-orangnya. Karena fokus Riko tidak pada Riska membuat Riska lebih mudah melakukan apa yang diajarkan Erik. Sayangnya reflek Riko sangat cepat, dan saat Riska mengangkat lututnya, Riko mampu menahannya. Mata Riko menangkap pergerakan Lintang dan tepat sebelum Lintang memukulnya, dia mampu mendorong lutut Riska yang oleng ke jalan raya.
“Riska” teriak Reyhan dan langsung berlari hendak menolongnya. Namun naas, dari utara, ada mobil yang melaju kencang. Reyhan hampir saja bisa menangkap Riska, namun masih kalah cepat dengan laju mobil yang sebenarnya sudah mulai mengerem. Namun karena lajunya cukup cepat dan mengerem juga mendadak membuat mobil itu tetap menangkap tubuh Riska meski sebelumnya, harus menyerempet Reyhan yang hendak menolong Riska.
Sret. Bug.
“Tuan”
“Nona”
Teriak semua anggota bersahutan. Lintang menatap nanar tubuh tuannya yang tergeletak di trotoar. Sedangkan tubuh Riska sudah terpental sekitar tiga meter dari badan mobil. Bersamaan dengan itu, polisi datang dan menangkap Riko yang sudah tak berdaya karena emosi Lintang. Ya, saat Riko berhasil mendorong Riska ke jalan.
Saat itu pula Lintang berhasil meraihnya. Dengan emosi yang menguasainya, Lintang memukul Riko dengan membabi buta sampai-sampai Riko tidak punya kesempatan untuk membalas. Berakhir dengan terkapar tak berdaya hingga dia diciduk oleh polisi.
Reyhan masih syok karena terserempet walaupun masih tersadar, namun pandangannya masih kosong. Kesadarannya kembali saat anggotanya berteriak nama nonanya.
“Nona, Nona. Bangun Nona. Hei jangan diam saja. Panggil ambulan. Lihat juga Tuan” karena semuanya panik, mereka sampai lupa kalau tuannya juga menjadi korban.
“Riska” pekik Reyhan dan langsung bangun. Orang-orang yang mengerumuni Reyhan terkejut melihat reaksi Reyhan. Tidak ada yang menduga kalau Reyhan akan langsung bangkit dan berlari kearah Riska dengan terpincang-pincang.
“Riska” Reyhan menarik Riska dari pangkuan bawahannya.
“Tuan” panggil yang lainnya hormat.
“Kenapa kalian diam saja? Cepat siapkan mobil” teriak Reyhan panik.
Mereka langsung kocar kacir mendengar teriakan Reyhan. Mereka benar-benar tidak terpikirkan untuk membawa nonanya langsung menggunakan mobil. Dengan sisa-sisa tenaganya, Reyhan mengangkat Riska dan masuk ke mobil yang dikendarai Bagas. Ya, Bagas langsung menyusul Reyhan saat melihat Tuannya berlari keluar
perusahaan.
“Pegang Riska erat. Aku akan ngebut”
Benar saja, Bagas mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Reyhan sudah tidak peduli dengan tingginya kecepatan mobil dan rasa remuk di badannya.
*****
__ADS_1
Di lain tempat, Rindi tiba-tiba menangis membuat guru dan teman-temannya bingung. Sedangkan Reno langsung keluar dari kelasnya menuju kelas Rindi dan Rendi.
“Abang, Kakak” teriak Reno tanpa permisi membuat kelas Rindi semakin heboh.
“Reno” panggil Rendi yang sangat mengenal adik bungsunya dengan kepekaan yang tinggi. Rindi masih setia menangis di pelukan Rendi.
“Ada apa Reno? Kenapa kamu masuk ke kelas kakak kamu tanpa permisi?” tanya bu guru yang mengajar di kelas Rindi.
“Bunda Bu. Perasaan Reno tidak tenang. Reno takut bunda kenapa-kenapa” jawab Reno dan muali terisak.
“Hush. Bunda pasti baik-baik saja” hibur Rendi yang kini memeluk dua adiknya. Namun tidak dipungkiri kalau Rendi juga merasakan keresahan yang sama. Apalagi dua adiknya sama-sama menangis begini. Dan ini terjadi untuk pertama kalinya.
“Kalian lebih baikdi UKS saja. Biar ibu ijinkan. Meskipun dipaksakan belajar, kalian tidak akan bisa menerimanya karena pikiran kalian tidak di sini” saran bu guru.
