DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
JOURNEY OF LOVE 12


__ADS_3

Risma sudah istirahat setelah mendapat suntikan vitamin dari dokter. Karena badannya masih lemah akibat kontraksi yang dia rasakan ditambah proses persalinan yang mengharuskannya melakukan operasi. Risma bersyukur karena dia dan bayinya selamat dan keadaannya sehat tanpa cacat apapun. Reyhan menemui Rizki dan Aiman setelah menemani Risma hingga tertidur.


“Maaf menunggu lama” ucap Reyhan sejenak setelah duduk.


“Tidak apa-apa Mas Rey. Lagi pula memang harus mendahulukan keluarga bukan?” jawab Rizki tanpa keberatan. Aiman hanya menyimak obrolan dua bapak itu.


“Maaf Mas Rizki. Bagaimana kalau kita agendakan lagi pertemuan kita. Besok mungkin? Apa anda keberatan?” tanya Reyhan mengajukan kembali meeting yang sempat tertunda.


“Oh, sama sekali tidak. Kita lakukan pertemuannya besok. Untuk waktu dan tempatnya?”


“Bagaimana kalau untuk waktunya, saya infokan nanti setelah saya bertanya pada sekretaris” Rizki manggut-manggut mengerti karena memang agenda bos yang lebih tahu justru sekretarisnya. Bahkan dia sendiri tidak tahu jadwal apa yang sudah terpatri jika tidak diingatkan sekretarisnya.


“Kalau masalah tempat, silahkan anda yang menentukan mau dimana. Di Kantor atau restoran. Silahkan” lanjut Reyhan setelah melihat respon Rizki.


“Baiknya nanti saja setelah dapat info waktunya. Bagaimana?” jawab Rizki dan Reyhan mengiyakan.


Tak lama kemudian, tiga anak Reyhan datang dan ikut bergabung bersama tiga pria beda usia itu. Disusul dari belakang, ada Farhan dan Sila yang membawa dua kresek berisi makanan dan minuman. Sila membagikannya pada semua orang. Aiman dan Rizki saling pandang karena Sila membelikan mereka nasi bungkus di warung tenda sekitar rumah sakit. Keduanya tersenyum senang karena tidak harus makan makanan restoran yang bagi keduanya tidak mengenyangkan. Hanya merasakan enak tanpa merasa kenyang.


“Ini, Om, Kak, Pa. Piringnya” ucap Sila menyodorkan piring Styrofoam pada keempat orang pria. Yaitu Reyhan, Rizki, Aiman dan Farhan.


“Kenapa kami pakai piring dan kalian tidak?” tanya Aiman merasa dibedakan.


“Kan Kak Ai dan Om Rizki tamunya Papa. Jadi ya harus dimuliakan bukan?” jawab Sila apa adanya. Aiman dan Rizki manggut-manggut mengerti. Walaupun hanya nasi bungkus dan sebotol air mineral, namun tidak merasa terhina dan malah merasa sangat disambut. Padahal mereka berada di rumah sakit.


“Lalu saya Non?” tanya Farhan merasa tidak enak karena Nonanya makan hanya beralaskan tangan, sedangkan dia juga mendapat piring.


“Kak Farhan juga tamu” jawab Sila simple. Farhan menggeleng dan meletakkan piring di atas meja. Dia makan mengikuti Sila dan saudara-saudaranya. Sila tak ambil pusing karena dia juga sudah kelaparan sejak tadi. Semuanya makan dalam diam. Aiman memperhatikan bagaimana keluarga ini sangat sederhana meskipun dari keluarga yang tercatat kaya di negaranya. Meskipun masih dibawah keluarganya dan Prasetyo.


“Ai jadi ingat sama Nenek Hana, Pa” bisik Aiman setelah menghabiskan makanannya.


“Iya. Sederhananya sama” balas Rizki juga berbisik.


“Alhamdulillah” seru Sila bersaudara dan Rendi memimpin do’a meskipun hanya dalam hati.


Rindi mengumpulkan bungkus dan memasukkannya dalam kresek bekas. Hal itu juga menjadi perhatian Aiman.


Tadi yang beli makanan Sila. Yang membersihkan adiknya. Biasanya kan menyuruh asisten atau siapa gitu lewat telepon. Benar-benar keluarga yang luar biasa. ~ Aiman.


“Sayang. Lebih baik kamu pulang. Pasti lelah” ucap Reyhan pada Sila.


“Iya Kak. Lagi pula Bunda sudah baik-baik saja. Adek juga” tambah Rindi.


“Tapi Sila belum ketemu Bunda, Pa” rengek Sila manja. Reyhan tersenyum dan mengusap kepala putrinya yang berbalut hijab.


“Kan nanti bisa datang lagi setelah istirahat. Lagi pula, apa kamu nggak gerah? Nggak pengen bebersih gitu?” tanya Reyhan lembut.

__ADS_1


“Hehehe, gerah sih Pa. Ya udah, Sila sama Kak Farhan pulang dulu ya?” pamit Sila menyalami semuanya diikuti Farhan.


“Jangan lupa buat daftar di Pak RT kalau ada pasukan tambahan” ucap Rendi mengingatkan.


“Siap Bos” jawab Sila dilanjutkan dengan salam dan meninggalkan semuanya.


“Pa. Kayaknya Kak Sila sama Kak Farhan ada apa-apa deh” ucap Rindi langsung mendapat perhatian dari semuanya.


“Memangnya Rindi lihatnya begitu?” tanya Reyhan dan Rindi mengangguk.


