
"Dia bukan pembantu, Inara adalah istri sah saya!" ucap Alvaro dengan nada yang tegas.
"Apa?" pekik Arin yang terkejut begitu mendengar perkataan Alvaro barusan.
Sepertinya tidak hanya Arin yang terkejut di sana, bahkan semua orang juga terlihat begitu terkejut di saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Alvaro saat itu.
"Saya...saya..." ucap Arin namun tercekat, lidahnya mendadak keluh begitu mendengar jika Inara adalah istri sah dari bosnya.
"Arin mulai hari ini kamu bukan lagi karyawan di perusahaan ini, terima kasih atas kerja kerasmu selama ini yang aku yakin tidak di perlukan oleh ku. Untuk masalah pesangon tak perlu khawatir karena aku akan tetap memberikannya kepadamu." ucap Alvaro pada akhirnya ketika tak kunjung mendengar kata maaf dari mulut Arin saat itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Alvaro kemudian menggandeng tangan Inara dan membawanya berlalu pergi dari kerumunan itu. Namun Arin yang mendengar jika ia telah di pecat hari ini, tentu saja tidak terima dan langsung berlarian mencoba untuk memohon kepada Alvaro ataupun Inara.
Dipegangnya tangan Inara yang hendak berlalu pergi bersama dengan Alvaro saat itu, membuat langkah kaki keduanya lantas terhenti dengan seketika.
"Saya benar-benar minta maaf Bu.. Pak... Saya mohon jangan pecat saya.. Saya masih punya beberapa tanggungan yang belum saya lunasi.. Saya mohon..." ucap Arin sambil memegang tangan Inara dengan erat membuat rasa iba mendadak muncul ketika mendengar permohonan Arin barusan.
"Mas..." panggil Inara lirih berniat hendak membujuk Alvaro, namun sayangnya Alvaro lebih dulu memotong perkataannya.
"Jangan sekarang Al, dia bahkan sudah hampir mencelakakan bayi ku dan juga kamu, bagaimana bisa aku memaafkannya? Tutup saja telinga mu dan tetap jalan seperti biasa." ucap Alvaro lagi dengan nada yang sama sekali tidak ingin dibantah.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Arin semakin ketar-ketir. Ia bahkan seperti langsung mendapat dua pukulan sekaligus ketika mendengar perkataan Alvaro yang mengatakan jika Inara sedang hamil saat ini.
"Hamil? Mati aku! Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan hidup ku?" ucap Arin dalam hati sambil tanpa sadar mencengkeram tangan Inara dengan keras.
"Saya mohon Bu... Maafkan lah saya..." ucap Arin lagi yang semakin memelas berharap Inara dapat luluh karena hal itu.
__ADS_1
"Security... Bawa Arin keluar dari perusahaan ini, aku sudah tidak lagi ingin melihat wajahnya ada di sini!" pekik Alvaro yang lantas membuat beberapa orang keamanan mulai mendekat ke arahnya.
Beberapa tim keamanan yang mendengar perintah dari Alvaro barusan, lantas mulai bergerak dan langsung menyeret Arin untuk keluar dari sana. Meski cukup butuh usaha karena Arin yang terlalu banyak perlawanan tanpa mau bekerja sama, pada akhirnya Arin bersedia juga untuk keluar dan tidak menimbulkan keributan di sana.
"Apa yang kalian lihat? Ayo bubar dan kembali ke tempat kalian masing-masing!" pekik Abi yang lantas membuyarkan beberapa karyawan yang sedari tadi berkumpul dan mengerubungi mereka.
**
Lift
Suasana hening terjadi diantara keduanya, baik Inara maupun Alvaro tidak ada satupun dari mereka yang mulai membuka mulut. Inara melirik ke arah gandengan tangan Alvaro yang tidak lepas sedikit pun menggenggam tangannya, membuat sebuah perasaan tak pantas lantas mendadak hinggap di benak Inara dengan tiba-tiba.
