DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
JOURNEY OF LOVE 14


__ADS_3

Sila keluar setelah melewati drama yang dibuat tamu papanya. Dia mencari keberadaan Farhan yang ternyata duduk di pos satpam memandang keluar. Dengan langkah sedikit berlari Sila menghampiri Farhan.


“Kak” panggil Sila begitu dirinya sampai di depan pos Satpam.


“Non, kok ke sini?” tanya Farhan heran sembari memulihkan raut wajahnya yang sedikit tegang dan terkejut.


“Nggak apa-apa. Nyari Kakak tadi” jujur Sila dan memandang pengawalnya itu dengan lekat.


“Kenapa Non mandang saya begitu?” tanya Farhan merasa risih dengan tatapan dalam Nonanya.


“Kakak kenapa tadi langsung keluar? Katanya janji mau menemani Sila di dalam” protes Sila.


“Maaf Non” jawab Farhan menunduk.


Saya ini siapa bila dibandingkan dengan Tuan Muda Aiman? ~ monolog Farhan dalam hati. Melihat Farhan begitu membuat Sila kecewa. Entah mengapa Sila tidak suka dengan sikap Farhan yang mengacuhkannya.


Aku pikir Kak Farhan suka sama aku. Huft.~ ucap Sila dalam hati dan menghela napas pelan.


“Aku ikut duduk di sini, boleh?” tanya Sila dan langsung duduk di samping Farhan tanpa menunggu jawabannya.


“Jangan tanya kalau begitu Non” ucap Farhan terkekeh dengan tingkah nonanya.


“Memangnya kenapa?” tanya Sila tak mengerti.


“Lha tadi tanya, belum juga saya jawab udah duduk aja” jawab Farhan dan menggelengkan kepalanya. Sila nyengir  hingga semua gigi putih nan rapi itu terlihat.


Beberapa saat berlalu dan mereka tidak juga mengeluarkan suara. Hanya suara napas yang saja terdengar. Sila melirik Farhan dengan ekor matanya. Menurut Sila, hari ini Farhan tampak berbeda. Tidak ceria seperti biasanya dan tampak lesu.


“Kakak kenapa? Ada masalah?” tanya Sila hati-hati, namun Farhan menangkap nada khawatir di suaranya. Tanpa dia sadari, bibirnya menyunggingkan sedikit senyum. Begitu juga dengan hatinya yang merasa senang atas perhatian nonanya.


“Nggak ada Non. Memangnya kenapa?” jawab Farhan menatap wajah ayu Sila.


“Kakak kelihatan lesu” jujur Sila dan Farhan tersenyum. Hatinya memang sedang gundah gulana. Apakah akan meneruskan perasaannya, atau mengalah demi tuan mudanya. Farhan hanya memandang Sila dengan dalam. Sila seperti terhipnotis oleh tatapan Farhan hingga mereka beradu pandangan cukup lama.

__ADS_1


Dari jauh, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya. Orang itu adalah Aiman. Aiman menghela napas berat dan memutuskan untuk mengubur rasa cintanya. Aiman tahu, meskipun dia merasa lebih segalanya dari Farhan, namun matanya tidaklah buta untuk melihat pancaran cinta di mata keduanya. Apapun yang dia miliki, tidak akan mampu mengalahkan rasa cinta yang ada dalam hati keduanya. Rizki menghampiri putranya dan menepuk bahu Aiman dengan pelan.


“Biarkan Farhan memperjuangkan cintanya. Papa lihat Sila juga mencintainya. Jangan jadi orang ketiga” ucap Rizki. Aiman tidak menjawab, namun dalam hatinya menyetujui ucapan papanya.


“Pa, Aiman setuju kalau dijodohkan sama Rindi” ucap Aiman tiba-tiba.


“Pikirkan dulu. Papa nggak mau kalau Rindi cuma buat pelarian” usai berkata begitu, Rizki pergi meninggalkan Aiman yang masih termenung setelah mendengar ucapannya.


*****


Hari terus berlalu dan waktunya Sila kembali ke kota M. Begitu juga dengan keluarga besar Prasetyo. Sila telah tiba di Bandara kota M bersama Farhan. Karena jalannya tidak fokus, Sila sampai menabrak wanita gembul didepannya hingga terpelanting ke belakang. Beruntung Farhan tepat di belakang Sila hingga mampu menopang tubuh Sila yang nyaris jatuh.


“Makasih Kak” ucap Sila kikuk. Jantungnya benar-benar tidak aman jika bersentuhan langsung bodyguard gantengnya itu.


“Maaf ya Bu” ucap Sila ramah danberuntung wanita itu tidak mempermasalahkannya.


“Nggak apa-apa. Mari” jawab wanita itu danberlalu. Sila hanya mengangguk dan tersenyum ramah.


“Non nggak apa-apa?” tanya Farhan dengan nada khawatir.


“Kenapa dengan jantung Nona?” tanya Farhan semakin khawatir. Sila sampai melongo dengan respon Farhan. Dan sesaat kemudian, pipinya bersemu merah menyadari apa yang terjadi. Farhan malah tidak mengerti kenapa nonanya malah tersipu malu.


