
Hari berganti, dan senja sudah mulia datang menyapa meskipun masih malu-malu. Trio R sedang bermain bersama di taman belakang. Sila mengajak adik-adiknya datang menghampiri mereka. Sila memang jarang ikut bergabung dengan yang lainnya keran pribadinya yang lebih tertutup dari pada dua saudaranya.
“Tumben Kak Sila ngajak kita gabung? Biasanya cuma kita yang gabung dengan trio R” ucap Seno menatap Sila penuh tanda tanya.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan mereka” jawab Sila apa adanya.
“Penasaran nggak?” tanya Seno pada Sean.
“Pastinya dong. Kuy lah” ajak Sean malah meninggalkan Sila dan Seno.
“Woi, tunggu kak” teriak Seno dan berlari menyusul Sean. Sedangkan Sila, dia menggelngkan kepala, namun tetap saja melangkah cepat menyusul dua saudaranya.
“Hai, boleh gabung?” tanya Seno dan langsung duduk di samping Rindi.
“Boleh tuan, nona” jawab Rindi. Nggak mungkinkan Rindi menolak, kan ini rumah mereka.
“Main apa sih?” tanya Sean yang melihat Reno menelungkupkan tubuhnya seperti kura-kura.
“Kita main cublek-cublek sueng” jawab Rendi.
“Ikut boleh?” tanya Sila ragu-ragu. Ini pertama kalinya dia bergabung dengan anak-anak pengasuhnya.
“Boleh nona. Silahkan ambil tempat” ucap Rindi. Sila memilih duduk secara acak di tempat yang masih kosong.
“Bagaimana cara mainnya?” tanya Seno semangat.
“Ren, udah siap? Nggak boleh ngintip” tegur Rendi dan Reno hanya mengacungkan jempolnya. Reno sudah memasukkan kepalanya dan menangkup dengan kedua lengannya. Setelah memastikan Reno tidak bisa mengintip, Rendi memberi intruksi.
“Semua tangannya diletakkan di atas punggung Reno dengan posisi seperti ini” Rendi memperagakan tangan yang mengepal namun tidak kuat. Semuanya mengikuti arahan Rendi. Mereka menggunakan semua tangannya agar Reno lebih susah menebaknya.
“Kita nyanyi lagunya. Nanti yang bawa batunya tidak boleh memberi tahukan pada Reno sebelum tiga kali salah menebak. Paham?”
“Paham” semuanya menjawab kompak.
Rendi mulai bernyanyi diikuti oleh Rindi. Tak lupa tangannya yang memegang batu keliling mencari rumah yang sesuai. Sedang trio S yang awam dengan lagu itu hanya diam memperhatikan.
Cublak-cublak suweng
Suwenge ting gelenter
Mambu ketundung gudhel
Pak Empong lerak-lerek
Sopo ngguyu ndelekakhe
Sir-sir pong dele kopong
Sir-sir pong dele kopong
Mereka terus mengulang lirik terakhir dengan saling menggosokkan jari telunjuk kanan dan kiri. Reno bangun dari semedinya dan mencoba menilik siapa pemagang batunya. Reno merasa bingung karena banyak tangan sekarang. Tidak seperti tadi, hanya empat tangan. Kali ini ada sepuluh tangan yang berpotensi memegang batu itu. Trio S terus mengikuti gerakan Rendi dan Rindi yang kadang tertawa cekikikan melihat Reno bingung.
“Ini” Reno memilih tangan kiri Sean. Sean diam tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hatinya berdebar-debar tak karuan.
__ADS_1
“Ayo buka Tuan Sean. Apa ada di genggaman itu” ucap Reno dan Sean mengikuti instruksinya.
“Yaah, salah” barulah ketiganya mengerti.
“Hehehehe” Rendi dan Rindi terkekeh karena Reno salah menebak.
“Dua lagi. Tenang Reno, pindai dengan benar. Bagi yang memegang apalagi baru pertama bermain, pasti deg-degan.
“Aha, ini” Reno memegang tangan kiri Rindi dan seketika, Rindi membukanya.
“Weeeek” ledek Rindi karena tangannya kosong.
“Haish, satu lagi. Fokus fokus fokus” ucap Reno.
“Hokus fokus” ledek Rendi dan terkekeh. Yang lain mulai menikmati permainan dan ikut terkekeh melihat bagaimana R bersaudara bermain.
“Cek, jangan ganggu konsentrasiku bang” kesal Reno.
“Ini” kali ini tangan Sila yang ditunjuk. Tangan sebelah kanan.
“Salah, tapi batunya ada di..... sini” Rendi menunjuk tangan kanan Sean.
“Yaaah, padahal tadi hampir benar, hanya salah tangan saja” keluh Reno yang belum keluar juga semedinya.
Mereka kembali bermain dan berganti-ganti yang menebak. Apalagi trio S yang baru bermain, mereka secara bergantian menjadi penebak. Mereka ingin merasakan menjadi keduanya.
“Sudah, aku lelah bang” Reno memilih undur diri.
“Baiklah, kita sudahi saja” ucap Rendi.
“Tidak” jawab Sila, sedangkan Sean dan Seno hanya diam saja. Sebenarnya keduanya masih ingin bermain, tapi kalah jumlah vote dengan yang menyerah.
