Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Gadis gila


__ADS_3

Kediaman Alvaro


Setelah membuat keputusan gila yang entah mendapat ide darimana Inara menyetujui kesepakatan gila bersama dengan Alvaro dan menjadi istri keduanya.


Saat ini keduanya telah sampai di kediaman Alvaro yang tentu saja terlihat bak sebuah istana bagi Inara yang memang merupakan gadis yang berasal dari desa. Inara yang melihat begitu besarnya kediaman Alvaro, lantas menelan salivanya dengan kasar.


Entah benar atau tidak keputusan yang telah ia buat, membuat Inara merasa sedikit berkeringat dingin karena merasa gugup saat ini. Sedangkan Alvaro yang tahu jika Inara sedang gugup saat ini lantas menggenggam tangan wanita itu dengan lembut, membuat Inara langsung menoleh dengan seketika ke arah Alvaro.


"Tak perlu takut, Kikan adalah gadis yang lembut dan ramah.. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Alvaro mencoba menenangkan Inara.


"Be...benarkah?" tanya Inara dengan ragu.


"Tentu saja, ayo kita turun sekarang." ucap Alvaro dengan tersenyum simpul sambil mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobilnya.


Inara yang melihat Alvaro turun, lantas menarik napasnya dalam-dalam kemudian mencoba untuk melukis senyuman di wajahnya berharap apa yang dikatakan oleh Alvaro bukanlah hanya sebuah bualan sematan.


"Semoga tidak ada yang terjadi..." ucap Inara dalam hati sambil melangkahkan kakinya menyusul kepergian Alvaro yang sudah lebih dulu masuk ke dalam Rumah besar tersebut.


**


Area dalam mansion


Tak tak tak

__ADS_1


Derap langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik mansion tersebut, membuat suasana kian hening dan mendebarkan. Entah seperti apa wajah istri pertama Alvaro benar-benar membuat Inara begitu penasaran. Seperti layaknya seorang anak kecil, Inara nampak melangkahkan kakinya dengan perlahan di belakang Alvaro sambil menundukkan kepalanya karena takut jika segalanya tidak sesuai ekspetasinya.


Sampai kemudian ketika keduanya tengah melangkahkan kakinya semakin masuk ke area dalam mansion, sebuah suara yang begitu lembut nampak mulai terdengar di telinga Inara, membuat Inara langsung mendongak dengan seketika.


"Kamu sudah pulang sayang? Bagaiman perjalanan mu?" ucap sebuah suara yang terlihat menuruni satu persatu anak tangga membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Alvaro berada saat ini.


"Jangan lari Ki nanti kamu akan terjatuh!" ucap Alvaro memperingati, membuat Inara lantas tertegun seketika akan interaksi keduanya.


Inara terdiam di tempatnya ketika melihat senyuman manis terlihat dengan jelas dari raut wajah Kikan ketika Alvaro memperingati dirinya. Sampai ketika jarak di antara ketiganya hanya berjarak beberapa centi saja, Inara semakin di buat terkesima akan sosok Kikan yang ternyata begitu cantik dengan kulit putih bersih, mata bulat dan juga bibir yang terbelah di bagian bawahnya, menjadi daya tarik tersendiri ketika manik mata Inara semakin menatap ke arah Kikan yang begitu sempurna baginya.


"Aku minta maaf karena tidak mengabari mu kemarin, sinyal di sana benar-benar susah membuat ku tidak bisa berkomunikasi dengan mu." ucap Alvaro sambil mengusap rambut Kikan dengan lembut.


Melihat hal tersebut tentu saja membuat Inara menjadi sadar jika usapan lembut Alvaro nyatanya bukanlah berarti apa-apa. Sepertinya Pria itu berusaha untuk bersikap adil kepada dua istrinya, meski hanya sebuah usapan dan juga perlakuan yang mungkin sebagian orang akan menganggapnya tidak penting.


"Ternyata aku hanya kepedean saja, nyatanya mas Alvaro juga melakukan hal yang sama kepada mbak Kikan." ucap Inara sambil tersenyum tipis.


"Siapa dia?" tanya Kikan dengan raut wajah penasaran, membuat Alvaro lantas menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Kikan.


Melihat Inara tengah berdiri dengan canggung di sana, lantas membuat helaan napas terdengar jelas berhembus dari mulut Alvaro. Alvaro bahkan sampai lupa kalau tadi ia pulang bersama dengan Inara kemari.


"Ah aku sampai melupakannya, kemarilah Ra..." panggil Alvaro yang lantas membuat Inara mulai melangkahkan kakinya dengan ragu mendekat ke arah dimana keduanya berada.


"Ada apa ini sayang? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" ucap Kikan dengan raut wajah yang tidak enak, membuat Inara langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar pertanyaan tersebut.

__ADS_1


Alvaro yang mendengar pertanyaan tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung akan ekspresi yang di tunjukkan oleh Kikan.


"Aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa dan dari mana kepadamu, apakah kamu ingat tentang permintaan mu tempo hari? Hari ini aku mencoba untuk mewujudkan keinginan mu. Karena suatu insiden aku dan Inara terpaksa meni..." ucap Alvaro berusaha menjelaskan detailnya kepada Kikan, namun terpotong dengan suara tawa Kikan yang menggema di ruangan tersebut.


Mendengar tawa Kikan yang tiba-tiba tersebut, tentu saja membuat Inara dan juga Alvaro saling pandang antara satu sama lain seakan-akan bertanya akan maksud dari tawa Kikan saat ini.


"Baiklah-baiklah mas jangan terlalu tegang seperti itu, aku tahu dia pasti seseorang yang aku minta, bukan? Aku bahkan sudah bisa menebaknya, ternyata setelah aku lihat-lihat selera mu tidaklah buruk, mangkanya kamu selalu menolak jika ku kenalkan dengan teman-teman ku." ucap Kikan dengan nada yang santai.


"Apakah wanita ini sudah gila? Mengapa ia malah semudah itu menawarkan suaminya sendiri kepada teman-temannya? Apakah suaminya sebuah pisang goreng yang bisa ditawarkan ke semua orang?" ucap Inara dalam hati seakan tidak mengerti lagi akan tingkah istri Alvaro.


"Jangan bercanda seperti itu bersikaplah lebih serius, apakah kamu benar-benar tidak marah jika aku menikah lagi?" ucap Alvaro seakan mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri sekali lagi jika semua baik-baik saja.


Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat Kikan langsung mengulum senyum ke arah Alvaro kemudian melangkahkan kakinya lebih dekat lagi dan memberi kecupan tepat di pipi Alvaro.


"Tidak perlu khawatir akan hal itu, aku malah benar-benar berterima kasih karena kamu mau mengabulkan permintaan ku." ucap Kikan kemudian sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Alvaro.


"Terima kasih banyak Alvaro aku mencintai mu." bisiknya kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sisi Alvaro.


Kikan menggandeng tangan Inara dengan erat kemudian mengajaknya berlalu dari sana masih dengan senyuman yang senantiasa terlukis pada raut wajahnya.


"Ayo Ra.. Akan aku tunjukkan kamar mu dan berbagai hal tentang Alvaro." ucap Kikan sambil mengarahkan Inara untuk naik ke atas.


Sedangkan Alvaro yang melihat keduanya berlalu pergi dari hadapannya hanya bisa menatap sendu ke arah keduanya.

__ADS_1


"Aku harap ini adalah keputusan yang terbaik, setelah aku berhasil membujuk Kikan aku akan menceraikan Inara." ucap Alvaro dalam hati.


Bersambung


__ADS_2