
Risma masih terus kepikiran tentang Tante Lusi setelah kepulangannya dari kota M. Kini merekamasih berada di kota S. Hatinya bimbang antara memberitahu keluarganya atau tidak. Sebelum dirinya pindah, baik orangtua ataupun kakaknya selalu mengatakan kalau mereka rindu. Apakah selama ini keluarganya memdapatkabat ataukah belum. Reyhan mengerti kediaman istrinya. Dia memaklumi hal itu.
“Sekarang apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Reyhan seolah mengerti keinginan Risma.
“Ingin ke rumah orang tua Tante Lusi” lirih Risma dan Reyhan mengangguk.
“Tadi Tuan Dika memberikan kontaknya pada kita. Kita bicarakan keinginan kamu terlebih dahulu” ucap Reyhan tidak mau gegabah. Pasalnya yang mereka hadapi adalah orang dengan kekuasaan yang besar. Tak hanya keluarga Prasetyo, tapi juga keluarga Sanjaya dan Hamilton. Tiga keluarga yang kekuasaannya sama besarnya.
“Apa harus kita bicarakan?” tanya Risma.
“Apa yang kita lakukan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Salman bukan?” tambah Risma lagi.
“Tapi, apa yang akan kita lakukan ada hubungannya dengan Lusiana, ibunya Salman. Abang hanya nggak mau terjadi sesuatu diluar prediksi kita” jelas Reyhan dengan sabar.
“Ya udah. Abang atur aja. Mumpung kita masih di kota S. Oh ya, apa anak-anak kita ajak menjenguk Tuan Riko? Bagaimanapun, dia adalah papa dari si kembar” usul Risma yang tidak ingin memutus hubungan antara ayah dengan anak-anaknya. Riko telah dipindahkan ke rutan kota S seperti yang orang tuanya inginkan. Tentu saja dengan persetujuan dari pihak pelapor.
“Lebih baik begitu. Kita tanya yang lain, apakah mereka mau ikut apa tidak. Bagaimana?”
“Boleh. Urusan dengan keluarga itu Abang urus nanti saja. Ayo kita temui mereka” ajak Risma antusias. Reyhan hanya tersenyum dan menggeleng tak mengerti.
“Begitu cepat mood kamu berubah, Sayang” guman Reyhan dan mengikuti langkah kaki istrinya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Ketika Reyhan tiba, Risma sudah berbincang dengan keenam anaknya.
“Rendi nggak mau, Bund. Rendi benci orang itu” tolak Rendi yang mulai membenci Riko ketika Riko melukai Risma dulu.
“Sayang. Ingat apa yang Bunda ajarkan pada Rendi?” tanya Risma mencoba memberi pengertian pada anaknya.
“Nggak boleh ada dendam dalam hati kita” jawab Rendi.
“Nah, itu tahu. Jadi, Rendi harus mau maafin Papa Riko. Bagaimanapun juga, dia adalah papanya Rendi dan Rindi” jelas Risma dengan penuh kelembutan.
“Iya Bunda. Maafkan Rendi. Kalau begitu, kami bersiap dulu. Kalian semua mau ikut?” tanya Rendi mengikuti keinginan Risma. Begitu sayangnya dia dengan bundanya itu, hingga tak ingin mengecewakannya. Maka dia putuskan untuk menjenguk papa kandungnya hanya demi menyenangkan Risma.
“Iya. Kata Papa, setelah menjenguk Papa kalian, kita akan jalan-jalan” jawab Sean semangat.
“Ya sudah. Kalian semua bersiaplah, bunda juga akan bersiap bareng papa”
__ADS_1
*****
Risma dan Reyhan turun dari mobil dan diikuti oleh Rendi dan Rindi. Reno memilih tinggal di mobil bersama trio S karena tahu kalau Riko tidak menyukainya. Risma tidak memaksa karena memang Reno tidak ada hubungan apapun dengan Riko.
Ketika tiba di tempat kunjngan, ternyata ada orang tua Riko yang datang berkunjung juga. Risma sampai terkejut melihat orang tua Riko. Dia tidak mengira akan bertemu di rutan tempat Riko dipenjara.
“Tuan Reyhan” Ramon juga terkejut melihat Reyhan ada di sini.
“Tuan Ramon. Nyonya Diana” sapa Reyhan ramah, walau mukanya masih tetap dingin.
“Sayang. Sapa kakek dan nenek. Ayo” pinta Risma dan si kembar menghampiri Ramon dan Diana. Keduanya sungkem dan kembali lagi pada Risma. Padahal Diana dan Ramon ingin memeluk cucu-cucunya.
“Kami ke sini mengantarkan Randi dan Riana menemui papanya” ucap Risma sopan.
“Masih juga mengenalkan orang tua aslinya juga ternyata” sindir Diana. Reyhan menatap Diana tajam. Tak peduli kalau usia wanita itu sepantaran dengan mamanya.
“Jaga ucapan anda. Perlu kalian ingat kalau dua anak ini adalah anak dari Risma dan Erik. itu yang tertulis di data kependudukan” ucap tegas Reyhan memberi peringatan.
“Maafkan istri saya, Tuan Reyhan” ucap Ramon dan menangkupkan kedua tangannya meminta maaf. Terlihat sangat ketakutan wajah Ramon berhadapan dengan Reyhan.
“Anda lebih baik ajari istri anda. Setidaknya sedikit tahu diri” tegas Reyhan dengan tatapan tajam juga dingin.