Tanpa menjawab pertanyaan Farhan, Sila berjalan meninggalkan Farhan yang masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kendati demikian, Farhan tetap melangkah mengikuti kaki Sila untuk menjaga nonanya dari jarak dekat. Farhan memasukkan barang-barang Sila ke bagasi dan duduk di samping Sila di bagian penumpang.


“Non mau langsung ke asrama atau ke tempat Oma dan Opa dulu?” tanya Farhan. Mobil sudah berjalan meninggalkan bandara.


“Mau istirahat di rumah Oma dan Opa dulu. Kakak juga istirahat. Besok aku mau libur, jadi nggak akan kemana-mana. Kakak bisa libur besok” Farhan hanya mengangguk. Sila sudah mencetak banyak foto adik bungsunya untuk Ali dan Nilam. Itu adalah permintaan mereka karena Nilam belum bisa kembali ke kota S karena darah tingginya kambuh dan kolestrolnya juga naik. Alhasil, Ali menemani Nilam di rumah dan akan menemani cucu sulungnya saat keadaan tubuh Nilam sudah membaik.


Sesuai instruksi, Farhan pulang dengan menggunakan motor Sila dan berniat libur besok. Farhan menghubungi rekannya yang menggantikan dirinya bertugas bila dia tidak bisa atau tidak dibutuhkan di sisi Sila. Temannya itu hanya menjaga dari jarak jauh tanpa sepengetahuan Sila. Begitulah cara kerja Farhan dan temannya berbagi tugas. Farhan berniat mengajak adik-adiknya jalan-jalan untuk membuat adiknya bahagia. Meskipun adiknya sudah remaja, namun kesenangan masa kecil tidak dia dapatkan. Sebagai kakak, Farhan ingin membuat adiknya bahagia. Dia tidak ingin adiknya mengalami apa yang dia alami. Hidup sendirian tanpa berkawan dan hanya kerja dan kerja tanpa tahu bagaimana menyenangkan diri sendiri. Namun Farhan menyadari hidupnya sedikit berubah dan canda tawa mulai ada dalam dirinya kala bersama Sila, nonanya.


Hari ini Farhan benar-benar mengajak adiknya untuk bersenang-senang. Adiknya tidak pernah bergaul dengan teman-temannya karena sadar akan kondisi keuangannya. Meskipun berkali-kali Farhan mengatakan untuk menikmati masa mudanya, namun Risa, adik Farhan tetap berhemat dan bijak dalam membelanjakan uang yang diberikan kakaknya. Maka dari itu, Farhan hari ini sengaja mengajak adiknya untuk bersenang-senang dan membelikan banyak barang. Mulai dari baju, tas, sepatu, make-up dan masih banyak lagi.  Risa hanya menggelengkan kepala melihat kakaknya yang sangat antusias.


“Kak,ini.sudah cukup” tolak Risa saat Farhan mengambil topi bunga yang indah.

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Mumpung kaka libur dan bisa menemani kamu” jawab Farhan dan mengelus puncak kepala Risa dengan sayang.


“Tapi topi yang sedari tadi kakak pilihkan sudah banyak, Kak” rengek Risa cemberut.


“Ya sudah. Ini buat Non Sila aja” jawab Farhan yang merasa kalau nonanya akan semakin cantik dengan topi yang dia pegang. Risa hanya mengangguk mengiyakan. Percuma juga melarang jika kakaknya sudah mode begitu.


“Mau kemana lagi?” tanya Farhan menatap adiknya.


“Mau main. Kita ke pasar malam ya nanti” ajak Risa semangat. Baginya pasar malam lebih meriah dari pada mall. Bukan karena tak  punya uang, tapi wahana yang ditawarkan pasar malam lebih beragam dan ramah untuk gadis sepertinya. Berbeda jika di mall, permainannya banyak yang menggunakan layar dan itu membuat Risa tidak nyaman. Tugasnya sudah banyak berhubungan dengan layar, sehingga dia tidak mau kalau bermain pun harus bersinggungan dengan layar.


Malam yang dijanjikan Farhan tiba. Dia juga mengajak Sila karena nonanya itu merasa gabut tidak ada yang dia kerjakan. Seharian sudah tidur membuat badannya segar di malam hari.


“Dek, kita jemput Non Sila dulu ya?” Risa mengangguk dan penasaran dengan sosok nona dari kakaknya. Dia hanya mendengar cerita dari mulut Farhan, namun belum pernah bertemu secara langsung.


“Apa Non Sila itu nona muda yang manja?” tanya Risa penasaran.


“Wajar kan dek kalau Non Sila manja?  Namanya juga anak Sultan” jawab Farhan terkekeh.


“Apa kakak betah kerja bareng Non Sila?”


“Betah. Meskipun manja, tapi hanya pada keluarganya saja. Di luar Non Sila orangnya mandiri” jelas Farhan memang merasa nyaman. Lebih dari itu deh kayaknya. Hehehehe.


“Wah, keren” puji Risa kagum pada pribadi Sila.


“Kaya kamu. Manja sama Kakak tapi tangguh di luar” Farhan memuji adiknya dengan tulus. Bukan tanpa alasan hubungan keduanya menjadi erat. Farhan tidak mau kehilangan keluarga satu-satunya. Hanya Risa yang dia miliki dan dia juga yang selama ini menjadi penyemangatnya hidup dan bekerja


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel JOURNEY OF LOVE. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


*****


__ADS_2