
William langsung menuju kantor polisi begitu mendengar kabar dari papanya. Dengan tatapan tajam, dia memandang Riko yang sudah mengenakan baju tahanan. Riko tersenyum mengejek melihat kemurkaan William.
“Aku berharap wanita sialan itu mati dan aku bisa mengambil anak-anakku” ucap Riko dibarengi dengan kekehan yang membuat William muak.
“Cuih. Harapanmu terlalu tinggi bung. Sayangnya wanita yang sebut sialan itu adalah wanita kuat. Bahkan apa yang kau lakukan tidakmampu menyiderainya. Sekarang dia sedang bermain di taman dengan anak-anaknya” jawab William berbohong. Walaupun tidak sepenuhnya berbohong karena memang Riska adalah wanita yang kuat.
Riko menatap William tak percaya. Baru kemarin dia melihat Riska tak sadarkan diri dan banyak darah yang keluar. Tapi sekarang, dia mendengar wanita itu sudah bermain dengan anak-anaknya. Senyum penuh kemenangan dari bibir Riko seketika hilang dan berganti dengan suara yang bergemerutuk. Kali ini ganti William yang tertawa sinis menatap Riko.
“Orang baik akan selalu mendapat perlindungan dari Tuhan. Dan begitulah yang berlaku pada Riska atau kau menyebutnya Risma. Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai” ucap William. Riko hanya menunduk menahan amarahnya.
“Aku punya info lebih menarik dari ini” ucap William berhasil membuat Riko mendongakkan kepalanya. Dari tatapannya, dia ingin tahu apa yang akan dikatakan William.
“Rendi dan Rindi, ups salah. Maksudku Randi dan Riana sudah mengetahui kalau kau yang membuat bunda mereka harus dirawat di rumah sakit. Kau tahu apa yang mereka katakan?” William sengaja menjeda ucapannya. Dia inginmelihat wajah penasaran lalu putus asa dari Riko. Sangat jahil namun menyenangkan.
“Katakan. Apa yang mereka katakan?” teriak Riko dan langsung mendapat teguran dari polisi yang berjaga.
“Harap tenang Tuan Riko”
“Huh” Riko mendengus melihat William menertawakannya.
“Mereka mengatakan kalau membencimu. Sangat sangat membencimu” ucap William lirih, namun penuh penekanan.
“Tidak mungkin. Itu pasti akal-akalanmu saja” teriak Riko tak terima.
“Pak, saya suda selesai. Silahkan bawa dia kembali” ucap William mengabaikan teriakan Riko. Sebelum keluar, dia menyempatkan diri tersenyum mengejek pada Riko.
“Hei, kau pasti bohongkan? Kau sengaja mengatakan itu untuk memanas-manasiku” teriak Riko yang sudah digandeng polisi menuju sel.
Sedangkan William abai dengan teriakan Riko dan tetap melanjutkan langkahnya. Tempat selanjutnya yang akan didatanginya adalah rumah sakit tentunya. Tempat adik bungsunya dirawat.
*****
Riska sedang duduk menikmati bunga-bunga yang sedang bermekaran. Matanya memperhatikan kupu-kupu yang sedang hilir mudik dari bunga satu ke bunga yang lainnya. Tiba-tiba, bahunya ada yang merangkul. Dia menoleh untuk melihat siapa yang menyentuhnya. Dilihatnya laki-laki gagah yang tengah tersenyum padanya.
“Mas Erik” panggil Riska. Riska langsung berdiri dan memeluk Erik.
__ADS_1
“Ini benar kamu Mas. Hiks hiks hiks, Mas jangan pergi lagi” isak Riska menumpahkan semua rindu yang bersarang di hatinya.
“Mas akan selalu ada di sini” jawab Erik dan menunjuk hati Riska.
“Mas. Riska ikut mas ya?” rengeknya seperti anak kecil.
“Belum saatnya. Masih ada trio R dan trio A yang membutuhkanmu. Apa kamu ingin Randi dan Riana dibawa papanya?” ingat Erik yang tahu kalau Riska sangat takut kehilangan anak kembarnya itu.
“Tidak. Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan dia membawa kembar” jawab Riska dengan kilatan yang berapi-api.
“Mas akan selalu ada buat kamu. Sampai kamu benar-benar dilindungi secara sah oleh seseorang” ucap Erik lembut.
“Mas sudah rela kalau Risma menjadi milik orang lain?” tanya Riska mengkedip-kedipkan matanya. Dia sendiri bahkan belum rela mengganti nama Erik dengan nama orang lain.
