Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Perlakuan khusus Alvaro


__ADS_3

"Lakukan mas.. Aku ikhlas..." ucap Inara kemudian sambil menarik napasnya dalam-dalam.


Mendengar perkataan Inara barusan tentu saja langsung membuat Alvaro sumringah. Seperti mendapat sebuah oasis di gurun yang tandus, perkataan Inara yang mengizinkannya langsung membuat hati Alvaro melega seketika.


"Terima kasih banyak Ra... Terimakasih..." ucap Alvaro dengan raut wajah yang bahagia.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut tanpa membuang waktunya lagi, Alvaro langsung mel**at bibir Inara dengan perlahan dan merengkuh Inara secara perlahan tapi pasti dalam sebuah permainan hasrat yang terpendam dalam dirinya. Alvaro jelas tahu jika Inara adalah pemain baru, membuat Alvaro mulai bergerak secara perlahan sambil terus berusaha untuk memancing Inara agar rileks dan masuk ke dalam permainannya.


Alvaro mulai menurunkan tangannya secara perlahan di pinggang Inara dan terus turun ke bawah, membuat gelayar aneh langsung merasuki tubuh Inara tepat ketika tangan Alvaro menyentuh area sensitifnya. Sentuhan tangan Alvaro begitu lembut dan membuat seluruh bulu roma Inara berdiri dan juga merinding. Alvaro menghentikan tangannya di area pantat Inara kemudian menggendong Inara seperti layaknya bayi koala besar. Hal tersebut tentu saja membuat Inara terkejut dan langsung melepaskan tautannya.


"Tak perlu takut Ra.. Santai saja..." ucap Alvaro yang seakan tahu jika Inara terkejut akan tindakannya.


Mendengar perkataan Alvaro barusan kemudian membuat Inara perlahan-lahan terlihat langsung mengalungkan tangannya pada leher Alvaro, yang membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Alvaro saat itu.


Alvaro yang melihat Inara sudah lebih rileks kemudian mulai meletakkan tubuh Inara di atas ranjang, baru setelah itu melepas baju bagian atas miliknya dan membuangnya ke sembarang arah. Inara tertegun melihat bentuk tubuh Alvaro yang sangat indah dan juga ideal, membuat manik mata Inara tak bisa lepas dari tubuh Alvaro.


"Kamu boleh menyentuh semuanya Ra karena ini juga milik mu..." ucap Alvaro yang seakan tahu apa yang ada dipikiran Inara saat ini.


Mendengar hal tersebut membuat Inara mengarahkan tangannya secara perlahan kemudian menyentuh area dada bidang milik Alvaro dengan lembut, membuat Alvaro yang semakin merasakan perasaan tak menentu saat ini, lantas langsung mengambil tangan Inara dan menciumnya beberapa kali hingga meninggalkan bekas merah di beberapa tempat.


Alvaro yang memang sedang berada di dalam kondisi yang tidak biasanya tanpa membuang waktunya lagi, lantas kembali membawa Inara dalam permainan miliknya. Hingga membuat Inara tanpa sadar terus mengeluarkan bunyi suara yang begitu merasuki pikiran Alvaro dan membuatnya bersemangat untuk terus melakukannya.

__ADS_1


Sampai kemudian ketika penyatuan itu terjadi, Inara lantas menggenggam dengan erat seprai di ranjang Alvaro. Rasanya begitu sakit namun Inara tidak berani berteriak atau mengeluarkan suara ketika pusaka Alvaro mulai masuk secara perlahan ke dalam miliknya.


Hentakan demi hentakan mulai Alvaro lakukan dengan ritme yang teratur, membuat Inara yang semula merasa begitu kesakitan perlahan-lahan mulai melupakannya dan ikut terhanyut dalam ritme yang dibuat oleh Alvaro.


"Terima kasih banyak Inara..." ucap Alvaro di sela-sela hentakannya saat itu.


