
Tiga hari sudah Riska menjalakan tugasnya sebagai seorang pengasuh. Kali ini kesibukan paginya bertambah karena anak-anaknya sudah mulai sekolah. Trio S masih belum menyadari kalau setiap kali Riska membangunkan mereka, Riska membohongi dengan mengatakan waktu lebih siang dari sebenarnya.
“Sayang, kalian bersiap sendiri ya? Semua seragamnya sudah bunda siapkan. Bisa kan kalian bersiap sendiri? Bunda mau melakukan tugas bunda dulu” ijin Riska pada ketiga anaknya.
“Abang, bantu adik bersiap yah?” pinta Riska pada Rendi. Mereka begitu patuh pada bundanya. Riska mengecup kening ketiganya dan melambai seperti hendak pergi dari rumah, padahal hanya naik tangga untuk pergi ke lantai atas.
“Ayo kita bersiap” ucap Rindi dan langsung masuk kamar.
“Ayo dek, abang bantu” Rendi menggandeng tangan Reno dan masuk ke kamar mereka.
Sementara Riska menjalankan apa yang harus dia jalankan. Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, ketiga anak asuh Riska sudah siap. Kali ini tidak ada drama pagi hari sebelum turun dari lantai dua.
Sarapan hari ini spesial. Jika biasanya mereka sarapan hanya dengan trio S dan papa, oma serta opanya. Kali ini mereka sarapan bersama dengan trio R juga Riska tentunya. Riska juga semakin sibuk saat di meja makan. Setelah melayani anak asuhnya, Riska melayani anak-anaknya. Baru Riska mengambil untuk dirinya sendiri. Hanya butuh waktu lima belas menit mereka melakukan sarapan. Trio R berdiri dan pamit pada Riska.
“Bun, kami pamit” Rendi mewakili adik-adiknya.
“Tunggu, bunda ambil bekal kalian dulu” Riska berdiri dan mengambil tiga bekal yang sudah dia siapkan, lalu membagikan pada ketiga anaknya.
“Terimakasih bunda” ucap ketiganya senang.
“Sama-sama sayang” jawab Riska lembut. Riska tersenyum melihat anak-anaknya memasukkan bekal ke dalam tas masing-masing. Sila menatap ketiganya iri. Begitu juga dengan Sean dan Seno.
“Kenapa cuma mereka yang bibi kasih bekal? Apa karena mereka anak bibi?” tanya Sila ketus.
“Piilih kasih” seru Sean dan Seno berbarengan. Riska mengerjabkan matanya mencerna apa yang terjadi. Setelah sadar, dia menghela napas pasrah. Ketiga anak asuhnya iri. Dia melihat Reyhan, Nilam dan Ali yang hanya diam melihat tingkah anak-anaknya.
*Ternyata bukan cuma anak-anaknya yang minim sopan santun. Orang sekitarnya juga. ~ keluh Riska dalam hati. *
Bagaimana mereka diam saja saat mendengar anak-anak mengatakan hal itu? Tidak ada rasa ibakah? ~Riska semakin kesal melihat ketiga orang dewasa itu tetap diam.
__ADS_1
“Maafkan bibi nona kecil, tuan kecil. Kata papa nona dan tuan kecil, kalian tidak pernah membawa bekal. Sedangkan anak-anak bibi biasa membawa bekal” jelas Riska lembut tanpa berniat menyakiti.
“Aku nggak mau tahu, pokoknya kau may bekal. Titik” kukuh Sila. Riska menghela napasnya pasrah. Dia tak peduli lagi kalau ketiga anak asuhnya bakal terlambat. Yang dia lakukan adalah secepatnya membuat tiga bekal untuk mereka.
“Kalian jangan manja. Biasanya juga nggak bawa bekal” ucap Reyhan yang tidak tega melihat Riska menahan perasaan kesalnya.
“Tidak apa-apa tuan. Mereka masih belum cukup dewasa” Riska mencoba memahami trio S. Sebenarnya dia merasa cukup senang saat Reyhan mau membuka mulutnya, tapi bukan itu yang ingin Riska dengar. Riska ingin dengar kata-kata yang menenangkan anak-anak dan kata bijak lainnya.
“Tuan dan Nona kecil tunggu yah? Bibi akan buatkan bekal”
Riska hendak pergi ke dapur, namun langkahnya terhenti saat Rendi meghentikannya.
“Nggak usah bikin bekal lagi bund” Riska menatap anaknya tak mengerti. Sedangkan trio S menatap kesal pada Rendi.
“Apa maksudmu? Memangnya cuma kamu yang boleh bawa bekal?” sarkas Sila dengan tatapan permusuhan. Rendi hanya acuh dan melepaskan ransel kecilnya. Dia mengeluarkan kotak bekal dan diberikan pada Riska.
