DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 8


__ADS_3

Di kota S, Riko tengah mengamuk karena kehilangan Risma dan anak-anaknya. Bahkan dia tidak mendapatkan info apapun dari anak buahnya yang ditugaskan untuk mencari mereka.


“Sial. Kemana kamu  bawa pergi anaku Risma?” kesal Riko. Waktu pemberian warisan semakin dekat dan dia belum juga menemukan Randi dan Riana.


Bunda kembalikan nama mereka ke versi asli ya? Bukan samaran karena ini versi Riko. Riko hanya tahu nama asli mereka.


“Pasti ini karena Riana mendengarkan apa yang aku dan papa mama bicarakan. Sial. Harusnya aku tak seceroboh itu” sesal Riko pada diri sendiri. Bahkan sampai kini, Riko belum tahu kalau di ruang kerjanya masih terpasang penyadap suara.


Tok tok tok. Terdengar suara pintu diketuk.


“Masuk” teriak Riko dari dalam. Terbukalah pintu ruang kerja Riko dan masuk dua orang yang dia tugaskan untuk mengawasi rumah keluarga Herlambang dan Permana.


“Bagaimana?” tanya Riko tak sabar.


“Maaf bos. Mereka terlihat biasa dan tidak mencurigakan. Bahkan mereka juga terlihat mencari keberadaan Nona Risma dan anak-anak” lapor salah satu keduanya mewakili keduanya.


“Sial. Kemana Risma membawa kedua anakku” teriak Riko menggila. Kedua orang suruhannya hanya bisa menghela napas melihat tuannya mengamuk.


Semua usaha Riko akan tetap sia-sia selama dia membicarakan rencananya di ruang kerja. Karena sampai sekarang, William masih terus memantau rekaman itu. Dan hasilnya, William merencanakan dia beserta keluarga juga keluarga Permana untuk berpura-pura mencari kemana hilangnya Risma. Semua diatur dengan rapi seperti


pemain sesungguhnya.


“Lalu bagaimana dengan pengalihan cafe Risma menjadi milik saudari Tuan William?”


“Dia menitipkan pesan lewat pengacara Thomas, pengacara yang membantu Nona Risma mengalihkan akta tanah dan rumah yang ditempati”


“Tidak bertemu dengan keluarga Herlambang ataupun Permana?”


“Sejauh yang kami selidiki, Nona Risma tidak bertemu dengan siapapun. Bahkan hanya menuliskan secarik kertas yang diperlihatkan Tuan Thomas sendiri pada kami”


“Kalian boleh pergi” lesu Riko. Sepertinya pencarian Riko menemui jalan buntu. Tidak ada petunjuk apapun.


“Sementara, aku akan menyerah. Biarkan aku tidak bisa menjadi pewaris perusahaan itu sepenuhnya. Tapi jangan harap kamu bisa lepas dariku begitu saja Risma sialan” geram Riko mengepalkan tangannya.


*****


Keterangan : kembali ke mode penyamaran yah readers. Kembali ke nama Riska dan trio R.


Di rumah keluarga Kusumo, Riska sedang menemani trio S dan trio R belajar. Untuk menghemat waktu, Riska mengumpulkan  mereka mejadi satu di ruang keluarga. Mereka duduk di bawah dengan meja besar sebagai meja belajarnya.


“Bunda, Reno ada tugas cerita” adu Reno mendekati Riska.

__ADS_1


“Memangnya Reno mau cerita apa?” tanya Riska lembut.


“Tugasnya ada cerita tentang sosok ayah. Reno nggak ingat soal ayah” Reno menunduk lesu. Riska merasakan dadanya mendadak menjadi sesak. Bagaimanapun, saat kepergian Erik, Reno masih balita. Tentu saja tidak ada memori yang mengingatkannya pada mendiang Erik.


“Menurut Reno, sosok ayah itu seperti apa?” tanya Riska menutupi kemelut hatinya. Sampai saat ini, hatinya masih terpaku pada Erik, suaminya.


