Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Pengirim paket misterius


__ADS_3

"Apa kamu pernah menaruh hati pada mas Alvaro?" ucap Inara dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah punggung Bella saat itu.


Mendapati pertanyaan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan di dalam pikirannya saat itu, membuat Bella lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


Bella nampak menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian perlahan-lahan berbalik badan dan menatap ke arah manik mata Inara dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Jika aku mengatakan ya, lalu apakah semuanya akan berubah Ra? Lagi pula semuanya telah berlalu juga. Bukankah saat ini Alvaro sudah bahagia bersama dengan mu? Lalu apalagi yang harus di buka dari kenangan masa lalu? Sepenggal kisah yang seharusnya telah di lupakan. Aku pergi dulu jangan terlalu banyak bergerak dan beristirahatlah." ucap Bella dengan nada yang terdengar cukup sendu saat itu, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk benar-benar berlalu pergi dari sana meninggalkan Inara dengan segala pemikirannya.


**


Area depan ruangan Inara


Bruk


Suara pintu yang tertutup dengan rapat lantas membuat detak jantung Bella semkin berpacu dengan cepat. Ini adalah pertama kalinya ia mengakui perasaannya pada istri dari seseorang yang pernah ia kagumi selama ini.


Bella nampak bersandar sejenak pada dinding yang berada tepat di sebelah pintu sambil mengusap area dadanya secara perlahan.


"Tenangkan dirimu Bel? Bukankah seharusnya kamu lega telah mengakuinya? Lagi pula kamu tidak mengatakannya secara langsung kepada Alvaro, lalu apa yang membuat begitu gelisah ha?" ucap Bella pada diri sendiri seakan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri saat itu.


Sampai kemudian sebuah suara yang saat itu mendadak terdengar menyapa telinganya, lantas membuat Bella terkejut dengan seketika.


"Apa yang tidak kau katakan kepada ku? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" ucap sebuah suara yang berasal dari Alvaro.


Mendengar hal tersebut, Inara menelan salivanya dengan kasar. Kehadiran Alvaro dengan tiba-tiba tentu saja langsung membuat bibirnya membisu dengan seketika.


"Tidak ada? Memangnya apa yang baru saja kau dengar? Jangan-jangan kau salah dengar kali..." ucap Bella mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Alvaro yang mendengar dengan jelas jawaban tersebut tentu saja mengernyit dengan raut wajah yang bingung. Membuatnya kemudian memilih untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arah Bella dengan tatapan yang menelisik.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku mempunyai gangguan pendengaran? Ayolah Bell... Aku hapal betul dirimu! Katakan saja ada apa dan jangan membuat ku penasaran." ucap Alvaro sambil mengambil posisi bersendekap dada yang seakan tak percaya begitu saja, ketika menangkap gelagat aneh dari Bella saat ini.


Bella yang mendengar perkataan dari Alvaro barusan tentu saja mati kutu. Entah apa yang ia katakan kepada Alvaro, namun yang jelas ia tidak mungkin mengutarakan isi hatinya saat ini.


Lagi pula Bella sudah menyimpan hal tersebut selama bertahun-tahun dan baru ia katakan kepada Inara barusan. Bagaimana mungkin jika ia mendadak harus mengatakannya tepat di depan Alvaro saat ini?


Bella yang tidak tahu harus mengatakan hal apa, lantas mulai mencoba untuk memutar otaknya dan mencari jawaban yang pas untuk perkataan Alvaro agar tidak terus menyudutkannya.


Sampai kemudian suara notifikasi ponsel miliknya, lantas langsung membuatnya menemukan sebuah ide untuk memotong pembicaraannya dengan Alvaro.


"Ah halo iya sus, pasien darurat? Baiklah aku akan segera pergi ke sana sebentar lagi." ucap Bella seakan sengaja meninggikan suaranya saat itu.


Namun Alvaro yang mendengar perkataannya barusan, bukannya berwajah serius malah tertawa dengan terpingkal-pingkal. Membuat Bella lantas langsung mengernyit dengan raut wajah yang bingung ketika mendapati tawa Alvaro yang kian mengeras saat itu.


"Mengapa kau malah tertawa?" tanya Bella dengan raut wajah penasaran.


Bruk


Suara pintu yang baru saja tertutup, membuat Bella lantas menatap ke arah pintu tersebut dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dipegangnya area puncak kepalanya saat itu, di mana puncak kepala tersebut yang baru saja diacak-acak oleh Alvaro. Entah perasaan apa yang saat ini tengah ia rasakan, namun yang jelas perhatian Alvaro benar-benar tidak pernah berubah. Membuat Bella selalu saja salah mengartikan dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh Pria tersebut.


"Mengapa ia selalu bersikap manis seperti itu? Bella stop! Apa yang tengah kau pikirkan? Ini sudah kelewatan, aku benar-benar sudah gila." ucap Bella sebelum pada akhirnya berbalik badan dan berlalu pergi dari sana.


**


Ruang perawatan Inara


Suara pintu yang baru saja terbuka dari area luar, lantas membuyarkan segala lamunan Inara. Inara yang sedari tadi tengah sibuk memikirkan tentang Bella mendadak langsung terhenti dengan seketika.


Ditatapnya raut wajah Alvaro yang saat ini terlihat tengah tersenyum menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Aku mau pulang, bolehkah?" ucap Inara begitu melihat kedatangan Alvaro saat ini.


"Tentu Ra, aku sudah mengurus administrasinya jadi kamu bisa pulang sekarang." ucap Alvaro sambil mengambil duduk di ranjang pasien sebelah Inara.


Diusapnya pelan rambut wanita itu dengan lembut kemudian kembali bangkit dari posisinya.


"Ayo biar aku bantu kamu..." ucap Alvaro sambil mengulurkan tangan hendak membantu Inara berdiri.


"Benarkah? Tumben kamu tidak menyuruh ku untuk tinggal?" ucap Inara dengan raut wajah penasaran sambil menatap ke arah Alvaro dengan raut wajah yang penasaran.


Mendapat pertanyaan dari Inara barusan, lantas membuat Alvaro tersenyum sambil mulai membantu Inara berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak ada yang spesial sebenarnya, aku hanya tidak suka suasananya. Bukankah begitu?" ucap Alvaro dengan nada yang santai.


"Jika begitu bilang dari tadi, aku jenuh di sini... Menakutkan..." ucap Inara sambil bergidik ngeri.


"Sungguh? Aku bahkan hanya bicara asal barusan." ucap Alvaro sambil tertawa kecil namun berhasil membuat Inara mendengus dengan kesal karenanya.


***


Di sebuah ruangan yang terletak di unit Apartment Chris, terlihat Chris tengah sibuk menatap ke arah layar komputer miliknya. Nampak dengan jelas beberapa petugas room servis sedang berlalu lalang di sana, membuat Chris harus extra jeli dalam melihat keadaan di area sana.


Sebuah sambungan telpon yang berasal dari ponsel miliknya terdengar jelas menggema di ruangan tersebut. Sampai kemudian setelah beberapa menit menunggu terdengar sebuah suara yang berasal dari seberang sana.


"Halo..." ucap sebuah suara yang langsung menghentikan fokus Chris yang tengah sibuk menatap ke arah layar komputer miliknya.


"Ada satu hal yang harus kamu lihat sebelumnya, sepertinya aku mendapat petunjuk tentang pengirim misterius paket itu." ucap Chris dengan nada yang terdengar serius.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2