
Malam harinya
Setelah kabar kehamilan Inara, suasana rumah begitu terasa terang dan juga membahagiakan. Alvaro bahkan tidak kembali ke kantornya setelah makan siang selesai dengan alasan ingin menjaga Inara, sedangkan Kikan sibuk berselancar di ponselnya dan mencari tahu segala hal tentang Ibu hamil dan kiat-kiat untuk menjadi Ibu hamil yang cerdas.
Inara yang sudah merasa agak mendingan setelah meminum obat penambah darah dan juga vitamin yang di berikan oleh Bella, lantas memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Lagi pula ia bahkan belum memasak untuk makan malam jadi ia hendak turun dan memasak sesuatu untuk Kikan dan juga Alvaro.
Ketika langkah kaki Inara sampai di anak tangga terakhir, Inara nampak terkejut ketika melihat beberapa orang seperti tengah membawa beberapa perabotan baru dan menyusunnya di kamar bawah yang terletak tak jauh dari tangga dan juga area meja makan. Membuat Inara lantas mengernyit begitu melihat hal tersebut.
Inara yang penasaran apa yang sedang terjadi, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan mendekat ke arah dimana Alvaro berada saat itu untuk bertanya perihal segalanya.
"Apa yang terjadi mas? Apa kamu membeli perabot baru?" tanya Inara kemudian yang lantas membuat Alvaro langsung menoleh ke arah sumber suara.
Alvaro yang melihat Inara datang kemudian langsung menarik salah satu kursi makan dan mengarahkan Inara untuk duduk di sana. Inara yang di perlakuan khusus seperti itu tentu saja sedikit bingung, namun tidak berani bertanya dan hanya mengikuti semua arahan Alvaro dan duduk di sana.
"Aku sedang mempersiapkan kamar mu dan juga anak kita. Aku rasa jika kamar mu ada di atas kamu pasti akan lelah ketika harus naik turun tangga. Apa kamu menyukainya?" ucap Alvaro kemudian dengan raut wajah yang sumringah.
Namun Inara yang mendengar perkataan dari Alvaro barusan bukan fokus kepada kamar yang baru saja dibicarakan Alvaro, melainkan fokus kepada kata-kata "bayi kita" yang entah mengapa mendengar perkataan Alvaro tentang bayinya, yang menyebut dengan "bayi kita" membuat perasaan dalam diri Inara semakin berdesir, Inara benar-benar menyukai kata-kata itu.
"Bukankah ini terlalu berlebihan mas? Bayinya bahkan masih sangat kecil di dalam sini, jika kamu terus memperlakukan ku seperti ini maka nanti akan membuatnya begitu manja dan tidak mau melakukan apapun." ucap Inara sambil menunjuk ke arah perutnya yang masih datar.
"Oh ya? Jika begitu biarkan saja dia manja dan menjadi tuan Putri, aku sebagai Ayahnya akan melakukan segala hal yang terbaik untuknya." ucap Alvaro sambil memegang perut Inara dengan tiba-tiba.
Inara yang dipegang perutnya dengan tiba-tiba oleh Alvaro tentu saja langsung terkejut dengan seketika, jantungnya bahkan mendadak berdetak dengan kencang tepat ketika tangan Alvaro mendarat di area perutnya. Entah perasaan apa lagi yang saat ini ia rasakan, namun nyatanya hal tersebut membuat Inara begitu tersipu malu karenanya.
__ADS_1
"Lakukan saja sesuka mu nak, tapi janji jangan menyusahkan Ibumu.. Apa kamu mengerti?" ucap Alvaro tersenyum simpul sambil mengusap perut Inara yang masih datar itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Alvaro nampak membenarkan posisinya yang sedari tadi sedikit menunduk kemudian mengusap puncak rambut Inara dengan lembut.
"Kamu istirahatlah di sini, ada beberapa hal yang masih harus aku urus sebentar." ucap Alvaro dengan tersenyum lembut sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana untuk mengecek para pekerja yang mendekorasi ulang kamar untuk Inara malam-malam begini.
Inara menatap punggung Alvaro yang berada tak jauh darinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Aku bisa-bisa gila jika terus di perlakukan seperti ini olehnya." ucap Inara sambil memegang kedua pipinya yang terasa begitu dingin saat ini.
**
Area dapur
Inara yang semula memang ingin memasak untuk makan malam, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke area dapur dimana saat itu terlihat Lastri tengah sibuk memasak di sana. Melihat hal tersebut lantas langsung membuat Inara membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Lastri berada dan bersiap untuk membantunya.
Lastri yang mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya, tentu saja langsung berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara saat itu.
"Jangan Non..." pekik Lastri kemudian yang tentu saja langsung mengejutkan Inara saat itu.
"Ada apa Bi?" tanya Inara dengan raut wajah yang bingung.
"Maaf jika Bibi mengagetkan, maksud Bibi Non tidak perlu membantu Bibi. Yang harus Non lakukan hanya istirahat dan menjaga diri baik-baik." ucap Lastri kemudian sambil mengarahkan Inara agar keluar dari area dapur saat itu.
__ADS_1
"Tapi Bi aku hanya ingin...." ucap Inara hendak menolaknya, namun Lastri sudah keburu mengarahkan Inara untuk pergi dari arah dapur.
"Ada apa Bi?" tanya Kikan ketika tak sengaja melihat tingkah keduanya yang aneh.
Mendengar suara Kikan tentu saja langsung membuat Inara dan juga Lastri menoleh ke arah sumber suara.
"Ini Bu, Non Inara ingin membantu saya di dapur barusan." ucap Lastri kemudian yang lantas membuat Kikan langsung menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar hal tersebut.
Kikan yang tahu maksud dari perkataan Lastri barusan, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat menuju ke arah dimana keduanya berada kemudian menarik tangan Inara agar mengikuti langkah kakinya berlalu pergi dari sana. Sedangkan Inara yang ditarik begitu saja tentu hanya bisa mengikuti arah tarikan Kikan tanpa bisa kembali protes.
"Daripada memasak mungkin sebaiknya kita ke ruang menonton dan mulai melihat kiat-kiat yang penting bagi Ibu hamil, bukankah hal itu menyenangkan Ra?" ucap Kikan sambil menarik tangan Inara agar mengikuti langkah kakinya menuju ke area ruang menonton.
"Ada apa sebenarnya dengan semua orang? Mengapa mereka semua memperlakukan ku seperti ini?" ucap Inara dalam hati dengan kebingungan, entah apa yang terjadi dengan semua orang namun Inara tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya menuruti semua orang.
***
Keesokan harinya
Suasana siang itu begitu hening dan juga sepi, Alvaro pergi bekerja sedangkan Kikan pergi arisan. Kini hanya tinggallah Inara seorang diri di sana, sedangkan Lastri? Tentu saja sibuk dengan pekerjaannya dan saat ini tengah pergi ke pasar untuk berbelanja bulanan. Inara menghela napasnya ketika tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan karena Alvaro dan juga Kikan sudah memberinya peringatan untuk tidak melakukan sesuatu yang terlalu berat. Sampai kemudian sebuah bel pintu yang terdengar menggema, membuat Inara langsung mengernyit dengan seketika.
"Siapa yang datang?" ucap Inara dalam hati namun sambil membawa langkah kakinya menuju ke arah pintu utama untuk melihat siapa yang datang saat ini.
Ceklek..
__ADS_1
"Kau" ucap sebuah suara yang terkejut begitu melihat yang membuka pintu adalah Inara.
Bersambung