“Pahlawan kita semua” jawab Reno mendongak memberanikan diri melihat bundanya.


“Maka, seperti itulah ayah Reno” jawab Riska lembut. Tak lupa senyum yang selalu menyejukkan semua orang.


“Ayah kita seorang  perwira. Beliau adalah addi negara. Selain melindungi keluarganya, beliau juga melindungi negaranya” Rendi membantu adiknya mengenang ayahnya.


“Ayah adalah cinta kedua kita setelah bunda. Beliau adalah sosok yang bertanggung jawab hingga rela menahan rindu demi menyelamatkan negara. Bahkan beliau gugur dalam tugasnya dan dalam keadaan syahid” Rindi mengingat semua ucapan Riska saat mengatakan ayahnya meninggal dalam keadaan syahid, artinya sudah dijamin masuk surga. Wallahu a’lam.


Riska menatap anak-anaknya dengan pandangan yang berkaca-kaca. Rendi dan Rindi bahkan lebih tegar dari dirinya. Setiap mengenang sosok Erik, Riska pasti menjadi pribadi yang melankolis. Trio S tercengang mendengar ungkapan duo R tentang ayahnya. Mereka melihat pengasuhnya yang menahan tangis haru.


Mereka bisa begitu bangga mengenang ayahnya yang telah meninggal. Tapi kami,bahkan tak ada yang menyenangkan dari sosok mama selain mengajarkan kami manja dan boros. ~ Trio S.


Reno kembali ke tempatnya dan menulis apa yang dia dengar dari bunda dan kedua kakaknya. Reyhan dan kedua orang tuanya hanya memperhatikan Riska dan keenam anak sekolah itu dari seberang meja yang berhadapan dengannya. Menyaksikan bagaimana Riska membimbing anak-anaknya belajar, yang selama ini tidak pernah mereka lakukan. Bahkan pengasuh sebelumnya tidak pernah juga melakukan hal itu.


“Nona Sila, ada tugas yang butuh bantuan tidak?” tanya Riska. Kebiasaan Riska bertanya tentang tugas pada anak-anaknya, juga dia lakukan pada anak asuhnya.


“Ada Bibi. Tapi masih dikumpulkan hari jum’at. Tugas merajut untuk perempuan.  Laki-laki mendapat tugas membuat miniatur dari sabun batangan” jawab Sila memandang Riska penuh permohonan.


“Yang paling mudah apa Bi? Sila belum bisa merajut” lirih Sila merasa kecil.


“Tidak apa-apa. Nanti bibi ajarkan. Apa ada pilihan lain? Yang Nona kecil bisa misalnya?”


“Sebentar. Ini agendanya. Makasih ya bi, hadiah inisangat berguna. Kami jadi tidak kebingungan mengingat dan membuka satupersatu buku kami untuk melihat tugas apa. Cukup melihat ini” Sila memperlihatkan agenda yang diberikan Riska untuk trio A dan trio R.


“Sama-sama nona kecil” Riska mengusap sayang rambut Sila. Sila tersenyum manis melihat senyum pengasuhnya yang tulus.


Riska menerima agenda dan membukanya. Ada tugas prakarya yang harus dikumpulkan hari jum’at. Untuk perempuan, merajut, menjahit dengan tangan, menyulam. Sedangkan untuk laki-laki, membuat miniatur karya darisabun batangan. Miniatur yang boleh di buat adalah kendaraan, hewan, kegiatan manusia seperti memancing, menulis dsb.


“Nona kecil, dari tiga ini, mana yang sudah Nona kecil kuasai?” tanya Riska setelah membaca agenda secara lengkap.


“Sedikit bisa menjahit dengan tangan. Tapi belum rapi” aku Sila lirih. Entah mengapa, Sila selalu takut mengungkapkan dengan tegas.


“Tidak apa-apa. Nanti bibi ajarkan supaya rapi.biar lebih mudah, kita gunakan yang jahit tangan. Bagaimana?” tanya Riska lagi.


