DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG 1


__ADS_3

Nah, part yang pasti ditunggu readers. Bunda sengaja biar kalian penasaran. Hahahaha.


Reyhan baru saja mendapat telepon dari rumahnya kalau trio A sedang membuat ulah. Pengasuhnya bahkan sampai dilarikan ke rumah sakit karena kepalanya terbentur dinding. Reyhan memijit pelipisnya dengan pelan. Ketiga anaknya tak pernah bisa akur dengan pengasuhnya.


“Apalagi yang dilakukan trio S itu?” lirih Reyhan frustasi.


Ya, ketiga anak Reyhan mendapat sebutan trio A dari nama depannya Arsila Putri Kusumo, Arsean Putra Kusumo dan Arseno Putra Kusumo. Meskipun namanya mirip, tapi mereka nggak kembar ya kakak-kakak. Kalau Reyhan menyebut Trio S dari panggilannya. Sila untuk putri sulung sekaligus satu-satunya. Usianya lebih tua dari Randi dan Riana tiga tahun. Dia sudah SMP. Sean, putra kedua keluarga Kusumo. Umurnya sama dengan duo R, hanya beda beberapa bulan saja. Sedangkan Seno, yang paling bontot, dia berusia satu tahun lebih tua dari Rama. Hanya


Seno yang tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu karena ibunya meninggal saat melahirkannya.


“Kak, aku pulang dulu. Selanjutnya kakak handel ya?” pamit Reyhan pada asistennya juga sahabat sekaligus kakak baginya. Bagas Wibisono.


“Oke” jawab Bagas dan Reyhan bisa bernapas lega karena kantornya sudah ada yang menghandelnya.


Reyhan bergegas pulang dan ketika sampai, rumahnya sedang banyak pekerja. Bahkan seluruh art dan yang lainnya sedang sibuk di dalam rumah utama.


“Assalamualaikum. Ada apa ini?” tanya Reyhan heran.


“Ini tuan. Tuan muda Seno dan tuan muda Sean menyebar kelereng hingga pengasuh jatuh menghantam dinding hingga pingsan. Dan kami sedang mencari kelereng itu Tuan. Tuan  muda A menyebar cukup banyak hingga


menyebar ke mana-mana” jelas salah satu Art.


“Haaah” Reyhan menghela napasnya mengingat kenakalan putranya.


“Baiklah. lanjutkan”


“Baik tuan”


Reyhan membersihkan diri untuk mengurangi pusing di kepalanya. Pengasuh untuk anaknya hanya mampu bertahan paling lama dua minggu. Bukan karena apapun, tapi karena tidak sanggup menerima keusilan anak-anaknya.


“Mereka memang sudah besar. Tapi masih saja seperti itu” keluh Reyhan.


Ya, anak-anak Reyhan memang diberi pengasuh. Reyhan ingin fokus saja pada pekerja yang menangani anaknya. Jadi jika terjadi sesuatu, maka Reyhan akan bisa langsung mencari tahu dari orang yang sudah pasti. Tapi harapan tinggal harapan. Apalagi anaknya juga belum mau merapikan kamarnya sendiri. Itulah gunanya pengasuh yang dimaksud Reyhan. Untuk menyiapkan semua kebutuhan dan bertanggup jawab penuh atas kerapian kamar anak-anaknya.


*****


Tragedi kelereng sudah selesai, dan pengasuh juga sembuh serta resign tentunya. Para ART kalang kabut karena trio A teriak-teriak meminta ini dan itu. Begitulah kalau pengasuh baru saja resign. Semua menjadi kacau.


“Papa, buku Pr yang semalam aku kerjakan mana?” teriak Sila. Meskipun sudah besar, entah mengapa mereka enggan merapikan barang-barang sendiri.

__ADS_1


“Tanya bibi saja Sila” teriak Reyhan dari luar kamar Sila.


“Papa. Baju seragamku belum siap” kali ini Seno yang berteriak.


“Astaga” Reyhan benar-benar frustasi. Jika tidak ada pengasuh, mereka akan kalang kabut. Namun jika ada pengasuh, merekapun tidak akan tenang.


“Kalian harus bisa menyiapkan sendiri” teriak Reyhan frustasi. Bukannya menurut, Seno malah menangis.


“Huaaaa, papa jahat”


“Duh Gusti” Reyhan menjambak rambutnya dengan keras. Ali dan Nilam, orang tua Reyhan naik dengan tergesa-gesa setelah mendengar keributan dari anak dan cucu-cucunya.


“Kalian kenapa mesti teriak-teriak sih?” omel Nilam.


“Reyhan pusing mah. Mau berapa pengasuh lagi yang menjadi korban mereka?” keluh Reyhan.


