DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 65


__ADS_3

Suasana penjengukan Riko menjadi hening saat Riana mengungkapkan kebenaran di balik menghilangnya mereka hingga mengganti nama. Riko menatap kedua anak kembarnya dengan pandangan bersalah. Hanya Diana yang masih angkuh meskipunsudah mendapat peringatan keras dari Reyhan.


“Maafkan Papa ya Nak. Papa ikhlas menjalani hukuman ini dari kalian, asal kalian mau memaafkan Papa” ucap Riko dengan mata berkaca-kaca. Bahkan air matanya nyaris saja menetes andai tangannya tak bergerak cepat untuk mengusapnya.


“Kakek juga minta maaf. Ternyata kehilangan kalian jauh lebih sakit dari pada kehilangan semua kemewahan yang kami rasakan selama ini” Ramon juga menyatakan penyesalannya.


“Cih, Mama nggak sudi kehilangan kemewahan, Pa. Kalau Papa tetap ngotot dan nggak mau menuntut balik mereka, maka maafkan mama kalau  harus meninggalkan papa” ucap Diana ketus.


“Ma, kalau Mama sampai melakukan itu, maka Riko nggak mau anggap Mama sebagai Mamanya Riko” jawab Riko dengan mata merah menyala. Sudah terjatuh, namun mamanya bukan belajar, malah menjadi.


“Lihatlah. Gara-gara kalian, saya jadi seperti ini” kesal Diana melampiaskan pada Risma dan anak-anaknya.


“Itu salah anda sendiri, Nyonya. Harusnya anda belajar dari kesalahan, bukan malah mengkambinghitamkan orang lain” kawab Risma tak kalah ketus. Dia sudah geram sedari tadi melihat tingkah Diana yang tak ada sadar-sadarnya.


“Jangan hiraukan nenek kalian. Fokus saja pada Papa. Oke” ucap Risma dengan lembut.


“Iya Bunda” jawab Riana dan Randi bersama-sama. Mereka menatap Riko yang juga menatapnya.


“Kami mau memaafkan Papa, itu juga karena bunda mengajarkan kami untuk tidak boleh menyimpan dendam” ucap Randi dingin.


“Iya. Tapi papa nggak boleh menyakiti bunda ataupun saudara-saudara kami yang lainnya,  seperti Papa menyakiti Rama, dulu” lanjut Riana. Dia masih ingat bagaimana Riko mengabaikan Rama dan menganggapnya seolah-olah tidak ada.


“Maafkan Papa”


“Kami sayang Papa” Randi dan Riana berdiri dari kursi dan menghampiri Riko. Ketiganya berpelukan dan meluapkan rasa rindu yang bersarang di hatinya. Riko bahkan menangis tergugu karena bisa kembali memeluk anak-anaknya. Masih dalam keadaan memeluk duo R, Riko menatap Risma penuh rasa terimakasih. Risma hanya tersenyum mengangguk seolah mengerti maksud tatapan Riko.


“Kalian tidak mau memeluk kakek juga?” tanya Ramon. Randi dan Riana beralih memeluk Ramon.


“Kami sayang Opa”


“Opa juga sayang kalian” Ramon terharu dan keadaannya tak jauh beda dengan Riko, menangis tergugu.


“Sama nenenk tidak?” tanya Dian apenuh harap.


“Nggak, nenek jahat” jawab Randi sengit.


“Randi” tegur Risma lembut, namun penuh penekanan.


“Tapi Bunda” bantah Randi tak terima.


“Sayang” panggil Risma semakin lembut, namun bagi Randi semakin menekan.

__ADS_1


“Iya” jawab Randi lesu. Riana hanya mengikuti kakaknya saja. Masalah perasaan, sama saja dengan Randi. Masih tidak suka dengan nenek Diana itu.


“Terimakasih cucu-cucuku” ucap Diana girang.


“Hem” jawab duo R kompak. Risma hanya menggeleng dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Walau sebenarnya apa yang mereka lakukan tidak sopan, namun mau bagaimana lagi, semua juga karena andil dari Diana sendiri.


“Anda  bisa mengunjungi dan mengajak bermain mereka sewaktu-waktu. Namun dengan catatan, tidak mengganggu sekolah ataupun kegiatan lainnya. Misalnya seperti ekstrakulikuler dan waktu belajar juga mengaji. Saya tidak akan melarang, asal tidak sampai meninggalkan semua kegiatan tersebut” jelas Risma. Bagaimanapun


juga, mereka tetap keluarga duo R.


