
Sampai kemudian ketika keheningan terjadi di ruangan tersebut, sebuah suara yang berasal dari Alvaro lantas terdengar menggema memenuhi ruangan rapat kala itu.
Brak...
"Apa kalian bodoh atau apa? Hingga laporan seperti ini saja kalian tidak bisa membuatnya, apa kalian sedang bermain-main denganku?" ucap Alvaro dengan nada yang kesal, membuat semua orang lantas langsung terdiam di tempatnya tanpa berani mendongakkan kepala menatap ke arah manik mata milik Alvaro.
Alvaro yang tak mendengar jawaban apapun dari para karyawannya, lantas melempar beberapa laporan yang ada di mejanya hingga laporan tersebut berserakan di lantai begitu saja. Hal tersebut membuat suasana kian menjadi hening dan juga mencekam. Abi yang menyadari akan hal tersebut kemudian lantas mulai melangkahkan kakinya semakin dekat ke arah Alvaro, berharap ia bisa menenangkan amarah Alvaro saat ini.
"Maaf Pak, bukankah ini sudah keterlaluan? Jika anda ingin meluapkan amarah jangan di depan mereka Pak... Mereka bahkan terlihat ketakutan saat ini." ucap Abi dnegan nada yang berbisik, membuat Alvaro langsung terdiam seketika.
Alvaro yang mendengar perkataan dari Abi barusan, lantas langsung mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Raut wajah karyawannya benar-benar terlihat sangat ketakutan ketika mendengar setiap perkataan dan juga tindakan yang dilakukan oleh Alvaro barusan. Alvaro menghela napasnya dengan panjang, sepertinya ia sudah keterlaluan saat ini Alvaro bahkan hingga tidak menyadarinya. Ketika amarah tersebut semakin meluap dengan cukup kuat dan membuat Alvaro melampiaskannya begitu saja. Kepalanya benar-benar terasa penuh saat ini, membuatnya tidak bisa berpikir dengan akal sehatnya.
"Perbaiki semua laporan ini, saya ingin besok semua laporan yang saya minta sudah ada di meja saya." ucap Alvaro kemudian dengan nada yang lebih lembut saat ini.
Mendengar perkataan dari Alvaro barusan lantas membuat Abi langsung menghela nafasnya dengan panjang. Abi benar-benar lega karena setidaknya Alvaro saat ini sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Setelah mengatakan hal tersebut Alvaro nampak bangkit dari kursinya dan berlalu pergi dari sana, membuat raut wajah beberapa karyawan yang ada di sana lantas langsung menjadi lega ketika melihat kepergian Alvaro dari ruang rapat.
"Pastikan semuanya selesai besok dan jangan ada kesalahan lagi, kalian tentu tidak ingin mendapat amarah dari Pak Alvaro bukan? Jadi lakukan semua pekerjaan kalian dengan baik." ucap Abi kemudian sebelum pada akhirnya menyusul kepergian Alvaro
__ADS_1
Beberapa karyawan yang melihat kepergian keduanya, lantas langsung saling tatap antara satu sama lain. Hal ini baru terjadi pertama kalinya di mana Alvaro begitu marah akan beberapa laporan yang dibuat oleh karyawannya. Biasanya meskipun ada kesalahan ketik ataupun beberapa hal lainnya, Alvaro selalu mengatakannya dengan lembut dan juga perlahan tanpa adanya emosi maupun amarah yang membentak para karyawannya. Hal tersebut tentu saja membuat keterkejutan pada semua peserta rapat dadakan di ruangan tersebut ketika melihat Alvaro yang begitu marah dengan tiba-tiba.
"Apakah yang terjadi dengan pak Alvaro? Mengapa ia seperti itu kali ini? Benar-benar mengerikan." ucap salah satu karyawan sambil terlihat bergidik ngeri.
"Entahlah sepertinya pak Alvaro sedang ada masalah saat ini, sebaiknya segera kita kerjakan laporan kita atau yang ada nanti pak Alvaro akan kembali marah dengan kerja kita yang tidak benar." ucap yang lainnya sambil mulai bangkit dari kursinya kemudian berlalu pergi dari sana di ikuti beberapa karyawan lainnya.
