Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Sebuah takdir yang tidak bisa di hindari


__ADS_3

"Tidakkah kau mengingat sesuatu tentang Arin?" ucap Lina sambil tersenyum dengan tipis saat itu juga.


"Arin?"


Mendengar nama Arin disebut tentu saja, membuat sebuah bayangan terlintas dibenaknya saat itu. Seorang resepsionis yang memperlakukannya dengan buruk ketika berada di kantor Alvaro, lantas membuat Inara mengernyit saat itu.


"Ada apa? Apa kau mengingat sesuatu?" ucap Lina dengan senyuman tipis, sambil kembali menancap gasnya dan menambah kecepatan.


"Kau telah di bohongi, kejadian sebenarnya tidaklah seperti itu. Bukankah kau cerdas dan juga berpendidikan? Harusnya sebelum melakukan sesuatu kau mestinya mengecek dulu kebenaranya. Kejadian itu bahkan terekam CCTV perusahaan dan juga jalanan. Arin lah yang memulai terlebih dahulu dan mengira jika aku adalah wanita simpanan dari mas Alvaro. Semua bisa dibicarakan baik-baik sus, jika kamu hendak bertanya tentang bagaimana cara Arin meninggal? Aku akan menjawabnya secara sukarela. Asal kamu tahu? Arin meninggal akibat kecelakaan beruntun setelah kejadian kejar-kejaran terjadi di antara Abi dan juga Arin waktu itu. Apa lagi yang mau kamu tanyakan? Aku akan menjawabnya dengan senang hati tapi ku mohon hentikan mobilnya sekarang juga." ucap Inara dengan berteriak sekencang mungkin berharap Lina akan mengerti lewat ceritanya kali ini.


"Jangan coba untuk meracuni pikiran ku! Karan jelas-jelas mengatakan jika adiknya tewas karena mu dan juga Alvaro. Jika aku tidan bisa menghabisi mu maka hubungan ku dan juga Karan akan berakhir." ucap Lina yang seakan tak mau menerima sanggahan apapun juga dari Inara saat itu.


"Cobalah untuk berpikir lebih logis Sus, kau seorang perawat dan jelas tahu keadaan ku saat ini. Aku benar-benar ingin melahirkan anak ini Sus ku mohon... Jika memang kau menginginkan nyawa ku, kau boleh mengambilnya.. Tapi ijinkan aku untuk melahirkan anak ini, ku mohon biarkan anak ini hidup dan tumbuh menjadi dewasa..." ucap Inara yang mulai berlinang air mata.


Entah harus bagaimana lagi Inara meyakinkan Lina bahwa segala tindakannya salah saat ini, namun yang jelas Inara sudah benar-benar kehabisan akal untuk membujuknya saat ini.


Lina terdiam mendengar rengekan Inara yang terus memohon untuk melahirkan bayi di dalam kandungannya, membuat tangannya mengerat. Jiwa medisnya benar-benar meronta mendengar Inara terus menyebut kata tolong secara berulang kali.


Sampai kemudian ingatan tentang bagaimana kisah diantara dirinya dan juga Karan terjalin, benar-benar membuat jantung Lina berdegup dengan kencang.


Entah dipikirkan dari sudut manapun, rasanya Lina merasa jika hanya dirinya yang mencintai dalam satu sisi. Karang tak benar-benar bisa menyayanginya dengan tulus, dia selalu saja lebih memprioritaskan Arin daripada dirinya.


Jujur saja kematian Arin sebenarnya membawa sebuah kebahagiaan untuknya, karena menganggap dengan begitu Karan akan lebih memperhatikannya. Hanya saja sayangnya semua tak seperti ekspetasinya, semua pengorbanan dan perjuangannya kembali sia-sia ketika mengetahui jika Karan begitu terobsesi untuk balas dendam atas kematian Arin.


Lina memejamkan kelopak matanya sebentar kemudian kembali fokus menatap lurus ke arah depan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menghentikan mobil ini karena Karan sudah memasang alat peledak yang otomatis menyala ketika mobil ini menghentikan lajunya. Diantara kita berdua tetap harus ada yang mati, baik itu aku maupun dirimu!" ucap Lina sambil menatap sekilas ke arah dimana Inara berada saat itu.