“Boleh. Tapi mau buat apa?”

__ADS_1


“Buat yang simpel aja. Tempat pensil, bagaimana?” tanya Riska semangat.


“Boleh bi. Besok kita mulai ya? Sepulang sekolah” Sila tak kalah semangat dari pengasuhnya.


“Bibi akan siapkan alat dan bahannya besok. Nona kecil tinggal mengeksekusi saja” Sial mengangguk semangat dan melanjutkan belajarnya. Semua tugas selesai dan dia mempelajari pelajaran yang akan diajarkan besok di sekolah. Riska tersenyum kecil melihat enam anak-anaknya tertib dalam belajar. Reno datang lagi ke Riska dan menyerahkan tugas mengarangnya pada Riska.


“Sudah selesai?”


“Iya bunda. Bunda lihat dulu, siapa tahu ada tulisan yang salah. Ejaan dan kalimat yang kurang tepat” memang seperti itu Riska mengajarkan pada anak-anaknya saat dibawah kelas tiga SD.


“Baiklah. Bunda cek ya?”


Riska mulai melihat tulisa yang ada dibuku. Baru membaca judulnya, hatinya sudah bergemuruh.


Ayahku, Pahlawanku.


Penulis, Reno Firdaus.


Kata bunda, ayah adalah seorang pahlawan. Dan itu yang akan Reno percayai sampai akhir nanti. Kata Kak Rendi, ayah adalah seorang abdi negara. Selain melindungi kami, ayah juga melindungi negara, membela negara. Kata Kak Rindi, ayah adalah cinta kami, cinta kedua kami. Cinta pertama kami adalah bunda. Kata Kak Rindi juga, ayah adalah sosok yang bertanggung jawab. Tidak hanya pada kami, tapi juga pada negaranya. Ayah gugur saat menjalankan tugas sebagai abdi negara. Saat itu, usia Reno masih kecil. Reno tidak ingat seperti apa ayah dalam keluarga. Reno hanya tahu foto yang selalu bunda simpan dan tunjuukan saat kami mengatakan rindu ayah. Ayah terlihat sangat gagah dengan seragam perwiranya. Jika kami rindu ayah, bunda selalu meminta kami untuk mendo’akan ayah yang sudah ada di surga. Kami sayang ayah. Sampai kapanpun, ayah akan tetap kadi pahlawan Reno. I love you ayah.


Riska sudah berderai air matanya membaca kata demi kata karangan putranya. Meskipun begitu, dia tetap menjaga agar air matanya tidak jatuh mengenai tulisan Reno. Riska akui, banyak kenangan yang mungkin dilupakan Reno karena dia masih kecil. Akan berbeda jika yang menulis Rendi ataupun Rindi. Riska memeluk Reno dan mengusap air matanya.


“Kenapa bunda menangis?” tanya Reno.


“Bunda terharu sayang. Tulisan Reno rapi. Tapi ada beberapa huruf yang masih salah. Ini harusnya besar. Dan nama Reno juga kakak-kakak juga awalnya besar. Bisa Reno perbaiki?” jawab Riska memberi alasan.


“Baik bunda”


Semua kembali tenang. Reyhan memandang dengan tatapan yang sulit saat melihat Riska menangis.


Apa segitu cintanya Ris kamu dengan mendiang suamimu? Sampai kamu menangis hanya membaca karangan anak kecil. ~ Reyhan merasa kesal melihat Riska menangis karena Erik.


Rindi dan Rendi bangkit dan memeluk bundanya. Mereka berdua cukup tahu bagaimana usaha Riska untuk kembali bangkit setelah kepergian sang ayah. Bahkan Rendi dan Rindi sering melihat bundanya menangis diam-diam saat memandang foto ayahnya. Selalu terlihat tegar di mata anak-anaknya, namun begitu rapuh saat sedang sendiri. Begitulah gambaran yang pas untuk kondisi Riska setelah kepergian suaminya.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


*****


__ADS_2