DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG

DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG
DUREN ANTIG VS JANDA ANTIG 20


__ADS_3

Riska masih terus menyuapi Reyhan yang pura-pura mempelajari berkas di tangannya.


“Ini Tuan, tinggal sesuap lagi” ucap Riska dan menyodorkan sendok berisi makana terakhir dalam piring. Belum juga mulutnya terbuka, Bagas masuk tanpa permisi.


“Maaf Bos. Meeting diajukan karena penerbangan mereka juga diajukan lebih cepat” drama Bagas agar terlihat seolah-olah memang tidak direncanakan.


“Yah, ini tinggal sesuap Tuan. Aaa dulu” Riska lebih memajukan tubuhnya tanpa sadar seperti yang biasa dia lakukan kalau anak-anaknya terburu-buru.


Reyhan menatap intens wajah Riska yang serius memaksanya makan. Dengan perlahan tapi pasti, mulutnya terbuka dan suapan terakhir pun masuk ke mulutnya.


“Alhamdulillah. Minum dulu Tuan” Riska menyodorkan segelas minuman yang dia bawa dari pantri. Dengan tergesa-gesa Reyhan meminum dan memberikan kembali pada Riska.


“Ris, aku harus berangkat. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal?” tanya Reyhan dengan tatapan bersalah.


“Tidak apa-apa Tuan. saya bereskan ini dulu dan langsung pulang” ucap Riska yang dapat melihat tatapan bersalah dari mata Reyhan.


“Sekali lagi maafkan aku. Dan terimakasih makanannya. Sanga enak dan semakin lezat karena langsung dari tanganmu” ucap Reyhan yang masih sempat membubuhi rayuan sebelum melangkah pergi.


Riska tersenyum mendengar ucapan bosnya itu. Saat mendongak untuk melihat, ternyata hanya punggung yang hampir menghilang di balik pintu ruangan Reyhan. Riska geleng-geleng kepala mengingat gombalan Reyhan. Entah mengapa, hatinya merasa senang mendengar gombalan receh dari Reyhan. Riska berdiri setelah membersihkan sisa makanan dan menata tempat bekalnya.


“Labih baik aku segera pulang. Anak-anak di rumah sendiri karena Tuan Besar dan Nyonya Besar masih belum pulang dari PB nya”


Saat Riska sudah berdiri, dilihatnya seorang lelaki yang menghadap padanya dengan senyum manisnya. Lelaki yang selalu Riska rindukan dan dia do’akan dalam setiap shalatnya. Laki-laki yang tidak lagi bisa dia peluk, dan hanya bisa dia mimpikan.


“Mas Erik” panggil Riska lirih. Air matanya sudah menetes bak sungai yang mengalir. Tangannya mengulur untuk menyentuh, namun hanya udara yang dia gapai.


“Mas, aku merindukanmu” lirih Riska. Sedangkan Erik masih terus tersenyum memandang istrinya.


“Mas, tolong katakan sesuatu. Sedari semalam, Mas hanya tersenyum padaku. Katakn sesuatu Mas. Aku mohon” pinta Riska dengan air mata yang tak kunjung surut.


Ya, semalam Riska bermimpi bertemu dengan Erik dengan posisi yang sama persis seperti saat ini. Erik masih terus tersenyum, namun tubuhnya melayang ke meja kerja Reyhan. Riska mengikuti ke mana arwah itu melayang.


“Tuan Reyhan?” Erik mengangguk.


“Ada apa dengan Tuan Reyhan?” tanya Riska belum mengerti. Erik melepas cincin kawinnya dan meletakkan di atas foto Reyhan. Riska menatap Erik tak percaya. Cincin pernikahan dari Erik memang tidak pernah Riska lepas. Dan kini, Erik sendiri melepasnya dan menaruhnya di atas foto Reyhan.


“Mas yakin?” jujur saja hati Riska masih ragu untuk memulai rumah tangga kembali. Apalagi nama Erik masih kokoh bertahta di hatinya. Erik lagi-lagi tersenyum. Riska masih menatap Erik dengan tatapan rindu, heran, terkejut dan tak percaya. Ini benar-benar diluar nalar Riska.


Riska mengedipkan matanya untuk meyakinkan dirinya. Namun apa yang dilihatnya tetaplah sama. Erik yang tersenyum dan cincin pernikahan yang ada di tangan Erik berada di atas foto Reyhan. Riska menggelengkan kepalanya, namun Erik mengangguk samar dan perlahan menghilang. Riska menangis tersedu-sedu setelah


pertemuan yang di luar dugaan.


“Hiks hiks hiks, Mas Erik. Mas Erik”


Riska menghela napas dan mengusap air matanya. Dilihatnya cincin itu masih tetap ada. Diambilnya cincin itu dan nyata. Cincinnya bisa dia ambil.

__ADS_1


“Apakah Mas Erik memintaku untuk menikah dengan Tuan Reyhan? Maksud dari inikan sama halnya Mas Erik memberikan tanggung jawabnya pada Tuan Reyhan?” monolog Riska setelah dia mampu menguasai dirinya.


“Aku harus menghubungi Kak Willi dan mengatakan apa yang baru saja aku alami. Semoga Kak Willi menemukan solusi terbaik. Lagi pula, aku juga nggak tahu apakah Tuan Reyhan akan percaya pada ceritaku. Bisa saja kan Tuan bilang kalau aku mengada-ngada atau mengarang cerita agar aku bisa menikah dengannya. Mikir ke sana aja nggak. Haduh, bingung aku” Riska mengacak-acak rambutnya kesal. Setelah sadar, buru-buru dia rapikan kembali.


