
"Mengapa kamu begitu jahat Ra, hingga suami ku kau rebut dengan begitu santainya?" ucap Kikan dengan nada yang datar membuat Inara terkejut begitu mendengarnya saat itu.
Inara yang mendengar kata rebut keluar dari mulut Kikan, tentu saja langsung berbalik badan sambil menatap dengan tatapan yang bingung ke arah Kikan saat ini.
"Apa yang mbak Kikan maksud?" tanya Inara dengan raut wajah yang bingung.
Mendengar hal tersebut membuat Kikan langsung melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat ke arah Inara sambil memasang raut wajah yang datar, membuat Inara langsung menelan salivanya dengan kasar dan mengambil langkah mundur secara perlahan tanpa sadar. Entah apa yang akan dilakukan oleh Kikan kepadanya saat ini, namun yang jelas raut wajah Kikan benar-benar terlihat begitu berbeda saat ini.
Tak...
Suara langkah kaki Inara yang terhenti karena terbentur dengan meja keramik di dapur, lantas membuatnya tak bisa lagi mengambil langkah kaki mundur saat ini. Diliriknya ke arah belakang dengan sekilas kemudian kembali menatap ke arah depan.
"Apa yang terjadi dengan mbak Kikan sebenarnya?" ucap Inara dalam hati bertanya-tanya.
Sampai kemudian Kikan nampak menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Inara dan langsung mengambil gelas yang berada di tangan Inara saat ini. Membuat Inara yang melihat hal tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan seketika.
"Ada apa dengan raut wajah mu? Lihatlah ini suami ku? Apakah kamu tidak membacanya?" ucap Kikan sambil mengangkat gelas yang baru saja ia rebut, dimana di bagian depan gelas tersebut terdapat tulisan "Suami ku" dengan gambar kartun seorang pria bersetelan jas tengah tersenyum di sana.
Inara yang mendengar penjelasan dari Kikan tentu saja langsung menatap ke arah gelas yang dimaksud oleh Kikan barusan. Seulas senyum bahkan terlihat dengan jelas terlukis aneh di raut wajah Inara ketika mengira bahwa perkataan Kikan sebelumnya mengarah kepada Alvaro.
Inara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian tersenyum aneh ke arah Kikan.
"Saya minta maaf mbak, saya benar-benar tidak tahu jika gelas itu milik mbak Kikan.. Saya benar-benar minta maaf." ucap Inara dengan perasaan yang tidak enak terhadap Kikan.
Kikan kemudian menghela napasnya dengan panjang lalu melihat ke arah gelas tersebut.
"Tak apa, gelas ini adalah hadiah pernikahan kami berdua saat itu. Em... Lagi pula ini hanya sebuah gelas bukan? Kamu bisa menggunakannya kalau kamu mau, aku minta maaf.. Perkataan ku tadi pasti membuat mu terkejut bukan?" ucap Kikan kemudian yang semakin membuat perasaan tidak enak menyelimuti Inara saat itu ketika mendengarnya langsung dari Kikan.
"Tidak perlu mbak, saya akan membuat yang baru.." ucap Inara kemudian menolak secara halus.
__ADS_1
"Apa kamu yakin, ini bahkan baru saja dibuat..." ucap Kikan menatap ke arah susu hangat yang siap minum tersebut.
"Tidak perlu mbak sungguh..." ucap Inara kembali menolak.
"Baiklah kalau begitu." ucap Kikan dengan nada yang santai kemudian meminumnya begitu saja.
***
Keesokan harinya
Disaat Inara tengah sibuk menyiapkan sarapan, terlihat Alvaro tengah melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju ke arah meja makan.
"Tumben pagi mas?" ucap Inara begitu melihat Alvaro seperti terburu-buru.
"Aku ada meeting pagi ini." ucap Alvaro sambil terus membawa langkah kakinya.
"Sepertinya tidak perlu karena aku sedang buru-buru." ucap Alvaro.