“Baik bu. Saya akan ajak adik-adik saya untuk ke UKS” ucap Rendi sopan. Rindi dan Reno masih setia terisak, namun kakinya tetap melangkah mengikuti instruksi Rendi. Rendi mengangguk sopan saat melewati guru Reno yang berdiri di pintu sedari tadi. Saat Reno keluar dari kelas dan berlari ke kelas kakaknya, gurunya mengikuti karena khawatir terjadi apa-apa.
“Biar saya yang antar mereka Bu” ujar guru kelas Reno.
“Baiklah pak. Terimakasih banyak”
Guru piket yang mendapat kabar akan kekacauan yang dibuat trio R langsung menghubungi keluarga Kusumo karena yang menjadi wali selain Riska adalah keluarga Kusumo.
“Sila, tolong kerjakan soal nomor tiga di papan tulis” perintah sang guru.
Sila maju ke depan dengan perasaan yang tidak menentu. Dia berusaha fokus untuk bisa mengerjakan soalnya. Dia mulai menulis apa yang diketahui, lalu apa yang ditanyakan dan memulai penyelasaian. Soal yang dikerjakan Sila adalah mencari luas permukaan balok. Baru saja Sila memasukkan angka yang di ketahui ke dalam rumus, pikirannya kembali pada Riska dan Reyhan.
“Papa” guman Sila.
“Ya Sila? Kamu mengatakan sesuatu?” tanya sang guru yang mendengar gumanan Sila.
Sila menatap gurunya dengan pandangan sayu. Sangguru berdiri menghampiri Sila dan memegang pundaknya.
“Ada apa?” tanya sang guru. Dia sudah melihat wajah pucat Sila. Sangat berbeda saat maju tadi.
“Papa” ulang Sila.
“Kenapa dengan papa Sila?” tanya sang guru lagi.
“Bunda” lirih Sila.
__ADS_1
“Bunda? Siapa? Bukannya Sila anak piatu?” sang guru benar-benar bingung dengan gumana Sila. Saat sang guru hendak bertanya lagi, tubuh Sila sudah ambruk. Beruntung sang guru dengan tanggap menangkap tubuh Sila sehingga tidak sampai menghantam lantai. Dengan sigap sang guru langsung menggendong Sila dan membawanya ke UKS.
“Kalian kerjakan soal-soalnya dan nanti dikumpulkan ketika pergantian jam pelajaran” titah sang guru sebelum benar-benar meninggalkan kelasnya.
“Baik pak” jawab murid-murid serempak.
Sama halnya di sekolah trio R. Guru piket langsung menghubungi keluarga Kusumo perihal pingsannya Sila.
Di masion mewah Kusumo, Heru dan Indra terlihat panik saat mendengar laporan dari guru trio R. Sedangkan Gita dan Resti sedang istirahat, sehingga tidak tahu apa yang terjadi.
“Pa” teriak Nilam. Ali yang sedang menenangkan Indra dan Heru terkejut mendengar sang istri memanggilnya.
“Ada apa Ma? Kenapa panik?” tanya Ali melihat kepanikan di wajah istrinya.
“Sila Pa. Sila pingsan setelah memanggil papa dan bundanya”
“Apa? Sila pingsan?” Ali tak kalah panik dari sang istri.
“Kita bagi tugas. Kamu dan Tuan Permana, datanglah ke sekolah trio R. Sayadan sang istri akan mengurus Sila” Ali membagi tugas. Heru dan Indra mengangguk dan langsung berlari keluar. Bahkan mereka lupa meninggalkan pesan untuk sang istri.
“Astaga. Aku lupa nama sekolah mereka?” ucap Indra menepuk keningnya.
“Mas Heru, tolong pegang kemudi. Saya ingin menghubungi Ali dulu untuk menanyakan nama dan lokasi sekolah trio R”
“Baik”
Dengan informasi dari Ali, Heru dan Indra tiba di sekolah trio R. Keduanya sangat mencemaskan keadaan cucu-cucunya. Begitu juga dengan Ali dan Nilam yang mencemaskan keadaan Sila.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk **Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. ** Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
*****
__ADS_1
Bunda mau minta maaf karena baru bisa up. Bapak mertua bunda sempat dirawat di rumah sakit, tapi alhamdulillah sudah pulang dan tinggal cek up serta rawat jalan saja. jadi agak repot nantinya. maaf kan bunda sekali lagi! semoga double upnya bisa mengobati kangen kakak2 readers.