
Pagi itu setela Inara menelpon Ibunya untuk sekedar melepas kangen. Inara yang tadinya berniat memasak untuk makan siang malah gagal seketika karena tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Entah mengapa Inara merasa seperti sedang tidak enak badan padahal semalam ia benar-benar baik-baik saja.
Dari arah dapur terlihat Lastri tengah membawakan teh hangat untuk Inara, setelah sebelumnya Inara sempat mual ketika mencium aroma bawang merah yang di goreng. Lastri nampak meletakkan gelas berisi teh hangat di depan Inara kemudian memijat pundak Inara secara perlahan.
"Non minum dulu tehnya, mungkin masuk angin nanti kalau mau biar Bibi kerokin." ucap Lastri kemudian sambil mempersilahkan Inara untuk minum teh tersebut.
Inara yang mendengar hal tersebut, lantas langsung meneguk teh tersebut dengan perlahan kemudian kembali meletakkannya di atas meja.
"Sepertinya ia Bi kepala ku benar-benar pusing saat ini." ucap Inara kemudian yang lantas membuat Lastri menempelkan punggung tangannya ke kening Inara, namun sama sekali tidak ada hawa panas di sana malah berkeringat dingin.
"Sepertinya memang masuk angin Non, apa mau Bibi panggilkan Dokter?" ucap Lastri kemudian memberikan saran.
"Tidak perlu Bi, saya hanya butuh istirahat sebentar, namun jika saya pergi bagaimana dengan Bibi nantinya?" ucap Inara sambil menatap ke arah Lastri saat itu.
"Tidak perlu khawatir Non, Bibi sudah biasa masak seorang diri selama ini. Non Inara sebaiknya istirahat saja di kamar." ucap Lastri kemudian yang lantas membuat Inara mengangguk dengan perlahan.
"Aku benar-benar minta maaf Bi karena tidak bisa membantu mu." ucap Inara kemudian yang lantas membuat Lastri langsung tersenyum seketika.
"Tenang saja Non tak perlu khawatir." ucap Lastri lagi yang lantas membuat Inara ikut tersenyum karenanya.
"Terima kasih banyak Bi..." ucap Inara kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Lastri menuju ke arah kamarnya.
Setelah kepergian Inara dari sana, Lastri lantas menatap kepergian Inara dengan tatapan yang penuh arti. Entah mengapa Lastri merasa jika sebenarnya Inara bukanlah sakit biasa, melainkan sesuatu yang lain.
__ADS_1
"Apakah Non Inara hamil ya? Mengapa aku merasa jika Nona benar-benar hamil." ucap Lastri sambil menatap lurus ke arah punggung Inara yang semakin naik ke atas menuju ke arah lantai dua.
***
Siang harinya
Alvaro yang begitu rindu akan masakan dari Inara, lantas memutuskan untuk pulang ketika makan siang ketimbang harus pesan makanan di kantor. Dengan senyum yang mengembang Alvaro mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan langsung menuju ke arah meja makan. Membuat Kikan yang baru saja turun dari tangga, lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung ketika melihat kepulangan Alvaro ke Rumah.
"Tumben sudah pulang Al? Apakah ada sesuatu yang tertinggal atau memang kamu sedang pulang siang?" ucap Kikan dengan raut wajah yang kebingungan sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alvaro berada saat ini.
Alvaro yang mendapat pertanyaan dari Kikan barusan tidak langsung menanggapinya melainkan mengambil duduk tepat di area meja makan, baru setelah itu disusul dengan Kikan yang juga menarik kursi dan mendudukkan pantatnya di sana.
"Aku tadi sedang lewat daerah sini setelah melakukan meeting dan memutuskan untuk pulang makan siang." ucap Alvaro sambil membuka piring di depannya dan mulai mengambil nasi lengkap bersama lauk pauknya.
"Ah begitu rupanya." ucap Kikan kemudian yang langsung terdiam seakan malas untuk melanjutkan pertanyaannya.
Alvaro yang memang sudah lapar dan ingin segera memakan masakan Inara kemudian tanpa mengatakan perkataan apapun lagi kepada Kikan langsung menyantap makanannya secara perlahan. Sesendok demi sesendok makanan tersebut mulai masuk ke dalam mulutnya, tapi entah mengapa Alvaro merasa begitu aneh dengan rasa yang terkandung dalam makanan tersebut. Rasanya ada sesuatu yang aneh dan juga berbeda di dalam makanan itu, membuat Alvaro terlihat mengernyit dengan seketika begitu masakan tersebut semakin masuk ke dalam mulutnya.
"Mengapa aku merasa sesuatu yang aneh? Apa yang salah ya?" ucap Alvaro dalam hati bertanya-tanya.
Kikan yang juga menyadari akan hal tersebut tentu saja langsung menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang bertanya.
"Apa ada sesuatu?" tanya Kikan kemudian.
__ADS_1
"Apa kamu merasa sesuatu yang berbeda pada masakannya?" ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat Kikan langsung mencicipi satu persatu masakan tersebut.
Memang ada yang berbeda dari masakannya namun Kikan tidak tahu apa itu, membuat Kikan hanya bisa mengernyit sambil memikirkan apa yang kurang di makanan ini. Sampai kemudian Lastri yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa potongan buah segar, lantas membuat Alvaro menatap ke arah Lastri dengan tatapan yang bertanya. Saking inginnya memakan makanan buatan Inara sampai membuat Alvaro lupa jika sedari tadi ia tidak melihat Inara di sekitar sana.
"Silahkan..." ucap Lastri sambil meletakkan buah segar di atas meja makan.
"Bi dimana Inara? Mengapa saya belum melihatnya sedari tadi?" tanya Alvaro kemudian dengan raut wajah yang penasaran, membuat Lastri yang hendak kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam dapur langsung terhenti dengan seketika.
"Non Inara sedang sakit Pak, jadi untuk makan siang kali ini Bibi yang memasak." ucap Lastri kemudian menjelaskan situasinya.
"Sakit? Mengapa aku tidak tahu soal itu?" ucap Kikan yang terkejut ketika mendengar jika Inara sedang sakit.
"Iya Bu, tadi non Inara seperti sedang masuk angin dan sedikit pusing mangkanya ia memutuskan untuk pergi istirahat." ucap Lastri lagi yang lantas membuat raut wajah Alvaro berubah seketika menjadi khawatir.
"Lalu dimana Inara sekarang?" tanya Alvaro kemudian.
"Ada di kamarnya Pak..." ucap Lastri yang lantas membuat Alvaro melangkahkan kakinya berlalu pergi begitu saja dari sana dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran, membuat Kikan langsung terdiam di tempatnya dengan seketika.
Raut wajah khawatir milik Alvaro benar-benar membuat hatinya begitu sakit, rasa cemburu itu datang lagi ketika melihat Alvaro yang lebih perhatian dengan Inara. Namun sayangnya tidak ada yang bisa Kikan lakukan dalam situasi ini karena memang ia tidak boleh bersikap egois saat ini.
"Ayolah Ki teguhkan hatimu, Inara sedang sakit saat ini. Apakah rasa cemburu mu itu pantas ada dalam waktu yang seperti ini?" ucap Kikan sambil menatap kepergian Alvaro dari hadapannya.
Bersambung
__ADS_1