Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Menyusahkan saja


__ADS_3

"Tidak mungkin...." ucap Karan yang seakan tak percaya begitu saja perkataan dari Alvaro barusan.


"Apanya yang tidak mungkin? Kau kira aku berbicara bohong tentang ini? Jika memang kamu ingin bukti aku bisa membuktikannya!" ucap Alvaro sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman kamera pengawasan pada saat kejadian.


Alvaro memang sengaja menyiapkan rekaman kamera pengawas tersebut, setidaknya ia hanya ingin membuka mata Karan agar tidak terus menyudutkannya dan juga Inara. Alvaro memang marah tapi akal dan hatinya masih berfungsi dengan baik.


Memukul dan juga menendang Karan hanyalah sebuah pelampiasan, jika ia sudah puas tentu Alvaro akan melepaskannya. Lagi pula Inara dan juga anaknya selamat dari maut, jadi tidak ada lagi rasa syukur yang lebih besar dari keselamatan keduanya.


Manik mata Karan nampak membulat dengan seketika, semua perkataan yang keluar dari mulut Alvaro adalah kenyataannya. Kini tidak ada lagi yang bisa Karan elak selain hanya sebuah kenyataan yang terkuak di balik kematian Arin adiknya.


"Apa yang telah ku lakukan sebenarnya?" ucap Karan dengan nada yang lirih.


Mendapati hal tersebut Alvaro nampak tersenyum dengan tipis dan bangkit dari tempatnya berada.


"Aku mengampuni mu kali ini, aku harap jangan pernah mendekati keluarga ku lagi atau aku akan benar-benar membunuh mu!" ucap Alvaro dengan nada penuh penekanan.


"Al apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa kau melepaskannya begitu saja?" ucap Chris yang tidak mengerti akan tingkah Alvaro saat ini.


"Aku tidak ingin membahas hal ini Chris, aku..." ucap Alvaro namun terhenti ketika sebuah suara yang berasal dari Karan menghentikan pembicaraan keduanya saat itu.


"Mengapa kau memberitahu ku semua ini? Sejak kecil kami berdua hidup dalam keterpurukan, ayah kami tega berselingkuh secara terang-terang yang lantas membuat Ibu kami bunuh diri karena merasa terpuruk dengan kondisinya. Jika tahu seperti ini, bukankah aku gagal sebagai seorang Kakak? Lalu untuk apa kau memberi ku sebuah kesempatan untuk hidup? Arin sudah pergi meninggalkan ku dan Lina telah pergi karena keegoisan ku! Apa menurut mu b4j1ng4n seperti ku masih cocok untuk hidup bahagia? Tentu saja jawabannya tidak!" pekik Karan dengan nada yang sekuat tenaga.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut, tangan kanan Karan yang entah mendapat pisau dari mana. Mendadak langsung mengarahkan pisau tersebut ke arah lehernya dengan cepat.


Beberapa darah mulai bermuncratan akibat dari sabetan yang dilakukan oleh Karan sendiri. Sampai pada akhirnya tubuh itu jatuh dan mengalami kejang, sebelum pada akhirnya tidak lagi bergerak dengan posisi manik mata melotot ke arah atas.


"Sialan!" ucap Alvaro sambil membawa langkah kakinya dengan lebar menuju ke arah dimana Karan berada.

__ADS_1


Melihat darah terus keluar dari area leher Karan saat itu, membuat Alvaro berusaha menutupnya agar tidak terus keluar.


"Chris bantu aku sekarang! Kenapa kau hanya diam saja ha?" pekik Alvaro yang tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


"Dia sudah meninggal Al.. Biarkan saja dia..." ucap Chris dengan nada yang santai, namun berhasil membuat manik mata Alvaro membulat dengan seketika.


"Bagaimana bisa kau berkata se enteng itu? Dia juga manusia.. Tidakkah kau harusnya berempati sedikit saja? Lagi pula..." ucap Alvaro hendak memarahi Chris saat itu, namun terhenti ketika sebuah deringan ponsel miliknya terdengar menggema di sana.