***
Ruangan CEO
Terlihat Alvaro tengah mendudukkan pantatnya pada kursi kebesarannya sambil langsung menyandarkan punggungnya di sana. Alvaro memejamkan kelopak matanya secara perlahan sambil sesekali memijat pelipisnya yang terasa berdenyut saat ini. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Alvaro saat ini, namun kepalanya saat ini benar-benar terasa penuh dan juga sesak. Alvaro tidak tahu akan apa harus ia lakukan saat ini untuk membuat hatinya menjadi lebih tenang lagi.
Ketika Alvaro tengah merenungi segala hal yang terjadi pada dirinya. Abi yang tadinya hendak bertanya akan perihal apa yang sedang terjadi kepada Alvaro saat ini, lantas langsung menghentikan langkah kakinya begitu mendengar perkataan dari Alvaro barusan. Abi rasa apa yang terjadi kepada Alvaro saat ini benar-benar bukan ranahnya untuk ikut campur, sehingga membuatnya mulai melangkahkan kakinya mundur dan berlalu pergi dari ruangan Alvaro.
"Aku rasa aku tidak punya hak untuk ikut campur dalam masalah pak Alvaro, ini adalah masalah pribadi Pak Alvaro jadi aku harap dan juga berdoa agar pak Alvaro segera menemukan solusinya." ucap Abi dalam hati sambil mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
***
Sementara itu di salah satu perusahaan dengan brand kecantikan milik Alvaro, di depan lobi terlihat Inara tengah berdiri sambil membawa bekal di tangannya. Setelah sebelumnya Inara memberanikan diri untuk bertanya kepada Lastri akan alamat dari perusahaan Alvaro, lantas pada akhirnya membuat Inara memutuskan untuk datang ke perusahaan dan membawakan Alvaro bekal makanan. Entahlah Inara juga tidak tahu apakah Alvaro akan menerimanya atau tidak, tapi yang jelas Inara tetap ingin mencobanya.
__ADS_1
"Semoga saja mas Alvaro tidak menolaknya dan berpura-pura tidak mengenali diriku." ucap Inara pada diri sendiri.
Inara mengambil napasnya dalam-dalam sebelum kemudian memutuskan untuk masuk dan melangkahkan kakinya menuju ke arah resepsionis. Dengan langkah kaki yang perlahan Inara mulai mendekat ke arah meja resepsionis dan bersiap untuk menanyakan tentang Alvaro.
"Permisi apakah saya bisa bertemu dengan bapak Alvaro?" ucap Inara dengan nada yang terdengar ragu, membuat seorang resepsionis lantas langsung menoleh ke arahnya.
"Maaf apakah sebelumnya Ibu sudah punya janji?" ucap resepsionis tersebut dengan nametag Arin di dadanya.
"Belum, saya belum membuat janji apapun, saya datang langsung dari rumah dan ingin membawakan bekal ini untuk pak Alvaro." ucap Inara kemudian sambil menunjukkan rantang bekal miliknya.
Melihat hal tersebut resepsionis itu lantas langsung terdiam sejenak sambil menatap penampilan Inara dari atas hingga bawah. Memanglah terlihat jika wajah Inara sangat cantik, hanya saja penampilannya yang terlihat sangat udik dan juga polos, membuat resepsionis tersebut ragu jika Inara adalah seseorang yang penting bagi Alvaro.
"Jangan bilang kalau dia pembantu gatel pak Alvaro yang hendak merebutnya dari bu Kikan! Oh tidak aku paling anti dengan yang namanya pelakor! Jika memang dia adalah pelakor pergilah yang jauh dan enyah dari diriku!" ucap Arin dalam hati sambil bergidik ngeri ketika memikirkan hal tersebut.
"Sayangnya pak Alvaro tidak akan mau bertemu pembantu seperti mu, jadi aku mohon tanpa mengurangi rasa hormat ku silahkan pergi dari sini!" ucap Arin dengan nada yang terdengar tidak enak.
"Apa? Pembantu?" ucap Inara dengan kebingungan.
Bersambung
__ADS_1