Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Berubah


__ADS_3

Setelah perdebatannya dengan Kikan tadi, Alvaro nampak melangkahkan kakinya dengan langkah kaki terburu-buru keluar dari kamar utama dan menuruni satu persatu anak tangga untuk segera pergi menuju ke arah kantor.


Sedangkan di area meja makan di mana terlihat Inara tengah duduk sambil menanti yang lainnya, lantas sedikit tertegun ketika melihat raut wajah Alvaro yang terlihat penuh dengan kilatan amarah saat ini, membuat Inara langsung bangkit dari tempatnya.


"Apa kamu tidak mau sarapan dulu mas?" ucap Inara kemudian yang lantas langsung menghentikan langkah kaki Alvaro dengan seketika.


Alvaro terlihat menghela napasnya dengan panjang sebelum pada akhirnya terbalik badan dan menatap ke arah Inara.


"Tidak perlu, aku buru-buru karena ada rapat sebentar lagi. Kamu makanlah dengan baik katakan jika kamu membutuhkan sesuatu, oke? Aku pergi dulu." ucap Alvaro kemudian sebelum pada akhirnya melenggang pergi tanpa lebih dulu mendengar jawaban dari Inara.


"Tapi mas aku sudah..." ucap Inara terhenti ketika melihat kepergian Alvaro yang nampak mengambil langkah kaki yang terburu-buru.


"Apa ada sesuatu yang terjadi kepadanya? Mengapa aku melihat raut wajahnya begitu kesal saat ini?" ucap Inara sambil menatap ke arah kepergian Alvaro yang sudah tidak lagi terlihat pada pandangannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Suasana area meja makan saat itu terasa begitu hening, Kikan sama sekali tidak nampak turun dari kamarnya. Yang ada di sana hanyalah Inara dan juga Tamara, dentingan sendok dan juga garpu terdengar cukup nyaring di area meja makan tersebut. Sampai kemudian Tamara yang sudah menyelesaikan makannya, lantas langsung meletakkan sendok dan garpunya dengan keras membuat Inara terkejut begitu mendengar hal tersebut.


"Ini lah yang terjadi jika seorang benalu tinggal dan memaksa untuk menetap pada inangnya. Kau tahu? Sari-sari inangnya seperti akan habis dan pada akhirnya mati dan layu. Apakah kau ingin membiarkan hal itu terjadi kepada Kikan dan juga Alvaro?" ucap Tamara sambil menatap tajam ke arah dimana Inara berada saat ini yang terlihat tengah asyik menikmati makanannya.


Mendengar nada sindiran yang diperuntukkan untuknya, lantas langsung membuat Inara meletakkan sendok dan garpunya di piring secara perlahan kemudian tersenyum menatap ke arah Tamara. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Tamara lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan mencoba untuk mencerna akan arti dari senyuman yang diberikan oleh Inara kepadanya.


"Bukankah aku sudah mengatakannya kepada Ibu jika aku akan bercerai setelah anak ini lahir. Mengapa Ibu selalu saja terburu-buru? Bukankah mbak Kikan menginginkan seorang Putra? Jika mbak Kikan tidak menginginkannya aku bisa membawanya pergi bersamaku, apakah itu yang Ibu inginkan?" ucap Inara sambil tersenyum dengan simpul menatap ke arah Tamara, membuat Tamara langsung mengepalkan tangannya dengan nada yang kesal.


Brak...


Suara gebrakan yang dilakukan oleh Tamara begitu ia bangkit dari duduknya, lantas menimbulkan suara yang cukup keras di area meja makan.


"Kau gadis kampung, berani-beraninya kau mengancam ku seperti itu!" pekik Tamara yang tentu saja membuat Inara hanya bisa terdiam menyaksikan segala kemarahan Tamara saat ini.


Mendengar amarah dari Tamara barusan tentu saja hanya bisa membuat Inara tersenyum dengan tipis. Inara benar-benar tidak ingin meladeni Tamara saat ini, Inara kemudian bangkit begitu saja dari kursinya dan melangkahkan kakinya berlalu pergi tanpa mengindahkan perkataan yang keluar dari mulut Tamara barusan.


"Akh apa yang Ibu lakukan? Lepaskan.. Sakit..." ucap Inara sambil memegangi tangan Tamara yang mencengkram dengan erat rambutnya.


"Seorang pelakor seperti mu memang harus di beri pelajaran, kemari kau ikut dengan ku sekarang!" ucap Tamara sambil menarik rambut Inara agar mengikuti langkah kakinya saat ini.


Inara yang di tarik hanya bisa pasrah dan mengikuti arah tarikan tersebut sambil berusaha melepas cengkraman tangan Tamara pada rambutnya.


"Lepaskan aku.. Lepaskan aku...!" ucap Inara sambil sesekali memukul tangan Tamara agar melepaskan cengkraman tangannya, tapi nyatanya sama sekali tak berhasil dan malah membuat cengkraman itu semakin erat.

__ADS_1


Tamara menjambak rambut Inara dengan erat dan membawanya melintasi area tangga menuju ke arah samping mansion dengan langkah kaki yang bergegas.


***


Di saat keduanya tengah asyik bertengkar di lantai pertama. Lain halnya dengan Kikan yang saat ini tengah berada di lantai dua, di mana Kikan yang tadinya hendak turun dan mengambil sarapan ketika melihat pertengkaran antara Ibunya dan juga Inara, Kikan lantas langsung menghentikan langkah kakinya.


Ada beberapa perasaan yang bergejolak memenuhi hatinya, membuat Kikan mendadak membeku di tempatnya. Entah apa yang saat ini tengah ada di pikirannya, namun di satu sisi Kikan begitu menyukai apa yang dilakukan oleh Ibunya saat ini. Hanya saja di sisi lainnya ada sebuah rasa yang tergerak dalam hatinya untuk segera menyelamatkan Inara dari Ibunya.


Kikan terdiam tak bisa menimbang perasaan mana yang lebih baik, sampai kemudian helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulutnya begitu melihat semua adegan yang terjadi di bawah.


"Setidaknya sesekali aku boleh untuk bersikap egois bukan? Aku tidak menampik jika aku merasa puas ketika melihat Inara kesakitan seperti itu." ucap Kikan pada diri sendiri sambil menatap lurus ke arah bawah mengikuti arah kepergian Tamara dan juga Inara.


**


Sedangkan Inara yang terus ditarik mengikuti langkah kaki Tamara pergi, lantas semakin dibuat frustasi karena tak kunjung bisa melepaskan cengkraman erat tangan Tamara dari rambutnya.


Ketika ia dan juga Tamara melintasi area tangga tanpa sengaja manik mata Inara menatap ke arah lantai 2, di mana terlihat Kikan tengah menatapnya dengan tatapan yang sinis seakan-akan begitu menyukai dan membiarkan ia di siksa begitu saja oleh Ibunya.


Inara tertegun melihat sosok Kikan benar-benar berubah saat ini. Kikan yang ia kenal begitu baik dan berhati lembut kini seakan-akan telah berubah, sorot matanya terlihat begitu tajam dan menyimpan amarah juga kekesalan ketika menatap ke arahnya saat ini.


"Mbak Kikan..." panggil Inara dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah Kikan saat ini.


Sepertinya Inara tengah terkejut ketika mendapati perubahan sikap dari Kikan saat ini, hingga tak lagi mengindahkan jambakan dari Tamara dan tetap menatap ke arah Kikan di lantai dua.

__ADS_1


"Berhenti!" pekik seseorang yang lantas langsung menghentikan gerakan Tamara begitu juga Inara disaat mendengar suara tersebut.


Bersambung


__ADS_2