Alvaro yang terlanjur kesal lantas langsung mengangkat begitu saja panggilan ponsel tersebut tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Al kamu harus segera kembali ke Rumah sakit sekarang, ada beberapa masalah yang terjadi selama kamu pergi!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Alvaro mengernyit ketika mendengarnya.


"Kikan? Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Alvaro dengan raut wajah penasaran, begitu pula Chris yang saat itu tanpa sengaja mendengar pembicaraan Alvaro.


"Pergilah Al.. Aku akan mengurus ini semua." timpal Chris kemudian yang lantas membuat Alvaro menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Apa kau yakin?" tanya Alvaro sekali lagi yang lantas dibalas anggukan kepala oleh Chris saat itu.


Pantas saja perasaannya sudah tidak enak sedari tadi, rupanya memang sesuatu hal tengah terjadi pada Inara tanpa sepengetahuannya.


"Aku akan segera datang, tolong jaga Inara dan Ibu hingga aku sampai di sana." ucap Alvaro kemudian sebelum mengakhiri panggilan telponnya.


**


Setelah kepergian Alvaro dari sana, Chris terlihat menghembuskan napasnya dengan kasar. Ditatapnya jenazah Karan yang sudah terbujur membiru dan bergelimangan darah itu, kemudian mengkode beberapa anak buahnya agar mulai bergerak dan membereskan kekacauan ini.


"Benar-benar menyusahkan, lagi pula apa yang sebenarnya sedang diperbuat oleh Pria ini? Jika memang dia ingin mati, bukankah seharusnya dia langsung mati saja? Mengapa masih merecoki orang lain?" ucap Chris dengan mendengus kesal menatap ke arah Karan saat itu.

__ADS_1


Beberapa anak buahnya nampak mulai bergerak dan membereskan kekacau ini. Salah seorang dari mereka nampak mendekat ke arah Chris saat itu, membuat Chris lantas menatap dengan raut wajah yang mengernyit saat itu.


"Apa ada yang anda inginkan dari jasad ini?" tanya seseorang tersebut, membuat Chris langsung tersenyum dengan tipis.


"Tidak ada, aku bahkan sudah malas melihatnya. Sebaiknya kau kasihkan saja jasadnya pada Roki.. Aku yakin buaya kecil peliharaan ku itu pasti juga butuh suplemen tambahan." ucap Chris dengan nada yang begitu santai, namun berhasil membuat anak buahnya menelan saliva dengan kasar begitu mendengar perkataan Chris barusan.


"Baik Tuan..." ucapnya mencari aman.


"Pastikan agar tidak ada seorang pun yang bisa menemukan jasadnya, atau tubuh kalian yang akan aku cincang dan jadi santapan Roki!" ucap Chris sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut dan menyerahkan segalanya pada kaki tangannya.


***


Rumah sakit


Setelah memarkirkan mobilnya, Alvaro nampak melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah ruangan ICU. Pikirannya saat ini benar-benar tak karuan, entah apa yang membuat Tamara mendadak menyerang Inara seperti itu, membuat raut wajah Alvaro benar-benar terlihat tidak enak di pandang saat ini.


"Al kamu dari mana saja? Ibu benar-benar bingung harus berbuat apa tadi." ucap Ratih begitu melihat Alvaro datang dan mendekat ke arahnya.


"Saya benar-benar minta maaf Bu, ada urusan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu tadi." ucap Alvaro namun sambil terus melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam ruangan ICU saat itu.


"Tapi Al... Inara... Alvaro..." ucap Ratih ketika mendapati menantunya hanya berjalan melewatinya begitu saja.


**


Ruangan dalam ICU


Alvaro yang baru saja masuk dengan tergesa-gesah, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika begitu tak melihat siapapun ada di sana.

__ADS_1


"Kemana Inara?"


Bersambung


__ADS_2