DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 70


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, namun Risma juga belum membuka matanya. Bahkan Reyhan sudah mengabari orang tuanya dan tentu saja pasangan Kusumo ini langsung bertolak kembali ke kota S. Padahal baru beberapa hari yang lalu menginjakkan kaki di kota X.


“Assalamualaikum” salam anak-anaknya dengan suara yang pelan.


“Waalaikumsalam” jawab Reyhan tak kalah pelan.


“Bunda belum bangun Pa?” tanya Sila dan langsung duduk bersandar di lengan papanya.


“Belum. Kita tunggu saja. Apalagi Bunda memang butuh banyak istirahat. Dari kemarin sibuk kesana, kesini, bikin ini, bikin itu. Iya kan?” ucap Reyhan dan semuanya mengangguk.


“Bunda nggak sadar kalau ada dedek bayi di perutnya. Jadi los dol aja kerjanya. Happy aja gitu” tambah Rendi.


“Betul. Tapi ya begitulah Bunda kita. Wonder woman” puji Sean. Semuanya mengangguk serta tertawa.


“Kalian lanjutkan ngobrolnya. Papa mau menemani Bunda di bangkar. Oh ya, kenapa Om Willi nggak ikut turun?” tanya Reyhan sudah berdiri.


“Ada hal yang  harus dilakukan katanya. Nggak tahu juga sih” jawab Rindi. Reyhan mengangguk dan meneruskan niatnya menemani tepatnya menunggu Risma sadar.


Reyhan mengelus punggung tangan istrinya yang bebas dari infus.


“Sayang, kenapa kamu nggak bangun-bangun. Abang ada kabar gembira buat kamu. Bangun, Sayang” ucap Reyhan lirih. Entah kemistri atau apa, setelah ucapan Reyhan selesai, mata Risma mulai bergerak.


“Bunda sadar. Ush” ucap Reyhan pelan dan memberi isyarat untuk diam dengan menempelkan telunjuknya di bibirnya. Anak-anaknya setuju untuk menutup mulutnya. Reyhan terus memperhatikan Risma yang mulai perlahan membuka matanya. Dahi Risma mengeryit seperti menahan sesuatu.


“Bang” panggil Risma lirih.


“Bunda sudah sadar? Alhamdulillah” jawab Reyhan terdengar bahagia.


“Pusing Bang. Lemes” keluh Risma. Dia belum menyadari kalau beradadi rumah sakit.


“Iya Sayang. Istirahat dulu. Abang panggilkan dokter” ucap Reyhan. Risma menggeleng. Tangan kanannya menggenggam jemari Reyhan dengan kuat.


“Risma nggak apa-apa” jawabnya. Reyhan menurut dan duduk kembali di sisi istrinya.


Risma sudah bisa membuka matanya dengan sempurna dan baru sadar kalau dirinya ada di rumah sakit dan diinfus. Namun dia heran kenapa suaminya terus tersenyum dan terlihat bahagia.


“Abang kenapa?” tanya Risma lirih.


“Abang bahagia. Makasih ya Bund” jawab Reyhan dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


“Makasih buat apa? Bahagia kenapa? Bunda nggak ngerti” jawab Risma masih dengan suara yang lemah.


Reyhan terus tersenyumdan tangannya mengusap perut Risma yang maish datar.


“Di sini, ada yang tumbuh di dalamnya” Risma melihat ke arah perutnya yang diusap lembut oleh suaminya.


“Maksud Abang, Risma hamil?” tanya Risma meyakinkan dirinya. Reyhan mengangguk antusias. Risma tersenyum bahagia. Namun sedetik kemudian, wajahnya berubah cemas dan Reyhan menyadari hal itu.


“Kenapa? Bunda nggak bahagia mengandung anak Papa?” tanya Reyhan murung.

__ADS_1


“Bukan begitu Pa. Bunda senang, bersyukur banget Allah masih mempercayakan janin dalam diri Bunda. Mengingat bagaimana dulu kami bekerja keras untuk mendapatkan Reno. Tentu saja Bunda senang. Hanya saja, Bunda khawatir dengan tanggapan anak-anak” jelas Risma panjang lebar meski dengan suara yang lemah. Reyhan kembali tersenyum dan mengangguk mengerti.


“Soal anak-anak, Bunda tak perlu khawatir. Mereka menerimanya kok” ucap Reyhan dengan lega.


“Serius? Berarti anak-anak sudah tahu?” Reyhan mengangguk. Senyum Risma kembali terpancar. Kali ini benar-benar terlihat bahagia.


“Iya Bunda. Kami siap kok jadi kakak” ucap Sila dan Rindi.


“Dan kami siap jadi Abang” tambah Sean, Rendi, Seno dan Reno.


“Oh, senangnya. Makasih sayangnya Bunda” ucap Risma memandang anak-anaknya penuh sayang.


“Sama-sama Bunda. Sayang Bunda” ucap semuanya dan memeluk Risma rame-rame.


“Bunda juga sayang kalian semua”


Reyhan tersenyum bahagia melihat bagaimana anak-anak dan istrinya bahagia.


Kamu memang malaikat berwujud bidadari yang dikirim pada keluarga kami. Cintaku akan semakin sempurna untukmu. I love you, my wife. ~ suara hati Reyhan.


Pelukan terlepas dengan wajah cerah termasuk Risma meskipun wajahnya msih terlihat pucat. Kebersamaan itu terhenti ketika perugas masuk membawa sarapan untuk Risma.


“Sarapannya Bund. Mau sekarang atau nanti?” tanya Reyhan dan meletakkan sarapan yang dia terima di atas laci yang disediakan.


