
Hari kelulusan Sean tiba dan dia mendapat predikat terbaik kedua di sekolahnya. Reyhan tentu saja sangat bangga pada anak laki-lakinya itu. Dari tempat duduk wali murid, Reyhan memandang Sean penuh haru. Matanya berkaca-kaca karena dia bisa menghadiri acara perpisahan sekaligus penghargaan bagi murid yang berprestasi.
“Terimakasih Ris, berkat kamu, aku bisa melihat wajah bangga juga bahagia Sean. Maafkan papa Sila. Saat kamu lulus sedolah dasar, papa tidak menemanimu. Papa janji, tahun depan, papa akan menjadi wali kamu di acar perpisahan. Dengan atau tanpa kamu menjadi murid terbaik”
Reyhan melihat Sean memegang mikrofon hendak mengucapakan sesuatu.
“Terimakasih untuk bunda yang selama ini telah menemani Sean belajar. Sean sayang bunda. Terimakasih sudah hadir di hidup kami terutama mengembalikan papa kami. Satu pinta kami, mohon tetap di sisi kamu sampai kapanpun. Papa, tolong buat bunda tetap berada di rumah besar kita. Sean mohon” Sean berkata dengan penuh perasaan. Tatapannya yang memohon dengan sangat pada papanya membuat Reyhan tak berkutik.
Semua hadirin kini atensinya berubah ke Reyhan. Reyhan sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Akhirnya dia memutuskan untuk berdiri dan menatap dalam putranya. Permintaan sederhana, namun sungguh sangat sulit diwujudkan oleh Reyhan.
“Papa tidak bisa menjanjikan apa yang kamu inginkan bisa papa kabulkan. Tapi papa akan tetap berusaha untuk membuat bunda tetap berada di sisi kita. Papa menyayangimu. Muach” Reyhan memberikan cium jauh pada putranya. Sean menangkap ciuman itu dengan tangannya dan meletakkan tangannya di pipi kanan, pipi kiri, kening dan terakhir di bibir.
Tepuk tangan riuh terdengar melihat kehangatan antara Sean dan Reyhan. Ada yang menatapnya iri, ada pula yang menatap haru. Apalagi teman-teman Sean yang tahu bagaimana merananya Sean sebelum kehadiran Riska.
“Kita rayakan kelulusanmu dengan jalan-jalan ke mall” ucap Reyhan ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Beneran pa?” tanya Sean tak percaya. Pasalnya selama ini Reyhan selalu sibuk dengan urusannya sendiri.
“Iya. Kita ajak trio R juga bunda. Bagaimana? Apa kamu suka?” tanya Reyhan tersenyum.
“Tentu saja Sean suka. Terimakasih pa. Sayang papa” Sean memeluk lengan papanya karena Reyhan harus menyetir.
“Ya ya ya, papa tahu. Papa juga sayang kalian” Reyhan mengusap rambut Sean dengan tangan kanannya.
*****
Sesuai janji Reyhan pada Sean. Hari minggu sudah dipastikan akan menjadi hari santai untuk semuanya. Trio R sudah bersiap juga Riska. Sedangkan Reyhan masih belum bersiap begitu juga dengan trio S.
“Kenapa belum bersiap? Katanya mau berangkat jam setengah sembilan?” tanya Riska melihat empat orang beda generasi itu.
“Kita bingung mau pakai baju apa bund” jawab Sila lesu.
“Astaga” Riska menghela napas pasrah.
“Baiklah. ayo kita naik ke atas. Bunda bantu bersiap. Kalian” tunjuknya pada trio R.
“Tunggulah di sini”
“Baik bunda”
Pertama-tama, yang dibantu adalah Sila. Dari pada Riska harus adu otot dulu nantinya, lebih baik mengurusi yang liar dulu, baru yang jinak.
“Pakai yang ini. Sederhana tapi terlihat elelgan. Pasti Sila akan cantik. Coba saja kalau Sila tak percaya” ucap Riska menyerahkan gaun warna biru laut dengan pita pink dipinggang. Pitanya kecil dan hanya sebagai pemanis, bukan seperti gaun yang baias dugunakan anak-anak saat ulang tahun.
__ADS_1
“Perfect” ucap Riska membentuk tangannya seperti huruf O. Sila tertawa bahagia. Betapa dulu dia ingin seperti ini. Dibantu bersiap saat hendak pergi kemanapun. Kini dia dapatkan itu dari Riska. Pengasuh yang dipanggilnya bunda.
“Baiklah. Kamu dandanlah yang cantik, tapi yang wajar jangan menor. Bunda akan ke kamar Sean. Oke sayang?” pamit Riska lembut.
“Oke Bunda” Sila mencium pipi Riska sebelum Riska berlalu.
“Nah, sekarang, gaya apa yang ingin kamu pakai? Kali ini kamu bintangnya” ucap Riska setelah sampai di kamar Sean.
“Gaya yang cocok untuk remaja SMP bund” jawab Sean.
“Ck, dasar labil. Masih mau SMP sayang” Riska geleng-geleng kepala.
