
Para orang tua menghela napas pasrah saat anak-anak tidak mau berangkat sekolah. Trio R merayu William agar diijinkan, sedangkan trio S merayu Reyhan dengan alasan menemani bunda mereka. Dengan wajah tak berdayanya, para orang tua terpaksa menghubungi salah satu guru disekolah anak-anaknya untuk meminta ijin rombongan. Hanya Sila yang ijinnya lancar karena kemarin Sila pingsan di sekolah. Sedangkan yang lain harus menceritakan sesuatu agar mendapat ijin.
Sekarangpun anak-anak sedang mengerumuni Riska. Para orang tua tersisih karena ulah anak-anak.
“Bunda. Bunda mau ya nikah sama papa?” rayu Seno membuat Riska terkikik.
“Bunda jangan mau. Eh tapi nggak apa-apa deh. Lumayan dapat papa orang kaya” ucap Rindi membuat Riska kembali terkikik. Dia menahan tawanya karena kepalanya masih sedikit pusing jika terguncang.
“Ish, nggak konsisten” ejek Rendi pada saudara kembarnya.
“Ye, biarin aja. Paling juga tetap disuruh hemat sama bunda. Mau papa kita kaya atau nggak, kehidupan kita nggak akan berbeda Kak. Percaya deh sama Rindi” jawab Rindi. Riska terus terkikik sambil memegang perutnya yang sedikit kram karena menahan tawa.
“Tenang saja. Ada Oma aku yang siap manjain kalian. Oma aku punya seribu cara buat habisin uang Opa dan Papa” ucap Sean menengahi perdebatan saudara kembar itu.
“Bahkan aku sudah banyak belajar dari Oma” Sila tak mau kalah.
Reyhan dan Ali memandang Nilam yang sudah senyum-senyum tidak jelas mendengar ucapan Sean dan Sila. Jiwa gesrek kembali hadir mendengar percakapan cucu-cucunya. Reyhan dan Ali hanya terus memperhatikan Nilam yang mulai melangkah menuju cucu-cucunya.
“Oma akan ajarkan pada kalian jurus seribu muslihat” ucap Nilam mulai aksinya. Riska memandang nyona besarnya dengan tatapan nyalang. Riska tak perduli kalau Nilam lebih tua darinya.
“Aku belajar darimu untuk tidak mudah terindimidasi. Jadi jangan melototiku begitu, CALON MANTU” ucap Nilam juga mengeluarkan pelototan mautnya.
“Haish. Nyonya jangan membawa pengaruh buruk pada anak-anak” pasrah Riska akhirnya. Nilam mendengus dikatai sebagai pembawa pengaruh buruk.
“Siapa yang kamu bilang pengaruh buruk?” kesal Nilam. Saat Riska hendak menjawab, suaranya tertahan karena Ali telah bersuara lebih dulu.
“Jangan mengelak. Cucu-cucu kita boros siapa yang ngajarin? Selain Dita, kamu juga ikut andil”
“Bilang saja kalau kau keberatan uangmu aku habiskan” sungut Nilam tak terima. Riska menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
“Cukup. Tuh Riska mulai pusing mendengar pertengkaran kalian” Indra melerai perdebatan suami istri itu. Sedangkan yang lain hanya saling pandang saja.
“Seperti anak kecil saja” ledek Indra.
Huh. Keduanya sama-sama mendengus setelah mendapat teguran dari Indra. Riska tak lagi melihat mereka para orang tua. Kini pandangannya tertuju pada anak-anak yang masih memperhatikan Ali dan Nilam juga Indra.
“Kalian” panggil Riska membuat anak-anak kembali memandangnya.
“Rindi, kenapa tiba-tiba setuju bunda nikah dengan papanya trio S?” tanya Riska. Pertanyaan yang paling dia tunggu jawabannya.
“Hem, tidak ada apa-apa. Dari pada sama orang itu, lebih baik dengan Om Reyhan. Lagi pula Om Rey juga yang sudah menyelamatkan Bunda. Jadi.. ya bisalah untuk diandalkan” jawab Rindi jumawa, seolah pendapatnya paling berpengaruh. Reyhan tersenyum mendengar jawaban Rindi. Sedangkan Riska menggeleng mendengar jawaban sederhana Rindi.
__ADS_1
“Orang itu adalah papa Rindi. Nggak baik tahu begitu” Riska mencubit pelan hidung Rindi.
“Dia sudah berani melukai bunda. Sampai kapanpun, ayah kami adalah ayah Erik. Dan papa kami adalah” Rindi menggantung ucapannya dan melirik Reyhan dengan malas. Sedangkan Reno dan Rendi tertawa melihat saudarinya masih menjaga gengsi.
“Bilang aja papa Reyhan. Gitu aja kok susah sih” sela Reno gemas dengan kelakuan kakaknya.
“Eh, aku belum kasih restu ya?” Rindi tak mau kalah.
“Kenapa? Kamu nggak suka sama papa kita?” tanya Sean sedih. Harapannya menjadikan Riska bundanya terhalang restu Rindi.
“Ya jelaslah aku nggak suka sama papa kamu. Aku itu masih kecil, dilarang pacar-pacaran” tegas Rindi yang salah mengartikan maksud Sean. Para orang tua terkikik dan meledek Reyhan dengan menyandingkan jari tengah dan jari kelingking. Sedangkan Sean dan Seno menggaruk kepalanya. Anak yang lain menepuk jidadnya gemas. Riska menutup mulutnya agar tawanya tidak lepas.