Malam itu di tengah kesunyian suasana kediaman Alvaro, keduanya menciptakan sebuah susana yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Entah berapa kali ronde yang terus Alvaro lakukan kepada Inara. Namun karena staminanya yang kuat Alvaro terus meminta kepada Inara lagi dan lagi, membuat Inara hingga tepar dan baru bisa tertidur tepat ketika pagi harinya.


***


Keesokan harinya


Inara nampak mulai mengerjapkan kelopak matanya secara berkali-kali sambil mulai mengumpulkan kesadarannya. Diliriknya jam dinding yang saat itu sudah memperlihatkan pukul 10 pagi. Sepertinya Inara benar-benar kelelahan hingga tanpa sadar waktu sudah hampir siang hari padahal ia belum melakukan apapun saat ini.


Inara menggeser tubuhnya hendak bangkit dari tempat tidur, namun rasa sakit yang menjalar di area bagian bawah tubuhnya benar-benar membuat Inara meringis menahan rasa sakit yang begitu sakit di sana.


Inara menghela napasnya dengan panjang, apa yang terjadi kemarin benar-benar pengalaman yang pertama bagi Inara dan akan Inara pastikan itu menjadi yang terakhir karena sudah tidak mungkin jika Alvaro kembali meminta Inara melakukan hal tersebut.


Inara membuka selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya yang polos, membuat Inara kembali berdecak dengan kesal namun detik berikutnya tersenyum.


"Kau sudah berhasil melakukannya Ra, selanjutnya tinggal kita serahkan kepada yang di atas. Aku berharap agar biji kecil lekas tumbuh di dalam perut ku agar aku bisa segera pergi dari keluarga ini." ucap Inara dengan seulas senyum di wajahnya.

__ADS_1


Inara yang hendak pergi ke kamar mandi lantas mulai bergerak secara perlahan hendak bangkit dari tempat tidur, namun sebuah suara pintu yang terbuka lantas membuat Inara tetap diam dalam posisinya karena takut jika seseorang tersebut akan melihatnya dalam bentuk yang polos.


"Ah maaf, aku pikir kamu sedang tidur tadi." ucap Alvaro sambil membawa nampan berisi sarapan ke kamarnya.


"Aku... Aku hendak pergi ke kamar mandi namun terkejut akan kehadiran mu mas, apakah kamu tidak pergi bekerja?" tanya Inara kemudian mencoba mengusir kecanggungan.


"Hari ini weekend, apa kamu bisa bangun? Mau aku bantu?" tanya Alvaro kemudian sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Inara berada.


"Aku bisa.. Aw..." ucap Inara hendak bangkit namun langsung meringis kesakitan begitu merasakan rasa perih di area bagian bawahnya.


Alvaro yang melihat hal tersebut hanya bisa menghela napasnya dengan panjang kemudian berlalu pergi menuju ke arah kamar mandi, membuat Inara yang mengetahui hal tersebut lantas langsung menatap kepergian Alvaro dengan tatapan yang bertanya.


Sampai kemudian tak berapa lama Alvaro nampak keluar dari kamar mandi dan langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Inara berada. Tanpa basa-basi atau mengatakan sesuatu, Alvaro mendadak langsung menggendong tubuh Inara ala bridal style yang masih lengkap dengan selimut tebal membalut tubuhnya. Hal tersebut tentu saja langsung menambah raut wajah kebingungan Inara akan tingkah Alvaro yang begitu aneh saat ini.


***


Kamar mandi


Alvaro meletakkan tubuh Inara di atas dudukan kloset kemudian menyentuh air di bathroom untuk memastikan suhu airnya.


"Sepertinya suhu ini pas untuk mu, mandilah dengan air hangat agar tubuh mu lebih enakan, panggil aku jika ada apa-apa." ucap Alvaro dengan nada yang santai kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Inara di dalam kamar mandi dengan keheningan dan juga kebingungan yang melanda dirinya.

__ADS_1


"Dia benar-benar melakukan ini kepadaku?" ucap Inara dengan raut wajah yang memerah karena menahan malu dengan apa yang baru saja terjadi.


Bersambung


__ADS_2