Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Masa lalu yang tak bisa kembali di rajut


__ADS_3

"Kena kau!" ucap Agam kemudian sambil mulai menjulurkan kakinya mencoba untuk menjegal Pria tersebut.


Bruk.....


Pria tersebut terlihat jatuh dan membentur tiang bangunan stasiun tersebut, membuat beberapa orang lantas terlihat menatap ke arah keributan tersebut.


Agam nampak tersenyum dengan simpul ketika mendapati jegalannya tepat sasaran saat itu. Dengan langkah kaki yang perlahan Agam mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah Pria tersebut dan mengambil tas yang sedari tadi ia pegang.


"Kali ini aku mengampuni mu, pergi sebelum aku membawa mu ke kantor polisi!" ucap Agam sambil mendorong tubuh Pria itu.


Mendengar perkataan Agam barusan tentu saja seperti secercah sinar harapan bagi pencopet jalanan tersebut, membuat Pria itu langsung bangkit sambil mengambil langkah kaki seribu meninggalkan area tersebut.


Beberapa kerumunan yang menyaksikan hal tersebut, satu persatu mulai meninggalkan area itu. Selang beberapa menit seorang wanita paruh baya dengan napas ngos-ngosan, nampak datang dan mendekat ke arah dimana Agam berada saat itu.


"Hhhh te...rima kasih banyak Tuan..." ucap sebuah suara yang terdengar begitu lembut menyapa telinga Agam kala itu.


Hati Agam mendadak berdebar tak kala suara tersebut masuk ke dalam gendang telinganya. Sebuah suara tak asing yang mungkin saja, pemilik suara tersebut adalah seseorang yang begitu ia rindukan selama ini.


Dengan perlahan Agam nampak bangkit dan berbalik badan untuk menyapa sang pemilik suara barusan. Sampai kemudian netranya menangkap satu sosok wanita, yang hingga kini masih terlihat cantik dengan balutan busana sederhananya yang begitu khas.


"Ratih..." ucapnya dengan spontan yang tentu saja mengejutkan Ratih saat itu.


"Mas Agam...." ucap Ratih yang tak menyangka jika dirinya akan bertemu Agam saat ini.


***

__ADS_1


Area dalam mobil


Keheningan nampak terjadi di area dalam mobil yang di kendarai oleh Abi saat itu. Pertemuannya dengan Kikan barusan, benar-benar membuat mood Alvaro berantakan. Memang tidak terlalu banyak hal yang di ucapkan oleh Kikan, hanya saja raut wajah Kikan yang nampak sendu saat itu, sungguh mengganggu pikirannya.


"Apa yang terjadi dengannya? Mengapa aku masih saja kepikiran?" ucap Alvaro dalam hati yang seakan merasa bingung dengan perasaannya saat ini.


Inara yang jelas tahu jika Alvaro tengah tidak baik-baik saja, lantas mengusap dengan lembut punggung tangan Alvaro saat itu. Mendapati hal tersebut tentu saja langsung membuyarkan segala lamunan Alvaro saat itu.


"Apa kamu baik-baik saja Mas?" tanya Inara dengan nada yang terdengar begitu ragu.


Alvaro tersenyum mendapat pertanyaan tersebut, seakan berusaha untuk menutupi isi hatinya saat ini. Hanya saja sebisa apapun ia melakukan hal itu, namun nyatanya Alvaro tidak pernah bisa menutupi perasaannya pada Inara sedikit pun.


"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, aku hanya sedang kepikiran soal raut wajah Kikan yang begitu sendu tadi. Apa menurut mu aku terlalu kasar kepadanya?" ucap Alvaro kemudian sambil tersenyum dengan tipis, yang tentu saja langsung membuat Inara terdiam sejenak saat itu.


Inara nampak memainkan buku-buku jarinya sejenak kemudian mengambil napas dalam-dalam. Bagaimana pun juga suka atau tidak suka, kenyataannya Kikan tetaplah bagian dari masa lalu Alvaro yang tetap harus ia hadapi. Bohong rasanya jika Inara tidak cemburu ketika mendengar Alvaro masih begitu perhatian terhadap Kikan. Hanya saja bukankah semua akan terasa sia-sia jika Inara marah sekalipun karena hal tersebut?