“Aku akan langsung pulang. Anak-anak pasti sudah menunggu. Apalagi yang baru pulang sekolah”


Riska pulang dengan sopir yang memang dipersiapkan oleh Reyhan khusus untuk mengantarnya kemanapun. Bukan sopir biasa, tapi sekaligus merangkap menjadi bodyguard pribadi Riska.


“Langsung pulang Nona?” tanya sopirnya saat membukakan pintu.


“Iya pak”


Dari jauh, sepasang mata menatapnya dengan tajam dan senyum menyeringai.


“Aku menemukanmu” seringai pria itu.


“Kita ikuti mobil itu dan ambil kesempatan untuk mencegatnya” perintahnya pada sang sopir. Sedangkan asistennya langsung membukakan pintu dan menyusul masuk.


Riska merasakan perasaannya yang gelisah.


“Ada apa Nona?” tanya sang sopir yang melihat Riska tak bisa diam ketika duduk.


“Nggak apa-apa pak. Cuma perasaan saya kok nggak enak ya?” cerita Riska.


“Saya antisipasi kalau begitu Nona”


“Cepat bergerak. Mobil  kami sudah dihadang” lantang Lintang pada rekan-rekannya.


“Nona tetap di dalam. Saya akan mengecek siapa yang berani menghadang kita” tanpa menunggu jawaban Riska, Lintang langsung keluar dan mengunci pintunya dari remot yang dia bawa.


“Maaf Tuan, kenapa anda menghadang kami?” tanya Lintang sopan pada sopir yang membuka kaca mobilnya.


Pintu belakang mobil terbuka dan keluarlah laki-laki yang mengamati Riska sedari keluar dari kantor Reyhan.


“Riko” pekik Riska dari dalam mobil. Sedangkan Lintang menatap Riko penuh tanda tanya.


“Tuan ada urusan apa?” tanya Lintang tegas walaupun masih sopan.


“Bukan denganmu. Tapi dengan wanita yang ada dalam mobilmu” jawab Riko angkuh.


“Urusan Nona Riska, menjadi urusan saya juga” tegas Lintang yang tak mau lalai dalam menjalankan tugas.


“Riska? Bukannya namanya Risma?” tanya Riko bingung.


“Semenjak saya bekerja dengan Nona, namanya adalah Riska. Mungkin anda salah orang” jawab Lintang yang memang tidak tahu menahu soal perubahan nama Risma. Hanya keluarga Herlambang, Permana dan Kusumo yang tahu.

__ADS_1


Lintang mendengar Riska menggedor pintu berkali-kali. Dengan remotnya, pintu mobil yang terkunci terbuka secara otomatis setelah terdengar bunyi tit tit.


Riska keluar dengan sangat elegan. Itu yang Reyhan ajarkan jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan.


“Ada apa Pak?” tanya Riska pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.


“Ini Non. Tuan ini mencari Nona, tapi namanya Risma, bukan Riska” Riska manggut-manggit seolah mengerti maksudnya. Sedangkan Riko menatap intens Riska yang acuh padanya.


“Jadi maksud Tuan saya ini Risma?” tanya Riska memainkan peran seapik mungkin dan jangan sampai terlihat gugup.


Riko hanya diam mendapat pertanyaan dari Riska. Dia masih memindai Riska dari atas sampai bawah.


Memang berbeda dari Risma, baik cara berpakaian ataupun berbicara. Apa aku salah mengenalinya? Tapi informanku memberikan potret Risma dan tiga anaknya? ~ Riko mulai bimbang.


“Kenapa Tuan diam saja?” tanya Riska sengaja mendesak Riko.


“Eh, kamu pasti pura-pura kan? Nama kamu Risma, bukan Riska” ucap Riko, dia tak tahu harus mengatakan apa lagi.


“Ck, Pak, tolong ambilkan tas dalam mobil” decak Riska kesal karena tak berhasil mengusir Riko dengan segera.


“Baik Nona”


Lintang datang dengan tas branded di tangannya. Riko sampai tak percaya kalau dengan apa yang dibawa Lintang.


Sepertinya aku memang salah orang. ~ Riko.


“Ini Tuan bisa lihat sendiri” Riska menyerahlan KTP-nya yangtentu sudah dimanipulasi.


“Riska Cantika. Status belum kawin” baca Riko memilih yang inti saja.


“Maafkan saya Nona. Maaf mengganggu perjalanan anda” ucap Riko menyesal dan menyerahkan kembali KTP Riska.


“Hem” dengan angkuh Riska menerima KTP dan memasukkan kembali dalam dompetnya.


“Mari Pak” ajak Riska pada sopirnya.


“Kami permisi Tuan” Lintang masih mencoba bersikap sopan. Sedang kawanan Lintang sudah standby dan Lintang meminta mereka terus mengikuti sampai tujuan.


*****


Ketemu lagi sama bunda di novel DUREN ANTIG. Novel ini selow update seperti novel-novel sebelumnya. Bagi readers baru yang belum membaca novel bunda sebelumnya, boleh dikepoin dengan klik profil dan pilih novel yang ingin dibaca. Ada PERNIKAHAN DADAKAN, OH SUAMIKU dan TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI.


Jangan lupa untuk Like, Komentar, Vote, Beri Hadiah dan Rating Bintang limanya.  Terimakasih karena sudah bersedia mampir. Salam sayang dari bunda untuk readers semua.


*****

__ADS_1


NEXT


__ADS_2