“Huh. Dari kecil mama sudah mengajari mereka mandiri. Pengasuh hanya menemani saja. Kenapa hasilnya seperti ini?” ucap Nilam malah ikut mengeluh.


“Pa?” rengek Reyhan.


“Papa nggak tahu. Panggil salah satu art yang muda biar tahan banting, untuk sementara biarkan mereka diurusnya”


Reyhan mengecek kamar anaknya. Yang pertama adalah Sila. Anak tertuanya.


“Astaga Sila. Kamu ini anak perempuan, kenapa kamarmu seperti gudang kain?” kesal Reyhan.


“Aku harus lebih tegas lagi dengan mereka” guman Reyhan kesal.


“Sila” panggil Reyhan setelah anaknya selesai berdandan dan art juga keluar.


“Papa mau kamu rapikan kamarmu sekarang. Setidaknya taruh pakaian kotormu pada tempat yang ada”


“Sila mau sekolah pa” tolak Sila yang sudah memakai ranselnya.


“Rapikan atau tidak sekolah hari ini” tegas Reyhan mengancam anaknya.


“Ya sudah. Aku libur saja” Silamelepas ranselnya dan merebahkan tubuhnya dikasur. Reyhan memijit pelipisnya. Kenapa anak-anaknya tidak ada yang patuh dengannya. Reyhan melihta sekeliling dan matanya menangkap laptop dan ponsel di atas nakas. Tanpa bicara, Reyhan mengambilnya beserta dengan kabel dayanya.


“Ini papa bawa sampai kamu bisa menaruh barang pada tempatnya” Reyhan pergi tanpa melihat Sila lagi. Sila terkejut kalau barang berharganya di sita papanya. Dia langsung bangun dan mengejar Reyhan.

__ADS_1


“Papa, tunggu. Jangan ambil lepi sama pipi ku” teriak Sila menyebut barang kesayangan dengan nama pemberiannya.


“Lakukan atau tidak akan kembali”


Reyhan kembali melakukan sidaknya. Kali ini dia mendatangi kamar Sean. Tak jauh berbeda dengan kamar kakaknya. Reyhan lagi dan lagi harus memijit kepalanya.


“Sean. Rapikan sebelum berangkat sekolah” berkata begitu, Reyhan sudah membawa seluruh stik PS di kamar Sean. Sean melongo mendengar papanya memberi perintah, namun stik kesayangannya sudah ada dalam dekapannya. Saat Sean hendak membuka mulutnya, papanya sudah tak terlihat. Dengan gerakan cepat, Sean langsung membersihkan kamarnya. Sila pun sama, tak ingin terlalu lama berpisah dengan dua benda kesayangannya, mau tak mau harus menuruti kata papanya.


Kamar Seno tak jauh berbeda dengan kamar kedua kakaknya. Reyhan mengambil seluruh lego milik Seno.


“Rapikan atau tak akan pernah kembali dan tak ada yang terbaru” Reyhan langsung memberikan ancaman tanpa bas-basi.


Setelah tragedi penyitaan barang-barang berhrga milik tiga anaknya, Reyhan turun menunggu trio S. Tak lama kemudian, trio S datang dengan wajah yang lesu.


“Jangan lama-lama ya pa?” lirih ketiganya bebarengan.


“Terserah papa” Reyhan lalu makan tanpa menegur anak-anaknya. Sebenarnya sudah berulangkali barang mereka di sita papanya.  Namun ketika barangnya kembali, mereka membuat ulah yang sama. Dan hal itu berbanding terbalik saat di sekolah. Mereka terkenal menjadi anak yang disiplin dan selalu mengerjakan tugas dari guru. Dan itu memang benar dan dirasakan oleh semuanya. Hanya saja kemalasan mereka di rumah membuat prestasi yang selalu mereka capai di sekolah tak berarti di mata keluarganya. Apalagi dengan kenakalan dan keributan yang selalu mereka perbuat pada pengasuhnya.


Setelah sarapan, ketiganya berpamitan dengan lesu dan berjalan tanpa semangat.


“Papa menyita legoku lagi” keluh Seno pada kedua kakaknya.


“Sama. Stik kesayangan Kak Se juga”


“Dan lepi dan pipi Kak Si”


Ketiganya menghela napas lesu. Sudah dipastikan akan seperti hari-hari mereka. Bahkan mereka tidak pernah menyadari kesalahan dari kemalasan yang terlalu itu. Ya, mereka masih anak-anak. Namun bukankah memang harus sedari kecil kita mengajarkan pada anak-anak untuk tanggung jawab? Namun memang semua tak mudah dan kadang tak sesuai dengan harapan. Begitu juga  yang dialami Reyhan dan keluarganya. Selamat berjuang


Papa Duren Antig! Temangaaaaat!


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua. double up.


*****


NEXT

__ADS_1


*****


__ADS_2