Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Copet!


__ADS_3

"Memang siapa yang kamu temui Ra?" tanya Alvaro kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Entahlah, aku tidak terlalu yakin siapa orangnya. Hanya saja beberapa hari ini dia selalu saja berada di tempat yang sama dengan kita. Atau mungkin ini hanya perasaan ku saja? Sayangnya aku tidak bisa melihat raut wajahnya dengan jelas." ucap Inara sambil mengingat-ingat wajah Pria tersebut, namun sayangnya tidak bisa.


Alvaro yang semula begitu penasaran akan siapa sebenarnya yang Inara temui sebelumnya, lantas menjadi diam ketika mulut Inara mulai bercerita saat ini.


Sepertinya Pria bertudung yang sebelumnya ia bicarakan bersama dengan Chris sudah mulai meresahkan. Entah apa maksud dan tujuannya sebenarnya, namun yang jelas Alvaro tidak lagi bisa tinggal diam saat ini.


Inara yang mendapati jika Alvaro hanya terdiam tanpa menanggapi pertanyaannya, lantas mengernyit dengan raut wajah yang bingung saat itu.


"Mas... Mas... Apa kamu mendengar ku? Mas Al..." ucap Inara kemudian sambil menggoyangkan sedikit tangan Alvaro saat itu.


"Iya Ra, maaf aku sedikit melamun barusan." ucap Alvaro kemudian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Sudahlah tak apa, lagi pula tidak penting juga. Oh ya bagaimana keadaan mu?" ucap Inara pada akhirnya.


"Jauh lebih baik, aku sudah meminta ijin pada Bela agar pulang lebih awal dan melakukan rawat jalan. Jika memang di setujui mungkin siang ini kita akan langsung pulang." ucap Alvaro yang tentu saja langsung membuat Inara mengernyit karenanya.


"Pulang bagaimana? Kaki mu bahkan masih di gips, bagaimana kamu bisa mengatakannya seperti itu?" ucap Inara yang seakan tidak setuju akan perkataan Alvaro saat ini.


"Aku sudah baik-baik saja, tidak perlu khawatir Ra ini hanyalah luka ringan saja. Di sini terlalu pengap dan aku rasa suasana rumah mungkin akan cepat membuat ku sembuh." ucap Alvaro lagi dengan nada yang santai membuat Inara hanya bisa mendengus dengan kesal karenanya.


Dalam masalah ini Inara tidak lagi bisa membantah, selain hanya bisa menuruti semua permintaan Alvaro saat ini.


"Jangan cemberut seperti itu, nanti cantik mu ilang loh..." ucap Alvaro yang seakan mengerti jika Inara tengah ngambek saat ini.


"Berhenti jangan seperti itu... Jika kamu sudah memutuskannya aku bahkan tidak lagi bisa menolak mas." ucap Inara pada akhirnya yang lantas membuat Alvaro tersenyum dengan simpul.

__ADS_1


"Anak pintar.." ucap Alvaro sambil mengacak-acak rambut Inara dengan gemas saat itu.


***


Siang harinya


Dari arah parkiran Rumah sakit terlihat mobil yang dikendarai oleh Kikan terparkir di sana barusan. Kikan nampak menghela napasnya panjang beberapa kali dan menghembuskannya dengan kasar. Entah angin apa yang membawanya hingga datang ke sini, namun yang jelas perkataan Agam benar-benar telah mempengaruhinya.


"Aku akan lihat sebentar kemudian pergi, ya hanya untuk menuntaskan rasa penasaran ku saja." ucap Kikan seakan mencoba untuk menenangkan hatinya saat itu.


Dibukanya pintu mobil secara perlahan kemudian keluar dari sana. Hanya saja tepat ketika pintu mobilnya baru saja ia tutup, sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas terdengar menyapa telinganya saat itu.


"Mbak Kikan?" ucap sebuah suara yang berasal dari Inara.