"Tunggu sebentar mas..." ucap Inara kemudian yang lantas menghentikan langkah kaki Alvaro dengan seketika.
Setelah Inara berhasil menghentikan langkah kaki Alvaro, Inara nampak melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah dapur membuat Alvaro yang melihat hal tersebut lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung.
Sampai kemudian tak berapa lama Inara nampak berlarian kecil ke arah Alvaro sambil membawa tas makan siang di tangannya.
"Aku sebenarnya sudah menyiapkan bekal untuk mas, tapi tidak yakin akan memberikannya atau tidak. Namun karena kamu tidak sarapan jadi aku berharap mas bisa membawanya untuk sarapan di sana." ucap Inara dengan ragu-ragu membuat Alvaro lantas langsung menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar perkataan dari Inara barusan.
"Terima kasih banyak, oh ya.. nanti jika Kikan bangun katakan kepadanya aku sudah berangkat ke kantor." ucap Alvaro yang di balas Inara dengan anggukan kepala.
Inara yang melihat Alvaro hendak berangkat ke kantor, lantas terlihat mengacungkan tangannya hendak menyalami punggung tangan Alvaro, membuat Alvaro sedikit mengernyit ketika mendapati hal tersebut.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Alvaro kemudian.
Sedangkan Inara yang di tanyai seperti itu, tentu saja kebingungan dan langsung menurunkan tangannya begitu menyadari apa yang telah ia lakukan barusan.
"Ah maafkan aku mas, mas boleh berangkat sekarang." ucap Inara kemudian dengan raut wajah yang memerah menahan malu.
"Apa ada sesuatu Ra?" tanya Alvaro dengan tatapan yang bingung.
"Tidak ada mas, bukankah mas bilang ada meeting pagi ini? Sebaiknya mas cepat pergi sekarang nanti terlambat." ucap Inara kemudian mencoba untuk mengalihkan fokus Alvaro.
Membuat Alvaro yang mendengar hal tersebut lantas langsung menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari sana. Namun ketika langkah kaki Alvaro baru melangkah beberapa kali, Alvaro kembali berbalik badan dan membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Inara berada.
Tanpa mengatakan sesuatu Alvaro mendadak mencium kening Inara begitu saja, yang tentu hal tersebut membuat Inara terkejut dengan seketika karena perlakuan Alvaro barusan.
"Aku pergi dulu Ra... Jangan lupa untuk mengatakannya kepada Kikan nanti." ucap Alvaro sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Inara yang terlihat masih terdiam di tempatnya.
Inara benar-benar terkejut akan tindakan impulsif yang di tunjukkan oleh Alvaro barusan. Padahal apa yang dilakukan oleh Alvaro sama dengan yang ia lakukan kepada Kikan ketika hendak pergi bekerja. Mungkin maksud Alvaro melakukan hal tersebut adalah mencoba untuk bersikap adil pada kedua istrinya, namun nyatanya hal tersebut berhasil membuat Inara terbang hingga ke langit ke tujuh.
Sambil tersenyum dengan simpul Inara nampak memegang area keningnya bekas kecupan singkat Alvaro di sana.
"Jika terus seperti ini sesuatu yang tak seharusnya timbul aku takut akan mulai berkembang dan juga mekar menjadi sebuah harapan yang baru." ucap Inara dalam hati kemudian berlalu pergi menuju kembali ke arah dapur.
***
Sementara itu tanpa Inara sadari, Kikan yang baru saja melangkahkan kakinya turun ke bawah lantas terkejut ketika mendapati sebuah pemandangan yang benar-benar membuatnya terluka. Digenggamnya dengan erat pegangan tangga yang terpasang dengan kokoh d kiri dan kanan dengan erat.
"Tenanglah Ki.. Apa yang di lakukan oleh Alvaro hanyalah sebuah formalitas semata. Pria itu sedang mencoba untuk bersikap dengan adil saat ini." ucap Kikan pada diri sendiri dengan nada yang lirih.
Bersambung
__ADS_1