
Risma dan Sila masih bergerilya mencari jajanan yang mereka mau. Sedangkan Reyhan dan kelima anaknya sedang menikmati es cendol di depan pasar. Rindi menikmati dengan melihat sekeliling. Hari sudah mulai panas dan memang sangat segar minum es cendol. Rindi melihat tukang parkir mengelap peluhnya dengan handuk yang selalu dia bawa di pundaknya. Kendaraan yang keluar masuk silih berganti tentu saja membuatnya penat.
“Pa, boleh minta es cendolnya dua bungkus?” tanya Rindi.
“Boleh. Minta saja sama Mamangnya” jawab Reyhan masih menikmati cendolnya.
“Makasih Pa”
“Hem”
Rindi meminta penjual itu membungkus es cendolnya dua bungkus. Dia tidak menunggu dan kembali ke papanya.
“Pa, boleh minta uangnya limapuluh ribu?” tanya Rindi menghampiri Reyhan.
“Buat apa?” tanyanya sambil mengambil dompet dan menyerahkan uang yang diminta Rindi.
“Buat beli nasi padang” jawab Rindi. Reyhan mengangguk.
“Sama pengawal belinya” ucap Reyhan dan Rindi mengangguk.
Rindi membeli nasi padang dengan lauk ayam goreng dua bungkus. Beruntung uangnya pas. Setelah dapat, dia kembali ke tempatnya dan mengambil cendol yang dia pesan.
“Pa, Rindi mau ngasih ini ke tukang parkir itu dulu”pamit Rindi. Reyhan memandang tukang parkir yang memang sudah terlihat penat karena terik matahari dan pekerjaannya.
“Iya. Bang, temani adeknya” pinta Reyhan pada Rendi.
“Iya Pa. Ayo”
Reyhan terharu dengan kepedulian anak-anaknya. Dia berharap ketiga anaknya yang lain juga akan memiliki rasa peduli itu. Dia yakin, berada di tangan Risma, cepat atau lambat, anak-anaknya akan sama seperti tiga anak sambungnya.
Rendi dan Rindi sudah tiba di hadapan tukang parkir itu.
“Pak, ini makanan untuk Bapak. Istirahat dulu” ucap Rindi dan menyerahkan dua bungkusan di tangannya.
“Makasih Neng. Alhamdulillah, rejeki hari ini” ucap tukang parkir senang.
“Iya. Saya permisi dulu”
“Monggo”
Saat Rindi dan Rendi kembali, sudah ada Risma di sana.
__ADS_1
“Ini belanjaan Bunda semua?” Risma mengangguk menanggapi pertanyaan Rendi yang baru datang.
Risma beralih ke para tukang panggul.
“Mas-Mas dan Bapak-bapak, tolong belanjaannya di bawa ke mobil yang jok belakangnya terbukan itu ya? Setelah itu kembali lagi ke sini”
“Iya Bu”
Risma menunggu semua belanjaannya masuk ke mobil sambil menikmati jajanan yang dibeli anak-anaknya juga es cendol yang dipesankan suaminya. Begitu juga dengan Sila.
“Enak yah Bund, es cendolnya?” ucap Sila.
“Iya. Nanti kalau buka puasa, bunda bikinkan es cendol sama es cincau” ucap Risma.
“Iya Bund. Pasti seger” ucap Sean semangat.
“Maaf Bu, semua belanjaannya sudah masuk” lapor salah satu tukang panggul mewakili teman-temannya.
“Oh iya Pak. Sebentar” Risma berdiri dan meraih dompetnya. Dia mengeluarkan enam lembar uang warna biru dan memberikannya pada tukang panggul itu.
“Tolong di bagikan ke teman-teman yang lainnya. Saya mengucapkan terimakasih karena sudah dibantu oelh Bapak-bapak dan Mas-Mas semuanya” ucap Risma sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Sama-sama Bu. Kami juga berterimakasih karena mau menggunakan jasa kami para tukang panggul. Tapi Bu, ini kebanyakan. Biasanya, kami dibayar nggak sampai setengahnya” ucap tukang panggul itu tak enak hati.
“Iya Bu, alhamdulillah. Kalau begitu, saya terima dan terimakasih” ucap pria itu senang.
“Sama-sama” jawab Risma dengan senyum khasnya. Senyum yang menenangkan bagi siapa yang memandang. Reyhan semakin mengagumi kepribadian istrinya itu. Risma senang melihat para tukang panggul itu tersenyum lebar saat pria itu membagikan selembar limapuluh ribu. Senyum kebahagiaan yang tulus dan penuh rasa syukur. Senyum yang tidak pernah Risma temui saat mengikuti suaminya melakukan pertemuan ataupun pesta yang mereka adakan. Senyum yang Risma lihat seperti saat para karyawan suaminya menerima gaji juga bonus di akhir ataupun awal bulan. Ya, hanya mereka yang memiliki rasa syukur di hatinya yang bisa menciptakan senyum penuh kebahagiaan.
