
Ruangan CEO
Setelah makanan yang di pesan oleh Alvaro datang, Alvaro nampak menjajar makanan pesanannya di atas meja membuat Inara yang melihat hal tersebut tentu saja langsung menatapnya dengan terkejut sekaligus ingin ketika berbagai menu makanan tersaji di hadapannya saat itu hingga memenuhi area meja di ruangan tersebut.
"Apa kamu selalu makan makanan sebegitu banyaknya? Seorang diri mas?" ucap Inara dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Alvaro.
"Tentu saja tidak, makanan ini aku pesan khusus untuk mu. Kamu pasti belum makan kan? Jadi ayo kita makan bersama..." ucap Alvaro sambil membersihkan sendok dan juga sumpit yang akan ia pakai menggunakan tisu.
"Bukankah kamu pesan makanan seperti biasa?" tanya Inara kemudian.
"Sudah ku rubah" jawab Alvaro dengan nada yang santai sambil mulai mengarahkan sebuah roll egg ke arah Inara.
Inara yang mendapati hal tersebut tentu saja langsung membuka mulutnya dengan perlahan, namun juga sekaligus menatap dengan tatapan yang bingung ketika mendapati jika Alvaro merubah menu makan siangnya dengan tiba-tiba.
"Mengapa?" ucap Inara dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Alvaro saat ini.
"Aku hanya ingin bayiku tumbuh dengan sehat, lagi pula aku ini seorang ayah tentu aku harus memilah beberapa makanan yang akan masuk dan menjadi nutrisi baginya ketika berada di dalam kandunganmu." ucap Alvaro dengan senyuman yang mengembang sambil mengelus perut Inara dengan tiba-tiba.
Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Inara terkejut, Inara bahkan tidak menduga jika Alvaro akan mengusap perutnya secara perlahan-lahan tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu kepadanya. Wajahnya saat ini bahkan sudah memerah layaknya seekor kepiting rebus hanya karena sebuah usapan yang di lakukan oleh Alvaro kepadanya.
"Mengapa dengan wajahmu?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang bingung begitu mendapati raut wajah Inara yang memerah saat ini.
__ADS_1
"Ah tidak apa, ini hanya karena kepanasan saja tidak perlu khawatir mas." ucap Inara seakan mencoba untuk mencairkan suasana dan mencari Alasan akan penyebab dari wajahnya yang memerah.
"Harusnya kamu mengatakannya dari awal jika begitu aku akan meniupnya terlebih dahulu untukmu." ucap Alvaro dengan nada yang polos sambil kemudian meniup makanan yang hendak kembali ia suapkan ke arah Inara saat ini.
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat manik mata Inara membulat dengan seketika. Inara benar-benar tidak sanggup jika harus mendapat perhatian yang berlebih dari Alvaro seperti ini setiap harinya.
"Oh astaga, bisakah setidaknya dia diam sejenak saja? Aku bahkan benar-benar tidak bisa menerimanya jika terus-terusan seperti ini." ucap Inara dalam hati sambil mencoba untuk menetralkan perasaan yang ada di dalam hatinya saat ini.
**
Kediaman Alvaro
Sementara itu di area meja makan setelah Kikan dan juga Tamara menyelesaikan acara makan siang mereka, Tamara nampak mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Entah mengapa Tamara merasa ada yang kurang saat ini, meski kehadiran Inara sama sekali tak membuatnya senang. Namun ketiadaan Inara benar-benar mencurigakan bagi Tamara, Tamara merasa apapun yang dilakukan oleh Inara selalu saja salah dan tidak pernah benar di matanya walau Inara melakukan kebaikan sekalipun.
Mendapat pertanyaan tersebut Kikan yang tidak mengerti siapa yang saat ini tengah dimaksud oleh Tamara, lantas langsung menatap ke arah Tamara dengan tatapan yang mengernyit membuat Tamara langsung menghela napasnya dengan panjang begitu melihat ekspresi raut wajah yang ditunjukkan oleh Kikan barusan.
"Si udik itu, apa kamu tidak mengerti juga?" ucap Tamara dengan nada yang kesal karena kepolosan putrinya tersebut.
"Maksud Mama Inara?" ucap Kikan dengan raut wajah yang yang penasaran.
"Iya siapa lagi? Mengapa kamu lemot sekali sih?" ucap Tamara dengan raut wajah yang kesal karena Kikan tak kunjung mengerti juga pertanyaan darinya.
__ADS_1
"Mana aku tahu Ma? Bukan kah sedari tadi aku bersama dengan Mama? Seharusnya Mama jangan tanyakan Inara kepadaku dong." ucap Kikan dengan raut wajah yang kesal karena Ibunya itu terus saja bertanya dan membuat kepalanya pusing.
Kikan yang merasa Tamara terus saja mengganggu waktu makannya, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi sambil membawa sepiring puding buatan Inara menuju ke arah atas kamarnya. Kikan benar-benar malas duduk berdua dengan Tamara karena Tamara selalu saja membicarakan Inara lagi dan lagi, membuat perasaannya semula sudah menjadi lebih baik kini menjadi kini kembali sendu ketika teringat tentang Inara dan juga Alvaro.
"Mama benar-benar menyebalkan, tidak bisakah dia sekali saja tidak membahas Inara di depanku? Aku benar-benar muak mendengar namanya." ucap Kikan sambil membawa langkah kakinya menaiki satu per satu anak tangga menuju ke arah kamar utama.
Sedangkan Tamara yang melihat kepergian Kikan menuju ke arah lantai atas tentu saja langsung mendengus dengan kesal. Putrinya itu sama sekali tidak bisa diajak berunding jika membahas persoalan yang terjadi antara Alvaro dan juga Inara. Ia selalu saja terima pasrah tanpa mau melakukan apapun, membuat Tamara lantas menjadi gemas akan sikap putrinya yang terlalu santai itu padahal jelas-jelas suaminya ingin direbut tepat di depan mata kepalanya sendiri.
"Mengapa dia bisa sesantai itu sih? Kalau aku jadi dia sudah ku cakar-cakar si Inara itu." ucap Tamara dengan nada yang kesal sambil menatap kepergian Kikan yang terus menuju ke arah lantai atas dengan tatapan yang kesal.
***
Basement
Di salah satu mobil yang terparkir di area basement, terlihat Arin tengah menunggu di dalam mobilnya dengan tatapan yang lurus ke arah depan seperti tengah menanti kedatangan seseorang di sana. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran Arin saat ini, yang jelas ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan jika ia di pecat dari pekerjaannya. Arin benar-benar membenci Inara selayaknya ia membenci Ibu tirinya yang dimana ia adalah hasil selingkuhan dari Ayahnya dahulu.
"Aku benar-benar membencimu, siapapun kamu aku benar-benar tidak menyukai seorang pelakor!" ucap Arin dengan tatapan yang lurus ke arah depan.
Sampai kemudian ketika Arin melihat ke arah pintu masuk area basement, Arin yang melihat Inara tengah melangkahkan kakinya bersama dengan Alvaro tentu saja langsung tersenyum dengan tipis. Sebuah rencana yang entah datang dari mana lantas saat ini memenuhi isi kepala Airin, membuat seulas senyum terlihat terbit di wajah Airin saat itu.
"Kalian pelakor, mati saja kau dan pergi ke neraka!" ucap Arin dengan tatapan yang lurus ke arah depan.
__ADS_1
Bersambung