Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Menonton Sinetron


__ADS_3

"Berhenti!" pekik seseorang yang lantas langsung menghentikan gerakan Tamara begitu juga Inara disaat mendengar suara tersebut.


Mendengar suara tersebut lantas membuat Tamara dan juga Inara menoleh ke arah sumber suara. Sosok Lastri nampak berdiri dengan tegak menatap tajam ke arah Tamara saat itu, membuat Tamara langsung mendengus dengan kesal begitu melihat pembantu tua itu ikut campur dalam urusannya.


"Apa yang mau kau lakukan pembantu tua? Aku harap kau tak perlu ikut campur masalah ini atau aku akan memecat mu!" ucap Tamara sambil menatap tajam ke arah Lastri saat ini.


"Saya ada di sini karena di pekerjakan oleh pak Alvaro, jika anda ingin memecat saya silahkan tapi saya tidak akan pergi dari sini kecuali pak Alvaro sendiri yang mengusir saya dari sini." ucap lastri dengan nada yang tegas.


"Apa perduli mu ha? Kau bahkan di sini hanya bekerja, sungguh tidak pantas ikut campur masalah keluarga ini!" pekik Tamara dengan nada yang meninggi.


"Saya mohon lepaskan Non Inara sekarang juga atau saya akan mengirim vidio penyiksaan anda ini kepada pak Alvaro!" ucap Lastri kemudian sambil mengangkat ponsel miliknya tinggi-tinggi.


Melihat hal tersebut tentu saja membuat Tamara terkejut karenanya. Tamara benar-benar tidak menyangka jika Lastri merekamnya semua yang ia lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Tamara menatap ke arah Inara dengan tatapan yang kesal kemudian melepaskan cengkraman tangannya begitu saja, membuat Inara yang mendapati hal tersebut lantas langsung mengusap area rambutnya bekas tarikan Tamara yang terasa begitu sakit.


"Kalian berdua benar-benar menyebalkan! Awas saja kalian..." ucap Tamara dengan nada yang mengancam sambil menatap ke arah Inara dan juga Lastri secara bergantian.


Setelah mengatakan hal tersebut Tamara melangkahkan kakinya begitu saja meninggalkan keduanya di sana dengan raut wajah yang kesal.


Sedangkan Lastri yang melihat kepergian Tamara di sana kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Inara berada untuk melihat keadaannya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Lastri kemudian dengan raut wajah yang khawatir sambil menatap Inara dari atas hingga bawah.


"Saya tidak apa Bi, terima kasih banyak." ucap Inara sambil tersenyum menatap ke arahnya seakan mencoba untuk menenangkan Lastri saat ini.

__ADS_1


"Syukurlah, Bibi tadi benar-benar terkejut ketika mendengar suara ribut-ribut di bawah." ucap Lastri.


"Terima kasih Bi, ngomong-ngomong Bibi benar-benar merekam segalanya? Sungguh?" tanya Inara dengan raut wajah yang penasaran sambil mulai melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Lastri menuju ke arah dapur.


"Tentu saja tidak Non, mana sempat Bibi merekamnya yang ada Bibi sudah lari duluan mencoba untuk menyelamatkan Non Inara." ucap Lastri sambil tersenyum yang tentu saja langsung menghentikan langkah kaki Inara dengan seketika.


"Apa Bi? Tapi Bibi tadi?" ucap Inara yang tentu saja terkejut ketika mendengarnya.


Sedangkan Lastri yang melihat Inara menghentikan langkah kakinya, tentu saja langsung ikut berhenti dan berbalik badan menatap ke arah Inara saat ini.


"Maklum Bibi habis lihat sinetron jadi agak kebawa..." ucap Lastri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat Inara langsung menepuk jidatnya dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Lastri barusan.


***


"Kikan kamu.." ucap Tamara dengan nada yang terkejut.


"Aku sudah melihat semuanya Ma dan entah mengapa hati ku merasa lebih baik ketika melihatnya. Apakah aku tidak normal Ma?" ucap Kikan kemudian sambil memutar tubuhnya dan langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Tamara berada saat ini.


Tamara yang semula takut jika Kikan akan marah ketika melihat kelakuannya yang menyeret Inara tadi, nyatanya langsung tersenyum begitu mendengar perkataan dari Kikan barusan.


"Tentu saja tidak nak, kamu berhak untuk bahagia. Jangan pendam segalanya di sini, jika kamu tidak suka maka katakan tidak suka. Jika kamu tetap diam tanpa menyuarakan pendapat mu maka kamu akan terluka nak. Apa kamu mengerti sekarang?" ucap Tamara sambil mengusap rambut anaknya dengan lembut seakan mulai menasehati putrinya tentang beberapa hal.


Mendengar hal tersebut membuat Kikan langsung terdiam sejenak, apa yang di katakan oleh Tamara barusan ada benarnya juga. Lagi pula dengan dia selama ini diam dan mencoba untuk menerima segalanya, tidak ada yang terjadi selain sikap Alvaro yang kian menjauh darinya. Bukannya sebuah kebahagiaan yang ia dapat malah sebuah penderitaan dan rumah tangganya yang menjadi berantakan, tanpa Kikan sangka jika semua hal ini akan terjadi kepadanya.

__ADS_1


"Mama benar dan aku tidak lagi menginginkan hal tersebut terjadi kepadaku." ucap Kikan kemudian sambil menatap ke arah bawah di mana terlihat Lastri dan juga Inara tengah berbincang saat ini.


"Lihatlah yang namanya kaum rendahan seperti mereka pasti akan bersatu untuk menjadi kuat dan kita sebagai kaum atas juga elegan, bukankah seharusnya mencegah hal itu terjadi?" ucap Tamara kemudian yang langsung membuat Kikan menoleh ke arah Tamara dengan seketika.


"Entahlah Ma, aku hanya mengatakan hati ku lebih tenang tapi bukan berarti aku ingin melakukan sesuatu untuk menyingkirkan mereka. Lagi pula Inara tengah mengandung anak Alvaro saat ini, jadi aku rasa aku tidak bisa menyentuhnya." ucap Kikan sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Tamara seorang diri.


Tamara benar-benar tidak tahu lagi apa yang sedang ada di pikiran Kikan saat ini. Ditatapnya kepergian Kikan dengan tatapan yang intens kemudian menghela napasnya dengan panjang.


"Anak itu sebenarnya polos atau apa? Mengapa berubah-ubah seperti itu pola pikirnya?" ucap Tamara sambil terus menatap kepergian putrinya dari sana.


***


Sementara itu di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan. Terlihat situasi di ruang rapat begitu tegang dan juga hening. Entah apa yang tengah terjadi kepada Alvaro saat ini hingga membuatnya ingin mengadakan rapat dadakan dan meminta data sejak 5 tahun yang lalu.


Tak ada satupun yang berani berbicara atau pun membuka suaranya di sana, termasuk Abi yang saat ini tengah berdiri tepat di sampingnya sambil sesekali melirik ke arah Alvaro.


Jika di lihat dari raut wajah Alvaro saat ini seperti Alvaro tengah kesal akan sesuatu hal yang Abi sendiri tidak tahu apa itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi kepada pak Alvaro? Mengapa hari ini ia sensitif sekali?" ucap Abi bertanya-tanya akan apa yang sedang terjadi kepada Alvaro saat ini.


Sampai kemudian ketika keheningan terjadi di ruangan tersebut, sebuah suara yang berasal dari Alvaro lantas terdengar menggema memenuhi ruangan rapat kala itu.


Brak...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2