“Bunda senang?” tanya Seno melihat Risma terus tersenyum.
“Iya Sayang. Bunda senang melihat orang lain tertawa dan bahagia karena Bunda” jawab Risma mengusap pucuk kepala putranya.
“Aku juga akan menciptakan momen dimana orang lain akan tertawa bahagia karena Seno” ucap Seno penuh keyakinan.
“Amiiin” ucap Risma dan Reyhan bersamaan.
“Aku juga” ucap Sean dan Sila bersama-sama.
“Amiin. Semoga apa yang anak-anak Papa dan Bunda inginkan dapat terwujud” ucap Reyhan dan diacungi jempol oleh Risma.
“Papa ada uang dua puluh ribu?” tanya Risma.
__ADS_1
“Nggak ada. Pecahannya habis buat jajan anak-anak. Hanya ada limapuluh ribuan sama seratusan” jawab Reyhan.
“Sebentar. Semoga Bunda masih ada” Risma melihat dalam tas dan dompetnya. Senyum merekah dibibirnya, itu tandanya apa yang dia cari masih ada.
“Alhamdulillah. Ini untuk parkir” ucap Risma memberikan lembaran duapuluh ribu kepada Reyhan dan diterima langsung dimasukkan ke dalam saku.
“Kenapa duapuluh ribu? Nggak limapuluh ribudi dompet Papa?” tanya Sila.
“Sayang, meskipun dia orang kecil. Tapi dia tetap punya harga diri. Jangan sampai niat baik kita melukai perasaan dan harga dirinya. Parkir di sini, kalau mobil cuma limaribu. Kalau dibayar limapuluh ribu, akan ada dua kemungkinan. Pertama, dia menerima dengan senang dan bersyukur. Kedua, dia tersinggung dengan ulah kita karena mengangap kita menghina pekerjaannya dan meremehkannya” jelas Risma penuh dengan kesabaran.
“Kan niat kita baik, Bund” bantah Rendi.
“Iya, Rendi benar. Niat kita memang baik. Namun belum tentu diterima baik juga oleh orang lain” jawab Reyhan membantu Risma.
“Benar Sayang. Kalau kita membantu, harus penuh perhitungan dan pertimbangan. Jangan sampai bantuan kita membuat orang lain tersinggung dan akhirnya tidak tepat sasaran. Kita harus tetap menghormati prinsip dan menjaga harga diri orang lain juga” jelas Risma dan memberikan jeda untuk anak-anaknya memikirkan apa yang dia katakan.
“Bagi tukang parkir, lebih limabelas ribu sudah banyak. Mungkin bagi kita, itu hanya buat jajan Sila. Namun bagi tukang parkir, limabelas ribu sudah cukup untuk memberi makan anak dan istrinya” semuanya manggut-manggut mengerti.
“Dan ingat, jangan pernah kita menghina apapun pekerjaan orang lain. Kita tidak tahu ada apa dibalik mereka memilih pekerjaan itu. Bagi kita, pekerjaan tukang parkir itu hanya atau cuma. Tapi sebenarnya, tidak ada pekerjaan yang punya predikat hanya atau cuma. Selama itu halal dan memberikan rejeki bagi kita, pekerjaan itu adalah baik” tambah Risma.
“Mengerti Bunda” ucap anak-anaknya kompak.
“Sayang Bunda” semua anak memeluk Risma dan Risma menyambutnya dengan penuh sukacita. Reyhan memandang Risma dengan mata yang penuh cinta. Sungguh diasemakin terpesona pada sosok janda yang diperistri karena rasa kasih sayang yang ada dalam dirinya.
“Bunda juga sayang kalian. Jadi anak yang baik ya semuanya”
“Siap Bunda”
Mereka pulang dengan rasa bahagia. Terlebih anak-anak yang punya pengalaman baru. Mereka akan selalu mengingat nasehat bundanya hingga nanti mereka akan kembali menyampaikan pada anak-anaknya kelak.
Hargailah orang lain sebagaimana kamu menghargai dirimu sendiri. Maka orang lain juga akan menghargai dirimu sebagaimana mereka menghargai diri mereka sendiri.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
__ADS_1
*****
Konflik disini nggak berat yah. Bunda lebih mengutamakan kehidupan sosial mereka dibanding dengan kehidupan pribadinya. Yang mengharapkan banyak konflik, bisa baca novel lainnya yang sudah bunda tulis diatas. Makasih atas setiap dukungan dari kakak-kakak readers semua.