“Ini saja bund. Rendi nggak bawa bekal nggak apa-apa” Rendi mengeluarkan kotak bekalnya dan memberikan pada bundanya. Dia pasti tidak mau melihat bundanya bersusah payah lebih dari itu. Ternyata hal itu diikuti oleh Rindi dan Reno. Kini ketiga anaknya tidak membawa bekal dan merelakan bekalnya untuk ketiga anak asuhnya.
“Ini untuk Nona Sila, ini untuk tuan Seno, dan yang terakhir untuk tuan Sean. Maafkan bibi, besok akan bibi buatkan bekal juga untuk kalian” Riska menyodorkan bekal dan diterima dengan ragu-ragu oleh ketiganya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Riska menghampiri anak-anaknya dan memberikan uang jajan lebih karena tidak membawa bekal.
“Ini untuk tambahan jajan di sekolah nanti. Belikan makanan yang bisa membuat kalian kenyang dan tentu saja yang sehat. Bunda sayang kalian” Riska memberikan uang limapuluh ribu pada Rendi. Dia yakin anaknya tahu apa yang harus dilakukan.
“Kami juga sayang bunda. Kami pamit berangkat bunda” Rendi pamit mewakili adik-adiknya. Mereka mencium tangan Riska dan Riska mengecup kening mereka satu persatu. Hal itu tak luput dari enam pasang mata yang ada di sana. Apa yang dilakukan anak-anak Risma membuat tiga orang dewasa malu, sedangkan trio S merasa iri.
“Pamit sama tuan muda, tuan besar dan nyonya besar sayang” peringat Riska.
Rendi dan adik-adiknya menghampiri tiga orang dewasa itu dan menyalimi ketiganya. Ada rasa haru dalam hati Reyhan, Ali dan Nilam. Mengapa mereka tak mengajarkan hal ini pada anak dan cucu mereka.
__ADS_1
“Tuan dan nona kecil, ayo pamit pada papa, oma dan opa” Riska menyadarkan tiga anak asuhnya dari lamunan mereka. Bukannya pamit pada papanya lebih dulu, tapi malah mendekati Riska dan mengulurkan tangannya. Riska sempat kehilangan fokus saat melihat tangan Sila mengulur padanya. Namun dengan cepat dia sadar dan menyambut tangan Sila. Sila mengecup punggung tangan Riska seperti yang dilakukan trio R. Sila masih berdiri setelah menyalimi Riska. Riska bingung mengapa Sila masih diam saja.
“Ada apa nona kecil?” tanya Riska heran.
“Bibi belum mengecup keningku” ucap Sila polos, namun terlihat menggemaskan di mata Riska. Riska tergelak dan mengecu pkening Sila. Hal itu juga dilakukan pada dua tuan kecilnya. Ternyata tiga anak asuhnya ingin mendapat perlakuan yang sama. Dari yang tadi sola urusan bekal, sekarang urusan pamit.
Nilam, Ali, dan Reyhan juga melakukan apa yang Riska lakukan.
“Hati-hati. Rendi, jaga adik-adik kamu yah di sekolah” peringat Riska mengantarkan anak-anaknya sampai pintu. Sila dan dua adiknya cemberut saat melihat Riska memberi peringatan pada anak-anaknya. Beruntung Riska mengetahui hal itu dan menghampiri Sila.
“Nona kecil belajar yang rajin ya disekolah. Hati-hati ya dan selamat sampai rumah lagi”
Riska lalu menghampiri Sean dan Seno.
“Tuan kecil Sean, tolong dijaga adiknya selama di sekolah. Juga hati-hati”
Trio S mengangguk senang karena pengasuhnya kali ini memperhatikan setiap detail kebutuhannya, bahkan kebutuhan hati juga.
“Kalian hati-hati. Pulang sekolah bunda tunggu” bisik Riska dan anak-anaknya mengangguk patuh. Mereka tahu kalau bundanya ingin bicara nanti. Itu kode yang merekatangkap dari bundanya.
Riska melihat dua mobil yang dikendarai oleh anak dan anak asuhnya keluar gerbang. Riska memang tidak mau anak-anakny satu sekolah dengan anak-anal Reyhan. Bukan apa-apa, tapi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Bisa jadi anak-anak Reyhan akan melampiaskan kekesalan mereka pada anak-anaknya, dan itu tidak baik untuk
mental ketiganya. Bukan berarti Riska menuduh anak-anak Reyhan, namun hanya mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi.
Riska masuk dan melihat tiga orang dewasa masih termenung di meja makan. Riska mendekati mereka dan ikut duduk bersama. Menurut Riska, ini waktu yang tepat untuk bicara. Riska berharap, Reyhan tidak buru-buru berangkat ke kantor.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
__ADS_1
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****