“Kakek dan Nenek tidak boleh berkata sepeti itu pada Bunda. Kalau saja bukan karena Bunda, Randi nggak mau datang menjenguk Papa Riko” ucap Randi tak kalah tegasnya.
“Sayang” tegur Risma dengan lembut.
“Ish, Bunda selalu” kesal Randi. Risma hanya tersenyum menanggapinya.
“Bang Randi benar. Bunda adalah segalanya bagi kami. Jika Bunda terluka, maka kami juga akan terluka” tambah Riana. Riko dan kedua orangnya hanya diam.
“Meskipun Papa Riko sudah pernah nyakitin Bunda, tapi Bunda tetap mengingatkan kami agar tetap ingat dan sayang pada Papa dan keluarga” lanjut Riana membuat ketiga orang itu membeku.
“Meskipun kata orang kalau darah itu lebih kental dari air. Tapi kalau airnya banyak, pada akhirnya juga bisa mencairkan darah tersebut. Meskipun Bunda bukan ibu kandung kami, tapi kasih sayangnya tulus, bahkan dari Papa Riko, kakek dan nenek” Riana maish terus mengungkapkan isi hatinya.
“Riana benar. Kasih sayang Bunda takakan pernah terganti oleh siapapun. Bahkan Papa, Kakek dan Nenek tak mampu menandinginya” imbuh Randi. Diana tampak tidak terima mendengar pengakuan cucu-cucunya.
“Jangan karena kalian diasuh oleh dia, hingga kalian menuduh kami seperti itu” ujar Diana sinis. Riko memandang mamanya yang masih belum berubah. Dalam hatinya, Riko sudah merasakan penyesalan. Apalagi sekarang keadaannya yang terpuruk dan dicoret dari hak waris keluarga Atmajaya. Dan keluarganya tidak ada yang mau
__ADS_1
menjenguk kecuali orang tuanya.
Kini,di depan matanya, Risma, wanita yang dulu pernah dia sakiti. Membawa anak-anaknya untuk menjenguknya. Ada asa bisa bermain dengan anak-anaknya kelak.
Terimakasih, Risma. Dan maafkan aku. Aku janji akan menjadi ayah ayah yang baik dan tidak akan mengambil mereka darimu. Aku ingin kita bisa memberikan kasih sayang bersama-sama, meskipun dengan cara yang berbeda. ~ Riko.
“Kami tidak asal menuduh. Harusnya Nenek menyadari sesuatu, kenapa kami pergi dari kota ini dan menghindari keluarga Papa Riko” jawab Randi tak kalah sinis. Karakter Randi memang lebih tegas dan keras dari pada Riana. Mungkin karena menurun dari Riko. Tegas dan keras.
“Memangnya kenapa? Kalian tahu apa soal kami selain bermain dan bermain. Mash kecil juga” sengit Diana.
“Ma” tegur Riko tak suka.
“Huh” kesal Diana.
“Kami mendengar pembicaraan Pap, Kakek dan Nenek soal perebutan hak asuh dan rencana menyakiti Bunda. Ingin menikahi Bunda dan menceraikannya ketika kami sudah tidak bergantung lagi pada Bunda. Kami juga yang meminta Bunda untuk pergi dari kota ini” jawab Riana membuat ketiganya mematung. Rencana yang mereka buat beberapa tahun yang lalu ternyata menjadi bomerang bagi mereka. Riko menunduk malu, Ramon memandang ke segala arah salah tingkah. Sedangkan Diana masih saja bersikap angkuh.
“Itu sudah seharusnya. Karena kamilah keluarga kandung kalian”
“Kalian hanya punya hak sebagai keluarga kandung, bukan Wali. Karena nasab mereka hanya akan tertulis nasab dari ibu. Itu aturannya” tegas Reyhan membungkam semuanya. Apa yang Reyhan katakan memang benar. Kalau dulu negara tidak bisa melegalkan anak yang dihasilkan dari hubungan diluar nikah, maka sekarang negara sudah
memperbaruinya dan bisa membuat akte kelahiran hanya dengan nama ibu yang tercantum. Dari segi agamapun, pihak pria tidak bisa menjadi wali bagi anak perempuannya jika nanti menikah. Anak perempuan yang lahir di luar pernikahan, maka saat menikah hanya boleh diwalikan oleh wali hakim. Jika ayah kandung yang menikahkan, maka pernikahannya tidak sah dan jatuhnya tetap zina jika melakukan hubungan suami istri. Jika tetap seperti itu, maka jatuhnya menjadi zina turunan. Dalam islam, tidak ada yang namanya anak haram, yang ada adalah anak
diluar nikah. Karena sejatinya, tidak ada bayi yang lahir ke dunia dengan status haram. Yang haram adalah perbuatannya hingga menghasilkan anak. Meskipun sekarang sang ayah bisa ikut melegalkan anak diluar nikah sebagai anaknya dan namanya bisa tercantum dalam akta kelahiran, tentu saja dengan syarat dan prosedur yang sudah ditetapkan. Namun tetap saja tidak bisa menjadi wali bagi anak perempuannya ketika menikah.
Jadi mulai sekarang, stop pembullyan terhadap anak yang lahir diluar pernikahan. Anak-anak itu tidak bersalah. Jangan limpahkan kesalahan orang tuanya pada mereka karena mereka juga punya hak yang samasebagai warga negara. Mereka juga punya hak untuk bahagia dan mendapat pendidikan yang layak. Jangan hambat pertumbuhan dan pendidikan mereka dengan pembullyan baik secara fisik ataupun verbal.
*****
Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI
BU NYAI.
Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya. Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.
*****
NEXT
__ADS_1
*****