
Setelah menyelesaikan segala prosesi pernikahan dadakan itu sesuai dengan anjuran Mawar, setelah menikah Inara harus segera meninggalkan tempat ini. Inara nampak memeluk tubuh Ratih dengan erat, ini adalah pertama kalinya Inara berpisah dengan Ratih membuat Inara lantas berlinang air mata karena harus pergi jauh dari Ibunya dalam waktu yang lama. Entah apa yang akan terjadi kepada Inara nantinya, namun Inara sungguh tidak ingin berpisah dari Ibunya saat ini.
"Hati-hati ya nak, jaga dirimu baik-baik jangan lupa hubungi Ibu ketika sampai nanti." ucap Ratih sambil mengusap rambut Inara dengan lembut.
"Apa Ibu yakin tidak mau ikut dengan Inara di kota?" tanya Inara kemudian namun Ratih langsung menggeleng.
"Tidak nak, kampung halaman Ibu di sini jadi Ibu akan tetap tinggal di sini." ucap Ratih dengan nada yang lembut setelah itu melangkahkan kakinya me dekat ke arah Alvaro.
Alvaro mencium punggung tangan Ratih cukup lama hingga membuat Ratih mengusap kepala Alvaro beberapa kali.
"Ibu titip Inara ya... Ibu percaya kepadamu, entah feeling apa yang memenuhi hati Ibu hingga Ibu begitu menaruh kepercayaan kepadamu. Jaga Inara untuk Ibu, Ibu yakin kamu adalah Pria yang baik meski kita baru pertama kali bertemu." ucap Ratih yang lantas membuat Alvaro tersenyum tulus kepadanya.
"Terima kasih banyak karena sudah percaya kepada saya Bu, Ibu tak perlu khawatir Inara aman bersama dengan saya." ucap Alvaro kemudian sambil tersenyum tulus membuat hati Ratih melega begitu mendengarnya dari Alvaro. "Kami pamit dulu ya Bu, jaga kesehatan Ibu." ucap Alvaro lagi yang lantas di balas anggukan kepala oleh Ratih.
Setelah mengatakan hal tersebut Alvaro nampak membawa dua tas tenteng milik Inara kemudian mulai melangkahkan kakinya, di ikuti dengan Inara yang bejalan di sebelahnya sedari tadi. Detik itu juga keduanya pergi dari desa itu, tujuan Alvaro untuk meneliti sebuah tanaman nyatanya malah berakhir dengan tragedi yang fatal. Alvaro tidak tahu apakah ia harus senang atau bahkan sedih, ketika ia menikahi Inara saat itu.
"Semoga apa yang aku lakukan bukanlah sebuah kesalahan, aku harap Kikan dapat mengerti akan hal itu." ucap Alvaro dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya menjauh dari desa tersebut menuju ke bibir pantai untuk menumpangi salah satu kapal dengan muatan besar menuju ke kota.
***
__ADS_1
Area bibir pantai
Keheningan nampak terjadi di antara keduanya ketika mereka tengah menanti datangnya kapal besar menuju ke pulau seberang. Diliriknya sekilas Inara yang saat ini tengah menatap kosong ke arah deburan ombak pantai itu, yang terlihat begitu jernih ketika terkena sinar matahari siang hari.
"Aku minta maaf seharusnya aku tidak melakukan hal itu kepadamu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa kita berakhir seperti ini? Namun jujur aku tidak pernah melakukan hal itu kepadamu." ucap Alvaro menjelaskan karena jujur ia takut Inara salah paham terhadapnya.
Inara yang mendengar penjelasan Alvaro barusan, lantas menoleh dan menatap ke arah manik mata Pria tersebut.
