
Setelah Inara berlalu pergi dari area Resto sebuah deringan ponsel milik Kikan lantas langsung membuyarkan segala lamunan Kikan dengan seketika. Kikan yang melihat nama Alvaro tertera dengan jelas di layar ponselnya, tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan bertanya-tanya ada apa Alvaro meneleponnya saat ini.
Kikan yang melihat Alvaro tengah meneleponnya, lantas meminta izin kepada teman-temannya untuk melipir sebentar ke arah sebelah hendak mengangkat panggilan telepon tersebut
"Halo..." ucap Kikan kemudian setelah menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Kamu di mana?" tanya Alvaro secara langsung tanpa basa-basi sedikitpun, membuat Kikan langsung mengernyit ketika mendengar pertanyaan dari Alvaro barusan.
"Pergi arisan lah Al! Mengapa pertanyaan mu aneh sekali?" ucap Kikan dengan raut wajah yang bingung.
"Aku tahu akan hal itu tapi yang aku tanyakan, mengapa kamu malah mengajak Inara pergi bersama denganmu? Bukankah kau tahu sendiri kondisi Inara saat ini bagaimana? Seharusnya kamu biarkan dia banyak istirahat di rumah bukan malah mengajaknya pergi seperti ini!" ucap Alvaro dengan nada yang kesal membuat Kikan langsung memutar bola matanya dengan jengah begitu mendengar perkataan dari Alvaro barusan.
"Ayolah Al, ini hanya sebuah acara arisan bukan medan perang. Mengapa kamu sangat berlebihan sekali?" ucap Kikan dengan nada yang terdengar begitu santai.
"Berbicara dengan mu selalu saja seperti ini, kirim saja alamat mu saat ini aku akan datang ke sana dan menjemput Inara!" ucap Alvaro kemudian yang tentu saja membuat bola mata Kikan langsung membulat dengan seketika.
"Apa kamu gila? Semua teman-teman ku sedang berada di sini, apa yang akan aku katakan jika tiba-tiba kamu datang dan menjemput Inara kemari?" ucap Kikan dengan nada yang terkejut.
"Aku tidak ada urusannya dengan itu, katakan saja ia madu mu. Bukankah hal ini adalah keinginan mu sendiri? Lalu mengapa kamu malah bertanya kepada ku?" ucap Alvaro dengan nada yang terdengar ketus saat itu, membuat Kikan langsung memasang raut wajah yang cemberut ketika mendengar perkataannya.
"Tapi Al..." ucap Kikan namun terhenti ketika sebuah suara panggilan yang terputus di seberang sana, lantas langsung menghentikan segala perkataannya saat itu juga.
Mendengar panggilan telepon yang di putus begitu saja oleh Alvaro, lantas membuat Kikan langsung berdecak dengan kesal. Kikan mengarahkan rambutnya ke arah belakang dengan cepat sambil menghela napasnya kasar. Entah apa yang sedang ada di pikiran Alvaro saat ini hingga mendadak ia ingin menjemput Inara begitu saja tanpa memikirkan sama sekali perasaannya saat ini.
__ADS_1
Jika sampai Alvaro datang dan benar-benar menjemput Inara, entah apa yang akan dipikirkan oleh teman-temannya yang jelas ia pasti akan menjadi bahan gosipan hingga waktu yang cukup lama. Mengingat teman-teman arisannya begitu cepat menyebar berita baik itu hoax maupun kenyataan.
"Sial! Apa yang harus aku katakan kepada mereka semua? Lagi pula tumben sekali Alvaro menelpon? Biasa juga tidak pernah ia seperti ini, sialan jika sampai Inara mengadu habislah aku!" ucap Kikan dengan perasaan yang mulai khawatir akan apa yang terjadi selanjutnya.
**
Supermarket
Sesuai dengan daftar belanjaan yang tertera pada kertas yang diberikan oleh teman Kikan tadi, Inara mulai mengambil satu persatu barang dan menaruhnya di troli belanjaan. Inara tidak menyangka jika belanjaan yang dipesan teman Kikan begitu banyak hingga membuat Inara mulai kesal karenanya. Inara menghela napasnya dengan panjang kemudian menarik napasnya dalam-dalam mencoba untuk menenangkan dirinya saat ini.
Ia benar-benar tidak boleh dalam keadaan stres di kondisi yang seperti ini. Inara bahkan sama sekali tidak ingin membuat bayinya berada dalam bahaya lagi atau Alvaro akan benar-benar memarahinya nanti.
"Tenang Inara.. Sabar... Tinggal beberapa barang lagi kemudian semuanya akan beres." ucap Inara pada diri sendiri.
Inara menyandarkan tubuhnya sejenak pada area dinding supermarket tersebut berusaha untuk menghilangkan rasa lelah dan juga letih nya saat ini. Ditarik napasnya dalam-dalam kemudian dihembuskannya secara perlahan sambil mengusap area perutnya dengan pelan Inara mulai berbicara dengan bayinya.
"Sabar ya nak.. Sedikit lagi Ibu akan menyelesaikannya, jangan rewel ya? Setelah itu Ibu janji kita akan pulang..." ucap Inara sambil tersenyum dengan simpul menatap ke arah perutnya yang saat ini mulai terasa sudah membuncit sedikit.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Satu jam lebih Inara berada di area Supermarket, pada akhirnya saat ini ia terlihat mulai membawa langkah kakinya keluar dari area supermarket dengan membawa dua kantong kresek besar belanjaan dari teman Kikan.
Sambil mulai membuka pintu kaca Supermarket dengan sedikit kesulitan, Inara mulai berjalan keluar dari area Supermarket. Inara yang merasa kelelahan lantas mengambil duduk sebentar pada kursi panjang yang terletak di area depan Supermarket sambil sesekali mengipas-kipaskan ke area lehernya yang terasa begitu gerah.
"Mengapa cuaca hari ini panas sekali?" ucap Inara pada diri sendiri sambil terus mengipas dirinya yang tengah kegerahan saat ini.
Sampai kemudian di saat Inara tengah duduk dan bersantai sebentar di area kursi tepat di depan Supermarket. Sebuah mobil yang tak asing di ingatannya lantas langsung berhenti tepat di area tak jauh dari posisinya berada saat ini, melihat hal tersebut membuat Inara langsung menelan salivanya dengan kasar ketika ia begitu mengenali pemilik dari mobil tersebut.
"Bukankah itu adalah mobil milik Alvaro? Bagaimana bisa Alvaro ada di sini?" ucap Inara dalam hati sambil terus melihat ke arah mobil tersebut.
**
Area dalam Resto
Dari arah pintu masuk terlihat Alvaro saat ini tengah menggandeng tangan Inara dengan erat, sedangkan tangan satunya membawa dua kantong kresek besar yang sedari tadi dibawa oleh Inara. Inara yang takut akan terjadi sesuatu hal besar saat ini, lantas hanya bisa menunduk sambil mengikuti kemana arah langkah kaki Alvaro pergi membawanya. Alvaro benar-benar begitu marah ketika melihat Inara yang malah disuruh untuk berbelanja dan membawa barang-barang berat, padahal saat ini kondisi Inara sedang hamil muda. Tidakkah Kikan sedikit mempunyai perasaan terhadap Inara?
Ketika Alvaro sampai di meja dimana arisan tersebut terjadi, dengan gerakan yang kasar Alvaro langsung meletakkan dua kantong kresek tersebut tepat di atas meja mereka semua.
"Apa-apaan ini?" pekik Ambar yang terkejut akan hal tersebut.
__ADS_1
Bersambung