Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Diperdaya


__ADS_3

Klinting....


Sebuah suara benda yang jatuh saat itu lantas membuat Chris menghentikan aktifitasnya. Ditatapnya area belakangnya seakan mencoba untuk mencari sumber suara barusan. Pandangan matanya lantas terhenti, ketika sebuah gelang yang tak asing di ingatannya terlihat jatuh di lantai lorong Apartment.


"Bukankah gelang ini milik Inara? Noda darah siapa ini?" ucap Chris yang mendapati tak jauh dari gelap tersebut terdapat noda darah yang tak beraturan di sekitarnya.


"Mbak, sepertinya saya tidak bisa datang ke sana, tolong jaga Alika sebentar ya..." ucap Chris sebelum pada akhirnya menutup panggilan telponnya saat itu.


Chris yang mencium ada sesuatu tidak beres saat itu, lantas mengambil langkah kaki yang besar menuju ke arah unit Apartment Alvaro saat itu. Chris yang tadinya hendak buru-buru mengetuk pintu unit Apartment tersebut, lantas mengernyit dengan raut wajah yang bingung ketika mendapati pintu unit Apartment dalam keadaan terbuka saat ini.


"Ra kamu di dalam... Alvaro... Bu...." ucap Chris yang seakan memastikan bahwa ada seseorang di dalam sana.


Chris yang tak mendapat sahutan apapun dari dalam, lantas memutuskan untuk masuk ke dalam dan memeriksanya sendiri.


"Apa-apaan ini?" ucap Chris yang terkejut dengan pemandangan yang terjadi di area depan.


Disaat Chris mengedarkan pandangannya ke area dapur dan juga ruang tengah, ingatannya lantas terhenti pada gelang milik Inara yang jatuh begitu saja di belakangnya beberapa waktu yang lalu.


"Sial! Jangan-jangan...." ucap Chris yang seakan baru teringat akan hal tersebut.


Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Chris buru-buru mengambil langkah kaki seribu mencoba untuk menyusul kepergian Inara sebelumnya. Dalam keadaan yang tergesa-gesa, Chris mencoba mendial nomor Alvaro melalui ponselnya saat itu.


Ting...


Suara pintu lift yang hendak tertutup saat itu, lantas membuat Chris buru-buru masuk ke dalamnya. Hingga beberapa irang yang berada di dalam lift tersebut nampak terkejut karena kehadiran Chris barusan yang nyaris terhimpit pintu lift.

__ADS_1


"Halo, aku sedang sibuk saat ini.. Bisakah..." ucap Alvaro di seberang sana yang terdengar jengkel karena panggilan telpon Chris yang tak memiliki jeda.


"Ada hal yang lebih penting dari itu, Inara tidak ada di dalam Al!" ucap Chris yang tak lagi memperdulikan tatapan beberapa orang di dalam lift tersebut.


"Jangan bercanda, di sana kan ada Ibu dan juga suster Lina, aku yakin Inara pasti sedang keluar bersama dengan mereka." ucap Alvaro yang seakan tidak terlalu masalah dengan hal tersebut.


"Kau berpikir secara logis bisa gak sih? Paling tidak dengarkan dulu perkataan ku sampai selesai!" ucap Chris namun terpotong oleh suara pintu lift yang terbuka saat itu.


Ting...


Dengan langkah kaki yang bergegas, Chris terlihat mengambil langkah setengah berlari keluar dari lift menuju ke arah basement.


"Ada apa dengan mu sebenarnya? Aku tidak punya waktu untuk meladeni permainan mu." ucap Alvaro kemudian dengan nada yang mulai terdengar meninggi.


"Aku menemukan gelang Inara berceceran di lorong Apartment, tak hanya itu ada noda darah di lantai dekat gelang itu berada. Aku tidak sedang bermain-main saat ini, aku sudah mengecek langsung ke unit Apartment mu dan keadaan di sana kacau. Beberapa pecahan gelas kaca berserakan di lantai dan juga.... Arg sial...." ucap Chris dengan tiba-tiba yang lantas membuat Alvaro mengernyit ketika mendengar akhir cerita Chris barusan.