“Terimakasih, Nak Risma. Harusnya kami berterimakasih dari dulu, bukan malah ingin mengambil mereka. Bagaimanapun, yang memberi kasih sayang yang utuh adalah anda dan suami. Sekarang anda juga memberikan ayah pengganti yang tak kalah dengan almarhum suami anda” ucap Ramon tulus. Risma tersenyum dan mengangguk.


“Bagi kami, Randi dan Riana adalah anak sulung kami. Namun sekarang mereka tak sulung lagi” jawab Risma dengan kekehan. Reyhan tersenyum karena tahu siapa yang dimaksud sulung oleh Risma.


“Tidak apa-apa. Asalkan kasih sayang anda pada mereka tetap. Tak masalah mau menjadi sulung ataupun tidak” jawab Riko.


Obrolan terus berlanjut, hanya Diana yang diam karena  memang tidak ada yang mengajaknya bicara. Dia benar-benar kesal karena  merasa tidak dianggap. Kondisi ini terus berlanjut sampai 4R pamit.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju mall. Tujuan mereka adalah timezone. Tanpa menunggu komando, Sean, Randi, dan Seno langsung berlari menuju lantai dua tempat timezone berada. Sedangkan Reno, berjalan santai bersama saudari-saudarinya juga kedua orang tuanya.


“Nggak ikut lari kaya abang-abang?” tanya Reyhan mengusap kepala Reno.


“Nggak. Sampai sana capek. Pasti Bang Randi leyeh-leteh dulu. Biasanya juga begitu” jawab Reno membuat Reyhan terkekeh.


“Reno dapat dari mana koinnya?” tanya Risma  penasaran.


“Minta Papa. Palingan Papa nyuruh orang-orangnya” jawab Reno apa adanya.


“Iya, Bund. Katanya biar nggak antri” Risma mengangguk mengerti.


Kelimanya sampai lantai dua dan benar apa kata Reno. Ketiga Abangnya masih duduk-duduk sambil mengatur napasnya. Reyhan hanya tersenyum melihat ketiga putranya lesehan di lantai sambil bersandar dinding kaca. Semua pegawai sudah tahu siapa ketiganya, makanya tidak ada yang menegur.


“Kita tanding yuk” ajak Risma.


“Tanding apa Bund?” tanya Rindi.


“Rindi sama Papa, Kak Sila sama Bunda. Kita double basket. Yang kalah dapat hukuman. Gimana?”


“Siapa takut” tantang Reyhan.


Keempatnya asyik bermain dan membiarkan keempat putranya berpetualang dengan dunianya sendiri. Keseruan mereka mengundang atensi sebagian orang yang ada. Mereka senang melihat keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


“Yee, kita menang. Tos dulu Pa” sorak Rindi dan bertos ria dengan Reyhan.


“Huh. Papa pasti jago main basket dulunya” keluh Risma.


“Iya dong. Kan dulu Papa kaptennya” ujar Reyhan sombong.


“Pantes”


“Sayang, kita kalah” ucap Risma dengan tatapan menyesal. Namun sila malah tersenyum lebar.


“Nggak apa-apa Bund. Seru tahu” ucap Sila. Dia senang bisa menghabiskan waktu dengan keluarga seperti ini. Reyhan juga bahagia. Ada perasaan menyesal dihatinya yang sempat mengabaikan anak-anaknya dan memperhatikan sekedarnya.


“Ayo Rind, kita main yang lain” ajak Sila dan menarik tangan adik tirinya.


“Terimakasih yah, Sayang. Sudah hadir di kehidupan kami. Karenamu, aku jadi sadar pentingnya keluarga” ucap Reyhan merangkul bahu Risma setelah dua gadisnya berlalu.


“Sama-sama, Bang. Risma juga makasih karena Abang sudah menjadi Papa yang baik buat anak-anak” jawab Risma.


“Itu juga karena kamu, Sayang” keduanya saling pandangdan tersenyum. Dari jauh memperhatikan keseruan anak-anaknya yang sedang bermain. Mereka tersenyum bahagia tanpa beban.


“Abang hubungi Tuan Dika dulu untuk minta ijin ke rumah keluarganya Tante Lusi itu”


“Iya”


Reyhan beranjak dan menghubungi Dika. Tak lama kemudian, dia kembali dan duduk di samping istrinya.


“Gimana, Bang?” tanya Risma tak sabar.


“Katanya boleh. Tapi pura-pura nggak tahu apa yang terjadi. Begitu pesannya” Risma mengangguk.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****


NEXT


*****

__ADS_1


Maaf ya readers, bunda baru muncul. Habis acara 100 hari mendiang mertua bundadilanjutkan dengan darusan keliling dan kebetulan berturut-turut di dekat rumah Bunda. Jadi nggak enak rasanya kalau Bunda nggak ikut   rewang. Hehehehe. Maafin yah?


__ADS_2