Tuk. Erik mengetuk kening Riska dengan tiga jarinya. Kebiasaan yang Erik lakukan dulu saat bersama Riska. Saat Riskasedang mode manja dan menggemaskan seperti sekarang.
“Kamu mau menggantikan nama Mas? Begitu?” tanya Erik pura-pura marah. Riska cengengesan karena tanpa sengaja tengah menggoda suaminya.
“Kan Mas sendiri yang bilang kalau akan ada yang melindungiku secara sah” Riska menjawab dengan mengerucutkan bibirnya. Erik tersenyum lembut dan mengecup bibir Riska yang mengerucut. Riska tersenyum karena memang dia merindukan suaminya ini.
“Kau menyukainya, sayang?” tanya Erik mengusap bibir Riska dengan lembut.
“Aku kangen” Riska meringsek ke pelukan Erik.
“Mas juga. Tapi alam kita berbeda” ucap Erik mengelus rambut Riska.
“Kembalilah” ucap Erik.
“Mas” rengek Riska saat suaminya memintanya kembali. Itu artinya, dia harus berpisah lagi dengan Erik.
“Jangan gantikan Mas dengan laki-laki lain. Tapi sandingkan laki-laki itu di sebelah nama mas di hatimu. Dia akan mau bersanding dengan mas. Percayalah” ucap Erik membuat Riska terbengong.
“Mas benar memilih Tuan Reyhan untuk menggantikan Mas?” tanya Riska membuat dia kembali mendapat ketukan dari suaminya.
“Aduh, apalagi sih mas” rengek Riska.
__ADS_1
“Mas sudah bilang jangan ada yang menggantikan Mas” ucap Erik gemas.
“Lalu?” tanya Riska yang tidak tahu bahasa apa yang coockuntuk menggambarkan keadaan.
“Melanjutkan perjuangan Mas untuk menjaga kamu dan anak-anak” jawab Erik dengan senyum lembut. Riska juga tersenyum tak kalah lembut.
“Sudah waktunya. Kembalilah” ucap Erik melepas pelukannya. Kecupan dia daratkan di kening istri tercintanya. Sebuah pintu yang entah dari mana terbuka dan memaksa Riska harus melepaskan gengaman tanganna dari baju milik suaminya.
“Saatnya kembali ke realita” ucap Riska. Namun dia masih sempat membalas lambaian tangan juga senyum manis dari suaminya.
Sekarang Riska benar-benar kembali ke dunia nyata. Matanya terbuka saat dini hari. Dilihatnya kamar tempatnya dirawat penuh orang. Ada anak-anaknya juga anak asuhnya. Reyhan juga kedua orang tuanya. Dan semua keluarganya yang datang dari kota S. Riska tersenyum dan membiarkan mereka semua melanjutkan tidurnya. Padahal dia merasakan sangat haus. Namun dia menahan gerakannya agar Reyhan dan William yang bersandar di ranjangnya tidak terbangun. Dia mencoba menggapai gelas di meja sampingnya. Namun sayang tangannya tak sampai. Akhirnya Riska menyerah dan mengelus pelan tangan William.
“Engh” erang William dan membuka matanya. Yang awalnya masih mengantuk menjadi terbuka saat melihat senyum Riska. Baru saja William membuka mulutnya untuk berbicara, namun isyarat dari Riska menghentikannya. Hanya mulutnya yang amsih terbuka karena rem dari Riska sangat cakram.
“Kau sudah sadar?” lirih William setelah beralih tempat dan lebih dekat dengan telinga Riska.
“Iya. Aku haus Kak” ucap Riska lirih. Dengan cepat, William mengambil minum dan memberikan pada Riska. Dengan di bantu William, dia bisa minum tanpa tumpah.
“Terimakasih” lirih Riska. William tersenyum mengangguk. Mereka hanya saling memandang tanpa melakukan pembicaraan. Takutnya orang-orang akan bangun mendengar kasak-kusuk dari mereka. Beruntung keduanya bisa bahasa isyarat, jadi mereka bicara seperti orang bisu. Riska menceritakan mimpinya sebelum akhirnya bangun. William sampai berganti-ganti ekspresi karena hanya itu yang bisa dilakukan untuk mengekpresikan perasaannya. Tentu saja dengan gerakan tangan yang hanya dipahami keduanya.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya William dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya.
“Menunggu takdir berbicara dan melakukan tugasnya” begitulah arti jawaban Riska.
Keduanya tertawa tertahan karena merasa lucu dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
__ADS_1
*****