Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Perusak rumah tangga orang


__ADS_3

"Aku..." ucap Inara yang menggantung.


Disaat pembicaraan di antara keduanya. Sedang berlangsung saat itu, entah datang dari mana Alvaro mendadak sudah berada di dekat Inara dan langsung memeluknya dengan erat saat itu.


Bruk...


Raut wajah kebingungan terlihat dengan jelas yang berasal dari wajah Inara maupun juga Chris di sana. Sayangnya Alvaro sama sekali tidak perduli, malah makin mempererat pelukannya saat itu dan mendaratkan dagunya pada pundak Inara.


"Mas... Apa yang terjadi?" ucap Inara yang penasaran akan sikap Alvaro saat ini.


Alvaro yang mendapat pertanyaan tersebut hanya bisa terdiam tanpa menjawabnya. Sedangkan Chris yang seakan sadar jika posisinya saat ini terasa begitu aneh, lantas memilih untuk melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana. Sepertinya sepasang suami-istri tersebut membutuhkan waktu dan juga ruang untuk berbicara, sehingga Chris yang notabennya hanya orang luar, bukankah ia seharusnya memang pergi dari sana?


"Papa apa yang terjadi dengan paman itu? Mengapa dia memeluk Kakak pohon?" ucap Alika yang seakan penasaran akan tingkah Alvaro saat itu.


"Dia adalah suami dari Kakak pohon, mungkin ia sedang ada masalah saat ini dan butuh teman cerita. Jadi sebaiknya kita yang pergi dan memberikan ruang kepada mereka berdua." ucap Chris sambil mengusap lembut puncak kepala Alika dan terus membawa langkah kakinya berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Mendengar kata 'suami' keluar dari mulut Chris saat itu, lantas membuat Alika menatap sendu ke arah Alvaro dan juga Inara saat ini. Meski Alika tidak paham akan arti kata 'suami' yang sesungguhnya. Namun yang ia tangkap dari kata-kata tersebut adalah bahwa harapannya untuk menjadikan Inara pendamping Chris harus gagal karena Alvaro.


Alika yang merasa sedih akan hal tersebut, lantas langsung mengalungkan kedua tangannya ke area leher Chris saat itu dan membenamkan kepalanya pada pundak Chris. Membuat Chris yang mendapati hal tersebut, lantas hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepala Alika secara perlahan. Sepertinya Chris tahu jika saat ini Alika tengah kecewa akan hal yang baru saja ia katakan.


**


Taman


Setelah berhasil memperbaiki perasaannya saat itu, Alvaro perlahan-lahan terlihat mulai melepas pelukannya dan mengambil duduk dengan helaan napas kasar berhembus dari mulutnya saat itu. Inara yang sama sekali tidak mengerti akan segala tingkah laku Alvaro saat ini, lantas mulai menatapnya dengan tatapan yang bingung sambil mengambil duduk tepat di sebelah Alvaro saat itu.


"Apa yang terjadi sebenarnya Mas? Jangan hanya diam dan membuat ku semakin penasaran seperti ini." ucap Inara dengan raut wajah yang penuh ke khawatiran, membuat Alvaro yang mendengar hal tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Inara langsung mengernyit dengan tatapan yang terkejut. Entah apa yang harus ia katakan saat ini, Inara bahkan bingung untuk menanggapinya. Haruskah ia sedih atau bahkan senang? Ketika mendengar kata perpisahan keluar dari mulut Alvaro saat itu.


"Mengapa rasanya aku begitu aneh? Bukankah seharusnya di saat-saat seperti ini aku merasakan kebahagiaan? Karena pada akhirnya Alvaro hanya menjadi milikku satu-satunya, namun mengapa hati kecilku mengatakan sesuatu hal yang berbeda?" ucap Inara dalam hati sambil menatap kosong ke arah Alvaro saat itu.

