Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Hampir ketahuan


__ADS_3

"Suster Lina? Apa yang kamu lakukan?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung mengejutkan Lina dengan seketika.


Lina yang mendengar suara Inara saat ini tengah berada di belakangnya tentu saja menjadi terkejut. Entah bagian mana saja yang Inara dengar saat itu, namun yang jelas Lina tidak boleh ketahuan dengan cepat seperti ini. Lagi pula ia bahkan baru datang dan juga masuk ke dalam keluarga ini. Jika sampai ia ketahuan kali ini, bukankah Karan akan sangat marah?


"Sa....saya sedang mengangkat telpon barusan Bu, saya benar-benar minta maaf karena tidak meminta ijin sebelumnya." ucap Lina kemudian sambil sesekali menundukkan kepalanya dan memohon maaf.


Inara yang mendapati tingkah aneh Suster baru tersebut terlihat mulai membawa langkah kakinya mendekat. Membuat Lina yang mengetahui hal tersebut tentu saja semakin panik, sambil masih memegang erat ponsel di tangannya saat itu.


"Mati aku jika sampai ketahuan! Aku yakin Karan akan sangat marah nantinya." ucap Lina dalam hati masih dengan posisi menunduk saat itu.


Puk...


Tepukan pelan mendarat tepat di pundaknya, membuat Lina yang merasakan hal tersebut lantas terlihat menatap Inara dengan raut wajah yang penuh kebingungan.


"Apa yang membuat mu begitu gugup, aku bahkan hanya memanggil mu pelan barusan. Apa aku mengejutkan mu tadi?" ucap Inara dengan senyuman yang mengembang, membuat Lina yang mendengar hal tersebut lantas mengernyit dengan seketika.


"Tidak juga Bu, saya hanya merasa tidak enak saja dengan anda." ucap Lina sambil mencoba untuk tersenyum saat itu.


"Jangan terlalu tegang, bagaimana kalau kamu membantu ku untuk menyiapkan makan malam. Apa kamu keberatan?" tanya Inara yang seakan tak merasa canggung sama sekali terhadap Lina.


"Tentu saja tidak Bu, lagi pula itu adalah sebagian tugas saya." ucap Lina kemudian.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita lakukan sekarang..." ucap Inara dengan penuh semangat.


.


.


.


.


Dapur

__ADS_1


Suara panci penggorengan terdengar begitu nyaring di area dapur. Entah ke berapa kalinya Inara memasukkan daging dan juga ikan di sana, membuat Lina lantas tertegun dengan kehebatan Inara di tengah kondisinya yang tengah hamil besar.


"Bukankah Inara terlihat seperti istri idaman? Bagaimana bisa Karan membenci keluarga ini, disaat mereka semua begitu baik dan menghargai irang lain?" ucap Lina dalam hati.


Pikirannya saat ini benar-benar tengah bercabang, entah mengapa perkataan Karan selama ini sama sekali tak terbukti. Lina malah merasakan kebalikan dari perkataan Karan sebelumnya.


Dia memang memperoleh semua informasi dan kejadian lengkap tentang kematian Arin, namun Lina sendiri tak pernah benar-benar mencari tahu keluarga ini sama sekali.


"Mungkinkah Karan tengah membohongi ku? Tapi bagaimana bisa dia melakukan hal itu? Siapa yang benar dan siapa yang salah sebenarnya?" ucap Lina kembali dalam hati bertanya-tanya, sambil terus menatap ke arah Inara saat itu.


"Apa aku boleh menambahkan penyedap pada masakannya Sus?" tanya Inara yang seakan bimbang hendak memasukkannya atau tidak.


"..."


Inara yang tak mendapati jawaban apapun dari Lina barusan, lantas langsung menoleh ke arah Lina. Entah mengapa Inara malah mendapati jika Lina tengah melamun saat ini, membuatnya lantas menghela napasnya dengan panjang saat itu.