"Jika kamu bertanya kepada ku sebagai seorang perempuan, tentu aku akan menjawab ia karena perkataan mu tadi terdengar begitu dingin dan melukai hati siapapun orang yang mendengarnya. Hanya saja jika kamu bertanya kepada ku sebagai seorang istri, aku akan menjawab tindakan mu telah benar Mas. Bukan aku membenarkan kata-kata tajam mu sebelumnya, hanya saja terkadang kita harus bisa membuat batasan yang jelas akan sesuatu hal, terlebih tentang masa lalu kita." ucap Inara dengan tutur kata yang begitu lembut, membuat Alvaro lantas tersenyum dengan simpul ketika mendengar jawaban tersebut.


"Ini lah yang membuat hati ku begitu jatuh padamu Ra, sikap mu yang begitu tenang dalam menghadapi sesuatu, membuat ku jatuh cinta kepadamu berkali-kali lipat." ucap Alvaro sambil mengusap lembut pipi Inara saat itu.


"Terima kasih banyak Mas, terima kasih atas segala cinta yang telah kamu berikan kepada ku selama ini..." ucap Inara sambil masuk ke dalam pelukan Alvaro saat itu.


***


Resto

__ADS_1


Setelah pertemuan yang tidak di sengaja antara Agam dan juga Ratih sebelumnya, keduanya lantas memutuskan untuk singgah sebentar di Resto dekat Stasiun.


Keheningan nampak terjadi di antara keduanya, meski hidangan makanan yang keduanya pesan telah datang dan tersaji di hadapan keduanya.


"Makanlah, aku yakin kamu pasti belum makan bukan?" ucap Agam kemudian mencoba untuk memecah keheningan yang terjadi di antara keduanya saat itu.


"Bagaimana kabar mu?" ucap Ratih dan juga Agam secara bersamaan, membuat keduanya lantas kembali terdiam dalam keheningan.


Agam tersenyum ketika mendapati tingkah malu-malu Ratih di usia sekarang. Membuat Ratih yang menyadari hal tersebut lantas mengernyit dengan raut wajah yang bingung.


"Kamu tidak berubah rupanya, aku senang kamu masih tetap sama seperti yang dulu." ucap Agam tanpa sadar sambil tersenyum dengan simpul, membuat Ratih menjadi bingung saat ini.


"Aku memang tidak berubah dan masih sama seperti yang dulu, kenyataannya keadaan lah yang telah berubah dan tak lagi berpihak kepada kita." ucap Ratih sambil menghela napasnya dengan panjang.


"Ya, aku rasa kamu benar soal itu." ucap Agam dengan raut wajah yang sendu.


Sebuah kenangan masa lalu yang membuat keduanya terikat, nyatanya tidak akan pernah bisa kembali di rajut lagi oleh keduanya. Mendapati hal tersebut pada akhirnya membuat Ratih memutuskan untuk beranjak pergi dari sana, ketimbang harus kembali mengulang sesuatu yang tak seharusnya.


"Maaf aku harus pergi, kedatangan ku kemari untuk menyusul Putri ku. Jadi aku harap kamu jangan berpikiran yang macam-macam, permisi..." ucap Ratih dengan nada yang terdengar begitu datar sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Agam seorang diri.


Agam yang masih begitu merindukan sosok Ratih di hidupnya, hanya bisa menatap kepergian Ratih dengan tatapan yang sendu. Sampai pada akhirnya pandangan matanya terhenti pada sapu tangan milik Ratih yang tertinggal di meja saat itu.


Agam bangkit dari tempat duduknya dan berusaha untuk mengejar langkah kaki Ratih. Sampai kemudian langkah kakinya langsung terhenti dengan seketika, begitu ia tanpa sengaja melihat sebuah mobil tak asing berhenti tepat di hadapan Ratih saat itu.


"Ba...bagaimana mungkin?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2