"Penampilan ku memang seperti pembantu, meski mas Alvaro membelikan ku pakaian yang bermerk sekalipun bentukan ku tetaplah begini dan tidak bisa di rubah sama sekali. Aku benar-benar tidak tertolong!" ucap Inara dalam hati sambil menghela napasnya dengan panjang.
Alvaro yang mendengar helaan napas tersebut lantas melirik sekilas ke arah Inara dengan tatapan yang bertanya.
"Aku minta maaf mas, pasti mas malu sekali ya karena aku?" ucap Inara kemudian sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar hal tersebut membuat Alvaro lantas menarik napasnya dalam-dalam. Diambilnya dagu Inara dengan perlahan ke arah atas agar Alvaro bisa menatap lebih dalam lagi ke arah manik mata milik Inara.
"Apa aku mengatakan hal itu kepadamu?" tanya Alvaro kemudian yang lantas di balas gelengan kepala oleh Inara saat itu.
"Lalu mengapa kamu malah bertanya tentang hal yang tidak perlu? Lagi pula kamu memang bukanlah seorang pembantu, jadi aku rasa kata-kata itu tidaklah pantas untuk mu." ucap Alvaro dengan tutur kata yang lembut.
Perkataan Alvaro selalu bisa meluluhkan hati dan juga pikiran Inara, membuatnya selalu saja terbang melayang ketika mendengar setiap tutur kata lembut yang terucap dalam suara bariton milik Alvaro. Inara seakan terhipnotis oleh perkataan dan juga perhatian yang selalu berhasil menghipnotis dirinya.
__ADS_1
Manik mata Alvaro yang jernih benar-benar menyejukkan hati siapa saja yang melihatnya.
"Aku benar-benar telah jatuh cinta kepada sosok Pria di hadapan ku yaitu Alvaro William Abhivandya." ucap Inara dalam hati sambil terus menatap lurus ke dalam nik mata Alvaro
Ting..
Suara pintu lift yang terbuka dengan lebar lantas langsung membuyarkan pandangan keduanya yang seakan bertaut dalam sepersekian detik. Sampai ketika sebuah suara yang mendadak terdengar, lantas langsung membuat Alvaro dan juga Inara gelagapan ketika mendengarnya.
"Ah maafkan saya Pak! Saya tidak melihat apapun, sungguh!" ucap Ilmi sekertaris Alvaro.
Baik Alvaro maupun Inara langsung membenarkan posisi masing-masing begitu mendengar sebuah suara di telinga mereka.
"Ilmi belikan saya makan siang seperti biasa dan pastikan kamu sendiri yang harus membelinya tanpa perantara!" ucap Alvaro memberikan perintah kepada Ilmi sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan area lift menyisakan Ilmi dengan berbagai tanda tanya di kepalanya.
"Apa yang terjadi dengan pak Alvaro? Atmosfir apa ini? Apakah ini sebuah badai dalam praha rumah tangganya?" ucap Ilmi sambil menatap kepergian keduanya dimana Alvaro yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Inara.
"Ckckck Bos jaman sekarang selalu saja begitu, istri di rumah dan selingkuhan di kantor. Benar-benar kombinasi yang luar biasa untuk mereka para kaum laki-laki!" ucap Ilmi kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana untuk melaksanakan perintah dari Alvaro barusan.
***
Basement
Sementara itu di dalam mobil pribadinya terlihat Arin tengah menatap dengan kesal ke arah depan. Bayangan bagaimana ia di permalukan sekaligus di pecat tanpa hormat, membuatnya semakin kesal dan tidak terima akan segala hal yang di lakukan oleh Alvaro kepadanya.
Arin mengusap raut wajahnya dengan kasar sambil menyibakkan rambutnya ke arah belakang.
__ADS_1
"Aku bahkan baru mengambil kredit mobil ini, uang sekolah Almira dan juga jatah untuk pacar ku.. Bagaimana aku bisa bertahan nantinya tanpa pemasukan sedikit pun? Benar-benar sial! Bagaimana bisa dia mempermainkan ku seperti ini? Lihat saja pelakor apa yang bisa aku lakukan kepadamu!"
Bersambung