"Sus Lina.... Apa kamu mendengar ku?" ucap Inara yang tentu saja langsung membuyarkan lamunan Lina dengan seketika.


"Eh iya Bu maaf saya tak sengaja melamun barusan..." ucap Lina kemudian yang sedikit tersentak barusan.


"Sebaiknya anda menambahkan garam saja Bu karena itu lebih baik, hindari Kafein selama masa penyembuhan." ucap Lina kemudian sambil tersenyum garing.


"Baiklah..." ucap Inara pada akhirnya.


***


Sementara itu mobil yang di kendarai oleh Fatih terlihat parkir tak jauh dari kediamannya. Fatih sengaja melakukan hal tersebut karena takut jika Tamara sudah berada di Rumah saat ini, setidaknya Fatih menunggu sampai Agam lebih sadar terlebih dahulu. Barulah setelah itu dia akan mengantar Agam pulang.


Siang berganti sore dan sore berganti malam, namun Agam belum juga bangun dari tidurnya saat itu. Sampai kemudian tepat ketika malam hari Agam nampak bergerak dan mulai bangun dari tidurnya.


Diusapnya area tengkuknya dengan pelan dan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Agam nampak mengernyit dengan tatapan yang bingung, ketika mendapati jika dirinya tertidur di mobil saat ini.


"Mengapa aku tidur di sini? Bukankah tadi kita di Royal king? Jam berapa ini?" ucap Agam yang lantas membuat Fatih langsung menoleh ke arah belakang dengan seketika.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya Pak, anda tadi mabuk dan saya benar-benar tidak berani membawa anda pulang ke Rumah." ucap Fatih dengan raut wajah yang merasa bersalah.


Agam menghela napasnya dengan panjang, ia jelas tahu apa yang dimaksud Fatih barusan. Membuat Agam tak lagi mengatakan apapun ketika mendengar perkataan Fatih barusan.


"Emm lalu sekarang bagaimana Pak?" tanya Fatih dengan ragu-ragu.


"Kita kembali ke kantor dulu dan ganti baju, aku tidak mau Tamara melihat dan mencium aroma tubuh ku seperti ini." ucap Agam yang lantas membuat Fatih mengangguk dengan seketika.


"Baik Pak..." ucap Fatih sebelum pada akhirnya mengemudikan mobilnya kembali ke kantor seperti perintah dari Agam barusan.


***


Apartment Alvaro tepatnya tengah malam, Lina yang sudah memastikan jika semuanya tidur saat itu, terlihat mulai berjalan dengan perlahan hendak keluar dari area Apartment Alvaro.


Sebuah deringan ponsel miliknya lantas terdengar menggema di ruangan tersebut, membuat Lina terkejut karenanya. Sambil berdecak dengan kesal Lina kemudian mulai menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya, ketika mendapati nama Karan tertera pada layar ponsel miliknya.


"Halo kemana saja kamu?" tanya sebuah suara dari seberang sana.


"Diam lah dan jangan terus menelpon ku, ini bahkan sudah tengah malam.. Bagaimana jika mereka bangun ketika mendengar nada dering ponsel ku?" ucap Lina dengan nada yang berbisik saat itu.


"Bukankah kau bisa membuat ponsel mu mode diam? Mengapa kau bodoh sekali?" ucap Karan dengan nada yang tak kala kesal.


"Pria ini benar-benar menyebalkan!" ucap Lina dalam hati sambil terus membawa langkah kakinya keluar dari Apartment Alvaro saat itu.


"Hei apa kau mendengar ku?" ucap Karan ketika tak mendapati suara Lina di seberang sana.


"Iya iya tunggulah sebentar di bawah, aku akan ke sana..." ucap Lina kembali sambil menutup pintu Apartment perlahan.


Bruk....


Tepat setelah suara pintu tertutup saat itu, tanpa Lina sadari seseorang tengah memperhatikannya sedari tadi.


"Mau kemana suster Lina malam-malam begini?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2