Mendengar suara tak asing barusan tentu saja langsung membuat Kikan berbalik badan karena terkejut. Tepat ketika ia berbalik badan, di belakangnya saat ini sudah berdiri Inara dan satu perawat wanita kisaran usia 40 tahunan tengah mendorong kursi roda milik Alvaro.


"Ka....kalian mau kemana?" tanya Kikan dengan ragu.


"Mati aku! Jika aku mengatakan hendak menjenguk Alvaro.. Itu tidaklah mungkin, tentu saja gengsi lah aku... Lalu aku harus mengatakan apa?" tanya Kikan dalam hati yang mulai mencari jawaban akan pertanyaan tersebut.


"Mbak.. Mbak Kikan..." panggil Inara kemudian.


"Eh iya, tidak ada.. Teman ku sedang sakit dan di rawat di sini, kebetulan sekali aku bertemu dengan kalian hahaha." ucapnya dengan tawa yang aneh membuat Inara lantas mengernyit karenanya.


"Kalau begitu sampaikan salam ku pada teman mu, ayo kita pergi sekarang Ra!" ucap Alvaro dengan nada yang begitu dingin.


Mendapati perlakuan dingin tersebut, membuat tawa Kikan yang semula memang sudah canggung langsung terhenti dengan seketika. Mood Kikan benar-benar langsung turun mendapati sikap Alvaro yang seperti itu.

__ADS_1


"Maaf ya mbak, sepertinya kita harus pergi sekarang." ucap Inara kemudian yang seakan merasa tidak enak dengan perkataan Alvaro barusan.


Setelah mengatakan hal tersebut, ketiganya lantas mulai membawa langkah kaki mereka meninggalkan Kikan saat itu.


Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Kikan, mendadak langsung menghentikan langkah kaki keduanya.


"Apa yang membuat mu tidak datang di persidangan hari itu Al?" ucap Kikan dengan tiba-tiba yang tentu saja membuat Inara terdiam do tempatnya dengan seketika.


Bukan karena takut atau apa, hanya saja Alvaro tidak pernah membahas tentang sidang perceraian keduanya. Membuat Inara tak pernah tahu kelanjutan hubungan antara Alvaro dan juga Kikan, selain hanya Alvaro yang menggugat cerai Kikan waktu itu.


"Aku rasa keadaan ku saat ini sudah bisa menjawab pertanyaan mu barusan, untuk masalah kehadiran kamu tak perlu khawatir karena minggu ini aku pasti akan hadir untuk sidang putusan." ucap Alvaro sebelum pada akhirnya mengkode perawat tersebut untuk kembali mendorong kursi rodanya.


"Ba...bagaimana bisa dia bersikap begitu angkuh seperti itu?" ucap Kikan dengan raut wajah yang terkejut menatap kepergian ketiganya saat itu.


***


Sementara itu di area Stasiun


Agam yang baru saja turun dari kereta setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jaman, terlihat mulai melangkahkan kakinya keluar dari area Stasiun. Agam sengaja memilih menaiki kereta untuk meninjau cabang kantornya saat itu, guna mengefisiensi waktu dan tentunya sambil merefresh otaknya yang akhir-akhir ini terasa begitu penuh.


Agam yang terlihat jauh lebih baik di banding waktu keberangkatannya saat itu, terlihat mulai membawa langkah kakinya menuju ke area depan Stasiun dimana asistennya kini sudah menantinya di luar.


"Copet! Copet....." teriak seorang wanita yang lantas membuat Agam mengernyit ketika mendengar teriakan tersebut.


Agam yang seakan begitu tertarik akan teriakan tersebut, mulai melirik ke arah sumber suara dan tersenyum dengan simpul, tepat ketika ia melihat seorang Pria bertopi sedang berlarian sambil memegang tas yang tentu saja bukan miliknya. Agam yang entah mendapat dorongan dari mana, tiba-tiba merasa terpanggil untuk membantu wanita tersebut.


"Kena kau!" ucap Agam kemudian sambil mulai menjulurkan kakinya mencoba untuk menjegal Pria tersebut.

__ADS_1


Bruk.....


Bersambung


__ADS_2