“Kalian kenapa?” tanya Rindi yang tidak sadar telah membuat semua orang terpesona oleh kepolosannya.
“Bukan kita, tapi kamu” ucap Rendi, Reno, dan Sila kompak. Sekarang ganti Rindi yang garuk-garuk kepala.
“Sudah. Kalian jangan terus berdebat. Perut bunda sudah kram menahan tawa. Bisakah kalian tenang sejenak. Kepala bunda pusing. Mau istirahat” lerai Riska dan memegang keningnya. Memang kepalanya masih terasa sedikit pusing. Ditambah dengan perdebatan hubungannya dengan Reyhan yang dia sendiri tidak tahu bagaimana jadinya nanti.
“Bunda pusing. Bunda istirahat saja. Kami akan diam” ucap Sila mewakili semuanya.
“Harusnya kalian tadi sekolah, biar bunda bisa tidur dengan tenang” omel Riska pura-pura kesal.
“Kan kami mau lihat bunda sampai sadar” bela Rendi menunduk.
“Yah yah yah. Jangan dong bund” teriak semuanya. Mereka paling tidak bisa jika tidak mendapat bekal dari Riska.
“Takut sekali nggak dapat bekal dari Riska. Dulu-dulu juga nggak pernah bawa bekal” ejek Reyhan mencibir anak-anaknya.
“Ish. Papa tahu apa” kesal Seno dengan bibir mengerucut.
“Bisakah kalian diam?” gertak Riska yang sudah sangat mengantuk. Disamping kepalanya masih pusing juga karena pengaruh obat yang tadi dia minum. Anak-anak dan Reyhan langsung kicep dan menutup mulut. Yang lain menutup mulutnya menahan tawa melihat calon keluarga itu begitu patuh pada calon ibu negara.
Waktu terus bergulir dan anak-anak sudah tertidur setelah bicara dengan bisik-bisik selama hampir satu jam.
“Rey, bolehkah aku bertanya padamu soal Riska?” tanya William hati-hati. Janjinya pada Riska untuk mengetahui perasaan Reyhan harus segera dilaksanakan. Apalagi perbincangannya dengan Riska dini hari tadi mengisyaratkan kalau Erik ingin cepat menyerahkan tugasnya pada suami Riska selanjutnya.
“Soal apa?” tanya Reyhan. para orang tua kecuali Ali dan Nilam yang sudah pulang tertarik dengan obrolan Reyhan dan William.
“Soal perasaanmu pada Riska. Bagaimana?”
“Hem. Wanita yang menarik. Tapi galak dan susah dijinakkan. Ibarat bunga, dia kembang mawar. Indah dipandang tapi sulit untuk dipetik. Padahal kembangnya nggak di tebing” jawab Reyhan dengan menggunakan perumpamaan.
__ADS_1
“Maksudmu, kamu tertarik padanya?” tanya William memastikan.
“Hem. Bisakah kau bantu aku menarik perhatiannya? Apalagi desakan anak-anak yang menjadikan Riska bunda sesungguhnya”
“Bisa saja” William tersenyum smirk.
“Kamu lupa kalau Rindi belum merestui hubungan kamu dengan Riska” ingat William lalu tertawa tertahan karena takut membangunkan anak-anak juga Riska.
“Haish. Bocah satu itu kenapasulit sekali dijinakkan? Ah aku tahu. Karena bundanya juga begitu” pasrah Reyhan yang masih punya PR buat mencuri hati Rindi.
“Soal Rindi itu gampang. Asal, kamu memberiku nomor Tisa. Gimana?” William menaik turunkan alisnya menggoda Reyhan.
“Ck. Jangan Tisa” omel Reyhan. Tisa adalah sahabat terbaiknya. Dia tak mau kalau Tisa dijadikan pelampiasan oleh William.
“Kenapa? Takut aku nggak bisa move on? Tenang saja. Aku serius sama Tisa” jawab William meyakinkan.
“Perasaanmu?” tanya Reyhan menyelidik.
“Sama seperti perasaan Riska pada Erik. Namun hidup harus terus berjalan bung. Kalau Riska mampu membuat laki-laki bersanding dengan Erik di hatinya. Maka aku juga bisa menyandingkan nama Tisa dengan Ria di hatiku” ucap William dan Reyhan mengangguk.
Gita dan Indra menghampiri Reyhan dan menodongkan tangannya. Reyhan dan William saling pandang tak mengerti maksud pasutri itu.
“Ish lama” omel Gita memukul lengan Reyhan.
“Aduh. Tante kenapa sih? Om dan Tante minta apa coba?” tanya Reyhan bingung.
“NOMOR TISA” Gita dan Indra kompak menjawab. William tertawa sedangkan Reyhan cemberut.
“Kenapa mulutnya? Mau Tante kucir? Buruan mana? Tante nggak mau anak tampan tante jadi bujang lapuk” kesal Gita karena Reyhan sangat lambat memberi respon.
“Cepat” tekan Indra. Reyhan menghela napas pasrah. Kalau William, dia masih bisa menolak. Tapi kalau orang tua William, Reyhan tak berkutik. Dengan terpaksa dia memberikan nomor ponsel Tisa.
Maafkan aku ya Tis. Semoga William adalah pria yang bisa melindungi kamu. ~ Reyhan meminta maaf pada Tisa dalam hatinya.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
__ADS_1
NEXT
*****