"Aku tidak tahu apakah ini sudah takdir kita atau terjadi karena campur tangan seseorang, tapi yang jelas aku yakin jika kamu tidak akan melakukan hal itu kepada ku mas. Lagi pula semuanya juga sudah terjadi sekarang, harusnya yang minta maaf itu aku bukan kamu. Oh ya jika nanti kita sampai di kota, mas bisa pergi dan kembali ke kehidupan mas yang normal. Tidak perlu bertanggung jawab kepada ku karena memang kamu tidak melakukan apa-apa terhadap ku. Jadi kamu bebas dari tanggung jawab besar yang tak seharusnya kamu pikul, apalagi mengingat kita berdua baru saja bertemu." ucap Inara dengan senyuman yang tipis menatap ke arah Alvaro.
Entah mengapa Alvaro merasa senyuman itu seperti mengandung kegetiran jika di lihat semakin dalam. Alvaro tidak mengerti bagaimana jalan pikiran gadis di depannya ini, sehingga ia malah mengatakan hal tersebut alih-alih memanfaatkan dirinya. Lagi pula bukankah keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami isteri?
"Tapi kemana kamu akan pergi?" tanya Alvaro kemudian yang lantas membuat Inara kembali tersenyum.
"Tapi kita kan sudah..." ucap Alvaro namun terhenti seketika disaat ia mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya.
"Apakah anda kemari untuk menjemput saya Pak?" ucap sebuah suara yang langsung membuat Alvaro dan juga Inara menoleh ke arah sumber suara.
Alvaro yang melihat kedatangan Abi tentu saja langsung menghela napasnya dengan panjang. Selalu saja Abi datang di saat semua masalah sudah selesai, bukankah hal itu sedikit menyebalkan? Alvaro yang melihat Abi melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alvaro berada, lantas membuatnya melambaikan tangan ke arah Abi agar mempercepat langkah kakinya.
__ADS_1
"Ada Pak?" tanya Abi kembali.
"Carikan kapal yang bisa muat tiga orang menuju ke pulau seberang, kita pulang saat ini juga!" ucap Alvaro yang tentu saja langsung mengejutkan Abi yang baru saja tiba di pulau tersebut.
"Bukankah kita akan mengadakan riset hingga seminggu ke depan Pak? Lagi pula saya baru tiba di pulau ini, apakah kita sungguh-sungguh akan pulang sekarang?" ucap Abi yang seakan memprotes perintah dari Alvaro barusan.
"Lakukan saja dan jangan banyak protes, semakin cepat kita pulang mungkin itu akan lebih baik." ucap Alvaro lagi yang lantas membuat Abi langsung menghela napasnya dengan panjang.
Pada akhirnya Abi hanya bisa menuruti perintah dari Alvaro yang mengatakan untuk segera pulang tanpa bisa memprotesnya sedikitpun walaupun ia baru sampai di pulau tersebut.
***
Pesisir pantai
Setelah menumpang kapal selama beberapa menit, kapal yang di tumpangi oleh ketiganya terlihat mendarat di pesisir pantai. Alvaro terlihat turun dari kapal kemudian di susul Inara yang di bantu turun oleh Alvaro dengan perlahan. Ada sebuah tanda tanya besar dalam diri Abi sebenarnya sejak Alvaro memutuskan pulang secara mendadak dan juga ketika ia melihat sosok wanita cantik di sebelahnya yang terlihat dengan tatapan yang murung.
Setelah menurunkan semua barang-barangnya, Abi terlihat mulai melangkahkan kakinya sambil membawa barang-barang tersebut mengikuti dua orang yang sedari tadi sibuk dalam keheningan. Sampai kemudian ketika Inara menghentikan langkah kakinya, Alvaro dan juga Abi lantas terlihat ikut berhenti dengan seketika.
"Ini saatnya untuk aku pergi, terima kasih banyak atas pertolongannya mas.. Mulai hari ini saya pastikan saya tidak akan pernah mengganggu kamu." ucap Inara sambil mengambil dua tas tenteng yang sedari tadi di bawa oleh Abi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!"
Bersambung