"Apa? Bagaimana bisa? Mengapa kamu tidak mengatakannya sedari awal?" ucap Inara yang mulai terlihat panik saat itu.


***


Supermarket


Ratih yang ingin memasakkan Inara sesuatu, lantas terlihat memilah beberapa bahan makanan yang tersedia di sana. Ratih yang melihat begitu banyak bahan makanan yang berlimpah dan juga higienis tersusun rapi di rak, membuat Ratih begitu kagum akan hal tersebut.


Sambil memilih bahan makanan kesukaan Inara saat itu, Ratih tampak memasukkan beberapa bahan pokok dan juga buah-buahan segar untuk Inara dan juga yang lainnya.


Disaat Ratih tengah sibuk mengambil beberapa buah segar untuk ia bawa pulang, sebuah suara asing saat itu terdengar menyapa telinganya saat itu. Ratih yang penasaran akan suara tersebut lantas terlihat bangkit dari tempatnya dan menatap ke arah sumber suara.


Ratih terkejut ketika sebuah sosok nampak berdiri dan menatapnya dengan tajam. Entah ini sebuah takdir yang tidak terduga atau memang takdir yang tidak bisa ia hindari. Namun bagaimanapun juga Ratih tetap tak bisa menghindarinya.


Mungkin beberapa tahun belakangan ini Ratih berhasil melakukan hal tersebut, namun kali ini tidak lagi ada alasan baginya untuk menghindar.


"Maaf saya sedang berbelanja, saya kira permasalahan kita sudah selesai beberapa tahun yang lalu." ucap Ratih dengan nada yang mencoba sesopan mungkin saat itu.


Mendengar perkataan Ratih barusan tentu saja langsung membuat manik nata Tamara membulat dengan seketika.


"Sudah selesai katamu? Jika memang sudah selesai, untuk apa kau datang ke Ibu kota? Apa kau ingin kembali merayu suami ku?" ucap Tamara dengan nada menyindir yang tentu saja langsung mengundang pusat perhatian orang-orang di sekitarnya saat itu.


"Tutup mulut anda, saya di sini bukan untuk melakukan sesuatu yang seperti ada dipikiran anda! Bisakah anda untuk tidak berpikir negatif kepada saya?" ucap Ratih yang tidak terima, membuat tangan Tamara langsung mengepal dengan erat begitu mendengar perkataan Ratih barusan.

__ADS_1


***


Sementara itu di sebuah mobil yang dikendarai oleh Chris saat itu, Alvaro yang saat ini sudah berada di mobil milik Chris mulai terlihat memasang raut wajah yang tegang. Pikiran negatif benar-benar tengah berkumpul dan memenuhi isi kepalanya saat ini, membuat Alvaro tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Cobaan apalagi ini? Mengapa seakan semua tidak pernah ada habisnya?" ucap Alvaro dalam hati sambil menatap lurus ke arah depan saat itu.


Keheningan benar-benar terjadi di dalam mobil yang di kendarai oleh Chris, sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Chris saat itu lantas terdengar dan langsung membuyarkan lamunan Alvaro dengan seketika.


"Aku menemukan mobilnya!" pekik Chris dengan raut wajah yang antusias.


"Dimana? Apa kau yakin itu mobilnya?" tanya Alvaro sambil mencoba mencari tahu mobil yang dimaksud oleh Chris barusan.


"Tentu saja, itu bahkan mobil mu kenapa tidak kau saja yang memastikannya! Benar-benar aneh..." ucap Chris sambil memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar pertanyaan bodoh dari Alvaro barusan.


"Baiklah-baiklah, lajukan saja mobil mu dengan benar dan jangan memperdulikan aku!" ucap Alvaro sambil mendengus kesal ketika mendengar perkataan dari Chris barusan.


Chris terus membuntuti laju dari mobil di depannya saat itu, sampai kemudian sebuah pemandangan yang sama sekali tidak keduanya inginkan mendadak terjadi dan mengejutkan Chris begitu juga Alvaro saat itu.


Ckitttttt


Brak.....


Boom...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2