"Mobil mu baru saja pergi dan melaju meninggalkan area basement, aku akan mencoba untuk mengejarnya. Ada dimana sebenarnya kau?" ucap Chris sambil mulai berlarian menuju ke arah dimana mobilnya terparkir saat itu.


"Aku sedang meeting di daerah Kemang..."


"Bagus, aku rasa mobil itu menuju ke arah sana. Bersiaplah aku akan menyusul mu sebentar lagi." ucap Chris sambil mulai masuk ke dalam mobil dan melajukannya dnegan kecepatan tinggi.


***


Sementara itu di sebuah jalanan yang lenggang saat itu, terlihat Kikan tengah melaju dengan kecepatan yang tinggi mengikuti laju mobil yang berada tidak jauh dari posisinya.

__ADS_1


Kikan yang saat itu berniat untuk datang dan memulai lembaran baru dengan melepaskan Alvaro, malah tanpa sengaja melihat Inara di seret dan dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil.


Kikan yang penasaran dan juga bertanya-tanya akan apa yang terjadi saat itu, pada akhirnya memutuskan untuk mengejar mobil yang membawa Inara saat ini. Entah mendapat angin dari mana, namun rasa empati dalam diri Kikan saat itu, benar-benar menuntunnya agar membantu Inara saat ini juga.


Sebenarnya jika dipikir-pikir, bukankah harusnya hal ini adalah kesempatan yang bagus bagi dirinya untuk bisa bersama dengan Alvaro? Hanya saja sayangnya Kikan sama sekali tidak lagi berminat untuk menuju ke arah sana. Perkataan Agam sebelumnya benar-benar sudah merasuk dalam dirinya. Dan membuat Kikan sadar bahwa selama ini ia sudah sangat egois dalam hubungan Rumah tangganya.


Setidaknya jika memang Alvaro lebih bahagia bersama dengan Inara, bukankah sudah seharusnya Kikan mulai melepaskannya?


Kejar-kejaran terjadi diantara mobil yang dikendarai oleh Lina dan juga mobil milik Kikan saat itu. Membuat Kikan yang terlihat fokus menatap ke arah depan, sebisa mungkin Kikan mencoba untuk menghubungi Alvaro saat itu. Namun entah ke berapa kalinya sambungan telponnya tak pernah terhubung sama sekali. Ponsel Alvaro selalu saja sibuk dan tidak bisa di hubungi, membuat Kikan yang mendapati hal tersebut lantas mulai merasa kesal saat ini.


"Ah sial! Sebenarnya apa saja kesibukannya hingga ponselnya tak pernah sepi sedikit pun? Alvaro bahkan bukan orang penting, mengapa susah sekali menghubunginya?" ucap Kikan menggerutu dengan kesal karena tak kunjung bisa menelpon Alvaro saat itu.


***


Sementara itu di area dalam mobil yang dikendarai oleh Lina, nampak Inara sedang memegang dengan erat sabuk pengaman dan juga pegangan mobil di sana. Laju mobil yang dikendarai oleh Lina, benar-benar melampaui batas dan membuat Inara mulai merasa takut karenanya.


"Hentikan mobilnya Lin, apa yang kamu perbuat tentu salah. Tidakkah kamu merasa bahwa kamu sedang diperdaya oleh Karan kekasih mu?" ucap Inara kemudian yang lantas membuat Lina menoleh sebentar ke arah sumber suara kemudian kembali fokus menatap ke arah depan.


"Kau jangan coba-coba menggurui ku karena ulah mu dan suami mu itu, adik dari kekasih ku meninggal dunia. Apa kalian orang kaya sangat senang menghilangkan nyawa seseorang?" ucap Lina yang seakan tak setuju dengan perkataan Inara barusan.


"Apa maksud perkataan mu sebenarnya?" ucap Inara yang seakan nampak terkejut begitu mendengar perkataan dari Lina barusan.


"Tidakkah kau mengingat sesuatu tentang Arin?" ucap Lina sambil tersenyum dengan tipis saat itu juga.


"Arin?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2