“Papa merhatiin nggak sih kalau mereka berdua nggak kaya nona dan pengawal?” imbuh Sean yang juga memperhatikan interaksi keduanya. Rendi mengangguk setuju. Rizki dan Aiman saling pandang dan keduanya menghela napas pasrah. Namun mereka juga penasaran akan tanggapan Reyhan tentang hubungan keduanya.


“Papa juga merasa begitu sih. Menurut kalian bagaimana?” tanya Reyhan ingin tahu pendapat anak-anaknya, terutama Rendi dan Rindi yang dinilainya lebih bijak dari saudara yang lainnya.


“Tergantung yang jalani aja. Papa nggak mempermasalahkan perbedaan status sosial kan?” jawab Rindi sekaligus memberi pertanyaan papanya.


“Nggak juga. Asal jangan mempermainkan hati anak Papa aja” jawab Reyhan lugas.


“Nggak cuma buat mengawal keselamatan Kak Sila, tapi Kak Farhan bakal mengawal keselamatan hati Kakak juga. Hahahaha” celetuk Rendi membuat semuanya tertawa kecuali Aiman. Dirinya benar akan merasakan layu sebelum berkembang.


“Ngomong soal hubungan. Bagaimana kalau kita berbesan?” ucap Rizki yang merasa kalau ini waktu yang tepat. Tentu saja usulan Rizki membuat Reyhan terkejut. Ketiga anaknya juga merasakan hal yang sama.


“Berbesan? Maksudnya melakukan perjodohan?” tanya Reyhan memastikan.


“Begitulah. Saya senang dengan keluarga anda. Alangkah baiknya kalau kita berbesan hingga benar-benar menjadi satu keluarga” jawab Rizki mengadu nasib tentang nasib percintaan putranya. Reyhan tampak termenung dan memikirkan segalanya. Lalu melihat tiga anaknya yang sudah menyilangkan tangannya di depan dada. Rizki melihat itu dan justru malah tertawa terbahak-bahak meskipun dengan intensitas suara yang kecil. Bukannya merasa tersinggung atau marah, justru Rizki merasa ini adalah hal yang lucu. Reyhan sendiri bingung melihat kliennya tertawa begitu lepas.


Aiman bersandar dengan lesu. Dia sudah tahu akhirnya dan mencoba menata hati kembali. Entah mengapa pesona Sila yang tidak menunjukkan rasa tertarik padanya membuatnya jatuh cinta dalam sekejap. Dan sayangnya cinta itu memberinya rasa perih untuk pertama kalinya.


“Maafkan kami, Mas Rizki. Saya rasa kita tetap bisa menjadi keluarga meskipun tidak berbesan. Soal jodoh, semua saya serahkan pada Allah dan mereka sendiri. Saya hanya menjadi eksekusi akhir saja” jelas Reyhan yang tidak ingin memaksakan apapun soal pasangan hidup pada anak-anaknya.


“Iya. Kebahagiaan anak adalah yang utama. Bukan begitu?” Reyhan mengangguk membenarkan pendapat Rizki.


“Tapi Mas. Bolehkan kami main ke rumah Mas? Ajak keluarga besar kami” pinta Rizki membuat Reyhan merasa senang dan tersanjung.


“Sebuah kehormatan menerima keluarga besar Mas Rizki di kediaman kami” sambut Reyhan hangat. Rizki tertawa mendapat perlakukan hangat dari mitranya itu.


“Mas Reyhan semakin hangat saja. Sangat berbeda dengan pertama kita bertemu” canda


Rizki. Reyhan membenarkan ucapan Rizki.


“Semua ini karena kehangatan dari istri saya. Jadi saya tertular” jawab Reyhan semangat.


“He eh. Papa sekarang juga makin cerewet kaya Bunda” celetuk Rindi sambil memberikan tanda piece pada papanya. Rizki menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rindi. Perkataan Rindi sukses membuat Aiman melihat ke arahnya.


“Manis juga” ucap Aiman memuji paras Rindi.

__ADS_1


“Rindi memang manis. Tapi Kak ... siapa?” tanya Rindi pada Aiman.


“Aiman. Panggil aja Kak Ai”


“Iya. Rindi memang manis. Tapi Kak Ai jangan terpesona. Rindi masih di bawah umur” jawaban Rindi membuat semuanya tertawa. Bahkan Rizki sampai terbahak-bahak karena Rindi.


“Rindi ini seperti Nenek Hana. Ceplas-ceplos. Tapi tetap meninggalkan kesan polosnya. Saya suka” puji Rizki setelah menghentikan tawanya.


“Maaf Om. Rindi masih waras untuk tidak jadi pelakor” jawab Rindi bercanda dan asal


seraya tersenyum manis.


“Hahahaha. Om juga masih waras untuk tidak menjadi pedofil” balas Rizki meladeni bualan Rindi.


“Hehehehe. Maaf Om. Rindi permisi” Rindi memilih undur diri dari pada nanti dia kebablasan tidak bisa menjaga sikap.


“Mari Kak Ai”


“Kemana?” tanggap Rizki bercanda. Rindi mendelik kesal karena niatnya melarikan diri terhenti oleh celetukan Aiman.


“Ke WC. Mau ikut?” tantang Rindi asal.


“Hush. Nggak sopan” tegur Rendi dan Reyhan bersamaan. Rindi hanya nyengir kuda dan berlari keluar. Namun Rizki masih terus tertawa mengingat Rindi dengan segala


tingkahnya.


“Anak anda yang ini lucu sekali”


“Maafkan tingkah anak saya”


“Tidak apa-apa. Saya suka anak yang apa adanya dari pada anak yang sok jaga image. Yang begitu itu biasanya cuma topeng”


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel JOURNEY OF LOVE. Novel ini selow update seperti


novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda


sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir.


Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


*****


__ADS_2