Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Tidak ingin membandingkan


__ADS_3

Malam harinya


Inara yang merasa tidak tenang lantas nampak begitu gelisah dan terus mondar-mandir di area ruang tengah. Entah apa yang membuatnya begitu gelisah namun Inara benar-benar takut jika harus di tinggal berdua dengan Alvaro di rumah.


Jika ditanya soal bi Lastri, ia memang tinggal dan tidur di sini, hanya saja kamar pembantu terletak di paviliun belakang sehingga membuat tempat mereka terpisah. Hal itulah yang menambah kegelisahan dalam diri Inara sedari tadi.


Tak tak tak


Suara derap langkah kaki yang terdengar dari pintu masuk saat itu, lantas membuat Inara langsung menoleh ke arah sumber suara. Pandangan mata keduanya lantas bertemu tepat ketika Inara berbalik badan saat itu. Ini adalah saat-saat yang di takutkan oleh Inara sedari tadi, membuat suasana kian canggung karena diantara keduanya hanya berisi keheningan saja.


"Tumben sepi? Dimana Kikan dan bi Lastri?" tanya Alvaro memecah keheningan.


"Bibi sudah kembali ke paviliun belakang sedangkan mbak Kikan keluar sedari sore tadi, bukankah mbak Kikan sudah mengatakannya kepadamu mas?" ucap Inara dengan raut wajah yang bingung karena Alvaro malah menanyakan keberadaan Kikan kepadanya.


"Benarkah? Tapi kapan? Aku sama sekali tidak merasa jika Kikan telah mengabari ku." ucap Alvaro sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Inara berada.


"Sungguh mas? Tapi tadi mbak Kikan benar-benar telah mengatakan kepadaku jika sudah memberitahu mas. Apa mbak Kikan lupa ya?" ucap Inara dengan raut wajah yang polos sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alvaro.


Melihat wajah polos Inara saat ini tentu saja membuat Alvaro menghela napasnya dengan panjang. Alvaro benar-benar yakin jika kepergian Kikan saat ini adalah akal-akalan Kikan saja untuk mendekatkannya dengan Inara.


Sedangkan Inara yang melihat Alvaro hanya diam termenung lantas langsung bergerak hendak mengambil tas kerja Alvaro, namun malah membuat Alvaro terkejut akan sikap Inara saat ini.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alvaro dengan raut wajah yang penuh kebingungan.


Inara yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja ikut bingung, bukankah biasanya seorang istri akan membawakan tas suaminya? Lalu untuk apa Alvaro masih bertanya dan menatap bingung ke arahnya?

__ADS_1


"Aku hanya ingin membawakan tas mu saja mas, bukankah seorang istri biasanya melakukan hal tersebut?" tanya Inara dengan raut wajah yang bingung.


Mendengar perkataan Inara tentu saja membuat Alvaro terkejut, pasalnya Kikan tidak pernah sedikitpun mengurus segala hal tentang dirinya. Bagi Alvaro asalkan Kikan bahagia itu sudah lebih dari cukup baginya, lagipula masalah rumah tangga dan yang lainnya masih ada bi Lastri yang mengurusi. Jadi Alvaro tidak lagi butuh seseorang untuk mengurusinya, Alvaro sudah terbiasa melakukan semuanya seorang diri tanpa bantuan orang lain.


"Tugas seorang istri? Ah sepertinya aku sampai melupakan hal tersebut karena selalu menyiapkan segalanya sendiri." ucap Alvaro dalam hati yang lantas membuat Inara kebingungan karena Alvaro hanya diam saja sedari tadi.


Inara yang tak kunjung mendapat jawaban lantas mengambil begitu saja tas kerja Alvaro, membuat Alvaro hanya terdiam tanpa protes sambil memperhatikan segala gerak-gerik Inara saat ini.


"Lepaskan jas mu mas, biar aku bisa menaruhnya di cucian kotor." ucap Inara lagi yang lantas membuat Alvaro langsung menuruti begitu saja perkataan Inara.