“Nanti aja Pa. Bunda belum minat” jawab Risma. Reyhan mengangguk.


“Oh ya, anak-anak Bunda puasa semua kan?”


“Insya Allah. Amiin”


“Amiin”


“Maafkan Bunda ya anak-anak. Gara-gara Bunda, agenda kita berantakan semuanya. Gagal malahan” ucap Risma penu sesal.


“Siapa bilang gagal Bund?” ucap Rendi dengan senyuman.


“Ehh, nggak gagal? Sama siapa ke kampungnya?” tanya Risma kaget.


“Sama Om Willi dan Kakek Nenek Permana” jawab Reno semangat.


“Trio S ikut?” tanya Reyhan pada ketiga anaknya.


“Sean mau ikut. Mau lihat kampung Bunda sama Ayah Erik”


“Sila juga”


“Seno mau nemani Bunda sama dedek bayi. Nggak apa-apa kan Bund?” ucap Seno dengan wajah imutnya.


“Beneran Seno nggak mau ikut sama yang lain?” tanya Reyhan.

__ADS_1


“Nggak Pa. Seno mau nemani Papa jaga Bunda. Wakil dari mereka” jawab Seno sombong.


“Huuuu” sorak saudara-saudaranya dan mereka mendorong-dorong tubuh Seno hingga bergoyang ke kanan dan ke kiri karena diserang dari berbagai arah.


Risma tertawa melihat tingkah anak-anaknya dan itu sukses membuatnya merasa jauh lebih baik. Reyhan malah mengambik ponsel dan mengabadikan tingkah keenam saudara ini. Bibirnya tak pernah berhenti mengembang melihat kerusuhan anak-anaknya. Keseruan ini terhenti ketika dokter visit masuk dan terkejut melihat banyaknya orang di kamar pasien. Namun karena sudah mendapat mandat dari kepalarumah sakit untuk menjaga sikap di depan keluarga ini, maka dokter itu hanya tersenyum menyapa. Toh ini ruang VVIP, jadi sudah dilengkapi dengan teknologi kedap suara. Kebisingan mereka tidak akan mengganggu pasien lain.


“Saya sarankan untuk anda dan istri berkonsultasi ke dokter kandungan. Atau mau saya jadwalkan dengan beliau?” saran dokter setelah memeriksa Risma.


“Nanti kami akan daftar sendiri. Menunggu kondisi istri saya lebih baik lagi” jawab Reyhan dengan sopan.


“Oh begitu. Kalau begitu, saya permisi dan semoga lekas sembuh”


“Amiin. Terimakasih”


Rasa yang tadinya khawatir melihat keadaan Risma yang tiba-tiba lemas bahkan sampai pingsan, kini berubah menjadi rasa bahagia. Bulan penuh barakah tahun ini menjadi bulan yang membahagiakan bagi tiga keluarga, yaitu keluarga Kusumo, Herlambang juga keluarga Permana.


Anak-anak pamit hendak belanja di sekitar rumah sakit. Soal belanja, Seno tidak mau ketinggalan.  Kini Risma kembali hanya berdua dengan suaminya setelah kepergian anak-anaknya.


“Sarapan sekarang ya?” bujuk Reyhan. Risma mengangguk, namun baru saja Reyhan membuka tutupnya, Risma sudah mual.


“Astaga Bang. Bau banget. Tutup lagi Bang. Hueek” Risma menutup hidung dan mulutnya. Dengan cepat Reyhan menutup kembali tempat makan yang membuat istrinya mual.


“Mau makan apa? Biar Abang belikan” tanya Reyan dengan pandangan kasiha. Dia tidak tega melihat istrinya lemah dan mual.


“Pengen yang manis-manis. Pengen bubur kacang ijo bikinan Mama Resti. Enak dan manisnya pas” ucap Risma dengan manja. Reyhan tersenyum dan tentu saja senang dengan kemanjaan istrinya.


“Abang telepon Tante Resti dulu”


“Eh, Bang. Telepon Mama Gita juga. Minta dibikinkan jenang gerendul yah?” Risma memohon dengan wajah dibuat imut.


“Iya, Sayang” ucap Reyhan dan mulai menghubungi Resti dan Gita.setelah selesai, dia menyimpan kembali ponselnya dan memandang istrinya.


“Katanya Tante Resti sudah dalam perjalanan kemari” ucap Reyhan sukses membuat Risma cemberut. Reyhan tersenyum melihat wajah istrinya yang ditekuk.


“Kamu tahu nggak apa yang dibawanya?” Risma menggeleng. Semangatnya untuk makan sudah hilang karena keinginan untuk makan bubur kacang hijau bikinan mertuanya itu tidak terkabul.


“Kayaknya Tante Resti, eh Mama Resti punya firasat kalau anak cantiknya pengen bubur bikinan Mama. Bentar lagi sampe bersama dengan bubur kacang hijau pesanan Bunda yang cantik ini” hibur Reyhan setengah menggoda, namun berhasil membuat senyum Risma kembali mengembang.


“Beneran Bang?” Reyhan mengangguk. Hatinya senang melihat Rismakembali semangat. Meskipun masih lemas, setidaknya sudah lebih baik.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT

__ADS_1


*****


Bunda minta maaf pada Readers semua yang udah bersedia memberi komentar. Karena HP bunda rusak, jadi nggak bisa like komentar kalian. Cuma bisa lihat dan balas beberapa aja. Makasih bagi yang udah baca,  terlebih lagi ngelike and komentar juga. I love you readers semua.


__ADS_2