__ADS_1


Alvaro yang tidak mendapat jawaban dari Inara setelah perkataannya barusan, tentu saja dengan spontan menatap ke arah Inara. Tatapan kosong Inara disertai raut wajah yang terkejut, benar-benar terlihat jelas di sana. Membuat Alvaro lantas dengan spontan mengusap puncak kepala Inara secara perlahan, yang tentu saja langsung membuyarkan lamunan Inara dengan seketika.


"Jangan menatapku seperti itu, ini bukanlah kesalahanmu. Semua hal yang terjadi di antara aku dan juga Kikan adalah murni karena sebuah kesalahpahaman yang terjadi diantara kami sejak dahulu." ucap Alvaro seakan berusaha untuk menenangkan Inara saat itu.


"tapi mas, bagaimanapun juga pertengkaran hebat yang selalu terjadi di antara kalian berdua. Nyatanya ada dan juga hadir setelah kedatanganku, bagaimana aku tidak berpikir yang tidak tidak? Lagi pula bukankah seharusnya aku yang pergi Mas? Kenapa kamu malah menceraikan mbak Kikan?" ucap Inara yang seakan tidak mengerti akan keputusan yang di ambil oleh Alvaro saat itu.


"Aku tahu akan hal tersebut, tapi nyatanya aku tetap merasa jika keputusan yang saat ini aku ambil adalah yang paling tepat. Kikan yang dulu dan juga Kikan yang sekarang benar-benar telah berbeda, aku bakan merasa telah ditipu olehnya selama bertahun-tahun. Semua kesalahan seakan mulai terbuka jalannya ketika kedatangan mu Ra, aku benar-benar merasa telah di bukakan pintu hatiku melalui kedatanganmu. Aku harap kamu juga merasakan hal tersebut dan tidak terus memikirkan hal yang tidak penting. Mari kita fokus saja pada bayi kita, lihatlah perut mu sekarang bahkan sudah mulai mengembang. Apakah dia tumbuh baik di dalam sana?" ucap Alvaro sambil mengusap perut Inara saat itu.


"Ya tentu saja, aku bahkan melakukan yang terbaik selama dia berada di dalam kandunganku. Kamu tidak perlu khawatirkan akan hal tersebut Mas." ucap Inara sambil mencoba untuk tersenyum walau hal tersebut terasa begitu sulit untuknya.


Meski Alvaro mengatakannya seribu kali pun, rasanya Inara benar-benar tetap merasa menjadi seorang pelakor di antara hubungan keduanya. Hubungan yang semula begitu hangat dan juga lembut, mendadak berubah menjadi panas dan berakhir dengan kata perpisahan. Hal tersebut bahkan benar-benar membuat Inara merasa bersalah karenanya. Bukankah harusnya ia tidak pernah hadir di dalam kehidupan keduanya.


Gurat wajah yang penuh dengan kesedihan terlihat jelas pada mimik wajah Alvaro saat itu, namun sebisa mungkin ia berusaha untuk menutupinya. Membuat Inara yang seakan sadar akan hal tersebut lantas, hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.


Entah mengapa melihat wajah sendu Alvaro benar-benar menyakiti hatinya, Inara sama sekali tidak menginginkan hal ini. Ia hanya ingin hidup dengan tenang, Inara bahkan sudah bersiap untuk menyerahkan putrinya kepada Kikan. Jika memang ia harus segera pergi dari kehidupan Alvaro maupun Kikan saat ini.

__ADS_1


"Meski kamu terus mengatakan tidak, tapi aku jelas tahu perasaan mu saat ini Mas. Kamu pikir aku bahagia mendengar kata perceraian keluar dari mulut mu? Tentu saja tidak, aku juga seorang wanita dan aku yakin jika saat ini mbak Kikan pasti tengah hancur hatinya. Mengapa semuanya jadi begini? Sebuah insiden gang tanpa sengaja terjadi di desa malah membawa ku menjadi perusak rumah tangga seseorang. Bagaimana semuanya bisa memburuk hingga seperti ini?" ucap Inara dalam hati sambil menatap ke arah Alvaro yang terlihat menatap kosong ke arah depan.


Bersambung


__ADS_2