Inara melakukan tugasnya sebagai seorang istri yang tak pernah Kikan lakukan sebelumnya, membuat Alvaro lantas tertegun seketika begitu melihat segala gerak-gerik Inara saat ini.


"Apa mas mau makan atau mandi dulu? Jika mas mau makan dulu aku akan memanaskan makanannya." ucap Inara sambil melangkahkan kakinya membawa jas dan juga tas kerja Alvaro.


"Mengapa kamu diam saja mas? Mas Alvaro?" ucap Inara yang hanya melihat Alvaro terdiam tanpa mengatakan sepatah kata apapun.


Namun perkataan Inara lantas membuyarkan segala lamunannya dengan seketika. Membuat Alvaro langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku akan mandi terlebih dahulu, kamu tak perlu repot karena aku bisa melakukannya sendiri." ucap Alvaro kemudian sambil melangkahkan kakinya melewati Inara begitu saja.


"Jadi ini rasanya dilayani sebagai seorang suami?" ucap Alvaro dengan senyum yang mengembang diwajahnya sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar untuk bersih-bersih.


Sedangkan Inara yang melihat tingkah aneh dari Alvaro hanya terdiam dengan tatapan yang bingung sekaligus bertanya-tanya akan tingkah Alvaro saat ini.


"Memang apa yang salah? Bukankah yang aku lakukan memang kewajiban ku sebagai seorang istri?" ucap Inara dengan raut wajah yang bingung.

__ADS_1


***


Meja makan


Dari arah tangga terlihat Alvaro tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan. Dari tempatnya berada Alvaro melihat Inara begitu sibuk menyiapkan makanan untuknya padahal ini sudah lewat dari jam sembilan malam.


Sebuah bayangan tentang kehidupan rumah tangganya mendadak terlintas begitu saja di pikirannya membuat Alvaro langsung terdiam seketika.


"Sayang, apa kamu masak sesuatu? Aku lapar sekali saat ini..." rengek Alvaro dari arah lantai kedua, membuat Kikan yang sedang menonton televisi lantas menoleh dengan seketika ke arah dimana Alvaro berada.


"Aku bahkan tidak bisa memasak tapi kamu malah menanyakan makanan kepadaku, apakah kamu benar-benar lapar? Jika iya, aku akan membangunkan bi Lastri agar memasakan mu sesuatu." ucap Kikan sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alvaro saat ini.


"Akh tidak perlu ini sudah malam, kasian kan jika harus membangunkan bi Lastri untuk memasak." ucap Alvaro kemudian memilih menahan laparnya daripada harus membangunkan Lastri karena memang posisinya yang sudah malam.


"Baiklah, jika kamu masih lapar katakan kepadaku, biar nanti kita makan di luar saja, aku yakin jam segini masih ada beberapa Resto yang buka." ucap Kikan lagi.


"Tentu saja"


Alvaro yang membayangkan segala hal yang telah ia lewati bersama Kikan, lantas langsung mencoba menggelengkan kepalanya dengan keras. Alvaro benar-benar sedang tidak ingin membandingkan antara Kikan dan juga Inara saat ini, entah apa yang telah dilakukan Inara namun Alvaro mencoba sebisa mungkin untuk tidak membandingkannya dengan Kikan. Antara Inara dan juga Kikan adalah dua pribadi yang berbeda dan tentu saja memiliki tingkah laku dan juga kebiasaan yang berbeda, sehingga membuat Alvaro sama sekali tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut.


"Kemarilah mas makan dulu sebelum tidur, aku tidak tahu apa yang kamu sukai jadi aku menghangatkan semuanya." ucap Inara ketika melihat langkah kaki Alvaro yang mulai mendekat ke arahnya.


"Tentu, aku bukanlah seorang pemilih apapun yang kamu siapkan akan aku makan." ucap Alvaro kemudian sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Inara saat ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2