“Emmm, aku mau ngomong. Boleh?” tanya Sila ragu0ragu. Sean dan Seno saling pandang. Mereka hampir lupa kenapa kakaknya mau bergabung.
“Nona bilang saja, tidak perlu ijin” ucap Reno.
“Itu, emm, bolehkah saya memanggil bibi pengasuh dengan panggilan bunda, seperti kalian?” akhirnya keluar juga yang dia tahan sedari tadi.
“Emmm, soal itu, biar Reno yang putuskan” ucap Rindi bijaksana.
“Kenapa? Kan yang tertua Rendi?” tanya Sean.
“Hum” seno ikut menimpali dengan gumanan dan anggukan kepala.
“Tidak. Reno yang lebih berhak. Tapi aku rasa boleh. Kalau Reno bisa berbagi bunda dengan kami, alu yakin, Reno tidak akan keberatan jika harus bernagi bunda juga dengan Tuan dan Nona” ucap Rindi menimpali.
“Aku masih nggak ngerti” Sean bingung mencerna maksud Rindi.
“Kalian bukan anak kandung bibi?” tanya Sila yang memang lebih dewasa dan mengerti maksud Rindi.
“Ya, kami bukan anak kandung bunda. Kami adalah anak dari kakaknya bunda, mama Ria” jawab Rendi tanpa ada perasaan apa-apa. Ketiganya saling tatap tak percaya. Sela ini mereka mengira kalau si kembar adalah anak kandung pengasuh mereka.
“Tuan dan Nona boleh kok manggil bunda aku dengan bunda juga. Aku percaya kalau bunda nggak akan pilih kasih membagi kasih sayangnya. Kalau bunda saja bisa adil denganku dan kakak kembar, pasti juga bisa adil dengan Tuan dan Nona” Reno mengatakan tanpa beban. Memang itulah yang dirasakan Reno. Meskipun Rendi dan Riana bukan anak kandung Riska, namun Reno tak pernah melihat bundanya membedakan antara dirinya dan si kembar. Bahkan kalau mereka salah, semuanya mendapat hukuman. Tidak ada yang teristimewa, semuanya istimewa di mata Riska.
__ADS_1
“Terimakasih. Kalian juga jangan manggil dengan Tuan dan Nona. Panggil saja Kakak” ucap sila tersenyum tulus.
“Kak Sila kalau senyum makin cantik” puji Rindi yang memang lebih suka mengutarakan perasaannya.
“Terimakasih”
“Anak-anak” teriak Riska tanpa tahu ada tiga anak asunya di sana.
“Eh, ada Nona kecil dan Tuan kecil juga ternyata” kekeh Riska menghampiri semuanya.
“Iya bunda, kami tadi ikut main, apa namanya?” tanya Sean juga ikut memanggil bunda.
“Cublek-cublek suweng” jawab Reno tertawa.
“Ah iya, itu namanya bunda” Sean lagi lagi memanggil Riska dengan bunda.
“Bunda?” Riska mengeryitkan dahinya. Seingatnya dia mengatakan hanya pada Sila, kenapa Sean juga ikut memanggilnya bunda.
“Iya, bunda. Mulai sekarang, kami akan panggil bibi dengan bunda. Sama seperti Reno, Rendi dan Rindi. Bolehkan bunda?” rengek Seno menarik lengan Riska manja.
Riska tidak langsung menjawab, tapi dia melihat ketiganya anaknya. Baik Rendi, Reno ataupun Rindi, mereka tersenyum dan mengangguk. Riska tersenyum dan mengangguk.
“Baiklah, boleh panggil bunda”
“Hore. Sayang bunda” ketiga anak asuhnya langsung memeluk Riska secara bersamaan.
“Bunda juga sayang dengan Tuan dan Nona kecil” jawab Riska dan memeluk dengan erat ketiga anak majikannya.
“No, mulai sekarang, panggil nama saja seperti bunda manggil trio R” ucap Sean seolah tak ingin dibantah.
“Baiklah. Sila akan bunda panggil Kakak Sila seperti bunda manggil Kakak Rindi. Untuk Sean, bunda akan panggil abang Sean seperti bunda memanggil abang Rendi. Dan untuk Seno, bunda akan panggil adek Seno seperti halnya adek Reno. Bagaimana?”
“Setuju” semuanya tertawa senang.
“Kalian tidak ingin memeluk papa juga?” tanya Reyhan yang baru datang dan masih mengenakan pakaian formalnya.
“Papa, kami kangen” trio S langsung berhambur ke pelukan Reyhan.
Deg. Ada perasaan tercubit di hati Reyhan mendapat pelukan dan ungkapan rindu dari anak-anaknya. Mereka bertemu setiap hari dan makan bersama, tapi ungkapan rindu dari anak-anaknya baru terucap kali ini.
Mungkin yang dikatakan Riska benar. Selama ini mereka merasa kesepian. Kami bahkan bertemu dan makan bersama setiap hari, tapi ungkapan rindu dari mereka serasa seperti menggunung. ~ Reyhan tanpa sadar meneteskan air matanya.
Riska melihat adegan yang mengharuskan itu tersenyum. Setidaknya, papa mereka telah kembali. Riska memeluk ketiga anaknya dan mengajaknya masuk untuk memberi ruang pada Reyhan dan anak-anaknya.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
__ADS_1
*****