“Kan belajar jadi remaja SMP bund. Bentar lagi juga” bantah Sean. Riska menghela napas pasrah.
Dengan sabar, Riska memilih pakaian casual untuk Sean. Dia menyerahkan celana levis dengan panjang sepertiga dan kaos oblong warnahijau lumut. Tak lupa topi hitamnya.
“Ganti baju gih” titah Riska dan Sean langsung menurut begitu saja. Tidak ada perdebatan seperti sebelumnya.
“Ganteng. Sekarang siapkan apa yang perlu di bawa. Pakai tas ini saja” tunjuk Riska pada tas slempang mini milik Sean yang cocok untuk jalan-jalan.
Riska beralih ke Seno. Tak banyak yang dilakukan Riska di kamar Seno karena bungsu Kusumo ini tidak seribet dua kakaknya. Apalagi dia juga masih kecil masih sekolah dasar. Riska keluar bersama Seno, namun keduanya melihat Reyhan belum siap juga.
“Astaga papa. Kenapa belum siap?” omel Seno. Dia paling tak sabar kalau sudah siap jalan.
“Sejak kapan?” cibir Riska langsung. Memang Riska ini, mbok yo basa-basi sedikit gitu.
“Sejak hari ini. Sepertinya aku tak punya baju santai” Reyhan tak menanggapi cibiran Riska.
“Ck, seperti anak kecil saja” ledek Seno.
“Biar nggak lama nunggunya, mendingan bundanya diminta bantuin papa. Mau berangkat nggak?” ucap Reyhan menyerang langsung kelemahan Seno.
“Ish, iya iya” dumel Seno, namun tak urung juga membujuk Riska untuk membantu papanya. Tentu saja dengan rengekan dan ekspresi andalannya.
“Bun, tolong bantu papa yah? Seno nggak mau nunggu lama-lama. Biar kita cepet jalannya”
Huh. Riska menahan semua gejolak jiwanya. Kenapa sekarang anak asuhnya menjadi empat?
“Baiklah” pasrah Riska. Dia meminta Seno turun lebih dulu. Sedangkan dia mengurusi bayi kadaluarsa supaya cepat bersiap.
“Dimana letak pakaian-pakaian anda Tuan?” tanya Riska memindai sekeliling kamar Reyhan, namun tak melihat ada lemari satu pun.
“Ikut aku” Reyhan membimbing jalannya. Dia menekan tombol dan terbukalah sebuah ruangan. Riska masuk dan mulutnya menganga melihat apa yang ada di dalam.
__ADS_1
“Ini toko apa lemari?” tanya Riska spontan. Reyhan terkekeh melihat ketakjuban Riska.
“Ini lemari Riska. Bukan toko”
“Bukan bukan. Lebih tepatnya gudang” Riska geleng-geleng kepala. Bukan hanya pakaian yang berjibun, tapi juga tumpukan baju yang tidak tertata.
“Astaga. Sekarang saya tahu dari mana gen anak-anak itu berasal. Ternyata gen serampangan Tuan menurun pada ketiganya”
Reyhan terkekeh karena apa yang dibilang Riska benar. Pantas saja pelayan yang bertugas membersihkan kamar Reyhan digilir, karena begini keadaannya. Riska tak bisa membayangkan bagaimana kalau telat sehari saja kemar Reyhan tidak dibersihkan. Akan jadi lautan gombal mungkin. Riska memilih pakaian yang dianggap santai, tentu saja yang masih berada di gantungan. Benar yang diucapkan Reyhan padanya. Tak banyak pakaian santai.
“Hanya ini yang saya temukan untuk pakaian santai Tuan. Pakai saja yang ada, nanti kita beli pakaian santai juga untuk Tuan. Uang Tuan masih cukup kan untuk beli pakaian sendiri?”
Reyhan mengeryitkan keningnya. Mengapa ucapan Riska seperti menyindirnya.
“Jangan melamun Tuan. saya tidak bisa menjamin kalau Seno tidak akan mengamuk nantinya”ucap Riska mengingatkan keganasan anak bungsu Tuannya.
“Astaga. Macanku sudah bertaring pastinya”
Reyhan langsung masuk kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan cepat. Benar saja, sampai bawah, dia sudah melihat wajah mendung Seno dengan bibir mengerucut. Andai Reyhan membawa karet gelang, sudah dikucir itu bibir.
“Ayo jalan. Jangan ngambek, nanti papa batalin lho” ancam Reyhan agar keluar dari terkaman macan imutnya.
“Jangan” teriak Sean dan Seno bebarengan.
“Makanya, jangan ngambek” ucap Reyhan pada anak bungsunya.
“Iya iya. Ini juga nggak ngambek” Seno memilih mengalah dari pada gagal jalan-jalan.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
Maafkan bunda kalau readers bosan. Alurnya sengaja bunda percepat menuju konflik biar nggak flat. Next episode mulai masuk konflik walaupun belum inti yah!
*****
NEXT
*****
__ADS_1